DELIA ( Terpaksa Menikah )

DELIA ( Terpaksa Menikah )
BAB 44


__ADS_3

Gino masuk ke kamar tanpa menimbulkan suara, di lihatnya sang istri tengah berbaring dengan posisi memunggunginya. Bahunya yang naik turun menandakan jika kini watinya tengah menangis.


"De ada apa?" Dengan penuh kelembutan Gino mengusap pucuk kepala sang istri.


Seketika Delia merubah posisinya, menghadap pria yang kini tengah duduk disampingnya.


"Kau jahat, sejak kemarin kau mendiamkanku dan sekarang tanpa sepatah katapun kau pergi begitu saja" Ucapnya dengan suara tersendat-sendat.


Dengan penuh rasa bersalah Gino membawa tubuh Delia kedalam pelukannya, ia sampai tidak memikirkan jika sikapnya akan menyakiti wanitanya "Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya tidak ingin mengganggu tidurmu" Kecupan lembut Gino daratkan dikening wanitannya.


Lebih baik ia mengatakan itu dari pada mengatakan kebenarannya, jika ia sempat merasa kecewa setelah melihat isi surat yang Netta berikan pada wanitanya. Semalam setelah Delia tertidur, Gino mengambil kertas putih itu dari dalam tas sang istri.


Setelah beberapa saat berada dalam dekapan sang suami, Delia mulai tenang menyisakan suara sesegukan.


"Sekarang kau makan!" Namun hanya dijawab gelengan kepala oleh Delia.


Gino menghela nafas berat, nyatanya membujuk wanita yang sedang marah tidak semudah membujuk anak kecil.

__ADS_1


"Kenapa, apa kau tidak kasihan padanya?" Gino memberikan usapan lembut diperut rata sang istri "Dia akan kelaparan didalam sana jika mommynya tidak mau makan"


Akhirnya setelah membujuk dengan kalimat ampuhnya Deliapun menghabiskan makanannya hingga habis tak tersisa, tentunya dengan disuapi oleh Gino.


Setelah menghabiskan menu sarapannya Delia segera membersihkan diri, tentu saja ia ingin terlihat cantik dihadapan sang suami. Gino sampai merasa terheran mengapa mood Delia bisa berubah secepat itu yang semula marah terlihat sedih kini sudah ceria seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


"Apa ini faktor kehamilan?" Gumamnya pada diri sendri. Karna penasaran Gino pun mulai searching di google untuk mengetahui jawabannya, dan ternyata benar efek kehamilan bisa merubah mood seseorang mudah naik turun " Sepertinya aku harus mempersiapkan lebih banyak lagi stok kesabaran"


.


.


.


Shera adalah sekertaris baru Gino yang merupakan teman semasa SMA nya dulu. Gino, Roxy, Alina dan Shera sudah berteman sejak mereka duduk dibangku kelas satu, setelah lulus SMA Shera melanjutkan kuliahnya di New York hingga saat itu mereka tidak pernah lagi bertemu. Dan kemarin tanpa sengaja Roxy bertemu dengan Shera di sebuah caffe, saat itu Shera mengatakan sedang mencari pekerjaan dan kebetulan Roxy sedang kesulitan mencari sekertaris baru untuk Gino hingga ia menawarkan pekerjaan itu pada Shera, tentunya Shera menerima pekerjaan itu dengan senang hati.


"Katakan saja!" Sahut Roxy tanpa menghentikan makannya.

__ADS_1


"Apa Gino sudah menemukan pengganti Alina?" Cicitnya dengan suara pelan, yang mana pertanyaan Shera membuat Roxy tersedak makanan yang akan melewati tenggorokannya.


"Pelan-pelan!" Shera menyodorkan segelas air putih pada Roxy, dengan cepat Roxy meminumnya hingga menyisakan setengahnya.


"Maaf aku kaget"


"Ck, kau itu. Hanya pertanyaan begitu saja kau sampai tersedak?" Shera sampai geleng-geleng kepala melihat reaksi Roxy yang menurutnya terlalu berlebihan.


"Lebih baik kau melupakannya, mungkin kalian tidak ditakdirkan untuk bersama. Buktinya setelah Alina tiadapun kau tidak memiliki kesempatan untuk bisa memilikinya"


Roxy berusaha memberikan pengertian pada sahabatnya karna ia tau sejak sekolah dulu Shera memang sudah mencintai Gino, namun perasaan itu ia kubur dalam-dalam saat mengetahui Gino mencintai Alina sahabatnya sendiri. Karna bagi Shera perhabatannya dengan Alina lebih berharaga dari apapun hingga saat itu Shera memilih melupakan rasa cintanya terhadap Gino.


"Masudmu apa?" Shera belum mengerti maksud dari perkataan Roxy.


"Gino sudah menikah beberapa bulan lalu"


Bagaikan tersambar petir, kenyataan ini benar-benar membuat dada Shera sesak bagaikann terhimpit bongakahan batu besar. Untuk kedua kalinya Shera harus merasakan sakit yang sama, namun untuk kali ini Shera tidak akan mundur. Ia akan berusaha mendapatkan Gino dengan cara apapun karna untuk kali ini tidak ada lagi alasan baginya untuk mengalah.

__ADS_1


__ADS_2