DELIA ( Terpaksa Menikah )

DELIA ( Terpaksa Menikah )
BAB 42


__ADS_3

Netta mendudukan tubuhnya di sebuah kursi tepat berhadapan dengan Delia.


"Kemana saja kau selama ini, kenapa susah sekali dihubungi. Dan kenapa kau bisa bersamanya" Netta menatap Delia dengan penuh selidik.


Delia tak langsung menjawab, ia masih memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada sahabatnya.


"Kenapa kau diam saja? Apa kau tau Daniel begitu mengkawatirkan keadaanmu, tidak biasanya kau seperti ini" Tangan Netta terulur menggenggam tangan Delia "Katakan apa yang sebenarnya terjadi, aku tau ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan"


Delia menghela nafas dengan berat, mungkin sekaranglah saatnya ia mengatakan kebenarannya "Sebenarnya aku dan Gino sudah menikah sejak beberapa bulan lalu"


Seketika Netta langsung melepas genggaman tangannya, tawa hambarpun keluar dari bibirnya "Kau pasti sedang bercanda kan? Ayolah Delia ini sama sekali tidak lucu"


Namun saat meliahat mata Delia yang sudah mulai berkaca-kaca Netta jadi yakin jika sahabatnya memang serius dengan perkataannya.


"Kenapa?" Hanya kata itu yang mampu Netta ucapkan saat ini.


" Maaf aku tidak bisa mengatakan alasannya"


"Lalu bagimana dengan Daniel?" Netta tidak sanggup membayangkan bagaimana nanti perasaan Daniel saat mengetahui tentang kenyataan Delia yang telah menjadi istri seseorang.


Rasa sesak menghimpit dada Delia, bagai manapun juga Daniel pernah hadir dalam hidupnya menjadi kekaasihnya selama tiga tahun dan tidak dipungkiri oleh Delia jika Daniel masih mengisi sebagian ruang dihatinya. Namun sebisa mungkin ia akan berusaha melupakan tentang Daniel dan segala kenangannya, Delia akan berusaha mencintai pria yang saat ini menjadi suaminya pria yang begitu mencintainya.


"Aku harap Daniel akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku" Airmata pun lolos dari sudut mata Delia.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu?" Dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Delia.

__ADS_1


Netta meraih sebuah kertas putih pemberian Daniel dari dalam tasnya "Sebelum pergi Daniel sempat menitipkan surat ini untukmu, saat itu dia akan pamit padamu namun kau sangat sulit dihubungi.


"Daniel pergi?"


"Ya, dia hanya mengatakan ada hal penting yang harus dia selesaikan. Dia tidak memberi tahu kemana dia akan pergi"


Delia meraih kertas putih itu dari tanggan Netta, tanpa terasa airmata lolos begitu saja ketika membaca kata demi kata yang tertera didalamnya.


Delia sayang


Maafkan aku


Ketika kau membaca surat ini


Ada satu hal yang mengharusakan ku untuk pergi


Entah samapai kapan aku berada disana


Satu yang aku minta, tetaplah menjadi Deliaku


Hingga saatnya nanti tiba, aku pasti akan kembali


Dan disaat itu pula aku akan memintamu dari papamu.


Aku mencintaimu

__ADS_1


Daniel.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Netta saat melihat sahabatnya mulai menangis.


"Aku tidak apa-apa" Delia menyeka airmata yang telah membasahi pipinya.


"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Maaf jika aku mengganggu waktumu, semoga kau bahagia dengan pilihanmu" Netta mengusap bahu sahabatnya kemudian berlalu.


Tanpa mereka sadari sejak tadi Gino berada disana, bersembunyi diantara banyaknya pengunjung yang ada di restoran tersebut.


.


.


.


Gino sudah rapih dengan pakaian kerjanya, pagi ini ia akan ke kantor. Ia menatap Delia yang masih terlelap dalam tidurnya, tidak ada obrolan antara mereka sejak pulang dari pusat perbelanjaan kemarin bahkan sikap Gino terkesan dingin terhadap Delia.


"Maaf karna aku kau terluka" Gino berlalu setelah mencium kening sang istri, melihat tangisan Delia saat direstoran kemarin membuatnya merasa menjadi manusia paling jahat karna telah memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai.


Namun rasanya cintanya terhadap Delia begitu dalam hingga apa pun yang terjadi ia tidak akan pernah bisa untuk melepaskan Delia.


🌺**Happy reading, semoga ceritaku bisa menghibur kalian para pembaca setiaku🌺


Jangan lupa tinggalkan🖒❤🌷☕ dan votenya. i love you Reader 😗😘**

__ADS_1


__ADS_2