
"Bagaimana bisa putriku sampai keracunan?" Papa Joy melirik ke arah Delia yang belum sadarkan diri.
Saat ini mereka berada diruang perawatan, beberapa menit yang lalu Delia baru saja dipindahkan.
"Iya Gino, bagaimana bisa?" Mom Hera ikut menimpali besannya.
Terdengar hela nafas berat dari Gino "Entahlah, tapi yang pasti hanya makanan itu yang Delia makan sebelum mengalami keracunan"
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanya dad Tonny.
"Aku sudah menyuruh Roxy untuk memastikan kecurigaanku benar atau tidak"
Selang beberapa menit kemudian Delia mulai sadarkan diri. "Syukurlah kau sudah sadar" Gino mengecup tangan Delia berkali-kali "Apa masih sakit?"
"Sudah lebih baik" Senyum Delia mengembang ketika melihat sosok yang kini tengah berdiri disisi pembaringan "Papa" Lirihnya menatap pria yang ia rindukan, disisi lainnya ada mom Hera dan dad Tonny.
"Iya sayang, maaf papa belum sempat mengunjungi kalian setelah dari luar kota"
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" Mom Hera menatap wajah menantunya yang masih terlihat pucat.
"Sudah lebih baik mom"
.
.
.
Sementara itu keesokan harinya ditempat yang berbeda, manager caffe sedang mengintrogasi para karyawannya setelah menerima laporan dari Roxy terkait keracunan yang dialami oleh Delia. Pastinya Roxy membawa barang bukti berupa hasil tes dari sempel makanan yang saat itu Delia makan, dan Roxy dapat menyimpulkan jika memang ada seseorang yang sengaja mencampur racun kedalam makanan Delia.
"Katakan siapa diantara kalian saat itu yang bertugas mengantarkan makanan untuk nona Delia?" Sentak manager caffe.
Hening tidak ada yang berani menjawab.
"Katakan! Atau kalian semua saya pecat sekarang juga"
Mendengar ancaman mematikan itu, akhirnya salah satu diantara mereka ada yang berbicara.
"Saat itu surya yang mengantarkan makanannya bos" Ucap salah satu diantara mereka.
"Surya?" Roxy mencoba mengingat-ngingat nama yang tak asing baginya itu.
"Dimana dia sekarang?"
"Hari ini dia tidak masuk bos"
__ADS_1
"Ya sudah sana lanjutkan pekerjaan kalian!" Manager itu melirik kearah Roxy "Saya mohon maaf atas apa yang telah terjadi!"
Roxy hanya diam dengan wajah datarnya, setelah mengetahui siapa pelayan itu Roxy semakin yakin dengan dugaannya.
Setelah mendapatkan informasinya Roxy berlalu dari caffe tersebut menuju rumah sakit tempat Delia dirawat.
"Bagaimana hasilnya?" Baru saja Roxy tiba namun Gino sudah mencecarnya dengan sebuah pertanyaan.
Roxy menyerahkan sebuah kertas yang berisikan hasil tes sempel makanan itu kepada Gino. Seketika wajahnya merah padam, matanaya telah dipenuhi kilat amarah begitu menbaca tulisan yang tertera didalamnya.
"B*rengsek, siapa yang berani melakukannya?"
"Kau ingat staf bagian pemasaran yang kau pecat beberapa bulan lalu karna ketahuan menyelundupkan barang?" Roxy menggeser ponselnya kearah Gino, dimana menampilkan foto surya disana. Roxy baru akan melanjutkan kalimatnya namun lebih dulu disela oleh Gino.
"Kenapa kau malah membahasnya, aku ingin mengetahui pelaku yang berani meracuni istriku bukan manusia serakah sepertinya"
Roxy menghela nafasnya dengan berat "Dengarkan dulu, aku belum selesai bicara!"
"Maksudmu?"
"Maksudku dia adalah pelakunya?" Roxy menunjuk layar ponselnya yang menampilkan foto surya "Apa saat itu kau tidak mengenali wajahnya?"
"Tidak, saat itu dia memakai masker untuk menutupi wajahnya". Kemarahan tergambar jelas diwajah Gino demi apapun ia tidak akan mengampuni siapapun yang berani menyakiti wanitannya. "Bawa b*j*ng*n itu kehadapanku!"
Ditempat yang berbeda disebuah tempat terpencil yang jauh dari kota, seorang pria tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telpon.
"Jangan meninggalkan tempat itu sebelum aku memberikan perintah!" Ucap seseorang dari sebrang sana.
"Baik nona, saya akan melakukan sesuai perintah anda!"
Surya memutus panggilannya, ia kembali mengingat beberapa hari lalu saat akan mengantarkan makanan untuk mantan bosnya. Saat itu ada seorang wanita yang memintanya memasukan sesuatu kedalam makanan milik istri dari orang yang sangat ia benci.
Bagai mendapat oase dipadang pasir, Surya dengan senang hati melakukan apa yang diminta wanita itu. Anggap saja ini sebagai balasan karna Gino sudah memecatnya dengan tidak terhormat, begitulah pikirnya.
Setelah menjalani perawatan selama dua hari kondisi Delia sudah mulai membaik, dan sore ini ia sudah di ijinkan pulang.
Mom Hera terlihat sedang memasukan beberapa lembar pakaian kedalam ransel saat Gino dan Roxy tiba disana.
"Apa semuanya sudah beres?" Gino duduk disamping Delia kemudain mengecup keningnya.
"Sudah" Delia begitu terpaku menatap wajah Gino yang baginya.semakin hari semakin terlihat tampan.
Oh my god kenapa semakin hari dia semakin terlihat tampan saja.
Sadar akan tatapan tak biasa dari wanitanya, Gino pun mengusap wajah Delia "Kenapa menatapku keperti itu hmm?"
__ADS_1
"Aisshh kau itu mengganggu kesenangan orang saja" Gerutunya dengan bibir mengerucut.
"Oh, rupanya kau begitu senang saat menatapku?" Delia gelagapan saat tersadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan, bahkan kini wajahnya sudah bersemu merah membuat Gino semakin gemas dan semakin ingin menggodanya.
"Kenapa kau terus menggoda menantuku?" Cubitan kecil Mom Hera hadiahkan dipinggang Gino.
"Mommy mengganggu kesenangan orang saja" Melihat kekesalan di wajah suaminya, Delia pun mengantupkan bibir demi menahan tawa.
Sementara Roxy pria itu hanya duduk disudut sofa menjadi penonton, seulas senyum terbit diwajahnya saat melihat perubahan pada diri sahabatnya.
.
.
.
Suara ketukan pintu membangunkan dua orang yang masih betah dalam posisi nyamannya, selalaman Delia tidur dengan menjadikan lengan kokoh Gino sebagai bantalnya dengan wajahnya ia benamkan di dada bidang sang suami.
Dengan sangat hati-hati Gino mengangkat kepala sang istri, perlahan melepaskan tangannya agar tak mengganggu tidur wanitanya.
"Ada apa bi?" Tanya Gino saat pintu sudah terbuka.
"Itu tuan, ada tamu yang datang katanya ingin menjenguk nona"
"Siapa?" Gino menyahut dengan mengerutkan dahi.
"Tidak tau tuan saya baru melihatnya"
"Ya sudah suruh dia menunggu, aku akan kesana setelah membersihkan diri!"
Selang beberapa menit Gino memasuki ruang tamu dengan menggandeng tangan Delia, di lihatnya Shera tengah duduk disudut sofa dengan membawa bingkisan berupa buah-buahan.
"Maaf membuatmu lama menunggu" Gino ikut mendudukan tubuhnya tanpa melepas genggaman tangannya pada Delia.
Seulas senyum terbit diwajah Shera "Tidak apa-apa saya mengerti, saya kesini ingin melihat keadaan nona karna saya belum sempat menjenguknya saat dirumah sakit"
"Kedaan saya sudah lebih baik, terima kasih sudah mau repot datang kemari" Delia balas tersenyum dalam hatinya bertanya-tanya siapa wanita yang kini ada dihadapannya?
Seolah mengerti dengan kebingungan diwajah wanitannya, Gino pun memperkenalkan Shera "De, dia adalah Shera sekertaris baruku dan dia adalah teman lamaku dulu saat masih SMA"
"Perkenalkan nona, saya Shera" Shera mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Delia.
"Delia" Keduanya saling berjabat tangan dengan saling melremparkan senyum.
🌺🌺🌺🌺
__ADS_1