
"Mudah-mudahan dia tidak ada di kamar"
Namun itu hanya harapan Delia, nyatanya Gino saat ini sedang sedang duduk manis disisi pembaringan sambil memainkan ponselnya.
"Kenapa dia belum keluar juga, tidak ada pilihan lain selain meminta bantuannya dari pada aku keluar dengan hanya menggunakan ini"
Delia membuka sedikit pintu kamar mandi hingga hanya kepalanya saja yang terlihat "Bisa minta tolong?"
Gino menoleh kearah sumbee suara "Aku?" sahautnya memastikan.
"Ck, tentu saja. Memang ada orang lain lagi selain kau?"
"Apa yang bisa kubantu?"
"Aku lupa membawa pakaian ganti, bisa tolong ambilkan!" Cicitnya dengan suara pelan.
Gino bangkit dari atas tempat tidur menuju lemari, mengambil setelan piama berikut benda berbentuk kacamata dan segitiga milik Delia tanpa keraguan sedikitpun.
"Ini!" ia menyerahkan pakaian gantinya.
"Terima kasih" Tanpa menunggu jawaban Gino, Delia segera menutup pintu. Tak lama kemudian ia keluar dengan setelan piamanya.
"Kau tidur disini, aku akan tidur disofa" Gino berjalan menuju sofa, ia tau Delia tidak akan mau berbagi tempat tidur dengannya.
.
.
.
Malam semakin larut Delia baru bisa memejamkan matanya, dan mimpi itupun datang lagi menghantuinya.
__ADS_1
"Jangan, aku mohon jangan lakukan itu!" Gumamnya disela mimpinya.
Sayup-sayup Gino mendengar suara gumaman, perlahan ia membuka matanya tanpak Delia sedang sedang mengigau dengan tubuh terlihat gemetar.
"Delia, bangun!" Gino memberanikan diri menyentuh bahunya.
"Aku mohon jangan!" Lirihnya dengan mata masih terpejam.
Gino semakin keras menguncang bahu Delia demi menyadarkannya "Bangun Delia!"
"Tidaaaaakkkkkk" Delia terbangun, tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi keningnya.
"Kau baik-baik saja?"
Delia mengeratkan selimut begitu melihat Gino berada disampingnya "Mau apa kau?"
"Tenanglah, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu" Gino berusaha menenangakan Delia yang terlihat sangat ketakutan.
"Menjauhlah!"
"Aku bilang menjauh, aku mohon!" Lirihnya seiring isak tangis yang keluar dari bibirnya.
Dengan perasaan sedih Gino berlalu meninggalkan kamar, tak ingin Delia semakin ketakutan ia memilih tidur diruang kerjanya.
Apa dia mengalami trauma atas perbuatanku malam itu? Ya tuhan, apa yang sudah aku lakukan.
Gino menyandarkan tubuhnya dikursi rasa penyesalan semakin merasuki jiwanya.
.
.
__ADS_1
.
"Kenapa kau sendiri, Delia mana?" Pertanyaan itu terlontar dari mom Hera begitu mendapati putranya sedang duduk menikmati sarapan paginya seorang diri.
"Masih diatas mom, dia sedang tidak enak badan!"
"Oh, mom akan atas membawakan sarapan untuknya"
Mom Hera mengetuk pintu begitu samapi didepan kamar, tidak mendapatkan sahutan mom Hera akhirnya mecoba membukanya dan kebutulan pintu tidak dikuci hingga ia bisa masuk.
Dilihatnya Delia masih terlelap dalam tidurnya, Mom Hera meletakan nampan berisi sarapan yang ia bawa untuk Delia keatas meja kemudian berjalan kearah tempat tidur dan mejatuhkan tubuhnya disisi pembaringan tepat disamping sang menantu.
Diusapnya bahu Delia dengan sangat lembut "Nak, bangun sayang!"
Delia menggeliat kala merasakan ada tangan yang menyentuhnya dengan lembut, perlahan ia mulai mengerjapkan mata.
"Mom" Sautnya dengan suara seraknya.
"Bagaimana keadaanmu, Gino bilang kau sedang tidak enak badan?" Mom Hera mengelus pucuk kepala Delia dengan sayang.
"Sudah lebih baik mom"
"Ya sudah, mom mau pergi sebentar. Kau istirahat saja, mommy sudah bawakan sarapan untukmu"
Delia melirik keatas meja dimana sudah tersedia sarapan untuknya, kemudian menjatuhkan pandangannya pada wanita paruh baya yang berstatus sebagai mertuanya. Entah dorongan darimana Delia akhirnya memeluk mom hera.
"Maaf sudah merepotkan mommy"
"kenapa harus minta maaf, mommy sama sekali tidak merasa direpotkan. Apa perlu mommy suapi juga?"
"Tidak mom, aku hanya ingin memeluk mommy sebentar saja"
__ADS_1
"Kenapa harus sebentar, lama juga tidak apa-apa"
Kini kedua wanita itu saling memeluk layaknya seorang anak dengan ibu kandungnya.