DELIA ( Terpaksa Menikah )

DELIA ( Terpaksa Menikah )
BAB 51


__ADS_3

Satu minggu sudah Gino stay dirumah, tidak sedikitpun waktunya ia gunakan untuk ke kantor hingga Shera pun kalang kabut dibuatnya.


"Roxy sebenarnya Gino kemana, sudah satu minggu ini dia tidak menginjakan kakinya di kantor?" Tanya Shera dengan ketus, kekesalan terpancar jelas diwajahnya. Bagaimana tidak, niatnya bekerja disana agar selalu bertemu Gino tidak sesuai dengan harapannya.


Roxy menatap Shera dengan tatapan tajamnya, andai ia tidak melihat dihadapannya adalah seorang wanita mungkin saat ini ia sudah menghajarnya habis-habisan. Walau Shera sahabatnya salah tetaplah salah apalagi kesalahan Shera benar-benar fatal, Roxy menghela nafas sejenak untuk mengurai emosinya.


"Hai, kenapa kau diam saja?" Shera mengoyangkan tangannya didepan wajah Roxy.


"Dengar Shera, Gino sudah menikah. Lebih baik kau lupakan rasa cintamu untuknya, selain cantik kau juga wanita pintar banyak laki-laki yang menginginkanmu tidak seharusnya kau mengarapkan sesuatu yang tidak mungkin kau miliki. Kau sudah lama mengenal Gino dan kau pasti tau bagaimana dia jika sudah mencintai seseorang, sekeras apapun kau berusaha takan mampu menggoyahkan hatinya"


Shera hanya menunduk dengan jemarinya yang saling meremas, tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya hanya airmata yang perlahan menetes dari ekor matanya. Roxy memang benar sekeras apa pun ia berusaha takan mampu menggoyahkan perasaan Gino, namun untuk merelakannya rasanya ia takan sanggup.


"Sebagai seorang teman kita sudah lama saling mengenal, kau dan Gino sama bagiku kalian sama-sama penting dalam hidupku. Jangan sampai rasa cintamu menghancurkan hidupmu sendiri, perbaiki kesalahanmu dengan begitu mungkin saja Gino masih mau memaafkanmu"


Deg


Tubuh Shera terasa meremang, dalam hatinya bertanya-tanya kenapa Roxy bisa berkata demikian. Apakah Roxy curiga padanya atau bahkan sudah mengetahui kebenarannya? Bagaimana jika itu semua memang benar, dengan perasaan takutnya Shera memberanikan diri untuk menatap pria di hadapannya.


"A-apa ma-maksudmu?" Lidahnya terasa kaku bahkan untuk berucappun rasanya sangat sulit.


"Shera aku dan Gino sudah tau semuanya, Surya sudah menceritakannya" Tidak ada sentakan dalam setiap kalimat yang diucapkan Roxy, sebisa mungkin ia berusaha seperti biasanya namun Shera dapat melihat betapa Roxy saat ini sedang menahan amarahnya terlihat dari matanya yang merah menyala bahkan tatapannya begitu menusuk.


"Surya?" Lirihnya Shera dengan suara tertahan bahkan hampir tidak terdengar.

__ADS_1


"Ya surya, orang yang sudah menaruh racun dalam makanan Delia atas perintahmu. Orang yang hampir kehilangan nyawanya karena mu, Shera apa kau tidak pernah berpikir apa yang kau lakukan akan menghancurkan hidupmu. Gino akan membencimu dan kamu akan dihukum atas perbuatanmu, aku mohon hentikan semuanya Shera!"


Seketika Shera terkulai lemah sandi-sandinya seakan tak mampu untuk menopang tubuhnya hingga merosot kelantai, saat ini ia hanya bisa menangis menyesali segala perbuatannya. Nyatanya ucapan Roxy benar adanya, Rasa cinta telah membuatnya hilang akal sehat hingga tega menyakiti Delia bahkan hampir menghilangkan nyawa seseorang bahakn menghancurkan hidupnya sendiri dengan menjadi orang jahat.


Sebenarnya sejak kejadian penusukan terhadap Surya Shera selalu dihantui rasa bersalah, ia tak pernah bisa tertidur dengan nyenyak. Dan mendengar ucapan Roxy semakin membuatnya merasa menjadi manusia paling jahat.


"Aku jahat, aku pembunuh. Apa Gino mau memaafkanku setelah apa yang aku lakukan terhadap istrinya?" Shera menatap nanar sekelilingnya, tangisnya semakin pecah kala Roxy merangkul tubuhnya kedalam pelukannya.


"Minta maaflah dengan sungguh-sungguh, perbaiki semuanya masalah dia mau memaafkan mu atau tidak kau harus bisa menerimanya"


.


.


.


Kini Gino tengah termenung, Shera adalah sahabatnya namun perbuatannya terhadap istri tercintanya benar-benar diluar batas, hampir saja ia kehilangan buah hatinya karna Shera. Mengingat itu darahnya terasa mendidih tak bisa Gino bayangkan jika saat itu ia telat sedikit saja, aahh untuk membayangkannya saja Gino tidak sanggup apalagi jika terjadi.


"Tuan, ada tuan Roxy ingin bertemu dengan anda" Gino tersadar dari lamunannya begitu pelayan memanggilnya.


Tanpa menjawab Gino segera menuju ruang tamu dimana Roxy sedang menunggunya, tatapan Gino berubah ketika melihat Shera ada disana.


"Mau apa kau kemari?" Suara Gino terdengar santai namun entah mengapa terasa begitu menakutkan bagi Shera.

__ADS_1


Shera tak langsung menjawab ia melirik pada Roxy, Shera baru membuka suara ketika mendapatkan anggukan kepala dari Roxy "A-aku kesini mau minta maaf pada istrimu atas apa yang aku lakukan padanya"


Gino tertawa sinis, semudah itu Shera minta maaf. Bahkan sampai wanita itu menangis darah sekalipun rasanya sulit untuk Gino bisa memaafkannya "Apa kau pikir berbuatanmu masih layak untuk bisa dimaafkan?"


Untuk sejenak Shera kehilangan kata-kata, secara tidak langsung Gino menolak permintaan maafnya dan bagi Shera itu wajar mengingat kesalahnnya benar-benar fatal. Di sudut sofa sana Roxy hanya diam memperhatikan kedua sahabatnya.


"Aku tau perbuatanku takan bisa dimaafkan, untuk itu aku akan siap menerima hukumannya apapun itu. Aku bersalah dan aku tidak akan siap mempertanggung jawabkannya" Shera sudah mantap, ia sudah siap sekalipun akan dijebloskan ke jeruji besi.


Hening tidak ada lagi yang bersuara hanya yang terdengar suara isakan Shera.


"Ada apa ini, kenapa mba Shera menangis?" Terdengar suara Delia memecah keheningan antara tiga orang diruangan tersebut.


Shera menoleh kearah sumber suara dimana Delia tengah berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk, keterkejutan pun terjadi pada Delia saat tiba-tiba Shera menghambur dan berlutut dikakinya.


"Mba Shera ada apa?" Delia berusaha membangunkan Shera, namun Shera enggan beranjak.


"Aku mohon maafkan aku, aku sudah melakukan kesalahan besar padamu. Aku yang menaruh racun kedalam makananmu aku juga yang mengirim paket itu padamu, aku mohon maafkan aku"


Delia berusaha mencerna setiap kata yang terucap dari bibir Shera, Delia tidak menduga jika yang melakukannya adalah sahabat suaminya sendiri. Hal yang menjadi pertanyaan Delia, untuk apa Shera melakukan itu?


"Kenapa mba Shera melakukan itu, apa salahku?"


"Kau tidak salah apa-apa, akulah yang bersalah karna telah menganggapmu penghalang untuk cintaku" Jawaban Shera semakin menambah kebingungan Delia, apa hubungannya dia dengan hal itu.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti dengan maksud mba Shera"


"Aku sudah mencintai Gino sejak kami masih SMA bahkan sebelum Alina menjadi kekasihnya, saat itu aku merelakannya namun aku tidak bisa melupakan rasa cintaku. Aku berusaha melupakannya dengan pergi jauh dari kehidupannya, hingga takdir mempertemukan kami kembali dan aku bahagia karna memiliki kesempatan untuk bisa bersamanya. Tapi saat mengetahui dia sudah menikah denganmu, aku begitu membencimu karna kau sudah menjadi penghalang untukku bisa memilikinya. Aku mohon maafkan aku!" Shera semakin erat memeluk kaki Delia, sedangakan Delia hanya diam mematung tidak tau harus mengatakan apa.


__ADS_2