
Gleekk. . .
Delia menelan salivanya dengan susah payah, kenapa bisa Gino ada didekatnya apa lagi pria itu kini memberikan sesuatu padanya.
"Kau menjatuhkan ini dimobilku" Ucap Gino sambil memberikan sebuah buku pada Delia
Delia menerima buku tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia bingung harus mengucapkan apa.
"Sayang siapa dia, apa kau mengenalnya dan kenapa bisa bukumu terjatuh dimobilnya apa kau berangkat bersamanya?" Serentetan pertanyaan lolos begitu saja dari bibir Daniel, ia merasa penasaran kenapa bisa buku kekasihnya ada pada pria itu.
Delia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ia bingung harus menjawab apa, tidak mungkin ia mengatakan pada Daniel jika pria itu suaminya namun untuk tidak mengakui jika Gino adalah suaminya rasanya itu terlalu kejam.
"Dia. . ." Ucap Delia terpotong saat Gino tiba-tiba menyelanya.
"Saya rekan bisnis papanya, tadi kami tidak sengaja bertemu dijalan dan kebetulan arah kantor saya dengan kampus satu arah. Jadi saya memberikannya tumpangan" Jawab Gino dengan wajah tanpa expresinya
Delia terbelalak mendengar jawaban Gino, kenapa pria itu tidak mengatakan yang sebenarnya dan kenapa pria itu diam saja saat ada pria lain memanggilnya sayang. Delia mendongakkan wajahnya memberanikan diri menatap pria yang sudah sah menjadi suaminya, dalam hati ia merasa tak enak pada pria itu.
"Bailah nona, saya rasa urusan kita sudah selesai. Permisi"
"Ya terima kasih, maaf sudah merepotkan" Delia menjawab dengan gugup, kenapa sekarang ia merasa sangat bersalah pada Gino. Perasaan macam apa ini bukankah seharusnya ia merasa senang karna Gino tau dirinya mempunyai kekasih, bukankah ini yang ia harapkan supaya Gino melepasnya ??
Perlahan Gino mulai menjauh dari pandangan Delia, hingga hilang tak terlihat lagi tapi Delia masih saja melihat kearah sana.
"Heii, kenapa kau jadi melamun?" Tanya Neta dengan menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Isshh kau itu mengagetkan saja" Delia mengelus dadanya ia benar-benar merasa kaget.
"Lagian kamu kenapa melamun?"
"Neta benar sayang kau seperti sedang memikirkan sesuatu, apa kau baik-baik saja?" Daniel yang merasa penasaran akhirnya menimpali ucapan sahabatnya.
"Aku tidak apa-apa, tidak ada yang aku pikirkan" Delia berusaha menghilangkan kecuriggan kekasih dan sahabatnya.
"Oh My God Delia, pria tadi dia tampan sekali kau pasti sudah tau siapa namanya?" Neta bertanya dengan persaan menggebu.
"Dia Gino Abraham" Jawab Delia dengan singkat entah mengapa ada rasa tidak terima saat Neta memuji suaminya.
"Tunggu, bukankan itu nama salah satu pengusaha muda sukses kalau tidak salah dia anak dari tuan Tonny Abraham salah satu konglomerat di negara ini?" Tanya Daniel ingin menastikan dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Delia.
"Jangan mimpi kau Neta, dia sudah menikah" Jawab Delia mengejutkan sahabat dan kekasihnya.
"Whatt??" Ucap Neta dan Daniel secara bersamaan.
"Aahh tidak aku hanya asal bicara" Delia nyengir kuda, kenapa juga ia mengatakan hal itu sungguh ingin sekali ia merutuki kebodohannya sendiri.
*
*
*
__ADS_1
Dikantor
Prraanggg. . .
Gino yang sedang emosi melempar pas bunga kedinding hingga berubah menjadi pecahan-pecahan kaca, ia sudah menahan amarahnya sejak masih berada dikampus ia marah saat Daniel memanggil istrinya sayang. Ingin rasanya ia menghabisi pria yang menjadi kekasih istrinya saat itu juga, namun itu tidak ia lakukan ia lebih memilih pergi meninggalkan tempat itu demi meredam emosinya.
Roxy masuk saat mendengar ada suara bising dari ruangan bosnya.
"Tuan apa yang terjadi?" Namun tidak ada jawaban dari Gino, Roxy mengerutkan dahinya bingung dia menerka-nerka hal apa yang memicu kemarahan tuannya jika terkait masalah bisnis rasanya tidak mungkin mengingat minggu lalu mereka baru saja mendapatkan proyek besar.
"Kau batalkan semua jadwalku hari ini" Ucap Gino setelah emosinya mulai mereda.
"Kenapa tuan, apa ada masalah?"
"Tidak usah banyak bertanya kau, lakukan saja!"
"Maaf tuan, kalau begitu saya permisi"
"Hhmm"
Roxy membungkuk memberikan hormat kemudian ia mendekati pintu, baru saja ia akan menekan handel pintu tapi pintu sudah lebih dulu didorong dari luar. Alhasil keningnya tercium daun pintu hingga tubuhnya terhunyang kebelakang.
"Sial" Umapatnya dengan kesal, Roxy memegang keningnya yang sedikit benjol "Ya tuhan apa kadar ketampananku akan berkurang, sungguh sial sekali nasibku"
Gino tertawa saat mendengar celotehan asistennya, tapi tawa itu hilang seketika dan berubah masam saat melihat siapa sosok yang ada dibalik pintu, sosok wanita cantik berambut panjang dengan pakaian sexy yang melekat ditubuhnya.
__ADS_1