
"Eeuugghh" Leguhan lemah Gino membangunkan Delia dari tidurnya, kantuk yang ia rasakan seketika langsumg menghilang.
"Kau sudah sadar, sebentar aku panggil dokter dulu" Delia langsung berlari keluar ruangan, bersamaan dengan itu mom Hera dan papa Joy datang. Delia bahkan hampir saja menabrak papanya.
"Ada apa?" Raut kekhawatiran tergambar jelas dari wajah papa Joy saat melihat putrinya berlari dengan airmata yang membasahi pipi.
"Gino sudah siuman pa, mom. Aku mau memanggil dokter untuk memeriksanya"
"Biar papa saja, lebih baik kau kembali kedalam dan temani suamimu"
Delia hanya menyahut dengan anggukan kepala, ia segera kembali keruangan suaminya.
.
.
.
"Syukurlah dia sudah melewati masa kritisnya dan sekarang kondisinya sudah mulai membaik" Ucap pria berjas putih tersebut.
"Terima kasih dokter"
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi"
__ADS_1
Kini diruangan itu hanya tersisa Delia, mom Hera dan papa Joy lebih memilih menunggu diluar. Memberikan ruang untuk pasangan suami istri itu agar Delia bisa lebih leluasa, dan sejak tadi Delia terus berada disamping sang suami ia tidak pernah beranjak sedikitpun bahkan tangan Gino tak pernah lepas dari genggamannya.
"Apa ini sakit?" Dengan lembut Delia mengusap kepala Gino yang terbalut perban.
Gino hanya menyahut dengan anggukan kepala.
"Maaf, karna diriku kau jadi seperti ini" Lirihnya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca dan tak lama kemudian Delia sudah terisak.
Senyum tipis terukir diwajah tampan Gino, ini adalah pertama kalinya ia melihat Delia begitu peduli terhadapnya.
"Kenapa menangis, kau lihat aku baik-baik saja!"
Bukannya mereda tangis Delia semakin pecah "Tidak apa-apa bagiman, lihat ini!" Delia menunjuk beberapa bagian tubuh Gino yang terbalut dengan perban "Kau bilang ini tidak apa-apa?"
"Aku senang kau menghawatirkan ku, jika saja aku tau dengan terluka seperti bisa membuatmu peduli terhadapku. Sudah aku lakukan itu sejak dulu"
"Kau keterlaluan!" Delia beranjak dari sisi pembaringan dengan sambil menyeka airmatanya. Melihat itu Gino hanya mengerutkan dahi merasa bingung, apa dia salah bicara? Begitulah pikirnya.
Tak ingin Delia berlau dari ruangannya, Gino pun segera memutar otak mencari cara agar Delia tetap berada disisinya.
"Aawwww" Gino memijat kepalanya seolah-olah sedang merasa kesakitan, dan hal itu tentu saja membuat Delia panik bukan main.
"Kenapa, mana yang sakit? Sebentar aku panggil dokter dulu!" Saat akan melangkah, Gino dengan segera meraih pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Aku mohon tetaplah disini!"
"Aku hanya akan memangil dokter, setelah itu kembali kesini"
"Aku mohon!" Gino semakin memelas membuat Delia mengurungkan niatnya, ia kembali menjatuhkan tubuhnya disisi pembaringan.
.
.
.
Seorang pria paruh baya berjalan dengan tergesa gesa melewati lorong rumah sakit, ia begitu khawatir saat mendapat kabar tentang kecelakaan yang dialami putranya. Saat itu juga ia langsung pulang keindonesia.
"Bagaimana keadaan Gino?" Tanyanya begitu ia melihat sang istri sedang duduk dikursi tuggu didean sebuah ruangan bersama seorang pria yang kira-kira seusianya.
Mom Hera mondongakkan kepala ia sudah bisa mengenali siapa pemilik suara tersebut "Keadaannya sudah lebih baik".
"Syukurlah" Kini dad Tonny bisa bernafas lega, tidak terjadi sesuatu dengan putranya. Saat akan melangkahkan kakinya menuju ruang rawat putranya mom Hera menahan pergelangan tangannya.
"Sebaiknya jangan dulu, kita jangan ganggu mereka. Biarkan mereka menikmati waktu untuk berdua"
Paham akan maksud sang istri, dad Tonny akhirnya memilih menunggu diluar.
__ADS_1
"Aahh maaf saya sampai melupakan keberadaan anda, senang bisa bertemu dengan anda" Karna terlalu khawatir ia sampai melupakan keberadaan papa Joy yang merupakan besannya.
Papa Joy merbitkan senyum ramahnya "Tidak masalah, senang juga bisa bertemu dengan anda" Keduanya saling berjabat tangan.