
Hutan Kematian
Jian Chen yang membentur batang pohon perlahan menyetabilkan tubuhnya. Ia menahan rasa sakit di punggungnya, walaupun tubuhnya kuat, tetap saja itu akan terasa sakit. Tatapannya masih tertuju pada Xin Yuan yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Ia pun menaikkan sudut bibirnya karena sudah menduga bahwa serangan sebelumnya adalah serangan terkuat yang dimiliki oleh Xin Yuan.
“Tampaknya kau memiliki kekuatan. Apakah kau masih memiliki teknik lain yang lebih kuat? Jika ya, maka jangan sungkan-sungkan untuk mengeluarkannya.” Jian Chen menyeringai saat mengarahkan Pedang Azure ke arah Xin Yuan yang berlutut dengan satu kaki di salah satu cabang pohon.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Jian Chen, Xin Yuan memasang wajah gelap seperti pantat wajan yang hangus. Serangan sebelumnya adalah teknik terkuat yang ia miliki. Jika lawan berhasil mengalahkan tekniknya secara paksa, maka bisa dipastikan bahwa ia tidak mungkin bisa menang. Ia masih ingat tentang Jian Chen dan Xiao Yu yang melawannya bersama dengan Xin Yan ketika berada di Kota Texas.
“Jangan sombong sialan!” Xian Yuan meraung marah. Ia masih tidak ingin melepaskan Mythril karena itu dapat meningkatkan kualitas Senjata Kelahiran miliknya. Ia pun langsung menarik tali busur lalu menembakkan anak panah qi sambil melompat ke atas cabang pohon lainnya.
Menatap itu, Jian Chen hanya mendengus. Ia pun langsung bergerak juga untuk mendekat, ia sadar bahwa ia tidak akan bisa melukai Xin Yuan jika jarak mereka sangat jauh. Tebasan Terbang yang ia gunakan pasti bisa dihindari oleh Xin Yuan sehingga ia harus menutupi jarak agar serangannya menggunakan bilah qi bisa mengenai target tanpa bisa dihindari.
Untuk Xiao Yu, menatap Jian Chen yang telah bergerak pun langsung menyerang ke arah Xin Yan yang saat ini menatap Jian Chen dengan wajah muram juga.
“Akulah lawanmu!” Xiao Yu yang telah mengeluarkan sayapnya pun langsung melesat ke arah tempat Xin Yan berada.
“Sialan!” Xin Yan meraung marah dan langsung menembakkan panah qi ke arah Xiao Yu yang melesat dengan kecepatan tinggi diantara pepohonan.
Sraing! Sraing! Sraing!
Jian Chen terus-menerus melancarkan tebasan terbang ke arah Xin Yuan yang telah memulihkan kondisi lengan kanannya yang awalnya gemetaran karena menahan rasa sakit dari melancarkan teknik terkuat yang dia miliki.
Walaupun tubuh Xin Yuan saat ini kelelahan, ia tidak akan semudah itu dikalahkan oleh Jian Chen. Selama kekuatan fisiknya tidak habis, ia tidak mungkin kalah walaupun mungkin tidak akan menang juga melawan Jian Chen.
__ADS_1
Jian Chen yang awalnya sengaja memancing amarah Xin Yuan juga merasa tidak berdaya. Untuk mengalahkan Xin Yuan, ia juga mengetahui bahwa ia harus memaksa Xin Yuan menghabiskan kekuatan fisiknya. Jika tidak, ia juga tidak akan mendapatkan keuntungan sama sekali.
Tetapi, Jian Chen sangat yakin bahwa jika pertarungan terus berlanjut, kemenangan akan jatuh di tangannya karena kekuatan fisik serta stamina miliknya jauh lebih unggul dari pada Xin Yuan. Meskipun begitu, untuk membuat seseorang sekuat Xin Yuan kelelahan, bisa dipastikan membutuhkan waktu seharian.
Jian Chen yang saat ini sedang melancarkan tebasan terbang terus-menerus ke arah Xin Yuan berpikir apakah ia harus membiarkan Hui-Ying bertarung. Tetapi ia langsung menyampingkan pemikirannya tentang hal itu karena kecepatan Hui-Ying tidak akan bisa membuatnya menghindari serangan dari Xin Yuan terus-menerus.
“Apakah tidak ada cara lain lagi?” Batin Xin Yuan yang menatap Jian Chen terus menghindari serangannya pun semakin frustasi. Ia juga menyadari bahwa kekuatan fisik dan stamina Jian Chen lebih tinggi darinya sehingga cepat atau lambat ia akan kalah.
“Bocah! Ayo bernegosiasi! Pertarungan ini sama sekali tidak ada artinya!” Xin Yuan yang angkuh untuk pertama kalinya pun mencoba bernegosiasi.
Jian Chen yang ingin melancarkan serangan tebasan terbang sekali lagi pun langsung terhenti.
“Apa yang kau inginkan?” Tanya Jian Chen saat menaruh Pedang Azure di tangannya.
“Kau pasti tau bukan jika Mythril mampu meningkatkan kualitas Senjata Kelahiran. Jumlah yang dibutuhkan untuk Mythril yang ada di sana untuk sekali peningkatan adalah dua buah. Jumlah batu Mythril ada sepuluh. Bagaimana jika kita melakukan gencatan senjata dan membagi batu Mythril?” Tanya Xin Yuan setelah mengambil keputusan.
Xin Yan yang mendengar itu tidak mencoba menahan saudara kembarnya untuk bernegosiasi karena ia tau bahwa dirinya juga tidak bisa memenangkan pertarungan melawan Xiao Yu.
“Oh? Baiklah. Jumlah batu Mythril yang ada di sana adalah 10 buah. Kami akan mengambil enam.” Jian Chen langsung membuat proposalnya juga.
“Apa kau tidak terlalu tau malu?” Xin Yuan menyumpahi Jian Chen menjadi babi karena terlalu serakah dan nafsu makannya terlalu besar. Alasan ia tidak setuju, tentu karena satu buah Mythril juga bisa dijual dengan harga mahal.
“Pembagian 50-50!” ucap Xin Yuan lagi.
__ADS_1
“Kenapa aku harus menerima 50-50? Jika pertarungan dilanjutkan, kami pasti menang. Aku hanya memberimu wajah dan memberikan empat potong. Jangan terlalu memaksakan diri. Lagi pula, kami ada tiga.” ucap Jian Chen menunjuk ke arah Hui-Ying tanpa tahu malu.
Bibir Xin Yuan bergetar keras ketika melihat Jian Chen menghitung harimau kecil yang ada di dalam pakaiannya.
“Terima atau tidak? Jika tidak, maka aku akan menemanimu sampai kau kelelahan. Aku bisa melakukan hal ini seharian dan di saat itu juga, aku akan memanen semua batu Mythril untukku sendiri.” ucap Jian Chen.
Xin Yuan dan Xin Yan menggertakkan gigi mereka sampai-sampai terdengar. Untuk menghadapi seseorang seperti Jian Chen, mereka bisa-bisa menjadi gila.
Xin Yuan tidak berbicara dan bergerak ke arah tempat batu Mythril berada. Jian Chen juga bergerak karena ia tidak akan melepaskan batu tersebut.
Sudah merupakan kebaikan menurut Jian Chen saat ia memberikan empat potong batu Mythril kepada Xin Yuan dan Xin Yan.
Ketika mencapai batu Mythril, Xin Yuan pun mengambil empat potong lalu langsung melompat ke cabang pohon yang lumayan jauh.
Xin Yuan hanya menatap Jian Chen mengambil enam potong dengan mata merah tetapi ia tidak mencoba menghentikannya. Ia adalah seseorang yang memiliki harga diri tinggi dan bukan tipe orang yang mengingkari janjinya. Dan hal ini juga berlaku untuk seseorang seperti Jian Chen.
“Baiklah, terima kasih telah berbisnis. Jika kau melakukan ini dari awal, maka kita tidak perlu bertarung habis-habisan.” Jian Chen menyeringai saat menyimpan keenam batu Mythril.
Xin Yuan hanya bisa menatap Jian Chen dengan tatapan maut. Jika tatapan seperti itu bisa membunuh seseorang, maka Jian Chen akan mati ribuan kali.
“Aku akan mengingat ini. Saudaraku, ayo pergi!” Teriak Xin Yuan dan langsung melesat diantara pepohonan diikuti oleh Xin Yan yang menatap Xiao Yu dengan tatapan membunuh untuk beberapa saat.
Jian Chen hanya menyeringai ketika menatap kepergian Xin bersaudara. Alasan ia setuju memberikan empat potong, itu dikarenakan ia sama sekali tidak mau membuang waktu melawan musuh merepotkan seperti Xin Yuan dan Xin Yan.
__ADS_1