Dewa Pedang Azure

Dewa Pedang Azure
Dari Tempat Yang Sama


__ADS_3

Pulau Buddha


Kata-kata yang keluar dari mulut Xiao Yu membuat pemuda tersebut memasang wajah yang sangat jelek. Qi-nya perlahan merembes keluar karena merasa sangat terhina, menurutnya Xiao Yu sedang mengolok-oloknya tidak mampu membeli makanan mewah.


Mata Jian Chen menyipit sedikit ketika merasakan kekuatan pemuda tersebut yang telah mencapai Martial Grand Master tahap ketiga. Itu tiga tahap diatasnya, dan tidak mungkin ia akan menang jika ia bertarung satu lawan satu.


“Bocah! Tampaknya kau sangat ingin mati!” ucap pemuda tersebut dengan niat membunuh ketika menatap ke arah Xiao Yu.


Karena fokus pemuda tersebut tertuju pada Xiao Yu, ia sama sekali tidak memperhatikan Jian Chen yang telah memegang gagang Pedang Azure lalu mengalirkannya qi-nya perlahan ke pedang.


Sedangkan untuk Xiao Yu, wajahnya cukup gelap karena seseorang mengancamnya. Ia harus mengakui bahwa kekuatan pemuda tersebut memang diatasnya, tetapi ia bukanlah seseorang yang sangat mudah untuk ditindas walaupun lawan lebih kuat darinya. Jika kultivasi tidak mampu menyaingi, gunakan teknik untuk melawan.


“Aku akan mengajarimu sopan santun terhadap seseorang yang lebih kuat!” Teriak pemuda tersebut saat ia mengayunkan tinjunya yang telah dilapisi oleh qi ke arah Xiao Yu.


“Tebasan Kecepatan Petir!”


Sraing!


Jian Chen yang menyerang pun menebas ke arah perut lawan tetapi wajahnya tampak sedikit muram karena ada pelindung qi yang sangat kuat mencoba menahan tebasannya.


Sementara untuk pemuda tersebut, ia merasakan sakit luar biasa walaupun ia telah melapisi tubuhnya menggunakan qi secara refleks. Itu seperti sebuah pukulan menggunakan tongkat pemukul karena bilah tajam Pedang Azure dihalau oleh qi, hanya menyisakan berat serangan.

__ADS_1


Bam!


Pemuda itupun terpental menjauh ke arah dinding tempat makan tersebut dan langsung menabraknya lalu menembusnya.


Brak!


“Inikah kultivator Martial Grand Master? Tanpa menyalurkan qi, tubuh tampak secara pasif akan mengeluarkan qi dari seluruh tubuh!” Batin Jian Chen saat melihat kejadian sebelumnya. Untuk dirinya, ia harus menyalurkan qi ke titik tertentu seperti kaki untuk menggunakan qi di kaki. Tetapi tampaknya tingkat Martial Grand Master memiliki pertahanan pasif menggunakan qi yang bocor secara refleks jika ada tanda bahaya.


Dari hal inipun, sangat terlihat bahwa tingkat Martial Master akan sangat sulit melawan musuh tingkat Martial Grand Master.


Sementara untuk wanita yang bersama dengan pria muda sebelumnya menaikkan alisnya ketika menatap kejadian tersebut. Ia tau bahwa Jian Chen lebih muda sedikit darinya dan sudah mencapai tingkat Martial Master tahap kesembilan, hanya satu tahap dibawahnya. Dari hal inipun, ia tau bahwa apa yang ia pikirkan ternyata benar.


“Apakah dia yang dikatakan oleh Tetua Ku Zuo? Anak dengan Senjata Kelahiran tersembunyi, terlahir dengan pedang dan sarungnya?” Wanita itu kini makin tertarik dengan Jian Chen. Ia adalah anggota Sekte Roh Agung yang terletak di Pulau Lizawa sebelumnya. Kelompok Sekte Roh Agung lebih dulu keluar dari Pulau Lizawa dan mereka juga menuju ke Pulau Buddha untuk bergabung dengan Sekte lainnya sebagai anak cabang, yaitu Sekte Buddha Agung.


Keributan yang terjadi membuat semua kultivator yang ada di restoran keluar dan menatap ke arah pemuda yang dihempaskan oleh Jian Chen dengan tatapan heran.


“Uhuk.. bajingan sialan! Aku pangeran Kerajaan Yan akan diperlakukan seperti ini oleh orang desa?” Pemuda yang tidak lain adalah Pangeran Kerajaan Yan, Yan Chang berkata dengan nada sangat marah. Ia perlahan menyeka darah dari sudut bibirnya saat ia perlahan berdiri.


Beberapa kultivator langsung mendekat ke arah Yan Chang. “Pangeran, apakah anda baik-baik saja? Siapa yang melakukan ini kepada anda?”


Suasana hati Yan Chang sangat buruk saat ini sehingga ia hanya menatap tajam ke arah para bawahannya yang menikmati hidangan di lantai dua restoran.

__ADS_1


Sementara itu, Jian Chen langsung melompat dari lubang yang dibuat oleh Yan Chang bersamaan dengan Xiao Yu dan Hui-Ying. Ketiganya mendarat di jarak hampir lima meter dari kelompok Yan Chang, tentu ketiganya tidak akan takut melawan Yan Chang walaupun kekuatan Yan Chang berada di atas mereka.


“Kau akan membayar apa yang kau lakukan! Bunuh dia!” Perintah Yan Chang kepada bawahannya.


“Yang Mulia, ada peraturan di Pelabuhan Ratu, pembunuhan dilarang! Jika kita melakukannya, konsekuensinya tidak akan terbayar sama sekali!” Salah satu bawahan Yan Chang berbicara dengan nada gugup.


Pelabuhan Ratu dikuasai oleh kekuatan besar, menjadi salah satu Pelabuhan terbesar dalam rute perdagangan. Jika tempat itu kacau, tidak akan ada mau yang mengambil rute tersebut untuk berdagang sehingga kekuatan besar yang mengendalikan Pelabuhan Ratu membuat kebijakan seperti itu agar keamanan terjamin.


Mendengar peringatan dari bawahannya, Yan Chang membeku di tempat karena ia tau bahwa Kerajaan Yan yang kini telah pindah tidak mampu menyingung pemilik Pelabuhan Ratu.


Wanita yang sebelumnya bersama dengan Yan Chang pun melompat ke samping Yan Chang lalu berkata, “Yan Chang, hentikan sampai di sini! Jika tidak, kami tidak akan membantumu memasuki Sekte Buddha Agung. Dengan koneksi Kerajaan Yan, kalian tidak akan bisa memasuki Sekte itu dengan mudah. Kami juga tidak bisa menyingung pemilik Pelabuhan Ratu ini.”


“Yue Mei...!” Wajah Yan Chang sedikit jelek ketika mendengar ancaman dari gadis muda bernama Yue Mei.


Yue Mei adalah gadis yang tampak mungil, dengan rambut panjang hijau tua, mata berwarna hijau zamrud serta alis tajam. Menggunakan pakaian serba hijau, kulit putih seperti giok dan bibir kecil seperti ceri. Ia baru saja berusia 16 tahun, dengan tingkat kultivasi Martial Grand Master tahap pertama.


“Yan Chang?” Jian Chen membatin karena ingat tentang nama Pangeran dari Kerajaan Yan dari Pulau Lizawa. Ia tidak menyangka bahwa dunia akan begitu kecil sehingga bertemu dengan seseorang dari Pulau yang sama dengannya.


“Tetapi, jika tidak membunuh, itu pasti tidak akan masalah bukan?” Yan Chang yang memiliki harga diri tinggi berkata dengan nada dingin sekali lagi. Ia tidak memberi wajah kepada Yue Mei sama sekali karena saat ini amarahnya sudah mencapai ubun-ubun.


“Oh? Tidak membunuh? Tampaknya itu tidak masalah sama sekali. Tetapi kau harus bertarung di pinggiran karena kekacauan akan terjadi jika kau bertarung di sini.” Yue Mei sama sekali tidak peduli apakah Yan Chang memberinya wajah atau tidak. Alasan lainnya, tentu saja karena ketertarikannya terhadap Jian Chen, pemuda yang membuat Ku Zuo sangat menyesal tidak merekrutnya ke Sekte Roh Agung sebelumnya.

__ADS_1


“Jika begitu, maka aku akan mematahkan kaki dan tangannya untuk memberinya pelajaran!” ucap Yan Chang dingin. Ia mencoba menahan diri membunuh Jian Chen saat ini agar tidak mendapatkan masalah yang tidak diperlukan.


Sementara itu, Jian Chen dan Xiao Yu tersenyum kecil ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Yan Chang karena keduanya telah membuat keputusan mematahkan lengan dan kaki Yan Chang juga untuk memberinya pelajaran.


__ADS_2