Dewa Pedang Azure

Dewa Pedang Azure
Menikmati Hidangan Mewah


__ADS_3

Pulau Buddha


“Dasar udik desa!” Pria muda yang tampak berusia sekitar 19 tahun berkata dengan nada jijik ketika ia menatap ke arah Jian Chen dan Xiao Yu.


Sementara untuk wanita yang terlihat berusia 17 tahun melebarkan matanya ketika menatap Pedang Azure yang ada di pinggang Jian Chen.


“Mungkinkah dia..” Batin wanita itu dan mencoba mengingat kembali tentang perkataan seseorang padanya. Ia pun langsung yakin ketika melihat ke arah Xiao Yu dan harimau kecil yang berada di pangkuan Jian Chen.


“Tidak masalah sama sekali. Aku akan membayar sesuai dengan harga.” Jian Chen berpura-pura memasukkan tangannya ke dalam pakaiannya lalu mengeluarkan beberapa kantong yang tidak terlalu besar, kedua kantong tersebut berisi 500 koin emas masingmasing.


“Ini untuk biaya awal agar kalian membaut hidangan yang kami inginkan tanpa banyak bertanya.” Lanjut Jian Chen saat ia melirik ke arah meja lainnya yang diisi oleh dua kultivator. Ia tentu dengar kata-kata pria muda tersebut yang tampak jijik padanya, tetapi ia tidak peduli sama sekali dan hanya menganggapnya sebagai angin lalu.


“Baik tuan muda. Apakah ada hidangan lainnya?” Pelayan itu buru-buru berbicara karena takut bahwa Jian Chen yang sebenarnya membawa banyak kekayaan akan pergi karena pelayanan restoran tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Jian Chen ataupun Xiao Yu.


“Bawakan beberapa hidangan daging binatang roh lainnya yang dihidangkan dengan cara yang berbeda untuk beberapa porsi.” ucap Jian Chen. Ia tentu akan memilih daging karena daging hewan roh mengandung qi yang dapat meningkatkan qi di dalam tubuh ketika di konsumsi. Itulah mengapa harga hidangan daging hewan roh kelas tinggi sangatlah mahal.


“Baik... Untukku..” Xiao Yu yang menyeka sedikit air liur di sudut bibirnya pun langsung meminta banyak hidangan. Ia adalah tipe seseorang yang sangat suka memakan banyak jenis hidangan. Ini adalah kebiasaan yang datang tiba-tiba ketika berada di Hutan Roh setelah ia resmi memasuki jalan kultivasi.


“Baik, pesanan akan segera datang. Harap tunggu tuan muda.” ucap pelayan tersebut lalu langsung pergi setelah permisi mengambil dua kantong koin emas.


Jian Chen yang sedang menunggu hidangan, langsung mengeluarkan peta yang diberikan oleh Ning Qingxue. Ia melebarkannya di atas meja dan menatap semua tempat yang ada. Peta tersebut adalah peta khusus untuk Pulau Buddha.


“Pelabuhan Ratu.. Hm? Tampaknya Pulau Buddha juga di diami banyak Kerajaan. Tidak seperti Pulau Lizawa yang hanya dikuasai oleh satu Kerajaan walaupun wilayah Pulau Lizawa bisa dikatakan hampir empat kali lebih besar dari pulau Buddha.” Batin Jian Chen dan menatap ke arah beberapa tempat yang paling dekat dengan Pelabuhan Ratu.


“Sarang Iblis? Apa ini? Apakah benar-benar ada Iblis di dunia ini?” Batin Jian Chen saat menatap tempat yang diperkirakan berjarak hampir dua minggu dengan kecepatannya bergerak dengan Xiao Yu jika bergerak melalui Pelabuhan Ratu.

__ADS_1


Selain dari Sarang Iblis, tempat lainnya yang dilihat oleh Jian Chen adalah pegunungan yang tidak ada habisnya. Itu sama seperti Pulau Jawa di Indonesia asli. Di pulau Buddha, jumlah gunung yang ada bahkan lebih banyak sekitar tiga kali lipat.


Di dekat Sarang Iblis, Jian Chen melihat satu gunung yang aktif dengan nama yang menarik.


“Gunung Phoenix.” Gumam Jian Chen dan merasa heran sedikit. Semula menurut tata letak Pulau Jawa asli, Gunung Phoenix tidak ada sama sekali yang artinya, ini adalah Gunung tambahan di Yggdrasil.


Setelah membuat keputusan untuk melihat kedua tempat tersebut, Jian Chen pun menyimpan peta kembali ke cincin penyimpanan tetapi ia seolah-olah membuat menyimpannya di dalam pakaiannya agar tidak dicurigai oleh orang lain.


“Apakah ada tempat yang menarik Jian Chen?” Tanya Xiao Yu yang sedikit tidak sabar karena sangat ingin memakan daging hewan roh kelas atas.


“Ya. Kita akan membahasnya ketika selesai makan.” Balas Jian Chen ketika telah merasakan beberapa pelayan membawa hidangan yang mereka pesan.


Setelah semua hidangan berada di atas meja yang sangat besar, pelayan yang semula memimpin Jian Chen dan Xiao Yu pun berbicara, “Tuan muda, jika anda ingin memesan yang lainnya, gunakan alat komunikasi ini.”


Melihat Jian Chen yang sedikit bingung, pelayan itupun langsung mengalirkan qi ke burung tersebut lalu burung tersebut tampak bangun dan mendengarkan semua suara disekelilingnya.


“Satu...” Pelayan tersebut bergumam.


Lalu burung itupun mengeluarkan suara yang sama ketika dia terbang ke pundak pelayan tersebut. Setelah itu, dalam waktu beberapa detik, dia kembali seperti burung mati.


Jian Chen tidak bisa berkata-kata karena tidak menyangka bahwa akan ada hewan roh seperti itu.


“Baik.” Jian Chen pun menerima burung mati atau lebih tepatnya burung sekarat tersebut lalu menaruhnya di kursi di sebelahnya yang kosong.


Setelah itu, Jian Chen menaruh Hui-Ying di depan harimau yang menutupi setengah meja lebar tersebut.

__ADS_1


Hui-Ying yang mengerti pun langsung memakannya perlahan-lahan.


Jian Chen dan Xiao Yu juga tidak tinggal diam dan langsung mencicipi semua hidangan yang dipesan. Keduanya memang sangat mencintai kuliner dan itu dikarenakan Jian Chen yang membuat hidangan lezat menggunakan herbal-herbal ketika berada di Hutan Roh.


“Sungguh menjijikkan! Apa mereka sama sekali tidak memiliki tata Krama saat makan?” Pemuda itu pun berbicara dengan nada jijik ketika melihat cara Jian Chen dan Xiao Yu makan seperti orang yang baru keluar dari hutan.


Wanita yang berada di dekat pria itupun menutup mulutnya karena menahan tawa. Tetapi dimatanya, terlihat antisipasi tertentu saat melirik ke arah Jian Chen.


Hidangan di depan Jian Chen dan Xiao Yu sangat cepat habis. Xiao Yu yang tidak bisa menahan selera makannya, menyambar burung sekarat lalu memesan lebih banyak makanan.


Setelah hidangan lainnya datang, meja semakin tampak berantakan yang membuat pria yang menatap Jian Chen dan Xiao Yu merasa semakin jijik.


“Aku tidak tahan lagi! Keduanya membuat nafsu makanku hilang!” pria itupun menahan rasa mual karena menatap cara makan Jian Chen dan Xiao Yu.


Pria itupun berdiri karena merasa Jian Chen dan Xiao Yu mengganggu ketenangan tamu lainnya untuk makan.


Sementara untuk wanita tersebut, ia hanya menaruh satu tangannya di bawah dagunya, melihat apa yang akan terjadi selanjutnya dengan tatapan tertarik.


“Hei orang udik! Bisakah kalian berhenti makan dengan cara menjijikkan yang membuat nafsu makanku hilang?” Pria itupun bertanya dengan nada sangat dingin ketika berhenti di jarak tiga meter dari meja Jian Chen.


Jian Chen dan Xiao Yu berhenti makan secara refleks yang membuat pemuda itu merasa puas karena tampaknya kedua orang udik masih bisa mendengarkan perintah seseorang.


Tetapi, kata-kata yang di dengar oleh pemuda itu selanjutnya pun membuatnya tercengang.


“Jian Chen, apakah orang ini tolol? Sepertinya kita membayar hidangan ini sendiri, bukan dia. Ataukah, dia merasa iri karena kita bisa memesan banyak hidangan sementara dia hanya memesan ayam kalkun yang tidak memiliki daging?” Tanya Xiao Yu heran dan menatap pemuda itu layaknya menatap orang miskin atau pengemis di pinggir jalan.

__ADS_1


__ADS_2