Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 9


__ADS_3

...CHAPTER 9...


...THEIR CALL...


"Aku mendapat laporan baru. Rosie. Anak itu berteman dengan anak keluarga Jenkins."


Daniel. Dia bersandar di pinggir meja barista sambil merokok. Matanya memandang kafe yang sepi. Tidak ada pelanggan seperti biasa atau dua pegawainya yang lain. Yang ada hanya dirinya bersama pria yang ada di teleponnya sekarang


"[Apa maksud mu?]"


Suara pria itu terdengar tenang, namun Daniel bisa menerka ada nada khawatir di kalimat pria itu yang terselip. "Aku yakin kau mendengar persis seperti yang ku katakan." Daniel menekan ujung rokoknya ke permukaan asbak, mematikan api kecil yang menjalar lamban di ujung sana.


Dia beranjak dari tempatnya berdiri, melangkah pelan menuju jendela sebelum menutup gorden yang menjuntai di setiap sisi, membiarkan kegelapan seketika mengelilinginya.


Pria itu melirik ke arah jam dinding berbentuk burung hantu yang menunjukkan pukul 03.30 pm, yang mana artinya, si kembar, Rosaline dan Reagan, akan segera pulang dari kampus mereka.


"[Jadi benar? Rosie punya hubungan dengan the golden money?]"


Daniel tak langsung menjawab. Ia memijat pelipisnya sebelum tangannya mengambil rokok baru dari kantong celananya.


"Jika kau mau aku menyimpulkannya dengan cara itu, maka, iya! Anak itu punya hubungan dengan the golden money sekarang."


Api kecil hinggap dan perlahan membakar ujung rokok Daniel setelah ia menyalakan korek apinya. Pria itu dengan santai menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya ke udara. Sama sekali tak peduli kalau asapnya akan mengelilingi seisi kafe.


"[Dunia sempit sekali.]"


Daniel terkekeh menanggapi perkataan pria di teleponnya. Ia kembali melirik ke arah jam dinding burung hantu itu sekali lagi, sebelum mendudukkan dirinya dengan nyaman di atas meja barista.


"[Menurut mu... Apa aku harus menyusul ke Inggris juga? Aku takut ini berubah menjadi tak terkendali.]"


Daniel menghisap rokoknya sekali dan menghembuskan asapnya. "Untuk apa? Mengawasi mereka juga? Kau tidak lupa, kan, aku ada di sini, Julian? Kau sendiri yang meminta ku untuk itu."

__ADS_1


Julian. Sebagaimana Daniel memanggil pria di sambungan teleponnya itu hanya diam. Ada jeda lama dan kesunyian di antara mereka, sampai-sampai Daniel bisa mendengar suara nyamuk yang berdengung di sekitar telinganya.


"[Aku tahu, tapi aku hanya...]"


Lagi. Jeda lama itu kembali lagi dan membuat Daniel menghela napas pasrah. Dia bahkan bisa menebak apa yang ingin Julian katakan tanpa pria itu melanjutkan kata-katanya barusan.


'Aku khawatir' kata itulah yang ingin Julian katakan namun ego-nya terlalu tinggi. Membuat kata-kata tulus itu tersangkut di ujung tenggorokannya dan membuat pria itu terlalu gengsi mengatakannya.


"Aku tahu kau khawatir karena Rosie punya hubungan dengan the golden money, which mean her parents truly nightmare. Tapi aku yakin, pertemanan mereka tidak akan bertahan lama.


"Begitu Rosie tahu bagaimana watak Jenkins yang sebenarnya dia pasti akan meninggalkannya," Daniel berkata, berharap perkataan panjangnya itu bisa mengurangi kekhawatiran Julian, walaupun hanya sedikit.


"[Lalu kau pikir Jenkins itu akan melepaskan Rosie dengan mudah? Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Daniel! Watak kejam orang tuanya pasti menurun pada anaknya juga!]"


Daniel hampir saja mengumpat saat merasakan jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Bukan debaran sesuatu yang romantis, melainkan debaran seiring rasa gugup dan getir meraup ke sekujur tubuhnya, membuat matanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri.


Salahkan perkataan Julian barusan yang langsung membuatnya berpikiran negatif.


Daniel tanpa sadar meneguk ludahnya gugup. Ia kembali meletakkan rokoknya ke asbak dan berkata, "y-yeah jika hal itu terjadi, dia ada di sana untuk mengatasinya. Dia bisa melindungi mereka berdua di sana."


"['Di sana' yang ku maksud bukan universitas Westminster, Daniel! Tapi seluruh Inggris! Kalau hanya satu universitas yang memandang mereka seperti itu, aku yakin Rosie dan Reggie bisa mengatasinya. Tapi tidak seluruh Inggris.]"


Mendengar perkataan Julian barusan, Daniel tersentak. Dia bahkan kehilangan nafsu untuk menghisap rokoknya lagi. Kepalanya sibuk mencari kalimat yang tepat untuk ia lontarkan sebagai jawaban atas perkataan Julian.


Namun nihil. Tidak ada kalimat yang tepat untuk ia nyatakan sekarang. Karena pikirannya sudah larut dan terselimuti dalam pikiran negatifnya sendiri.


"Aku tahu apa yang kau maksud, tapi jangan khawatir. Seperti yang ku katakan pertemanan mereka tidak akan bertahan lama."


"[Bagaimana kau bisa seyakin itu? Kau tidak bisa memprediksi masa depan, Daniel.]"


"Ini bukan prediksi, tapi intuisi seorang lelaki."

__ADS_1


"[Biasanya intuisi laki-laki itu selalu salah.]"


"Oh, shut up! Percayalah pada ku kali ini, Julian! Mereka aman di sini! Aku tidak akan membiarkan orang-orang gila itu menyentuh mereka lagi!"


Ketika pintu yang menghubungkan rumahnya bersama kafe terbuka, Daniel tersentak. Dia membelalak lebar ketik mendapati Rosaline dan Reagan berdiri di depan sana sambil memasang ekspresi bingung.


"Barusan itu suara mu, Daniel?" Reagan bertanya. Keningnya mengkerut dan ia menatap Daniel intens, seakan sedang menyelidik pria itu.


"Siapa yang kau telpon, Dan? Sampai-sampai kau berteriak seperti itu?" Rosaline bertanya. Dengan raut khawatir yang masih terpampang jelas di wajahnya ia berjalan mendekati Daniel lalu melanjutkan, "kau tahu suara mu terdengar hingga keluar."


Pria itu tersenyum hambar. Ia mematikan ponselnya dan berkacak pinggang lalu menghela napas panjang, bukan gugup, tapi lebih terdengar lelah. "Hanya supleyer kafe yang menyebalkan," bohongnya.


Ia memijat keningnya, pura-pura terlihat pusing, padahal di dalam hati ia bertanya-tanya apakah dua saudara kembar itu mendengar pembicaraannya bersama Julian di telpon atau tidak. Semoga saja Dewi Fortuna sedang bersamanya. Mari berharap mereka tidak mendengar obrolannya dengan Julian barusan.


"Supleyer kafe? Kenapa?" Kali ini Reagan yang bertanya.


Ada helaan napas lega saat keduanya berhasil ia bohongi dengan senyuman hambar-nya itu. Dengan raut wajah yang dramatis ia berkata, "Nah, mereka sungguh menyebalkan. Sudah ku katakan pada mereka untuk mengirim barangnya hari ini tapi mereka malah mengirimnya besok."


"Ngomong-ngomong tentang kafe, kenapa kau tidak membukanya hari ini?" Tanya Rosaline penasaran, "aku melihat banyak pelanggan di depan sana yang terlihat bingung saat kafe mu tutup. Tidak biasanya kau menutup kafe. Ada apa?"


"Ah soal itu... aku berniat membawa kalian ke Westgate hari ini."


"Westgate?"


"Ya, aku akan membelikan kalian pakaian baru."


"Memangnya ada yang salah dengan pakaian kami?" Celetuk Reagan sedikit mengerutkan keningnya memperhatikan pakaian yang ia kenakan bersamaan pakaian yang Rosaline kenakan juga.


"Tidak ada. Hanya saja pakaian kalian terlalu kuno, dan aku yakin kalian tertular selera rendahan yang dimiliki oleh Julian. Jujur saja aku orang yang fashionista. Jadi hari ini kita akan berbelanja."


Dengan tubuh yang masih lelah karena baru saja pulang kuliah. Rosaline dan Reagan pasrah saat pria itu menarik mereka masuk ke dalam mobilnya dan langsung pergi menuju kota Oxford.

__ADS_1


__ADS_2