
...CHAPTER 54...
...MEETING WITH THE ADLER...
Setelah ikatan 'secretly friend' mereka terikat, Rosaline dan James setuju untuk memberi tahu Oliver tentang hal itu. Yah, mereka tidak bisa menyembunyikannya lagi sejak hari James duduk di kafetaria bersama Rosaline menjadi topik hangat gosip perusahaan.
Untung saja tidak ada yang berani angkat bicara ke media. Jika mereka melakukannya, Oliver akan memastikan mereka kehilangan pekerjaan.
Sekarang, sudah enam bulan setelah mereka menjadi teman. Baik itu Rosaline atau James, keduanya selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tidak ada waktu untuk merayakan pertemanan mereka bahkan mengadakan pesta kecil untuk itu.
Mereka terlalu fokus melakukan pekerjaannya karena proyek hampir mencapai target.
"Aku tidak menyangka sup kentang ini akan menjadi favorit ku," kata James, meletakkan nampannya di atas meja.
Pada saat Rosaline mengundang pria itu untuk ikut makan siang bersamanya kala itu, James sudah terbiasa dengan makanan kafetaria. Seperti katanya, sup kentang adalah kesukaannya.
Dia selalu memesan makanan itu dan tidak pernah bosan. Hanya Rosaline saja yang bosan karena melihat sup kentang selama enam bulan terakhir di mejanya.
"Kau harus memesan yang lain. Ada banyak makanan di sini yang aku yakin rasanya juga enak selain sup kentang," saran Rosaline sambil mengarahkan sendoknya ke wajah James.
Pria itu hanya mendengus. "Kaulah yang mengenalkan ku dengan sup ini, Smith. Jadi bertanggung jawablah karena membuat ku suka dengan ini," dia tertawa.
Rosaline memberinya tatapan dramatis. "Ku pikir kita teman sekarang," dia mengerutkan kening.
"Memang, kan?" Dengan mulut penuh, dia menjawab.
"Teman tidak memanggil satu sama lain dengan nama belakang mereka. Itu tidak sopan."
James mengangkat sebelah bahunya. "Maaf. Kebiasaan lama."
Senyum pahit darinya membuat Rosaline merasa kasihan. "Kalau begitu panggil aku dengan nama depan ku."
James memalingkan muka sebelum memusatkan perhatiannya pada mata zamrud yang selalu dia anggap cantik. "Rosaline," panggilnya sambil tersenyum.
"Tidak Rosaline. Rosie!" serunya.
Dengan itu James mengerutkan kening. Bingung. "Bukankah itu nama yang sering dipanggil oleh keluarga mu?"
"Ya tapi Oliver, Jordan, dan juga Kaylie. Mereka memanggil ku begitu. Jadi panggil aku Rosie."
__ADS_1
James tidak langsung bicara atau menyuarakan nama panggilan Rosaline seperti yang gadis itu suruh. Dia mengernyitkan dahinya. Merasa aneh.
"Rosie," Ucapnya.
Rosaline tersenyum melihat telinga James yang memerah karena malu. "Nice one, James."
Mata si pirang membelalak kaget ketika nama depannya meluncur begitu saja dari mulut Rosaline. Seolah gadis itu sudah sering memanggilnya dengan nama depan.
Tidak sepertinya yang masih merasa aneh menyebut Rosaline dengan nama panggilannya, Rosie. Aneh memang tapi pasti, walau perlahan James pasti bisa membuat lidahnya terbiasa memanggil nama gadis brunnete itu tanpa embel-embel nama keluarga lagi.
"Kudengar konstruksi kakak ku dan Kaylie hampir selesai. Mereka sudah mencapai evaluasi, jadi mungkin pada bulan Oktober tepatnya tanggal 1 Oktober konstruksi mereka selesai."
"Ya aku tahu. Mereka beruntung mendapatkan tempat yang tidak terganggu oleh salju. Kau tahu sendiri, kan? Alasan kita menunda pembangunan waktu itu? Tentu saja karena salju," dia frustrasi.
Yah, target yang mereka tentukan memang tidak tercapai mengingat kondisi bersalju di bulan Februari waktu itu tidak memungkinkan untuk para pekerja untuk bekerja. Namun, untungnya mereka sudah mendapatkan keringanan untuk itu. Tidak apa terlambat mencapai target asal hasilnya memuaskan.
"Yah, kita tidak bisa menyalahkan saljunya, James. Salju turun dengan sendirinya. Toh sebentar lagi kontruksi kita juga selesai," dia mengangkat bahu, dengan frustrasi memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.
Makan siang berakhir dengan Oliver memanggil mereka berdua ke ruangannya. Di dalam sana, Oliver sudah menunggu dengan setumpuk dokumen yang harus mereka periksa.
"Edinburgh," Oliver berkata melemparkan dokumen yang ia baca ke Rosaline dan James.
"Sebagian besar dokumen ini adalah laporan dari lima kota dan lima daerah di London. Kontruksi sudah selesai, mereka ingin kalian pergi ke sana memeriksanya untuk evaluasi. Tinggal Edinburgh saja yang masih bermasalah."
"Apa masalahnya kali ini, James?" Tanya Rosaline penasaran.
James memijat kepalanya pusing. "Masalah tanah."
Rosaline mengernyit. "Bukannya kau sudah mengurus permasalahan tanah di sana Oliver?" Rosaline menoleh ke arah Oliver.
Oliver mengangguk. "Ya. Tapi ada seseorang yang menginginkan tanah itu dan mengajukan pembelian dengan harga mahal."
"Siapa?"
"Ayah ku."
...•—— ✿ ——•...
"Ayo, James!" Oliver berteriak, "kita harus bertemu ayah mu!"
__ADS_1
Rosaline berbalik untuk melihat wajah pucat James saat mereka berjalan menuju rumah megahnya. Sejak tadi pria pirang itu terus menolak dan tak ingin berurusan dengan ayahnya, namun Oliver terus menyeretnya.
Jadi di sinilah mereka, berdiri di depan rumahnya yang terlihat seperti kastil. James masih pucat, kaku seperti patung. Perlahan, kakinya bergerak. James mencoba masuk ke rumahnya sementara Rosaline mengikutinya di belakang.
"Jangan bersikap seperti itu, James. Jangan gugup, kau juga membuat ku gugup!" Rosaline berbisik, agak mempercepat langkahnya untuk menyusul Oliver yang sudah ada di dalam.
Ada dengusan yang terdengar darinya sebagai tanggapan saat dia mencapai kenop pintu. "Tidak ada orang yang tidak gugup jika bertemu dengan ayah ku, Rosie! Lagi pula, bisakah kau tidak memanggil ku James untuk kali ini? Hanya Adler dan aku juga akan memanggil mu Smith."
Rosaline menggelengkan kepalanya. "Tidak, tetap panggil aku Rosie. Biar aku yang memanggil mu Adler."
Begitu mereka melangkah masuk, Rosaline dan James disambut oleh seorang wanita. Dia tampil dengan gaun panjang biru tua, rambut diikat ke belakang, dan kepalanya dimiringkan seiring senyum lebar tersungging di wajahnya.
"My son," panggilnya, "come here, honey."
James melirik Rosaline terlebih dahulu sebelum melangkah ke dalam pelukan ibunya. Wanita itu menariknya lebih erat, mengacak-acak rambut pirangnya saat James terkekeh.
Dengan melihat pemandangan di depannya dan juga cara wanita tersebut memanggil James sebagai anaknya. Rosaline tahu bahwa dia adalah ibunya James. Wajahnya memang agak mirip, walaupun tak terlalu.
Rambutnya panjang, hitam legam terikat ke belakang. Lekuk senyum di wajahnya terbentuk jelas seiring matanya perlahan terpaku ke arah Rosaline. Dengan anggukan kecil di kepalanya, wanita itu menyapa Rosaline.
"Kamu adalah gadis di kereta," katanya dengan tenang, sambil melepaskan pelukannya dari James.
Rosaline mengangkat alis sebelum mengangguk pelan setelah dia mengingatkan kata-kata James hari itu. Tentang seseorang yang mengambil fotonya bersama James saat mereka berdua berada di kereta menuju Edinburgh.
"Halo, Nyonya Adler," sapa Rosaline. Dia menundukkan kepalanya lebih rendah untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada wanita yang lebih tua.
"Tidak. Minerva saja, jangan panggil aku Adler. Kalau kau memanggilku dengan nama belakangku, suami ku, bahkan aku dan James akan bingung. Kita bertiga memiliki nama belakang yang sama, sayang," candanya sambil terkekeh.
Dengan wajah memerah, Rosaline mengangguk.
"Ya, Nyonya Minerva."
Minerva hanya bisa tersenyum sebagai tanggapan sebelum akhirnya dia berbalik dan berjalan, memimpin jalan menuju rumah megahnya seiring Rosaline dan putranya mengikuti dari belakang.
"Kurasa dia mungkin senang bertemu denganmu, Ms. Rosaline," katanya, membuat. Rosaline melompat kaget.
"Maaf, siapa?" dia berkedip.
Minerva berbalik. Wajahnya tenang nan datar, saking tenangnya membuat Rosaline cemas.
__ADS_1
"Suami ku."