
...CHAPTER 49...
...FIGHT...
Di tengah menikmati minumannya, tiba-tiba ponsel James berdering. Cukup keras untuk membuat Rosaline dan Jordan menghentikan pembicaraan mereka. Pria itu mengambil teleponnya dengan gusar, membuat Rosaline memperhatikan wajahnya yang mengerut kesal sambil melihat telepon.
Tanpa berkata apa-apa James secepat mungkin berlari keluar, meninggalkan Rosaline berdua dengan Jordan yang juga menatapnya dengan tatapan bingung. Keduanya berbagi pandangan, sebelum melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat tersela.
"Apa ini pertama kalinya kamu datang ke bar, Rosie? Atau minum-minuman alkohol?" tanya Jordan sambil memegang shaker untuk mengocok semua bahan minuman. "Well, aku bisa menebaknya dari pengetahuan mu tentang alkohol."
Ketika kata 'Rosie' tiba-tiba keluar dari mulut Jordan, rahang Rosaline menganga. Terbuka seperti mulut ikan. Dia melotot ke arah bartender tampan itu dengan bingung sekaligus kaget.
Karena tidak pernah seumur hidupnya selain keluarganya memanggilnya dengan nama itu —kecuali Oliver— bahkan Kaylie tidak pernah memanggilnya dengan nama itu. Jadi bagaimana Jordan bisa tahu nama panggilannya?
"Apa?" Jordan menyela, "apa ada sesuatu di wajah ku? Jangan bilang ada laba-laba menempel di sana!" Dia panik, mulai mencari cermin.
"Tidak. Tidak ada laba-laba di wajah mu," Rosaline berseru, "aku hanya kaget, ketika kamu tiba-tiba memanggil ku Rosie. Karena Rosie adalah nama masa kecil ku. Hanya keluarga ku yang memanggil ku seperti itu. Makanya, jangan pedulikan ekspresi jelek ku barusan."
Rosaline terkekeh, mencoba sekeras mungkin untuk tidak tertawa lepas setelah melihat ekspresi panik di wajah Jordan barusan. Yang entah kenapa dia menemukannya sangat lucu dan imut.
"Oh maaf, itu kebiasaan lama ku. Aku selalu menambahkan y atau sesuatu yang mirip dengan itu di akhir nama pelanggan ku. Misalnya, James ke Jammy.
"Awalnya orang itu tidak suka cara ku memanggil namanya, jadi aku menambahkan Y di akhir. Maaf jika itu sangat mengganggu mu. Aku akan mencoba memanggil mu dengan nama asli m—"
"Tidak perlu. Kamu bisa memanggil ku Rosie. Tidak apa-apa kok, I'm fine with that," potong Rosaline cepat merasa sedikit tak enak hati ketika melihat ekspresi sedih di wajah sang bartender.
Senyum lebar menyebar di wajah Jordan dan dia mengangguk. "Ngomong-ngomong apa kau berkencan dengan the golden money itu?" Dia bertanya tiba-tiba, membuat Rosaline hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Tidak. Kami tidak berkencan. Seperti yang dia katakan sebelumnya kami hanya— tidak tahu teman atau apa, tapi ya seperti itu lah hahaha."
__ADS_1
Jordan mengangkat sebelah alisnya, mengamati wajah Rosaline seolah-olah gadis itu sedang berbohong.
"You're not? Jammy tidak pernah membawa gadis mana pun ke sini selain seseorang yang bernama Oliver. Dia satu-satunya gadis yang pernah ku lihat bersamanya, tapi aku bisa langsung tahu kalau mereka berdua bukan pasangan."
"Ya, Oliver bukan kekasihnya. Dia punya orang lain," aku Rosaline sambil menyesap mocktailnya.
Jordan hanya mengeluarkan senandung ringan sebagai tanggapan. Dia melirik ke pintu tempat James keluar tadi sebelum berjalan ke rak minuman. Rosaline memperhatikan pria itu saat Jordan membuka sebotol Vodka dan meletakkannya di depannya.
Dia mengangkat alis dan bertanya, "aku tidak minum Vodka."
"Ya, tapi teman mu butuh."
Dengan matanya Jordan menunjuk ke belakang Rosaline. Menampilkan sosok James berjalan secara dramatis ke arah mereka. Wajahnya terjepit dengan emosi yang tidak bisa ditebak oleh Rosaline. Mungkin kesal? Marah? Atau sesuatu yang lain.
Begitu dia duduk di samping Rosaline, James melempar ponselnya seolah tidak peduli ponsel itu akan rusak. "Vodka!" Serunya dan Jordan menyerahkannya.
Rosaline memperhatikan saat James menuangkan vodka ke dalam gelas dan meminumnya. Hanya butuh beberapa jam bagi pria pirang itu untuk terjebak ke dunianya sendiri setelah tiga gelas Vodka masuk ke dalam tubuhnya.
"Adler, hentikan. Kamu mabuk," Rosaline memperingatkan. Matanya beralih ke Jordan, memberi tahu bartender itu untuk tidak menuangkan vodka lagi ke gelas James.
"Diam! Aku membutuhkannya Rosaline!"
Mendengar nama depannya tiba-tiba keluar dari mulut James dengan mudahnya, entah kenapa Rosaline menemukan hal itu sama sekali tidak aneh lagi. Well, James memang pernah memanggil nama depannya saat bekerja, tapi tidak di hari biasa seperti ini.
"James," Panggilnya. "Kau mabuk!" Matanya berkedut memperhatikan pria itu menegak Vodka seperti tidak ada lagi hari esok untuknya.
"Seriously, you should stop this. Kau mabuk James," peringatnya khawatir.
Ketimbang berhenti, James hanya menggelengkan kepalanya dan meracau. Mengatakan kalau dia sama sekali tidak mabuk. Padahal, siapapun yang melihat kondisinya sekarang pasti akan langsung mengasihaninya.
__ADS_1
James terus-menerus menuangkan Vodka ke dalam gelasnya hingga meluber dan mengotori meja. Mau tak mau Rosaline terpaksa harus berdiri dari tempat duduknya untuk merebut gelas Vodka itu.
"Berikan pada ku!" Perintah Rosaline, berusaha mendorong tubuh James agar bisa mengambil gelas itu.
"TIDAK!" Serunya, menepis tangan Rosaline menjauh darinya.
Rosaline mengerang kesal sambil mengerutkan kening saat dia meletakkan tangannya di antara pinggangnya. Dia memindahkan berat badannya dari satu kaki ke kaki lainnya. Memikirkan bagaimana dia bisa mengambil gelas itu dari James. Pria ini mabuk berat.
"Come on, James," pintanya.
Rosaline bisa melihat cengkeraman James semakin erat pada kaca saat dia perlahan berbalik. Hanya untuk menatap mata abu-abunya dengan sepasang zamrud yang bersinar.
Matanya tidak fokus. Hidung dan muka merah khas seperti orang mabuk. Rosaline bahkan bisa mengendus bau alkohol dari napas James saat pria itu membuka mulutnya untuk berbicara dan kemudian menutupnya lagi. Seolah ragu untuk berbicara dengannya.
"Siapa yang menelepon tadi? Kau bertingkah seperti ini setelah menerima telepon itu. Siapa dia?" Mata Rosaline tajam seperti pisau. Mengamati James agar pria itu tidak membohonginya.
"Itu Clark," dia cegukan, "Aku melakukan apa yang kau suruh. Jelaskan semuanya padanya."
"Lalu?" Rosaline menelan ludah. Entah bagaimana merasa tidak nyaman.
"Kami bertengkar hebat. Meskipun ini bukan pertama kalinya kami bertengkar tapi tetap saja. Dia selalu mengadu pada ayah ku setiap kali kami bertengkar dan sekarang, mungkin setelah ini aku harus menghadapi ayah ku lagi."
"Kalau begitu pulanglah. Bicaralah dengan ayah mu."
James mendengus. "Tidak semudah itu, bodoh! Ayah ku—maksud ku keluarga ku... Walaupun aku sudah menjelaskannya kepada mereka kemarin. Mereka tidak akan mendengarkan aku. Kita ini berbeda. Tidak semua orang memiliki keluarga seperti mu. You have a family who loves you while I'm not!"
Kata itu seperti pisau. Menusuk jantung Rosaline dan membuatnya berdarah. Dia tahu betapa frustrasinya James sekarang. Meskipun Rosaline sendiri tidak tahu apapun tentang keadaan keluarganya.
Bagai dikutuk mantra imperiused seperti di Harry Potter. Tangan Rosaline bergerak dengan sendirinya dan mendarat tepat di atas kepala James. Dia tahu dia seharusnya tidak melakukan itu. Tapi simpatinya melampaui.
__ADS_1
Pada saat yang sama tangannya membelai kepala James dan berkata, "life is never simple for you, huh?"