
...CHAPTER 27...
...CHRISTMAS...
"Mau pergi ke pesta Natal bersama ku?"
Rosaline memandanginya. "Kau ingin pergi bersama ku?"
Kaylie mengangguk.
"Kenapa?"
"Karena kita teman sekarang. Jadi bagaimana?"
"Aku ikut. Aku juga ingin melihat pestanya. Ini adalah Natal pertama ku di London. Jadi, aku ikut."
Kaylie bersorak. "Bagus! Aku akan datang ke little latte espresso untuk menjemputmu, jadi lebih baik kamu bersiap sebelum aku datang."
Ya. Seperti itulah katanya. Jadi di sinilah Rosaline sekarang, mendongak menatap lurus ke langit tempat salju turun dan perlahan menyebar ke seberang jalan. Mengisinya dengan benda putih yang indah.
Sekarang, Natal telah tiba dan dia hanya bersandar di jendela. Menunggu Kaylie menjemputnya untuk merayakan Malam Natal bersama. Jujur, dia tidak menyangka kalau Kaylie menganggapnya sebagai teman.
Rosaline mengernyit. Memeluk dirinya sendiri erat-erat ketika dia menggigil kedinginan di saat pintu kafe terbuka, memperlihatkan dua orang pria berlari masuk. Dia berbalik, menemukan saudara kembarnya, Reagan, dan juga Daniel dengan kepala tertutup salju dan pakaian mereka basah.
Rosaline segera menghampiri mereka dengan dua handuk di tangannya.
"Ya Tuhan, lonjakan lalu lintasnya sangat gila," komentar Daniel mengingat betapa parahnya kemacetan yang mereka lalui di kota tadi.
Dia meraih handuk yang diberikan Rosaline sekarang dan mengeringkan kepalanya dan juga tubuhnya. Tidak ingin sakit karena salju dan dinginnya cuaca di luar.
"Yah, lagipula ini Natal. Tentu saja ada lalu lintas," omel Reagan. Dia membungkukkan tubuhnya, membiarkan sang kembaran mengeringkan rambutnya.
Daniel cemberut. "Salah siapa yang keluar malam-malam begini. Sudah tahu malam natal tapi tetap saja keluar. Tidak bisakah kau tetap di rumah saja?" Kesal Daniel.
"Aku ingin lihat pesta natal tahunan di Inggris. Toh ini natal pertama kami di sini," balas Reagan, masih belum kehabisan argumen untuk berdebat.
Rosaline mengernyit. "Kau pergi sendirian ke sana tanpa aku? Kau tidak mengajak ku?" Murka Rosaline. Matanya memandang lekat wajah sang kembaran, meminta laki-laki itu penjelasan agar dia tidak murka sekarang.
Reagan memutar bola matanya malas. "Di sana ramai. Akan sangat merepotkan kalau kau hilang di tengah-tengah keramaian di sana."
"Aku bukan anak kecil lagi," Cicit Rosaline.
"Hanya fisiknya, tapi secara mental kau masih anak kecil."
__ADS_1
Rosaline mengerang. "What did you say? You wanna fight with me, huh?"
Rosaline mengambil ancang-ancang untuk bertengkar, mengepalkan tinjunya agar mudah menghindar jikalau Reagan memukulnya.
Alih-alih meladeni sikap anak kecil Rosaline, Reagan hanya menghela napas malas.
Sebelum pertengkaran antara si kembar berlanjut, Daniel langsung menyela, "oh come on, you two. Ini malam natal, tidak ada gunanya bertengkar," potongnya.
Daniel mengernyit heran saat menatap pakaian Rosaline. "Kau mau kemana?" Tanya Daniel menyelidik.
"Aku akan pergi ke pesta tahunan natal itu bersama TEMAN ku," Ucap Rosaline, melirik tajam ke arah Reagan yang masih menatapnya tak peduli.
"Teman? The golden money? Kalian berbaikan?"
"No. Other."
"Oh, gadis rambut hitam itu?"
"Ya. Yang menyukai mu itu," Goda Rosaline.
Daniel hanya terkekeh menanggapi rayuan Rosaline tentang gadis yang mengaguminya di pertemuan pertama mereka di Foster book.
"Dia seumuran dengan mu, literally not my type. Aku lebih suka wanita yang lebih tua."
"Ouch, jangan sampai dia mendengarnya."
Dia duduk, melihat sekeliling melalui jendela di mana seorang gadis berambut hitam tengah berlari di bawah naungan salju. Dia mengikuti gadis itu dan terkejut ketika dia menyadari kalau gadis itu berlari mengarah kafe.
"Rosaline!" Teriaknya.
Daniel dan Rosaline yang masih berbicara satu sama lain, berbalik ketika bel di pintu kafe berbunyi dan seorang gadis berambut hitam berlari masuk. Rosaline tersenyum lebar ketika dia menyadari, gadis itu adalah Kaylie.
"Halo," Sapa Daniel. Dia menyapa gadis yang mengaguminya itu dengan senyuman ramah nan hangat seperti matahari pagi.
"Oh, yes, halo," Balas Kaylie malu-malu. Senyum kecil langsung merekah saat dia melihat Daniel.
"Looks like your friend is here, Rosie. Sebentar lagi tengah malam, lebih baik kalian pergi sekarang atau kalian akan melewati sesi kembang apinya. Jadi pergilah, you can take my car."
"Aku tidak bisa menyetir," Jawab Rosaline.
"Ya, tapi Reggie bisa. Dia akan menemani mu."
Reagan melotot, cangkir kopi yang masih di tangannya hampir tumpah saat mendengar apa yang dikatakan Daniel. "Apa? Kenapa aku?"
__ADS_1
Daniel berdecak. "Karena satu-satunya yang bisa mengemudi selain aku adalah kau, jadi kau bawa mereka ke sana. Ini perintah, akan ku adukan kau ke Julian kalau kau tidak mau menemani adik mu."
"Pengadu," Cecar Reagan.
Dengan senyum kemenangan, Daniel menyerahkan kunci mobilnya kepada Reagan yang menatapnya dengan tatapan penuh pengkhianatan. Dia hanya melotot, tidak mengucapkan sepatah kata apapun lagi untuk melawan.
"Fine. Sebagai gantinya shift kerja ku besok diambil alih olehnya," Ucap Reagan menunjuk ke arah gadis berambut hitam yang ia duga sebagai Kaylie. Gadis yang pernah Rosaline ceritakan padanya.
Rosaline mengerang tidak menerima kata-kata Reagan dan Kaylie hanya terpaku di sana. "Apa? Kenapa?" Rosaline meraung.
"Tidak ada yang gratis di dunia ini adik ku tercinta. You two have to repay me," ucapnya menyilangkan tangannya ke depan dada.
Kaylie yang tidak tahu harus berbuat apa-apa, hanya memperhatikan temannya bertengkar dengan saudara kembarnya. Oh, tunggu. Kaylie baru sadar. Laki-laki yang berdiri di dekat meja barista itu mirip dengan Rosaline. Tapi dalam versi laki-laki.
"Apa kalian berdua kembar?" Dia bertanya, menatap sepasang iris emerald yang ada di laki-laki itu.
"Bagaimana kau bisa mengenali kami secepat itu?" Omel yang laki-laki ketus.
"Jangan salahkan aku kalau kalian punya wajah yang sama."
Reagan tidak melawan, hanya mendecakkan lidahnya dan berkata, "ck, ayo, akan ku antar kalian berdua ke sana. Pria pengadu ini sudah berbaik hati meminjamkan mobilnya untuk kita, look how kind his heart is," ucap Reagan sengaja menyematkan nada mengejek untuk Daniel yang masih tersenyum mengancam ke arahnya.
"Well, have fun!"
BRAK!
Seiring pintu tertutup bunyi mesin mobil terdengar. Rosaline, sebagai teman baik duduk di kursi penumpang menemani Kaylie, sedangkan Reagan duduk di kursi pengemudi sendirian.
Reagan mengintip dari kaca spion, memperhatikan kedua gadis itu berbincang, tertawa bersama, dan mengabaikan eksistensinya yang sedang mengemudi di depan mereka.
"Aku baru tahu kalau kau punya saudara kembar sepertinya."
Reagan memutar matanya ke arah lain saat matanya tak sengaja bertemu dengan mata Kaylie. Gadis itu tahu bahwa dia sedang menatapnya, jadi dia hanya tersenyum miring, seolah menyapanya dengan cara mengejek.
"Dan aku baru tahu kalau kembaran ku punya teman bar-bar seperti mu. Ku rasa sikap bar-barnya terpengaruh karena mu."
Kaylie mendengus. "Bukankah itu bagus? Dia tidak harus berteman dengan the golden money itu lagi."
"Ya, itu salah satu dampak baiknya. Terima kasih karena sudah membuat adik pengecut ku melawan."
"Ya, sama-sama. Dia memang seorang pengecut."
"Ya. Aku mengerti itu. Jadi bersabarlah."
__ADS_1
Rosaline yang merasa seperti orang ketiga di sana terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan atmosfer konkret antara kembarannya dan Kaylie yang tercipta saat itu.
Walaupun, topik pembicaraan mereka hanya berisikan ejekan untuknya. Sangat tak lazim bagi mereka berdua secepat itu menjadi akrab, bahkan di pertemuan pertama mereka.