
Brak!!
Pada saat keluarga Adler menyelesaikan percakapan mereka, baik James maupun Floyd terkejut saat pintu depan ruang tamu mereka terbuka. Dari luar sana, seorang gadis masuk dengan wajah panik. Dia meneriakkan nama James berkali-kali, mempercepat langkahnya begitu dia menemukan pria yang dia cari.
"James!" Dia berteriak dengan gusar saat dia berhenti.
James tak tahu harus bereaksi seperti apa tatkala melihat ada tiga pria yang juga masuk ke dalam tepat setelah gadis itu. Ketiga pria itu juga sama sepertinya, sama-sama berwajah panik namun lebih tenang.
Kedatangan mereka yang tiba-tiba itu membuat si tuan rumah menjadi gelagapan, kebingungan harus menaruh perhatian pada siapa dahulu. Lantas James berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri gadis yang beberapa detik lalu memanggil namanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" James bertanya.
Dia memperhatikan gadis itu yang membungkukkan badannya ke depan. Kedua tangan di atas lutut dan mulut mengatur napas. Bernapas masuk dan keluar secara cepat, persis seperti orang yang kehabisan napas setelah berlari.
"Apa kau melihat Rosaline? Dia tiba-tiba menghilang!"
Wajah James seketika menjadi gelap dan rahangnya menganga. Dia tanpa sadar menarik bahu gadis di depannya dan mencengkeramnya.
"You've gotta be kidding me, Kaylie! Dia sudah berjanji pada ku untuk melepaskannya kalau aku menuruti permintaannya!"
Semua mata langsung tertuju ke arah pewaris keluarga Adler itu, bahkan atmosfer di seluruh ruangan ikut berubah. Dari yang tadinya panik menjadi hening. Hanya suara napas James yang tidak teratur terdengar.
Sedetik kemudian James bisa mendengar derap kaki berlari menujunya. Dalam sekejap bagaikan secepat kilat, kerah baju yang digunakan James terangkat ke atas. Netra abu-abu kebiruan James memandang ngeri wajah laki-laki di depannya.
"Apa maksud mu!" Dia berteriak.
Floyd yang melihat putranya diperlakukan seperti itu lantas naik pitam. Kakinya menghentak berlari mengarah mereka hanya untuk mendorong tubuh bongsor pri yang mencengkram putranya hingga terjatuh ke lantai.
"Apa keluarga mu tidak pernah mengajarkan sopan santun, Torres?"
Dengan sorot mata merendahkannya yang khas, Floyd menatap laki-laki di bawahnya dengan penuh murka. Dia membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan pria itu dan kemudian berkata lagi.
"Apa kau yang mengurus dua anak kembar Vreaa itu selama sepuluh tahun ini, Torres?" Floyd bertanya. Sorot matanya masih tajam, mengawasi laki-laki yang ia panggil sebagai Torres di depannya.
Laki-laki itu mendecih. Entah kenapa mendengar Floyd memanggilnya dengan nama keluarga membuatnya kesal. Lantas dia mendorong tubuh Floyd hingga pria berambut pirang panjang itu ikut terjatuh di lantai dan kemudian berdiri.
__ADS_1
"Don't call me, Torres. Torres terlalu terhormat untuk dipanggil oleh orang seperti mu!"
Floyd terkekeh. "Ya terserah, seorang mantan mafia yang ditipu hingga masuk penjara oleh orang kepercayaannya sendiri. Sangatlah terhormat." Tangannya bertepuk seolah tengah menikmati skenario aneh di rumahnya.
Melihat temannya yang hampir naik pitam, laki-laki yang berdiri di dekat sofa rumah lantas berlari dan merentangkan tangannya ke dada temannya. Mencoba menghentikan pria itu agar tak mencari masalah. Karena tujuan utama mereka kesini bukan itu tapi Rosaline!
"Julian! Kita tidak punya waktu untuk ini! Rosie lebih penting sekarang!"
Pria yang dipanggil Julian hanya memutar bola matanya malas dan memandang ke arah sang teman dengan kesal. Daniel. Laki-laki itu melotot serius pada Julian, seolah dari pelototan matanya itu mengatakan kalau dia tidak akan segan-segan menjahit mulut Julian apabila dia tak berhenti bicara.
"Daniel benar. Rosie lebih penting sekarang."
Mata James beradu pandang dengan mata laki-laki yang sebaya dengannya. Reagan, pikirnya. Sang kembaran. Dia memandang James dengan penuh ketenangan namun tersirat sebuah kepanikan di dalamnya.
"Apa kau tahu di mana adik ku berada?
Akhir-akhir ini dia sering bersama mu."
Suaranya terdengar pilu, tapi James tahu ada penekanan di intonasinya. Lantas, pria pirang itu berjalan mendekat mengarah Reagan hanya untuk mengatakan, "aku tahu. Aku tahu di mana dia."
...•—— ✿ ——•...
James pernah diberitahu oleh Clark di mana dia menyekap Rosaline. Jadi di sinilah mereka sekarang. Berdiri di depan sebuah rumah di pinggir kota, kumuh dan reyot, yang mana tidak akan membuat orang luar tertarik untuk menaruh atensi padanya secuil pun.
"Kau yakin Rosie ada di sini?" Julian berteriak.
James mengangguk mantap. "Clark pernah mengirim alamat rumah ini pada ku. Aku yakin dia pasti ada di sini."
Ke-enam orang itu berjalan masuk dengan
James yang memimpin jalan. Di dalam sana, atmosfer menyeramkan langsung menyambut. Partikel-partikel debu berterbangan di udara, membuat siapapun yang berlama-lama di dalam sana akan sesak napas.
"Kau yakin dia ada di sini?" Julian kembali bertanya, masih tidak percaya dengan rumah reyot yang barusan mereka masuki ini.
"Bagaimana kalau Rosie sudah tidak ada di sini? You know, wanita itu bisa saja langsung membawa Rosaline ke tempat yang berbeda. Since you already knew this house address."
__ADS_1
Langkah James terhenti. Kepalanya perlahan berbalik hanya untuk melihat Kaylie, lalu ke Julian, dan Reagan. Benar juga, pikirnya. Kenapa benak itu tidak terpikirkan olehnya saat dia mengumumkan pernikahannya dengan Clark?
Tanpa basa-basi lagi, James mempercepat langkah kakinya menuju lantai dua setelah puas mencari-cari keberadaan Rosaline di lantai bawah. Derit dari anak tangga yang dinaiki olehnya secara brutal adalah bukti kepanikan dalam dirinya.
Brak!
Satu-satunya ruangan terakhir yang ada. Di dalam sana hanya ada kursi dan tali tambang yang tergeletak di lantai. Dengan irama napas yang belum teratur James memasuki ruangan tersebut dan memperhatikan sekeliling.
"Ini adalah ruangan terakhir, James. Gadis itu tidak ada di sini."
James menoleh ke arah suara parau nan tegas milik sang ayah yang terdengar dari ujung ruangan. Laki-laki berambut pirang panjang yang sama dengannya itu mengerutkan keningnya sambil bersandar di dinding belakangnya dengan tangan menyilang di depan dada.
"Kalau begitu kita harus mencarinya!" Seru James dan diberi anggukan oleh semua orang kecuali Floyd.
"Bagaimana caranya? Ini Jenkins, James! Bahkan orang awam seperti mereka saja tahu bagaimana watak keluarga Jenkins," balas Floyd, sembari menunjuk ke arah Julian dan Daniel.
"Apa maksud mu orang awam, huh? Aku ini kepala gangster!" Marah Julian tak terima.
Daniel yang berdiri di tengah-tengah mereka berdua hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. "James. Beberapa waktu lalu kau bilang kalau kau menuruti permintaan wanita itu. Dia akan melepaskan Rosaline, kan? Apa permintaannya?"
James menatap ayahnya lalu berpaling. "Dia meminta ku untuk menikahinya."
"Kalau kau tidak mau menurutinya?" Floyd berkata.
"Dia akan menyakiti Rosaline dan mengumbar rahasia gelap keluarga kita."
Semua orang di dalam ruangan itu terdiam. Mereka menujukan atensi mereka kepada Floyd, seolah dari tatapannya bertanya-tanya rahasia gelap apa yang dimaksud oleh James.
"Ya sudah kalau begitu."
Kali ini siapa pun yang mendengarnya tidak akan percaya bahwa kalimat itu pernah keluar dari mulut seorang the golden money.
"Kalau Jenkins mengancam ingin mengumbar rahasia keluarga kita, kalau begitu kita akan membalas mereka juga. Mungkin ini sudah saatnya mengumbar rahasia the golden money ke media."
"Rahasia gelap yang selama ini diketahui oleh keluarga Vreaa."
__ADS_1