Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 31


__ADS_3

...CHAPTER 31...


...THE PROJECT BEGAN...


Rosaline sadar ada salju yang menempel di pinggiran topinya saat dia berjalan kembali ke Westminster setelah masa liburan yang panjang akhirnya selesai. Dia yakin. Sekarang ini wajah dan tangannya pasti memerah, seiring semua jari tangan dan kakinya kesemutan karena kedinginan.


Namun dibalik semua itu. Ada kegembiraan yang muncul di lubuk hatinya saat dia menyadari bahwa Januari telah tiba, yang berarti proyek yang dikatakan profesor Watson waktu itu akan dimulai dalam beberapa hari lagi.


"Ku harap Reggie adalah pasangan ku nanti," Gumamnya bahagia.


Dia menepuk lembut bagian atas topinya, membersihkan salju yang menempel di sana ketika kakinya berjalan memasuki koridor di mana semua orang lagi-lagi langsung menghujaninya dengan tatapan sinis.


Rosaline tersenyum. Membalas dan menyapa semua orang di sana dengan tenang, bertingkah seolah-olah tatapan sinis yang mereka lemparkan untuknya itu sama sekali tidak mengganggunya. Meskipun dalam kenyataannya berbeda.


Tatapan-tatapan itu masih tetap memberinya efek samping dan Rosaline sebisa mungkin menutupinya. Dia tanpa sadar selalu mengepalkan tangannya, berusaha keras menenangkan dirinya dan menahan air matanya agar tak keluar.


Yah, jujur saja dia tidak menyangka hal ini masih juga terjadi. Dia pikir, semua orang sudah melupakannya dan membiarkan dia menjalani hari-harinya seperti mahasiswa lainnya. Tapi, sepertinya takdir berkata lain.


Tatapan sinis itu masih mengarah lurus ke arahnya seperti sebuah tembakan yang mematikan.


"Yah, mungkin mengabaikannya adalah pilihan terbaik. Seperti yang dikatakan Kaylie hari itu, 'the more you act like you care, the more they


want to crushed you' jadi, abaikan."


Rosaline berbalik, menghadap ke arah lain hanya untuk mempertemukan matanya dengan jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Tiba-tiba matanya melebar seiring benaknya tersadar kalau kelas profesor Watson akan dimulai dalam sepuluh menit lagi.


Tak ingin terlambat di hari pertamanya kuliah di semester baru ini, lantas Rosaline bergegas, melangkah lebih cepat melewati koridor dan pergi ke kelasnya.


Begitu Rosaline sampai di ambang pintu kelas, dia langsung bernapas lega setelah mendapati meja profesor Watson yang masih kosong, pertanda kalau pria itu belum datang ke kelas.


Oh tuhan, hampir saja dia terlambat. Bagaimana mungkin bukan dia langsung mendapatkan detensi di hari pertamanya kuliah. Apalagi di semester barunya ini?


Rosaline segera menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari tempat duduk, hingga pandangannya tertuju pada satu orang yang tengah melambai ke arahnya. Dia memicingkan mata, mencoba melihat jelas-jelas siapa orang itu.


Dalam sekejap, mata Rosaline langsung berbinar gembira saat mengetahui itu adalah Kaylie. Dia balas melambai dan mengangguk saat Kaylie memberinya isyarat bahwa ada kursi kosong yang sengaja ia jaga agar Rosaline bisa duduk di sampingnya.


Dengan tergesa-gesa, Rosaline berlari kecil, menghampiri Kaylie. "Ku kira aku terlambat," Ucapnya terengah-engah.

__ADS_1


"Well kau beruntung profesor Watson belum datang. By the way, what made you so long? Aku hampir lumutan karena menunggu mu di sini," omel Kaylie, memindahkan tasnya ke sisi lain agar Rosaline bisa duduk di sana.


"Nah, like usual," Balas Rosaline, "orang-orang bodoh yang suka dengan gosip," Timpalnya.


"Apa mereka mengganggu mu?" Tanya Kaylie.


Rosaline menggeleng. "Tidak. Mereka hanya menatap ku dengan mata mereka yang membosankan itu. Dalam diam seolah tengah menghakimi ku."


Kaylie terkekeh begitu Rosaline menirukan tatapan mata semua orang yang selalu menatapnya seperti kamera. Selalu mengikutinya kemanapun dia pergi.


"Mungkin tidak ada salahnya kalau sesekali kau mencolok mata mereka satu persatu, sama persis seperti yang kau lakukan pada the golden money itu," ucap Kaylie mengingatkan Rosaline peristiwa di kamar mandi hari itu sembari melirik ke arah Clark yang berada tak jauh dari mereka duduk.


Rosaline terkekeh. "Mungkin itu ide yang bagus. Akan ku coba lain kali," Balasnya.


Tiba-tiba, kelas menjadi sunyi. Rosaline dan Kaylie langsung menutup mulut begitu mereka sadar dan mendengar langkah kaki yang tergesa-gesa berjalan mendekati kelas. Mereka tahu langkah kaki siapa itu. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan profesor Watson.


"Oh, kalian semua lebih awal dari ku. Ku pikir ada seseorang yang akan terlambat di kelas ku hari ini dan tentu saja, seperti biasa, dengan senang hati aku akan memberikan detensi. Tapi sepertinya tidak ada, baguslah kalau begitu."


Profesor Watson datang dengan sebuah kotak besar di tangannya dan meletakkan kotak itu di atas meja. Ia melihat sekeliling, lalu berkata.


"Kalian boleh memilih kertasnya begitu aku memanggil nama kalian."


Rosaline duduk dengan sabar, menunggu namanya dipanggil. Ketika profesor Watson akhirnya menyebutkan namanya, gadis itu segera bergegas dan berhenti di depan kotak.


"Ambil, nona Smith," perintahnya.


Rosaline mengangguk dan mengambil satu kertas dari dalam sana. Dia membuka gulungan kertas tersebut dengan jantung yang berdegup kencang lalu berkata, "nomor 40 profesor."


"Bagus. Setelah semua kelas mu selesai silahkan temui aku di ruangan ku, akan ku tunjukkan detail berkas tentang proyek ini pada mu."


Rosaline lagi-lagi mengangguk dan berjalan kembali ke tempat duduknya.


"Bagaimana? Nomor berapa kau?" Tanya Kaylie penasaran.


"40, bagaimana dengan mu?"


Kaylie menunjukkan isi kertasnya. "25. Kira-kira siapa yang menjadi partner ku?"

__ADS_1


Rosaline mengedikkan bahu. "Entahlah... aku bahkan penasaran siapa partner ku."


...•—— ⁠✿ ——•...


"Berapa nomormu?" Rosaline bertanya dan Reagan hanya mengangkat alis.


"Nomor telepon ku?"


Rosaline memutar matanya. "Tidak, bodoh! Maksud ku nomor proyek mu!"


Reagan hanya membentuk huruf o dengan mulutnya dan kemudian menjawab, "25 dan punya mu?"


Rosaline terkejut. Jadi kembarannya adalah pasangan Kaylie? Gadis itu mengerang frustasi, merosotkan tubuhnya secara dramatis ke dinding dan membuat Reagan langsung mengernyit bingung.


"Kenapa?" Dia bertanya.


"Ini tidak adil," teriaknya, "Aku berharap kau adalah pasangan ku, dengan begitu aku bisa terus menyuruh mu."


"Oi, aku bukan pembantu mu," ketus Reagan dan


Rosaline lagi-lagi mengerang. "Memangnya nomor berapa yang kau dapatkan? Pertanyaan ku belum kau jawab, bocah," paparnya, mengingatkan Rosaline kalau pertanyaannya tadi belum gadis itu jawab.


Rosaline mengatupkan bibirnya, mengerutkan kening saat dia mengulurkan tangannya, menunjukkan isi kertas yang sejak tadi ia pegang. "40. Dan sekarang aku bertanya-tanya siapa partner ku. Mind telling me who is the number 40 in your class?"


Reagan hanya diam, menatap lama ke kertas itu lalu ke kembarannya sebelum kembali menatap kertas itu. "Aku tidak tahu," katanya, "I don't really have friend there atau orang yang dekat dengan ku sampai-sampai aku bisa bertanya pada mereka satu per satu tentang nomor yang mereka dapatkan."


Rosaline mendecakkan lidahnya. "Tidak berguna," ejeknya dan langsung menerima tatapan maut dari Reagan.


"Pergilah, sebelum aku memukul kepala mu," usir Reagan kesal.


Klap!


Pintu tertutup dan Rosaline bersandar di pintu. Gadis itu terlihat sangat frustasi. Bagaimana bisa Kaylie menjadi pasangan kembarannya? Kenapa bukan dia? Ya Tuhan, semoga bukan the


golden money itu yang menjadi pasangannya.


Akan menjadi mimpi buruk sepanjang hidupnya kalau dia berpartner dengan James.

__ADS_1


__ADS_2