Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 33


__ADS_3

...CHAPTER 33...


...MR. PERFECTIONIST...


Rosaline mengasah pensilnya, membuang rautan kayu tersebut dengan lembut ke tempat sampah. Dia berdiri, meregangkan punggungnya dan melihat ke luar jendela. Aroma datangnya hujan memenuhi udara, bercampur dengan aroma tumbuhan dan tanah.


Dia mengerutkan hidungnya. Mengingat dirinya yang lebih muda dulu sangat suka keluar di tengah hujan. Namun semua itu terhenti tatkala kedewasaan menghantam hidupnya dan memaksanya untuk tidak bersikap seperti anak kecil lagi.


Ohh dia merindukan masa kecilnya saat itu. Meskipun tidak selalu bahagia tapi tetap saja, dia merindukannya.


Rosaline memandangi kertas lebar di mejanya, memperhatikan sebuah sketsa kasar yang tergambar di sana. Sekarang, dia sedang mengerjakan desain untuk proyek mereka. Ya, proyek di mana dia harus berpasangan dengan


James Orion Adler.


Sudah tiga hari sejak dia harus bekerja dengan pria pirang itu dan Rosaline tahu betapa posesifnya pria itu terhadap kesempurnaan. Contohnya sudah berapa kali Rosaline harus mengganti desain yang ia buat karena pria itu.


Banyak sekali komentar yang tak mengenakkan selalu keluar dari bibirnya setiap kali Rosaline menunjukkan hasil desain bangunan buatannya. Well, she doesn't mind. Mungkin dengan komentar buruknya itu bisa membuat Rosaline menjadi lebih baik lagi.


Sambil menghela napas pasrah, Rosaline memutuskan untuk istirahat, menyegarkan pikirannya sejenak. Dia membuka pintu kamarnya, melihat sekeliling sebelum mengernyitkan dahinya saat dia mendengar suara bising dari lantai bawah.


Penasaran, dia pun perlahan berjalan menuruni anak tangga mencari sosok yang membuat keributan di bawah sana. Begitu dia tiba di lantai pertama, matanya melihat Reagan dan juga Kaylie yang sedang mendebatkan sesuatu.


Di dekat mereka berdua ada banyak sekali kumpulan kertas yang sudah diremukkan dan berada di tempat sampah dekat Reagan duduk. Penasaran, Rosaline pun mendekat, duduk di lantai menengahi mereka berdua.


"Apa yang kamu lakukan di sana?" Reagan mengomel. "Duduk di sini, jangan di lantai," perintahnya sambil meletakkan tangannya ke kursi di sampingnya. Memerintahkan gadis itu agar duduk di kursi bukan di lantai.


Dengan lidah berdecak Rosaline berdiri, berjalan ke sana dan duduk di samping saudara kembarnya. Dari balik bahu sang kembarn, Rosaline mengintip ke arah kertas di pangkuan Kaylie.


Oh, sepertinya masalah desain. Toh memang dari awal proyek dari Westminster ini bertujuan untuk membantu para perusahaan membangun bangunan baru. Dengan mahasiswa dari fakultas bisnis yang bisa melihat peluang dan mahasiswa fakultas arsitektur yang akan merancang desain bangunan mereka.


Cocok sekali.

__ADS_1


"Katakan pada kakak mu, Rosaline, membuat desain bangunan itu tidak semudah yang dia pikirkan. Bagaimana bisa pria tua itu selalu mengomentari semua yang aku gambar, sial, jangan main-main dengan otak kecil ku."


"Kalau begitu, anggap ini serius Kaylie. Jangan main-main dengan desainnya. Selesaikan dengan cepat dan kemudian kita bisa menyerahkan desainnya kepada klien sialan itu. Ah sial, entah kenapa aku ingin sekali membakar perusahaannya."


Rosaline terkekeh. Sepertinya dia mengerti masalah mereka. Kalau dia mendapatkan partner yang posesif dalam kesempurnaan maka mereka mendapatkan klien yang posesif terhadap hal yang sama. Well, mereka satu nasib tapi berbeda situasi.


"Okeh stop, aku tidak bisa berpikir lagi," kata Kaylie pasrah sambil meletakkan kertas itu di atas meja. Dia menyandarkan bahunya dan memijat kepalanya pusing. "Sepertinya otak ku akan berhenti bekerja selamanya jika aku memaksanya sekarang."


"Kau ingin kopi atau sesuatu yang manis?


Mungkin aku bisa memintanya pada Daniel," Rosaline menawarkan, bersiap untuk bangun. Pergerakan gadis itu terhenti dengan cepat saat Kaylie berbicara.


"Tidak perlu Rosaline, aku tidak masalah. Duduk saja. Aku ingin menanyakan sesuatu pada mu."


Rosaline mengangkat alis, menatap gadis yang menarik Reagan menjauh agar dia bisa duduk di sampingnya.


"Siapa partner mu? I know it's late, but I'm curious. Kau belum memberitahu ku apapun sejak proyek kita dimulai tiga hari yang lalu."


Rosaline mengerang, bergumam pada dirinya sendiri tentang kemalangannya. Dia tidak ingin ada yang tahu siapa partner-nya dalam proyek ini, baik itu Kaylie atau bahkan Reagan.


"Well, seseorang yang tidak pernah bisa kau bayangkan," Ucapnya ragu dan memalingkan muka, tidak berani menatap mata Kaylie.


Kaylie menghela nafas, jari-jarinya mencubit batang hidungnya. Dia tidak bisa tidak berharap kalau kemungkinan besar pikirannya pada saat itu salah. Tapi, sial, dia tidak tahu mengapa pikirannya terlihat sangat nyata.


"Jangan bilang, the golden money itu? James Orion Adler?" Selidiknya dan Rosaline hanya mengangguk kecil.


"Demi Tuhan, Rosaline, kenapa kau malah berpasangan dengannya?!" Kaylie mengomel, meninggikan suaranya dengan nada marah.


Rosaline hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban karena dia juga tidak tahu, kenapa tuhan malah memasangkannya dengan laki-laki itu. Padahal dia sangat membencinya, tapi takdir berkata lain. Sepertinya tuhan sangat suka menyiksanya.


"Aku juga tidak tahu, Kaylie. Itu terjadi begitu saja tanpa peringatan dan aku bahkan tidak bisa menyangkalnya."

__ADS_1


Erangan frustrasi memenuhi ruangan saat kedua jari gadis itu mencubit pangkal hidung mereka secara bersamaan. Mereka tampak kelelahan sementara Reagan hanya melihat kukunya dan mengangkat bahu kecil lalu berbicara.


"Jadi bagaimana rasanya bekerja sama dengan pria itu?" Tanyanya.


Rosaline mengerutkan hidungnya. "Worst!" Dia menjawab, menutup matanya seiring kepalanya menggeleng pasrah.


Kaylie mendengus. "Apa yang dia lakukan pada mu?"


"Tidak ada yang istimewa sebenarnya. Dia hanya bertingkah seperti klien kalian. Selalu memberi komentar tentang desain yang ku buat. Sangat cerewet. Aku benci dengan sifat perfeksionis dalam dirinya itu."


Kaylie mencibir. "Apa semua orang dari fakultas bisnis harus selalu perfeksionis? Ugh..."


Meskipun Reagan tidak menghadapnya sekarang, dia bisa merasakan gadis itu memutar matanya dengan malas ke arahnya. Dia tahu kalau Kaylie sedang mencibirnya.


"Shut up, Kaylie. Semua ini demi kepentingan klien. Semua orang juga pasti ingin yang sempurna. Aku yakin, kalian anak arsitektur pasti melakukan perhitungan yang sempurna terhadap kontruksi bangunan, karena itu bangunannya bisa berdiri dengan sempurna."


Kaylie memutar matanya sekali lagi, mengejek kata 'sempurna' yang dikatakan Reagan. "Ya ya, of course we do. Tapi setidaknya, bisakah mereka tutup mulut sampai kita menyelesaikan desainnya? Setelah itu mereka bisa menilainya sebanyak yang mereka mau."


Tiga dari mereka menghela nafas, menjatuhkan tubuh mereka ke sofa. Mereka saling menekan jari ke dahi masing-masing, memijatnya dengan lembut.


"Kalau bukan karena nilai, aku tidak akan ikut proyek bodoh ini," Kaylie mendengus.


"Setuju," si kembar langsung menjawab


serempak.


Sekali lagi, mereka bertiga menghela nafas berat. Mereka bahkan tidak menyadari ada laki-laki yang mengawasi mereka dari jauh, tentu saja itu Daniel. Laki-laki itu berjalan mendekat.


"Apakah kalian baik-baik saja?" Dia bertanya.


Mereka menoleh dan mengangguk pelan. Daniel terkekeh, melihat mereka bertiga yang kelelahan di sofanya. "Jangan khawatir, selesaikan saja proyek kalian secepatnya dan kemudian kalian bisa bebas."

__ADS_1


"Ya, tidak sampai kami harus membuat laporan setelah proyek ini selesai."


Dengan itu, mereka berempat menghela nafas berat bersama-sama.


__ADS_2