
Rosaline mendesis kesakitan saat telinganya mendengar suara keras memanggil namanya. Perlahan gadis itu membuka mata, samar-samar netra zamrud-nya menangkap sesosok pria disinari oleh cahaya redup di atasnya. Sosok itu tak henti-henti memanggil namanya dan menyuruh Rosaline untuk bangun.
Dalam sepersekian detik usai lakban di mulutnya terlepas, pandangan Rosaline kembali menajam. Sekarang dia bisa melihat siapa sosok di bawah cahaya itu. Matanya menerawang, memperhatikan netra abu-abu yang kini baru ia sadari bahwa ia jatuh cinta pada pemiliknya.
"James?" Panggilnya lirih.
Laki-laki itu mengangguk dan melepaskan tali yang sejak tadi mengikat tangan dan kaki Rosaline. James yakin, ikatan di tali itu sangatlah kuat. Karena bagaimana pun juga saat tali itu terlepas sempurna, bercak merah langsung menghiasi pergelangan tangan dan kaki Rosaline.
"Kau sudah sadar?" James bertanya. Dia memperhatikan mata Rosaline yang bergerak kesana-kemari seperti orang linglung. "Ada Julian, Daniel, dan Reavan di sini," Tambahnya dan kali ini berhasil menarik atensi Rosaline padanya lagi.
"Julian? Daniel? Reggie? Apa yang mereka lakukan di sini?" Tanyanya heran. Alisnya mengkerut bingung.
"Mereka mencari mu," Jawab James.
Tanpa basa-basi lagi, James berdiri dan menarik Rosaline untuk ikut berdiri juga. Namun Rosaline yang sepertinya masih setengah sadar tiba-tiba ambruk ke lantai lagi sambil mengaduh kesakitan. Merasa bersalah dengan hal itu, James membungkukkan badannya agar sejajar dengan Rosaline dan berkata.
"Ayo ku gendong," Ucapnya. Tangannya terbuka lebar, siap menggendong Rosaline.
"Tidak. Tidak apa. Aku bisa berdiri sendiri."
Memang benar Rosaline bisa berdiri sendiri, tapi saat kakinya dipaksa untuk berjalan dia kembali jatuh. James menghela napas panjang. Lelah dan frustasi bercampur satu di helaan napasnya itu.
Ayolah, Rosaline, batinnya. Ini bukan saatnya untuk bercanda. Bagaimana kalau Clark tiba-tiba kembali? Karena sejauh ini tidak ada tanda-tanda dari kemunculan Clark, sehingga hal itu menjadi kesempatan untuk Rosaline dan dia kabur dengan selamat.
"Ayo naik," Ucapnya.
Rosaline memperhatikan James yang lagi-lagi membungkukkan tubuhnya, tapi kali ini membelakanginya. Kedua tangannya menangkup ke belakang dan kepalanya bergerak menunjuk punggungnya. Seolah menyuruh Rosaline untuk naik ke sana.
"Kita tidak punya waktu, Rosaline. Selagi Clark tidak ada di sini, ayo kabur. Ada pers yang menunggu kita."
"Pers?" Tanya Rosaline bingung.
James mendecih. "Tidak ada waktu menjelaskannya di sini. Ayo cepat naik!"
__ADS_1
Rosaline cemberut namun tetap menuruti kemauan laki-laki itu. Dengan hati-hati dia merangkak ke belakang tubuh James dan melingkarkan tangannya di sekitar leher pria itu. Rosaline terkesiap saat tangan besar James menyentuh pahanya, menjadi tempat pegangan agar dia tak terjerembab ke belakang.
"Bagaimana kalau kau tahu ada ruangan berbeda dibalik cermin ini?" Tanya Rosaline ketika mereka melewati pecahan kaca di lantai.
"With my detective sense," Seringainya.
Rosaline terkekeh. "Sebelum aku pingsan, Clark melihat sesuatu di ponselnya dan tiba-tiba dia berteriak marah. Dia keluar dari ruangan di mana ku berada dan tepat setelah itu sebuah gas tercium oleh ku dan aku pingsan."
"Dia pasti sudah tahu soal berita itu," Balas James.
"Berita ayah mu yang mengatakan kalau dia ikut andil dalam pembunuhan ayah ku?"
Dengan itu, langkah kaki James yang cepat berhenti. Rosaline bisa merasakan jemari James menancap di pahanya seiring laki-laki itu mendongakkan kepalanya dan menghela napas.
"Once this done. I'll tell you everything I know. I promise."
...•—— ✿ ——•...
"Apa mereka melakukan korupsi?"
"Apa mereka yang merencanakan pembunuhan terhadap salah satu anggota mereka sendiri?"
Flash kamera terus menerpa wajah Floyd saat dia dan kepala keluarga Riley naik ke atas pers. Beribu-ribu pertanyaan mulai menghujani kedua anggota the golden money itu seiring microphone ditujukan ke dekat wajah mereka.
"Semua bukti sudah diberikan ke kepolisian dan kejaksaan dan sekarang sedang diproses secara hukum. Kami tinggal menunggu panggilan dipersidangan."
Suara kamera semakin gencar mengambil foto dari kedua the golden money itu. Seolah-oleh mereka adalah artis terkenal yang terkena skandal. Floyd dan keluarga Riley terus menjaga pandangan mereka, lurus, dan tegas. Mengencangkan rahang sebagai bentuk keteguhan.
Jujur, awalnya Floyd tidak tahu bahwa keluarga Riley akan ikut naik ke pers bersamanya. Padahal sudah sepuluh tahun lebih keluarga Riley menghilang dari pandangan, tidak pernah terlihat lagi di muka bumi ini.
Namun saat Floyd memulai aksinya duluan berbicara dengan media, keluarga Riley tiba-tiba muncul di depan rumahnya sambil membawa setumpuk dokumen yang kini mereka jadikan bukti kuat untuk menghancurkan the golden money.
Dari bukti palsu yang membuat Thomas Ben Vreaa dipenjara dua puluh lima tahun lalu, kemudian pembunuhan yang menewaskan keluarga Vreaa sepuluh tahun lalu. Itu semua juga menjadi bukti kuat untuk menambah kesalahan the golden money sekaligus membersihkan nama baik keluarga Vreaa.
__ADS_1
Seperti yang dikatakan oleh Floyd, mungkin sudah waktunya the golden money hancur.
...•—— ✿ ——•...
Kedatangan Rosaline dan James yang tiba-tiba di pers kala itu membuat kondisi bertambah runyam. Rosaline yang sebagai saksi hidup langsung diserang berbagai pertanyaan, beruntung Julian dan anggota gangster-nya yang lain langsung menghalau para wartawan. Melindungi Rosaline.
Tak lama setelah pers selesai, sirine dari mobil kepolisian terdengar. Mereka segera menyeret Floyd dengan ayah Asher ke polisi. Dan satu Minggu kemudian pengadilan dimulai. Dengan semua the golden money yang menjadi pelaku dan Rosaline dan Reagan sebagai korban sekaligus saksi.
"Ada apa dengan mu, Rosaline?" tanya Reagan heran. Alis pria itu berkerut, memperhatikan saudara kembarnya yang memegang tangannya begitu erat.
Rosaline menyandarkan kepalanya ke bahu sang kembaran dan menghela napas panjang. "Aku takut," jawabnya.
"Dari apa?"
"Realita."
"Kenyataan apa? Kenyataan kalau kau mencintai putra pembunuh keluarga kita?"
Rosaline tersenyum putus asa dan mengangguk. "Sejak kapan kau tahu aku mencintainya?" Dia bertanya.
Reagan menyandarkan tubuhnya ke dinding di belakangnya dan menghela napas. "Long time ago. Ku rasa aku menyadarinya saat kalian berdua bekerja sama dalam proyek yang sama."
Rosaline meremas tangan Reagan erat hingga pria itu meringis kesakitan. "Aku takut," bisiknya,
"Aku takut ibu dan ayah akan membenci ku dari atas sana karena putri mereka jatuh cinta dengan putra laki-laki yang membunuh mereka."
Reagan terkekeh. Dia meletakkan tangannya di atas kepala Rosaline dan menyikatnya dengan lembut. Dia memberikan kembarannya senyuman yang paling cerah dan paling hangat saat dia menangkupkan kedua pipi Rosaline dan mengangkat pandangan gadis itu agar menatapnya.
"Jika mereka tahu kamu jatuh cinta dengan seseorang. Mereka akan mendukung mu."
Rosaline cemberut. "Bahkan dengan James?"
Reagan mengangguk. "Bahkan dengan dia. Entah bagaimana aku bisa membayangkan ibu dan ayah berkata 'apa pun yang dilakukan orang tuanya, itu bukan salahnya. Anak itu tidak bersalah, mereka tidak pantas menerima dosa orang tuanya'."
__ADS_1