
...CHAPTER 62...
...JULIAN'S IDENTITY...
"Apa yang kau lakukan di sini? Aku tidak yakin kalau kita seumuran. Kau terlihat lebih muda dari ku, setidaknya lima tahun di bawah ku. Berapa umur mu sekarang?"
Sejak tadi, Julian terus-menerus membombardir si rambut brunnete dengan pertanyaannya. Dan sialnya pria itu sepertinya tidak terlalu tertarik untuk menjawab pertanyaan Julian. Lihat saja sikapnya yang terus memutar bola matanya seolah tidak nyaman dengan kehadiran Julian.
Nah, walaupun begitu Julian tidak akan berhenti sampai pria itu menjawab pertanyaannya. Karena tak tahu bagaimana, kehidupan lelaki bernama Thomas Ben Vreaa di hadapannya ini lebih menggiurkan untuk dicampuri ketimbang kehidupannya sendiri.
"Kenapa kau begitu penasaran tentang ku? Kau sendiri bagaimana? Apa yang kau lakukan di luar sana sampai-sampai kau mendekam di penjara? Kau bahkan tidak terlihat seperti orang yang baik."
Julian ingin tertawa menanggapi perkataan pria brunnete itu yang blak-blakkan. Tapi ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Ini pertama kalinya Julian bertemu dengan seorang laki-laki bersuara kuat. Tatapannya tajam nan juga menusuk, menyelidik Julian seakan tidak ada rasa takut menghadapinya.
"Aku? Aku dijebak," Dia tertawa.
Thomas menoleh ke arahnya. "Oleh siapa?"
Julian menepuk dagunya, memikirkan kata yang tepat. "Orang kepercayaan ku," jawabnya.
"Bodoh," gumam Thomas, mengembalikan perhatiannya ke kakinya sendiri dengan menggelengkan kepalanya.
Gerakan kepalanya membuat sebagian rambut brunnete-nya berjatuhan ke kening. Tapi sayangnya, dia terlihat tak terlalu menyadarinya atau bahkan terganggu dengan itu, karena sekarang dia mulai membuka mulutnya untuk bicara.
"Aku juga," ucapnya, "aku juga dijebak."
Tiba-tiba percakapan mereka menjadi gelap. Bahkan Julian tidak berani menyela. Dia dengan sabar menunggu Thomas melanjutkan karena dia tahu bahwa kata-kata yang keluar dari mulutnya barusan itu adalah hal yang tersulit di dunia untuk diucapkan.
Dia pasti butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Apa kau tahu tentang the golden money?"
Thomas berbicara. Wajahnya melembut seperti mentega tapi datar. Dia berbalik melihat lagi seiring matanya membelalak, jelas tidak menyangka bahwa Julian masih mengawasinya dari jauh sebelum dia berbalik, bangkit.
"Aku tahu tentang the golden money," jawabnya, memegang erat-erat baja itu seolah-olah dia siap menyingkirkannya dari pandangannya dan lari dari penjara.
"Apa pendapat mu tentang organisasi itu?"
__ADS_1
Sebenarnya, Julian sedang tidak mood untuk membicarakan the golden money itu. Organisasi itu seperti lingkaran setan. Sekali kau masuk, kau tidak akan bisa keluar. Dan dia tidak akan lupa bagaimana salah satu dari mereka mengkhianatinya dan membuatnya terjebak di penjara ini. Membuangnya seperti kotoran.
"Tidak berguna. Lingkaran setan. Dan pembohong. Lagipula tidak ada yang baik dari organisasi itu. Semua berita yang kau lihat di internet itu omong kosong. Mereka pembohong. Menyabotase Inggris seperti *******."
Thomas tertawa. "Kau menyebut mereka seolah-olah mereka adalah orang yang benar-benar jahat, dan bagaimana dengan mu? Kalau aku tidak salah, kau kepala gangster besar di Inggris. Julian Nolan Torres. Siapa yang tidak tahu nama mu."
Kali ini bukannya kaget, Julian menyeringai.
"Jadi kau tahu tentang aku? Kau tidak takut pada ku?"
Thomas menggelengkan kepalanya. "Untuk apa. Toh kau tidak bisa melakukan apa-apa pada ku selama di sini. Ingat, kita terjebak di penjara ini bersama-sama."
"Hahaha lucu sekali!"
Hubungan yang dimulai dengan nasib yang sama bukanlah hal baru lagi. Baik Julian dan Thomas, tidak ada yang menyangka bahwa suatu saat nanti mereka akan menyebut hubungan konyol mereka ini sebagai pertemanan.
Sama-sama dijebak oleh the golden money dan berada di satu sel yang sama. Lucu memang jika diingat-ingat, tapi begitulah kenyataannya.
...•—— ✿ ——•...
"Tunggu sebentar! Kau seorang gangster?!"
Reagan dan Rosaline tanpa sadar meremas erat tangan satu sama lain. Kedua saudara kembar itu saling beradu pandang, membiarkan mata mereka terpaku, lengket seolah ada lem super yang melekat.
"Aku masuk penjara dua tahun lebih awal dari ayah kalian, tapi dia keluar lebih dulu dari ku. Selama itu, dia sering mengirimi ku surat. Kalian tahu apa yang selalu dia ceritakan di suratnya? Dia selalu menceritakan tentang kalian. Rosie, Reggie, dan bahkan Elijah. Aku tahu seluruh kisah bagaimana ayah dan ibu kalian bertemu."
"Hingga setahun sebelum kematiannya dan Elijah, Thomas mendatangi ku yang saat itu masih berada di dalam penjara. Dia datang dengan sebuah amplop coklat dan berkata 'jika sesuatu terjadi pada ku, ambil amplop ini di kementerian negara yang ku tinggali sekarang. Tolong jaga anak-anak ku'."
Julian yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat kepalanya, hanya untuk melihat ekspresi kedua saudara kembar yang telah ia asuh selama satu dekade terakhir ini tengah menatapnya iba.
"Aku tak sempat berkata apa-apa saat itu karena dia pergi begitu saja meninggalkan aku. Sampai hari di mana hukuman ku selesai dan aku dibebaskan dari penjara, aku shock berat ketika tahu sebuah insiden terjadi dan merenggut nyawanya dan Elijah."
"Itu pembunuhan," Celetuk Rosaline.
Julian mengangguk. "Aku tahu. Karena itu, selepas keluar dari penjara aku memutuskan untuk meninggalkan seluruh anggota gangster ku dan menemui kalian. Aku ingat tentang amplop coklat yang dia katakan dan ternyata amplop itu berisi surat pemindahan hak asuh."
"Jadi itu adalah awal kau menjadi wali kami?" Reagan bertanya. Dia merangkul tubuh Rosaline yang kini bersandar di pundaknya.
__ADS_1
Julian mengangguk.
"Lalu di mana semua anggota gangster mu?" Tanya Rosaline tiba-tiba.
"Bersembunyi pastinya atau membaur ke masyarakat, seperti orang ini contohnya."
Dengan matanya Julian menunjuk ke arah Daniel yang duduk tenang di sebelahnya. Laki-laki itu kini memasang wajah polos, sumringah senang seiring tangannya menggulung lengan bajunya dan memampangkan sebuah tato naga.
"Kau juga gangster?" Rosaline shock.
"Yep," Angguknya.
Sementara Rosaline terpukau dengan tato naga di tangan Daniel, Reagan melemparkan atensinya kepada Julian.
"Siapa orang kepercayaan yang mengkhianati mu, Julian?" Tanyanya.
Pria itu mengerutkan alisnya. "Jenkins. Kepala keluarga Jenkins. Bedebah itu menggunakan ku untuk mencapai tujuan sebagai the golden money."
"How funny," gumam Reagan, dan menatap Rosaline, yang kepalanya tersentak antara Julian dan dia, menonton mereka seperti pertandingan olahraga.
"Jujur aku bahkan tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua informasi ini terlalu banyak untuk ku cerna. Mungkin adik ku tercinta ini hanya akan menerimanya tanpa memikirkannya lagi, tapi—"
Reagan memelototi Julian.
"Apa... ada cara untuk membalas perbuatan mereka pada ayah dan ibu? Aku yakin, insiden sepuluh tahun lalu yang membuat mereka meninggal adalah the golden money itu lah dalangnya!" Seru Reagan.
"Tenang Reagan. Kita tidak tahu pasti akan hal itu. Kita tidak boleh gegabah! Kalau kita gegabah kita lah yang akan rugi! Lagi pula kau tidak melihat wajah pembunuh yang menerobos masuk ke rumah kalian wak—"
"Aku melihatnya."
Semua atensi langsung melayang ke Rosaline.
"Aku melihatnya...," dia gemetar, "sekarang aku ingat kenapa aku merasa aku pernah bertemu dengannya. Aku yakin itu dia."
"Apa maksud mu, Rosie?" Reagan mengernyit bingung.
"Kau pasti tidak mengingatnya, Reggie, tapi aku mengingatnya dengan jelas. Mata ku dan dia bertemu tepat setelah kita berdua bersembunyi ke balik lemari. Dia juga adalah orang yang melindungi kita hari itu."
__ADS_1