Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 5


__ADS_3

...CHAPTER 5...


...NEW FRIEND...


"Selama kuliah berpura-pura lah tidak mengenal ku! Aku tidak mau orang-orang tahu kalau aku punya saudara kembar yang jelek!" Rosaline berteriak. Mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Reagan.


Reagan yang disebut jelek oleh Rosaline mengerutkan hidungnya. Dia menatap lekat sang adik dengan mata yang memicing seiring ia melipat tangannya ke depan dada. Mereka kembar. Artinya dia juga jelek.


"For your information, kalau kau lupa kita ini kembar! Itu artinya kau juga jelek, Rosie!" Seru Reagan tak terima.


"Kita memang kembar tapi tidak identik, secara langsung wajah kita sedikit berbeda! Jadi berpura-pura lah tidak mengenal ku di sana!" Pekik Rosaline.


"Oke! Fine!" Jawabnya acuh.


Reagan memutar bola matanya tak peduli. Toh dia sudah terbiasa. Sudah tak heran lagi kalau Rosaline memintanya berpura-pura tidak mengenal satu sama lain, karena mereka sudah sering melakukannya. Jauh dari masa kuliah.


Di tengah-tengah pertengkaran mereka, Daniel yang terbangun ketika mendengar suara berisik dari lantai dua, melongo saat melihat Rosaline dan Reagan yang sekarang saling menggeram seperti kucing dan menggertakkan gigi mereka.


Ia melirik ke arah jam dinding yang terpasang di samping rak buku dan mendengus kasar ketika mendapati waktu baru menunjukkan pukul delapan pagi.


Jadi, apa ini yang dirasakan Julian setiap paginya? Apa ini yang akan dia rasakan selama mereka berdua tinggal di sini? Julian brengsek, ini tidak ada di kesepakatan?! Batin Daniel menjerit.


Dia kembali menaruh perhatian ke arah si kembar yang sekarang sudah saling mengalihkan pandangan mereka ke arah yang berlawanan. Dengan helaan napas panjang yang keluar darinya, Daniel berjalan mendekati mereka sambil menghentakkan kakinya.


"Come on, stop this idiot bickering stuff! Ini baru jam delapan pagi, ya tuhan!" Seru Daniel. Alis matanya mengkerut, sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas, dan ia memijat kepalanya yang tiba-tiba pusing.


"Daniel?! Kau sudah bangun?" Rosaline berseru dengan matanya yang perlahan melebar. Sedikit terkejut ketika melihat kehadiran Daniel di tengah-tengah mereka.


Daniel merasa matanya berkedut. Tentu saja dia sudah bangun. Karena siapa coba?


"Ku kira kau akan tidur sampai siang seperti Julian. Kalian berdua tidur seperti orang mati," ejek Reagan, mengingat dia sudah berapa kali mencoba membangunkan pria itu dari alam mimpinya tadi pagi.


"Kalian belum pergi? Dua jam lagi kelas kalian di mulai," ujar Daniel mengingatkan.


Rosaline dan Reagan menggeleng cepat. Keduanya menyentuh perut mereka serempak seiring suara gemuruh terdengar dari dalam sana. Wajah mereka tertunduk bertepatan munculnya rona merah di pipi mereka.


Daniel terkekeh geli melihat dua saudara kembar yang mengabaikan eksistensinya, mencoba menyembunyikan rona merah yang sudah menjalar hingga ke telinga mereka.


"Oh right, breakfast. Sorry, aku lupa!" dan berlari menuju dapur.

__ADS_1


Selagi Daniel menyiapkan sarapan, Rosaline dan Reagan kembali ke kamar mereka masing-masing mengemasi barang-barang mereka untuk kuliah nanti.


Mulai hari ini tepat pukul setengah sepuluh pagi nanti, kelas di mulai. Beruntung rumah Daniel tak terlalu jauh dari universitas Westminster. Cukup naik dua bis dari sana maka mereka akan sampai.


Usai sarapan dengan roti panggang lumer coklat buatan Daniel. Rosaline dan Reagan mengerutkan kening mereka saat pria dewasa itu menyodorkan kunci mobilnya.


"Apa?"


"Kau bisa menyetir, kan, Reggie?" Tanya Daniel.


Reagan mengangguk. "Ya, aku bisa menyetir. Kenapa memangnya?" Dia bertanya entah kenapa terdengar menantang.


"Kalau begitu kalian bisa membawa mobil ku selama di sini, jadi pakai—"


"Tidak perlu, kami bisa pergi dengan bis," Tolak Reagan langsung.


"Yep, kami sudah menghapal rute bisnya selama seminggu ini, jadi kami tidak akan tersesat lagi seperti waktu itu."


"Tapi Julian menyuruh k—"


"Tidak perlu. Abaikan saja dia. Bye Daniel!" Pekik Reagan dan menarik Rosaline pergi, meninggalkan pria dewasa yang masih berteriak menyuruh mereka membawa mobilnya.


"Ingat mulai hari ini kita Smith. Bukan Vreaa atau Torres," Peringat Reagan sebelum meninggalkan kembarannya sendirian di halte bis.


Rosaline memperhatikan sosok Reagan saat laki-laki itu berbelok menuju gedung fakultas bisnis sementara dirinya terjebak sendirian di koridor bersama kerumunan yang memblokir jalannya.


"Ada apa?" Tanya Rosaline ketika dia tak sengaja bertemu dengan tiga wanita yang ia temui waktu sewaktu daftar ulang.


Ketiga wanita itu menatapnya datar sebelum berkata, "dia anak anggota the golden money yang kami bicarakan waktu itu. Tapi dia tidak sesuai harapan kami," Ucap mereka.


Rosaline berbalik dan menatap kerumunan itu dengan ekspresi penasaran. Saat dia mengambil ancang-ancang untuk mendekat ke arh kerumunan itu, ketiga wanita tadi menarik tangannya.


"Lebih kau tidak usah terlibat dengannya. Ku dengar dia itu jelmaan seorang penyihir bukan manusia. Dia pasti akan meminta imbalan sesuatu dari mu suatu saat nanti!"


Ketiga wanita itu melepaskan tangannya dan kemudian pergi. Rosaline memandangi ketiga punggung wanita itu yang semakin menjauh dari tempatnya berdiri. Entah kenapa gejolak penasarannya lebih besar ketimbang rasa takut ketika mendengar perkataan ketiga wanita itu.


Lantas tanpa pikir panjang, Rosaline pun berjalan mendekati kerumunan itu, membiarkan tubuhnya berhimpitan dengan orang-orang dan berjinjit untuk melihat rupa salah satu anak anggota the golden money, si konglomerat kaya di Inggris.


Di sana. Rosaline mendapati seorang wanita berambut merah maroon, sepertinya bukan warna rambut yang asli. Di belakangnya ada dua laki-laki bertubuh besar dan disekelilingnya banyak mahasiswa laki-laki yang meneriakinya pujian atas kecantikannya.

__ADS_1


Rosaline. Dia meneguk ludahnya sendiri saat mata wanita itu tak sengaja bertukar pandang dengannya. Ia semakin getir tatkala wanita itu membisikkan sesuatu ke telinga salah satu pria bertubuh besar di belakangnya.


"Minggir kalian semua! Nona Clark mau lewat!" Seru pria itu mengusir kerumunan di sekitar mereka, membuat Rosaline yang berjinjit jadi tak seimbang dan kemudian terjatuh.


Brukk!!!


"Oh god," kesalnya.


Rosaline mengusap wajahnya yang menyentuh lantai, berharap tak ada darah yang keluar dari hidungnya. Ia mengerlingkan matanya melihat sekeliling seiring gelak tawa terdengar. Sontak gadis itu menundukkan kepalanya sesaat dengan rasa hangat perlahan menjalar ke wajahnya.


Oh tuhan, ini baru hari pertama kelas di mulai dan dia langsung dihadapkan dengan kejadian memalukan? Jangan bercanda?!


Rosaline terkesiap saat sebuah tangan berhenti tepat di wajahnya ketika ia beranjak untuk berdiri. Gadis itu mendongak, melihat wanita berambut merah maroon itu tengah mengulurkan tangannya ke arahnya.


"Here. Lemme help you," Ujarnya dengan senyuman manis.


Sontak suara di koridor yang tadinya menertawakan Rosaline kini berubah menjadi ricuh ketika wanita itu tersenyum. Para lelaki yang mengerumuni mereka berteriak, mengatakan betapa cantiknya wanita itu saat ia tersenyum.


Rosaline mengambil tangan wanita itu tanpa pikir panjang dan kemudian berdiri. Ia membersihkan pakaiannya dari debu lalu membungkukkan tubuhnya sebagai tanda rasa terima kasih kepada wanita itu.


"Siapa nama mu?" Tanyanya.


"Rosaline Mary Smith," Jawab Rosaline cepat.


"Aku suka kau. Kau terlihat sangat cantik. Aku suka warna emerald di mata mu itu," Pujinya.


Rosaline tersenyum lebar sebelum mengucapkan terima kasih dengan gestur tubuhnya lagi. Ia menaikkan sebelah alisnya ketika wanita di depannya lagi-lagi mengulurkan tangan ke arahnya.


"Pardon?"


"Kau terlihat cocok untuk menjadi teman ku."


Rosaline mengerutkan keningnya, sedikit tak mengerti. Sekelebat kepalanya teringat perkataan tiga wanita yang memperingatkannya beberapa menit lalu untuk tidak terlibat dengan wanita itu.


Namun, Rosaline tak enak hati. Wanita itu sudah menolongnya dan lagi, baru kali ini ada seseorang yang mengulurkan tangannya duluan ke arahnya. Biasanya ia lah yang selalu melakukan hal itu pertama kali. Mengajak orang-orang untuk menjadi temannya.


Rosaline. Tanpa pikir panjang memutuskan untuk mengabaikan peringatan tiga wanita itu. Mungkin mereka bertiga hanya mendengar gosip buruk tentangnya di media, tapi bukan di realita. Karena kenapa? Wanita ini terlihat sangat baik di depan Rosaline sekarang.


Itu yang dia batinkan sebelum tangannya perlahan-lahan terangkat dan menjabat tangan wanita di depannya sambil berkata, "tentu saja. Aku akan menjadi teman mu."

__ADS_1


__ADS_2