Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 6


__ADS_3

...CHAPTER 6...


...THE BLOND MAN...


"Minggir!"


Reagan yang saat itu baru saja melangkah keluar dari kelasnya terlonjak kaget saat suara dingin seorang pria berteriak tepat di telinganya. Saat dia berbalik. Di sana. Reagan mendapati seorang laki-laki bersurai pirang tengah menatapnya dengan rendah.


"Apa-apaan?" Lirih Reagan. Sudut bibirnya terangkat dan matanya balik menatap pria itu dengan sinis.


"Kau tidak dengar apa yang ku katakan? Kau tuli? Minggir! Jangan halangi jalan ku!" Pria itu berseru.


Entah kenapa wajah sombong pria pirang di depannya ini lebih menyebalkan dari wajah Julian ketika ia dan Rosaline pertama kali bertemu dengannya. Dan Reagan merasakan darahnya mendidih. Seketika ia ingin menghajarnya.


Karena mengingat pesan Julian yang menyuruhnya untuk tidak membuat masalah selama di Inggris waktu itu, tanpa basa-basi lagi Reagan langsung menjauh dari hadapan pria pirang tersebut. Sedikit menempelkan tubuhnya ke pintu agar ia bisa leluasa keluar.


"Apa-apaan dia?" Desis Reagan tak suka.


Ia memandangi pria pirang itu yang melenggang santai di lorong. Dengan helaan napas panjang yang keluar darinya. Reagan melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Seiring mencoba mengabaikan emosi yang meletup-letup di hatinya.


Namun Reagan tak bisa menyembunyikan ekspresi muramnya. Alisnya tertaut dan matanya menyapu pandang sekitar dengan sinis. Sehingga membuat siapapun yang melihatnya pasti akan langsung mengira kalau pria itu sedang marah.


"Oh shut up," Gumamnya muak, menolehkan kepalanya ke arah sekumpulan mahasiswa yang tengah terkikik tak jauh darinya.


Ia mengeluarkan decakan kesal dari lidahnya setiap kali ia berpapasan dengan banyak mahasiswa yang tengah bercerita ria tentang betapa menyenangkannya kelas pertama mereka hari ini.


"Apanya yang menyenangkan?" Cerca Reagan, "everything is suck, gosh!" Sambungnya sembari tangannya membuka pintu perpustakaan dan berjalan masuk ke dalam dengan hentakkan kaki, seperti anak kecil yang merajuk karena tak dibelikan permen.


Beberapa menit yang lalu, tepat sebelum kelas bisnis pertama berakhir. Profesor yang mengajar di kelas saat itu, tiba-tiba memberi tugas makalah di akhir jam pelajaran.


Sontak seluruh mahasiswa di dalam sana berteriak heboh seiring rahang mereka yang jatuh ke bawah dan pelototan mata lebar. Seolah-olah mereka semua baru saja melihat hantu.

__ADS_1


"Argh aku jadi kesal sendiri mengingatnya," kesal Reagan sembari mengacak rambutnya.


Bagaimana dia tidak kesal. Di hari pertamanya kuliah dia langsung mendapatkan tugas makalah. Oh, dan jangan lupakan tentang pria pirang yang meneriakinya tadi.


Tak tahu kenapa pria itu berhasil membuatnya terpancing emosi dan Reagan bahkan tak sadar betapa kuatnya ia mengepalkan tangannya sekarang. Seakan-akan dia sudah siap menghajar pria pirang itu jika bertemu dengannya lagi.


Reagan berhenti tepat di depan rak buku tentang buku bisnis yang mungkin bisa ia gunakan untuk membuat makalah nanti. Matanya memandangi buku-buku itu intens, memperhatikan layaknya kamera, sebelum menarik dua buku tebal dari sana.


"Ku rasa dua buku cukup," pikirnya, sedikit menimang-nimang apakah dua buku di tangannya cukup membuat makalahnya semakin tebal nantinya. "Yeah kalau pun kurang aku bisa kembali ke sini kapan saja," ujarnya dan melenggang menuju tempat duduk perpustakaan.


Reagan menautkan kedua tangannya, dijadikannya sebagai sandaran dagu. Sekarang ia tengah berpikir keras, bisa dibuktikan dengan urat-urat yang muncul di pelipisnya seiring matanya bergerak lamban ke kanan dan ke kiri, membaca tiap kalimat di buku itu.


Sejak tadi dia merasa ada sesuatu yang bergetar di dalam tasnya. Mau seberapa keras dia mengabaikannya, getarannya tak kunjung berhenti dan berubah menjadi sangat mengganggunya. Akhirnya dengan decakan kesal, Reagan merogoh isi tasnya dan menemukan ponselnya bergetar.


"Rosie?"


Tatapannya terpaku pada nomor sang adik yang telah mengiriminya banyak pesan beberapa menit yang lalu. Dengan putaran malas di matanya, Reagan membuka pesan dari Rosaline dan membacanya.


Alisnya berkerut saat dia membaca seluruh pesan yang dikirim oleh Rosaline. Matanya mengerjap beberapa kali —seakan-akan memastikan bahwa apa yang dia lihat itu benar— sebelum meletakkan ponselnya ke dalam tas kembali. Bahkan tak repot-repot membalas pesan dari Rosaline.


Dia menutup buku yang ia baca dan membawanya ke penjaga perpustakaan untuk dipinjam. Usai menuliskan namanya di buku daftar pengunjung, Reagan kemudian pergi menuruti perkataan Rosaline yang menyuruhnya untuk pulang ke rumah duluan.


Ketika ia baru saja melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan. Reagan lagi-lagi terlonjak saat teriakan heboh terdengar di telinganya. Entah kenapa sedikit deja-vu. Ia menyembulkan kepalanya dari balik tembok, mengintip ke arah lorong di mana suara teriakan itu berasal.


"What the—" Ucapan Reagan terpotong. Ia langsung memasang ekspresi jijik ketika mendapati pria pirang tadi tengah dikerumuni banyak perempuan di sana. "Kenapa orang itu harus satu fakultas dengan ku? Ya tuhan, jangan sampai aku kena hipertensi karena wajah sombongnya itu."


Tak mau ambil pusing dan mengabaikan eksistensi pemuda pirang tersebut yang sedang dikerumuni banyak perempuan. Reagan melewati mereka dengan ekspresi tak peduli, bahkan ketika ia menemukan pria itu tengah menatapnya sinis, dia tetap melewatinya.


Masa bodoh, pikir Reagan. Dia tak peduli dengan pria pirang itu.


Samar-samar setelah Reagan menjauh dari kerumunan, Ia tanpa sadar berbalik ke belakang ketika telinganya tak sengaja menangkap kalimat 'Aku tak menyangka dia anak anggota the golden money' dan 'lihat dia sangat tampan'.

__ADS_1


Reagan mengerutkan keningnya. "Jadi ini yang ditanyakan Rosie ke Daniel waktu itu? Pfft— entah kenapa aku bisa tahu apa yang dia pikirkan tentang konglomerat kaya itu sekarang.


"Aku yakin seratus persen, dia menganggap semua konglomerat kaya itu adalah orang yang baik. Mengingat reputasi yang mereka miliki, but let's wait until she meets with this one."


...•—— ⁠✿ —— •...


"Kau tahu ada seorang the golden money di fakultas ku."


Rosaline membelalakkan matanya. Ia yang tengah asyik membantu Daniel mengadon roti langsung terhenti dan melemparkan sang kakak tatapan menuntun, meminta penjelasan.


"The golden money?" Daniel yang sekarang tengah menggiling adonan roti juga ikut memandang Reagan, "kau satu kelas dengan anak konglomerat itu?" Sambungnya dan diberi anggukan oleh Reagan.


"Wah dunia sempit sekali," Celetuk Rosaline dengan tawa hambar.


Reagan menjauhkan buku yang ia pinjam di perpustakaan tadi dari hadapannya dan menatap sang adik yang sudah kembali fokus mengadon roti. Oh ya, bukannya gadis itu sudah mendapatkan teman di hari pertamanya kuliah?


"Kau sudah dapat teman, kan, Rosie?"


Rosaline mengangguk dan terkekeh geli melihat Daniel menoleh cepat ke arahnya dengan tatapan penasaran.


"Benarkah? Apa dia orang yang baik?" Tanya Daniel. Binar mata yang ada di wajahnya membuat Rosaline tersenyum.


Entah kenapa sedikit mengingatkannya dengan raut wajah Julian ketika dia dan Reagan pertama kali memberitahu pria itu kalau mereka diterima di universitas asing. Meskipun ekspresinya yang bersemangat kala itu langsung berubah begitu ia tahu kalau universitas tersebut ada di Inggris.


"Looks like," Jawab Rosaline singkat.


Tanpa sadar membuat dua laki-laki di depannya saling berpandangan sebelum kembali memusatkan perhatian mereka ke arah Rosaline dengan tanda tanya besar di dalam benak mereka.


Biasanya, Rosaline lah yang paling bersemangat menceritakan sesuatu yang baru ia rasakan. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Rosaline merasa ada sesuatu yang menahan dirinya untuk tidak memberitahu Reagan dan Daniel, tentang hubungan pertemanannya dengan salah satu anggota the golden money.


Dan Rosaline sendiri tak menyangka kalau ia akan menuruti perasaan di dalam hatinya dan tak memberi tahu kedua pria itu dengan siapa ia berteman hari ini. Rasanya ada yang aneh dan janggal. Itulah yang dia rasakan sekarang.

__ADS_1


__ADS_2