Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 32


__ADS_3

...CHAPTER 32...


...PARTNERSHIP...


"Apakah ini tempatnya?"


Rosaline melihat sekeliling, memastikan dia berhenti di tempat yang tepat. Dia melihat file yang diberikan profesor Watson kemarin, membukanya dan membaca alamat perusahaan tempat dia akan bekerja dan menyelesaikan proyek kuliahnya sekali lagi.


"Ya, ini tempatnya," katanya, berusaha membuat dirinya percaya diri seiring dia berjalan ke dalam perusahaan itu.


"Permisi," kata Rosaline sambil melambaikan tangan pada dua satpam yang berdiri di depan pintu masuk.


"Ya? Apa yang bisa saya bantu?" Yang lainnya menjawab.


Rosaline menunjukkan kartu identitas yang dia dapatkan dari profesor Watson hari itu dan berdasarkan perkataannya, Rosaline hanya perlu menunjukkan kartu identitasnya kepada satpam di sana dan kemudian mereka akan membawanya ke penanggung jawab perusahaan tersebut.


"Oh ya, tamu Ms. Matilda. This way, miss," Ucapnya. Dia melangkah ke samping, memberi jalan bagi Rosaline untuk berjalan melewati pintu, terus masuk ke dalam perusahaan tanpa sepatah kata apapun.


Tepat setelah Rosaline melangkah masuk gadis itu melihat sekeliling, merasa takjub dengan seluruh sisi yang ada di perusahaan itu. Dekorasi dan konsep bangunannya yang rumit membuat Rosaline bertanya-tanya.


Apa yang dipikirkan oleh arsitek yang pernah membangun gedung ini pada saat itu, sampai-sampai menghasilkan ide konsep yang hebat dan detail yang rumit untuk perusahaan ini.


Well, ini luar biasa, pikir Rosaline. Seiring lift yang mereka naiki melaju ke lantai atas, dari sana dia bisa melihat banyak orang-orang yang berlalu lalang. Bergerak cepat karena dikejar waktu dan berukuran kecil layaknya semut.


Lucu, pikirnya.


Saat lift berhenti, mereka berjalan hingga mencapai salah satu ruangan yang terlihat sangat mewah. Pintu itu dicat dengan cat emas dan kenopnya juga. Lalu ada sesuatu yang tergantung di sana dan tertulis 'kantor Matilda', sepertinya ruangan itu milik pemilik perusahaan ini.


“Tamu anda sudah datang, Ms. Matilda,” ucap satpam setengah berteriak dan sambil mengetuk pintu. Tak lama, ada teriakan perempuan yang membalas. Berteriak dari dalam menyuruh mereka untuk masuk.


"Silakan," ucap satpam itu dengan sopan, melangkah ke sisi lain untuk memberi Rosaline jalan untuk lewat. "Ms. Matilda sudah menunggu anda," Timpalnya.


Rosaline tersenyum lembut dan mengucapkan terima kasih. Dia memandangi saat satpam itu pergi lalu berbalik, menatap lama ke arah pintu bercat emas itu.

__ADS_1


Sekarang dia sedang berpikir keras. Berdebat dengan pikirannya sendiri karena tak yakin harus masuk ke dalam atau tidak dan bertemu dengan pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengannya dalam proyek nanti.


Oh persetan, pikirnya. Tidak ada lagi yang perlu dia khawatirkan kecuali satu hal. Satu-satunya hal yang sangat mengganggunya sejak kemarin. Tentu saja. Apa lagi kalau bukan tentang partnernya, sialan?! Oh tuhan, siapa yang menjadi partnernya untuk proyek ini?


Setelah perdebatan panjang di kepalanya, Rosaline kaget saat dia sekali lagi mendengar teriakan dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk, kali ini teriakannya terdengar agak kasar dari sebelumnya dan anehnya, itu suara laki-laki.


Begitu pintu terbuka dan Rosaline menerobos masuk, sepasang mata abu-abu terpaku, bertemu dengan zamrud hijau yang dimiliki Rosaline. Mata mereka terpaku satu sama lain. Terlihat begitu intens seiring rasa terkejut menjalar, memenuhi tubuh mereka masing-masing.


"Oh my, tuhan pasti sedang mempermainkan mu," gumam gadis berambut coklat itu sambil berbalik, menatap pria yang dikenalnya yang berdiri di sudut ruangan. "Aku ingin tahu apa reaksi pacar mu sekarang jika dia tahu siapa partner mu, James."


Rosaline berdiri di sana dalam diam, tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa tersenyum pasrah ketika matanya menangkap sesosok pria yang tidak ingin dia temui sekarang dan selamanya.


Dia bisa merasakan ketegangan yang perlahan memenuhi tubuhnya. Tangannya berkeringat dan kakinya goyah seperti jeli saat dia mulai mendorong dirinya untuk berjalan mendekat.


Ya Tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi di sini Dari semua manusia yang ada di dunia ini, kenapa harus dia? Kenapa harus James Orion Adler yang menjadi partner-nya?


Rosaline mengumpat dalam hatinya, merasa tidak adil dengan apa yang terjadi padanya sekarang. Dia diam. Berpura-pura tidak memperhatikan pria pirang itu, walaupun yang sebenarnya dia lakukan adalah melirik ke arahnya.


Oh tuhan, ini sangat memalukan.


Rosaline mencengkeram lengan bajunya erat-erat, menundukkan kepalanya hanya untuk melihat sepatu yang dia kenakan sekarang.


Terlepas dari kenyataan bahwa dia tidak berani melihat ke atas dan mempertemukan pandangannya dengan yang lain.


Bahkan ke arah James atau ke arah Oliver, si gadis berambut coklat.


"Umh... halo, kalau tidak salah nama mu Rosaline, kan? Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan kecanggungan yang tiba-tiba melanda ruangan ini."


Rosaline mengangguk dalam diam saat gadis yang bernama Oliver itu berdiri dari kursinya dan berjalan ke arahnya. Dia meletakkan tangannya di bahu Rosaline dan berkata, "selamat datang di Matilda's," Sambutnya.


"Abaikan kecanggungan di ruangan ini, aku tahu itu karena orang ini, kan? Abaikan dia, Rosaline. Aku mengerti kalau kau tidak mau bekerja sama dengannya, but just remember, you only need him for this project and make your grade higher. Dengan begitu ketika kamu lulus, kamu bisa mendapatkan nilai tertinggi sepanjang sejarah di Westminster."


Rosaline terkekeh mendengar lelucon itu. Dia tahu jika Oliver hanya mengolok-olok pria itu. Terlihat dari ekspresi kesal di wajah James seiring pria itu bersandar di dinding.

__ADS_1


"For your information, aku melakukan ini untuk tujuan yang sama. Aku hanya membutuhkan dia untuk proyek ini dan juga nilai ku. Jadi jangan salah paham, aku juga tidak ingin bekerja sama dengannya."


"Oh come on, James. Siapa sih yang mau bekerja sama dengan mu? Ya, Kecuali pacar mu itu, sih. Well I don't care. Selagi proyek ini selesai dan cara kerja kalian memuaskan aku tidak peduli."


James memutar bola matanya malas. "Terserah," gumamnya.


Rasanya, waktu sedang berhenti di tengah-tengah mereka.


Entah bagaimana, rasanya waktu telah berhenti bekerja. Rosaline bahkan tidak sadar jika mereka sudah tak berada di ruangan Oliver lagi. Itu seperti mantra apparate di Harry Potter, di mana mereka tiba-tiba muncul di tempat yang berbeda.


"Oke, dengarkan baik-baik. Ini adalah ruangan tempat kalian berdua akan ditempatkan bersama sampai proyek berakhir. Kalian boleh menggunakan properti apa pun di sini.


"Seperti komputer, kamar mandi, oh dan kantin ada di lantai empat kalau kalian ingin makan siang di sana. Jadi ada sesuatu yang ingin kalian tanyakan? Kalau kalian butuh sesuatu, just asked the other officer."


Rosaline melihat sekeliling sementara James duduk di sofa, mengamati ruangan dengan intens. Pria itu menyilangkan tangannya dan berbicara, "tidak ada. Kamu bisa pergi."


"Kau mengusir ku di perusahaan ku sendiri? Dasar tidak tahu diri."


Oliver mengerang kesal, melempar death glare ke arah James sebelum akhirnya meninggalkan ruangan dengan satu kali hentakan kasar di pintu.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan? Mata mu yang membosankan itu menatap ku."


Rosaline tersentak. Meski pria itu tidak menoleh ke arahnya, dia tahu jika Rosaline sedang menatapnya.


"Yah, aku hanya ingin tahu. Oliver, siapa dia bagi mu? Apa kamu berselingkuh dengannya?"


Kali ini kepala James tersentak ke arah Rosaline.


"Tidak, bodoh. Dia teman ku."


Rosaline mengangguk canggung.


Oh tuhan, bagaimana bisa Oliver meninggalkannya sendirian di sini, dengan sejuta kecanggungan di antara dia dan James. Rasanya dia ingin pergi sekarang. Membuat lubang di tanah dan tinggal di sana saja selamanya.

__ADS_1


__ADS_2