
...CHAPTER 26...
...THE CYNICAL GAZE...
Rosaline tahu betapa putus asanya dia sekarang. Berharap semuanya akan baik-baik saja, tapi kenyataan berkata lain. Situasinya sekarang, bahkan di Westminster atau di tempat lain dia bisa merasakan ketegangan.
Setiap kali dia berjalan, mata semua orang selalu tertuju padanya dengan pandangan sinis. Well. Meskipun dia sendiri tidak terlalu merasa terganggu dengan itu, tapi tetap saja. Dia tidak menyukainya.
"Abaikan mereka, Rosaline. Mereka hanya parasit yang menyukai gosip."
Rosaline melirik ke arah Kaylie yang sedang memegang buku di sampingnya sambil menggeram. Dia tahu kalau gadis itu tengah menahan amarahnya. Lihat saja kerutan yang keluar di dahinya sekarang. Matanya sinis seakan mengusir semua orang yang berbisik ke arah mereka.
"Lebih baik kit pergi sekarang, kelas akan dimulai sepuluh menit lagi," kata Rosaline sambil mengemasi barang-barangnya.
Tanpa mendengar jawaban dari Kaylie, Rosaline berjalan mengarah lorong, mengabaikan Kaylie yang masih kebingungan. Dia bisa mendengar langkah kaki seseorang yang berjalan di belakangnya dan dia yakin itu adalah Kaylie.
Mereka berdua berhenti di depan papan pengumuman tempat di mana sebuah pamflet tertempel. Ada jeda lama yang menggantung di mana tak satu pun dari mereka berdua yang berbicara.
Rosaline hanya diam, menatap butiran debu di kaca tipis papan pengumuman tersebut dan tidak memikirkan apa pun secara khusus.
"Sepertinya kau masih menjadi topik utama gosip di sini."
Rosaline mengangguk ada senyum kecil yang tersemat di wajahnya. Ia memperhatikan Kaylie saat gadis itu menarik pamflet di kaca sana lalu mengoyaknya dan membuangnya ke tempat sampah.
"Ignored them. Tidak ada gunanya mengurusi mereka. The more you act like you care, the more they want to crushed you. Jadi, abaikan."
Lalu Kaylie berbalik. Melanjutkan langkah mereka melewati koridor dan Rosaline mengikutinya dari belakang.
"Mungkin sesekali kau harus memukul mereka seperti yang kau lakukan dengan the golden money itu."
Rosaline tertawa mendengar celetukan Kaylie barusan. "Jangan bercanda, Kaylie. Aku baru saja selesai dengan masa skorsing ku. Mana mungkin aku membuat masalah lagi."
__ADS_1
"Who knows, Rosaline. Tidak ada yang bisa membaca pikiran seseorang. Bisa saja kau lepas kendali dan langsung memukuli mereka. What a barbarian girl you are."
Rosaline memutar matanya dengan malas. Dia ingin membalas Kaylie dengan jawaban yang sama. Sebenarnya tidak ada yang tidak tahu namanya sekarang, Kaylie sudah terkenal, sama seperti Rosaline.
Mungkin jika mereka berdua berteman sekarang, pasti akan ada banyak orang memanggil mereka dengan sebutan dua gadis barbar. Mengingat keduanya sama-sama sudah pernah memukul si anggota the golden money yang paling disegani, bahkan oleh para pemerintah Inggris sekalian.
Saat kakinya menaiki tangga menuju lantai dua, Rosaline baru sadar. Ternyata, bukan hanya para lelaki yang menjadi penggemar Clark saja yang melakukannya. Melainkan para wanita yang membenci Clark juga.
Mereka sama-sama melempar tatapan sinis ke arahnya. Seakan-akan dia adalah makhluk paling menjijikan di muka bumi ini dan tak pantas untuk hidup.
Yeah. Walaupun berteman dengan Clark membuatnya terbiasa. Bukan berarti dia suka. Tetap saja. Dia tidak menyukainya.
Mana adil, bukan? Selagi Clark mendapatkan seluruh kekaguman, sedangkan dia hanya menerima tatapan sinis. Bukankah itu tidak adil? Mereka sama-sama manusia. Hanya dibedakan oleh kasta bodoh di dunia ini.
Ketika mereka sampai di kelas ternyata profesor Watson sudah berada di dalamnya. Keduanya mau tak mau memasang ekspresi pasrah, tahu kalau detensi dari sang profesor pasti akan menghampiri mereka berdua setelahnya.
Dengan gestur malas, profesor Watson menyuruh mereka duduk. Rosaline dan Kaylie berjalan dalam diam dengan langkah tertatih-tatih, sambil melirik ke arah kulit pucat masing-masing di mana mengalir keringat cemas.
Rosaline tersenyum canggung saat orang di depannya menyerahkan buku itu dengan lidah berdecak, seolah-olah terpaksa melakukannya.
Well, dia tak terlalu terganggu dengan itu. Dia hanya fokus mendengarkan profesor Watson, tidak memperdulikan tatapan mata semua orang yang sesekali meliriknya.
Profesor Watson menjelaskan materi kuliah, dan Rosaline mendengarkan dengan saksama. Dia tidak berniat berpaling dari pelajaran, tidak seperti siswa lain yang sepertinya tidak benar-benar mendengarkan.
Sampai kelas profesor Watson berakhir, para mahasiswa pergi satu per satu, meninggalkan Rosaline dan Kaylie bersama Profesor Watson yang sedang kesusahan membawa buku-bukunya.
Rosaline dan Kaylie mendekatinya perlahan sebelum menawarkan profesor Watson untuk membawakan buku-buku itu.
Profesor Watson hanya berdiri di sana tanpa berkata apa-apa sebelum menyerahkan setengah tumpukan buku itu kepada mereka berdua. Dia memimpin jalan ke ruangannya, dengan Rosaline dan Kaylie membantunya di belakang.
"Jadi kau tidak berteman dengannya lagi?"
__ADS_1
Rosaline tahu siapa yang dimaksud oleh profesor Watson. Dengan kepala tertunduk dia menjawab, "ya. Ku rasa pertemanan kami sudah berakhir."
Profesor Watson, yang berjalan di depannya, menoleh dan mendapati gadis itu tengah menundukkan kepalanya dengan tangan yang mencengkeram buku. Sepertinya dia gugup, pikir profesor Watson.
"Profesor," Panggil Rosaline, "saat aku dan Clark di ruangan mu waktu itu, kau bilang akan ada projek besar. Projek apa yang kau maksud? Kalau ini sudah hampir satu bulan semenjak pertengkaran kami, artinya bulan depan projek itu berlangsung."
"Banyak perusahaan bekerja sama dengan Westminster. Proyek ini hanya untuk fakultas arsitektur dan bisnis. Tiap mahasiswa akan dikirim secara berpasangan ke setiap perusahaan dan melakukan tugas mereka masing-masing di sana. Anggap saja seperti magang."
"Siapa pasangan ku?" Tanya Rosaline dan Kaylie berbarengan.
"Rahasia."
Satu kata itu berhasil membuat Rosaline dan Kaylie cemberut. Profesor Watson hanya mengerling malas melihat ekspresi kesal yang ada di wajah kedua gadis itu. Yang tentu saja tertuju untuknya. Toh siapa lagi kalau bukan dia penyebabnya.
Ketika kaki mereka sampai di koridor, profesor Watson mendengus. Dia mengumpat dalam hati saat kerumunan mahasiswa tengah memblokir jalan mereka bertiga. Dengan tatapan matanya yang tajam, profesor Watson berhasil mendorong kerumunan itu untuk menjauh, memberi jalan untuk mereka lewat.
Dia merasa risih dengan tatapan semua orang di sana seiring kaki tergerak melewati koridor. Biasanya setiap kali dia lewat, semua orang selalu menunduk karena takut. Tapi kali ini berbeda.
Mata mereka terkunci. Tertuju kepada mereka bertiga dan profesor Watson sendiri tahu siapa yang tengah mereka tatap. Ya, tentu saja. Siapa lagi kalau bukan dua gadis bar-bar yang berjalan di belakangnya ini.
"Kalian berdua terkenal," kata Profesor Watson.
Rosaline dan Kaylie hanya bisa terkekeh melihat nada jengkel di perkataan sang profesor. Well mereka tidak terlalu merasa terganggu dengan hal itu. Mereka tahu situasinya akan seperti ini, terutama setelah kejadian yang melibatkan mereka dengan the golden money.
Benar-benar merepotkan dan menyebalkan sebenarnya, tapi ya, dengan segala poker face yang mereka pasang di wajah. Baik Rosaline ataupun Kaylie, mereka berdua mencoba untuk tidak terlihat seperti orang bodoh.
"Biarkan saja, profesor Watson. Kami tidak peduli," Balas Kaylie santai.
Profesor Watson mengerut.
"Jangan terlalu santai. Aku tidak yakin semua akan baik-baik saja setelah ini. Terutama kalian berdua. Kalian harus hati-hati. She won't let go of you two easily. Kalian tahu sendiri siapa dia. Mungkin sekarang terlihat biasa saja, tapi siapa yang tahu jalan pikir manusia. Terutama the golden money sepertinya."
__ADS_1