Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 36


__ADS_3

...CHAPTER 36...


...BOYFRIEND'S SHIRT...


"Apakah itu jaket mu, James?" tanya Oliver sambil menunjuk jaket yang dikenakan Rosaline saat gadis itu mengobrol dengan satpam.


James mengangguk, bahkan tidak peduli untuk mendongak ke atas hanya untuk melihat ke arah yang ditunjuk Oliver.


"Apa kau sudah jatuh cinta padanya?"


Kali ini pria pirang itu mendongak kaget. Wajahnya seolah mempertanyakan kalimat yang diucapkan Oliver tadi dan Oliver hanya menyeringai, mengangkat bahu dan melambaikan tangannya ke udara.


"Yah, dia lebih baik daripada wanita itu jika kau ingin aku mengatakannya. Jangan khawatir, aku akan mendukung mu."


James mendengus. "Bagaimana bisa aku jatuh cinta padanya? Dia seperti anak kecil. Sangat berantakan and definitely not my type," komentarnya, dibalas oleh tawa dari Oliver.


"Kita lihat saja nanti, oke? Siapa tahu kau akan tergila-gila padanya di masa depan nanti. Memohon padanya untuk membalas perasaan mu."


James meludah. "Seolah aku menginginkannya, Oliver."


"Yah, dia lebih baik dari wanita itu."


"Wanita itu punya nama dan itu Clark!"


Oliver mengangkat bahu tak peduli. "Terserah."


Dia berjalan pergi, meninggalkan James yang marah sendirian di sana. Dia mendekati Rosaline yang masih mengobrol dengan satpam sambil tertawa dan tersenyum, seolah percakapan di antara mereka benar-benar seru.


Oliver meletakkan tangannya di bahu Rosaline, merangkulnya dari belakang, membuat gadis itu tersentak kaget.


"Wow, your smelled like James," komentarnya sambil mengendus ke arah jaket yang dikenakan Rosaline. "Apa ini jaketnya James?" Dia bertanya meskipun faktanya dia tahu kalau itu memang adalah jaketnya James.


Rosaline. Dengan wajah yang langsung memerah seiring rona pink gelap yang memenuhi pipinya mengangguk dalam diam. Malu untuk menjawabnya.


Oliver menyeringai, tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya. "Oh, boyfriend's shirt, huh?"

__ADS_1


Kali ini, semburat merah jambu gelap di pipi Rosaline menghilang. Gadis itu kaget, langsung digantikan dengan tatapan horor yang menatap wajah Oliver.


"Oh tidak. James itu pacarnya Clark, aku bukan pacarnya. Dia hanya meminjamkan ku jaketnya sebentar. Aku akan mengembalikannya nanti," jawabnya dengan panik.


Oliver terkekeh. "Oke oke, aku hanya bercanda, oke? Tidak perlu menganggapnya serius," dia membela, tetapi sedikit tawa keluar dari mulutnya.


Rosaline cemberut, merasa malu pada saat yang sama. Dia berbalik hanya untuk mempertemukan mata zamrudnya dengan mata abu-abu James, yang tengah menatapnya dengan intens dari kejauhan.


Mata mereka terpaku lama sekali sebelum akhirnya Rosaline memecahkannya dengan mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia bisa merasakan panas yang tumbuh di wajahnya, mengutuk pelan kulitnya yang pucat karena bisa saja membuat semburat merah itu terlihat lebih jelas.


Setelah itu, mereka kembali dengan aktivitasnya seperti biasa. James dengan monitornya, dan Rosaline, dia berpura-pura membaca. Tetapi yang sebenarnya dia lakukan adalah melirik James yang sedang duduk di meja.


Terlihat sangat fokus dengan monitornya dan Rosaline bersumpah dia mendapati hal itu sangat menarik untuk ditonton.


"Apa ada sesuatu di wajah ku? Atau ada sesuatu yang ingin kau katakan, Smith? Kalau iya, beri tahu aku apa itu. Aku bisa merasakan mata mu yang membosankan itu menatap ku dan itu sangat mengganggu ku."


Awalnya Rosaline ragu untuk memberi tahu pria itu apa yang dia pikirkan sekarang. Tentu saja, dia pasti hanya akan menertawakannya.


Jadi Rosaline menutup buku yang dia gunakan untuk pura-pura membaca tadi dan duduk tegak.


"Well, I just wondering. Kenapa kau tidak pernah marah pada ku atau mungkin dengan Kaylie? Kau tahu kan, kita berdua sudah pernah menghajar pacar mu sampai babak belur."


James menatapnya dengan alis berkerut dan kilatan penasaran di matanya. “Apa?” dia bertanya. Memiringkan kepalanya dengan bingung, seolah-olah dia tidak mendengar gadis itu.


Rosaline cemberut. Dia seratus persen yakin kalau pria itu mendengar apa yang dia katakan tadi, tetapi, alih-alih menjawabnya, pria pirang itu malah berpura-pura tidak mendengarnya.


Rosaline berdiri, berjalan mengitari meja dan berhenti di depannya. "Aku yakin kau mendengar ku dengan jelas, Mr. Adler. Atau ada yang salah dengan telinga mu? Haruskah kita pergi ke rumah sakit dan memeriksanya?" Dia berkata, tangan di pinggang seolah mengejek.


Alih-alih membalasnya, James hanya menyeringai. Pria itu bersandar pada dudukan, menyilangkan tangan di depan dadanya dan berbicara, "Jadi, kau ingin aku marah pada mu? Like what? Membalas pukulan mu? Lalu setelahnya?"


Rosaline membeku, bahkan tidak tahu harus berkata apa. Dia berdiri di sana, dengan canggung menatap pria pirang yang masih menyeringai padanya. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu memutuskan untuk mengalihkan pandangannya.


"Yah, aku tidak tahu? Mungkin menjadi orang jahat untuk ku selama kita di sini? Atau, berpura-pura bahwa aku tidak ada? Itu mudah, kan?"


"Lalu, apa alasan yang masuk akal bagi ku untuk melakukan itu?"

__ADS_1


"Pardon?" Tanya Rosaline, melotot bingung.


James menghela napas. "Aku bertanya pada mu idiot. Apa alasan yang masuk akal bagi ku untuk melakukan itu?"


"Yah, karena aku memukul pacar mu?"


James mengangkat alis. "Hanya itu? Lucu sekali."


Pria itu berdiri, memindahkan berat badan dari satu kaki ke kaki lainnya. Mereka begitu dekat sehingga James bisa merasakan nafas Rosaline di lehernya, dan itu seharusnya menjijikkan, tapi gadis itu berbau seperti teh dan kayu manis. Ada sesuatu seperti madu juga. Apakah itu berasal dari rambutnya?


"Ngomong-ngomong, seperti yang kau tahu, besok kita akan pergi ke tempat pembangunan. Kita akan memeriksa progres di beberapa daerah di London dulu dan aku berharap kau datang ke sini tepat waktu. At least one hour before we go, I already see your ugly face here. Understand, Ms. Smith?"


Rosaline mendengus, sudah berpikir untuk memasang alarm di samping tempat tidurnya. "Ya, aku tahu. Jangan khawatir, aku tidak akan terlambat lagi," katanya sambil tersenyum agar pria itu mempercayainya.


Meskipun Rosaline sendiri tidak begitu yakin apakah dia bisa bangun pagi atau tidak. Mengingat dia bukan lah seorang morning person.


"Bagus kalau begitu. Kalau kau terlambat lagi, aku akan melaporkan mu pada profesor yang bertanggung jawab atas fakultas arsitektur tentang betapa tidak pedulinya kau dengan proyek ini. Aku yakin dia pasti akan memberikan mu nilai E di seluruh mata kuliah mu."


Rosaline memutar matanya. "Fine. Aku tidak akan terlambat. Aku berjanji," katanya putus asa. Mungkin meminta Daniel atau Reagan untuk membangunkannya, layak untuk dicoba.


James menyeringai dan mendorong Rosaline ke samping, memberi jalan baginya untuk berjalan melewati pintu untuk keluar sebelum Rosaline memotong. Berbicara lagi.


"Jaket mu. Akan ku kembalikan besok. Aku akan mencucinya dulu. Kau tidak keberatan kan kalau jaket mu berbau seperti deterjen ku?"


James mencibir. "Tidak perlu, ambil saja. Aku punya banyak Jaket di rumah ku. Jadi simpan saja, anggap saja sebagai donasi dan amal baik dari ku untuk mu."


"I'm not that poor, you little sh—!"


"Yeah, yeah, whatever. Tidak ada orang miskin yang mau mengakui kalau dirinya itu miskin. Bye!"


Klap!


Pintu tertutup. Meninggalkan Rosaline sendirian di dalam sana dengan sejuta kekesalan di hatinya.


"Dasar orang kaya!"

__ADS_1


__ADS_2