
...CHAPTER 7...
...LITTLE LATTE ESPRESSO...
Rosaline menyembulkan kepalanya dari balik pintu, mengintip dari kejauhan apa yang tengah Daniel lakukan bersama dua pegawainya yang lain. Ia memperhatikan laki-laki dewasa itu yang memasang senyum bisnis seiring menghadapi pelanggan di depannya.
"Semakin larut hari berlalu, semakin ramai pula kafe ini," gumamnya.
Ia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan malam dan menghela napas lelah. Tak sanggup membayangkan betapa lelahnya laki-laki itu dari pagi hingga semalam ini.
"Yah setidaknya dia tidak terlalu pemalas seperti Julian," celetuknya. Karena jujur saja bahkan sampai sekarang, Rosaline masih tak tahu apa yang dilakukan oleh Julian untuk menghasilkan uang selama ini. Yeah, mari berharap bukan sesuatu yang buruk.
Ketika tengkuk lehernya merinding seakan ada sepasang mata yang mengawasi, Daniel, menoleh ke arah pintu dan terkikik geli saat mendapati Rosaline tengah memanyunkan bibirnya dan melambai kecil ke arahnya dari balik pintu.
Dengan ayunan tangannya yang lambat, Daniel menyuruh gadis itu untuk mendekat. "Apa yang kau lakukan di sana, Rosie? Kau seperti cicak yang menempel di pintu," Cibirnya dan diberi rengutan oleh si empunya nama.
"Nah, hanya berpikir bagaimana bisa kau menjalankan kafe ini dengan baik," ledeknya.
Ia mengarahkan kakinya menuju meja barista di mana Daniel berada dan berhenti tepat di sampingnya, seiring iris emerald gadis itu membaca tulisan 'the little latte espresso espresso' dengan huruf sambung di dinding. Yang mana tulisan itulah yang menjadi nama kafe ini.
"Kau terlalu meremehkan aku, bocah. Aku ini sudah hidup lama jauh, dari sebelum kau lahir. Which means, aku lebih banyak pengalaman dari mu," Ucapnya sombong.
Rosaline tanpa sadar membiarkan suara kekehan keluar dari mulutnya.
"Ngomong-ngomong kau tidak sibuk seperti Reggie? Atau mungkin sibuk bercengkrama dengan teman baru mu di ponsel?" tanyanya.
"Tidak," jawab Rosaline menggeleng.
Beberapa hari setelah kelas pertama dimulai, Rosaline mendapatkan teman. Clark si anak anggota the golden money. Tapi entah kenapa setelah ia menerima uluran tangan gadis itu, mereka jadi jarang bertemu.
Rosaline mengangkat sebelah alisnya saat Daniel tiba-tiba melepaskan celemek yang ia pakai dan menyodorkannya padanya.
"Seperti yang ku katakan waktu itu, di hari kalian sampai di Inggris pertama kali. Kalian harus bekerja di kafe ku. Anggap saja sebagai balas budi karena tidak membayar sewa untuk rumah ku."
"Karena Reggie sedang sibuk dengan tugas makalahnya, lebih baik kau saja yang duluan. Nanti kau ajarkan bocah itu. So take it, this is the time."
__ADS_1
Rosaline mengambil celemek berwarna coklat tua tersebut. Tanpa basa-basi lagi langsung menyematkannya ke tubuhnya dan setelah itu mengangkat pandangannya, menatap Daniel yang kini tersenyum bangga ke arahnya.
Dengan decakan lidah, dia bertanya, "jadi apa yang bisa ku lakukan?"
Daniel bergeser. Dia memberi gadis itu tempat agar berdiri di tempatnya berdiri tadi. "Well. First of all. Kau harus mengatakan 'selamat datang di little latte espresso' setiap kali ada pelanggan baru yang datang. Lalu jelaskan rekomendasi menu kita di frame kayu ini dan catat pesanan mereka setelah itu."
Rosaline menatap lama frame kayu yang ditunjuk oleh Daniel sebelum memusatkan perhatiannya ke arah Daniel lagi seiring pria dewasa itu mengajarinya cara menggunakan mesin kopi dan juga kasir, sementara dua pegawainya yang lain memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Understand with that?" Daniel memperhatikan Rosaline yang tengah mengotak-atik mesin kopi.
"Ya. Terima kasih, Dan."
Daniel memelototinya sejenak sebelum menggelengkan kepalanya. "Apa itu? Nama panggilan baru? For your information, aku Daniel," Protesnya, alih-alih menyematkan nada marah dalam kalimatnya, dia hanya tersenyum.
Rosaline mengangguk. "Ya itu nama panggilan mu dari ku. Suka atau tidak, aku akan tetap memanggil mu seperti itu."
Jujur saja, Rosaline lebih suka memanggilnya Dan ketimbang Daniel. Menurutnya nama Daniel itu terlalu panjang, dan dia terlalu malas memanggilnya dengan nama lengkap seperti itu.
"Apa dia juga mendapatkannya?"
Daniel terkikik geli. "Entah kenapa aku bisa membayangkan wajahnya saat kalian berdua memanggilnya seperti itu."
"Well actually, dia tidak suka dengan nama panggilan yang ku buat. Jadi aku dan Reggie tetap memanggilnya Julian."
Daniel kembali tertawa. "Ya ya, lakukan sesukamu kalau begitu," patahnya, pura-pura tidak terlihat peduli meskipun senyuman di wajahnya mengatakan hal yang lain.
"Ngomong-ngomong kau tidak keberatan kan menjaga kafe sebentar? Aku harus pergi untuk mengecek persediaan. Sepertinya kita kehabisan buttercream," Lapor Daniel seiring matanya membaca buku laporan persediaan barang.
"Ya tenang saja, lagi pula aku tidak sendirian," ujar Rosaline menunjuk ke arah dua pegawai lain yang tengah bercengkrama bersama para pelanggan.
"Good then. Aku pergi kalau begitu."
Bunyi 'tring' dari bel kafe berbunyi bersamaan pintu terbuka. Rosaline. Gadis itu tetap berdiri di dekat meja barista sambil melambaikan tangannya seiring melihat kepergian Daniel dari sana.
"Bos mau kemana?"
__ADS_1
Rosaline terkesiap saat pegawai perempuan tiba-tiba muncul di belakangnya berbicara. "Oh dia pergi untuk mengecek persediaan. Dia bilang buttercream kita habis," jawab Rosaline sambil memandangi nametag gadis itu yang tertulis 'Reina'.
Pegawai perempuan bernama Reina itu mengerut heran. "Buttercream? Seingat ku kita baru membuatnya kemarin."
"Entahlah. Mungkin yang dia maksud bahan untuk membuatnya?"
"Mungkin saja."
Obrolan keduanya langsung terhenti saat bel kafe berbunyi dan seorang pria berambut pirang masuk. Rosaline. Dia berdiri di sana seperti patung, menatap lama ke pelanggan yang baru datang itu.
"Selamat datang di little latte espresso."
Dia terkesiap saat Reina —pegawai perempuan di sebelahnya— mengucapkan kalimat yang harusnya dia ucapkan setiap kali pelanggan baru datang. Oh tuhan, dia mengacaukannya.
Pelanggan berambut pirang itu menatap mereka berdua datar sebelum memusatkan pandangannya ke arah frame kayu di samping mereka.
Sebelum Rosaline sempat menjelaskan, pria pirang itu sudah memotongnya dan berkata, "dua americano dan dua wafel madu."
Rosaline mengangguk dan menulis cepat, memberikan catatan itu kepada Reina dan segera menyiapkan pesanannya, sementara si pirang duduk di meja kosong dan memainkan ponselnya.
Rosaline mendapati dirinya sesekali memandang ke arah pria itu, kagum dengan penampilannya. Rambut emas platinumnya yang cukup panjang, sehingga menutupi dahinya dan hampir menutupi matanya juga.
Rosaline. Dia tidak bisa menyangkal betapa menariknya pria itu sekarang, meskipun wajah aristokrat-nya terlihat sangat dingin.
"Berhentilah menatapnya. Aku tahu dia tampan tapi kita harus profesional. Jadi kembali lah bekerja," tegur Reina dan membuat Rosaline berdecak.
Dengan keras Rosaline mengabaikan gejolak penasarannya dan kembali fokus ke pekerjaannya. Tak lama kemudian, dua americano dan dua wafel madu akhirnya disajikan.
Reina dengan lihai membungkus pesanan itu lalu memanggil pria pirang tersebut dan menyerahkannya kepadanya. Pria itu menyodorkan segumpal uang kertas dan kemudian pergi.
"Terima kasih," ucap mereka berdua sembari membungkuk seiring pria itu pergi meninggalkan kafe.
"Rasanya aku pernah lihat wajah laki-laki itu. Tapi aku tidak ingat di mana."
Rosaline mengalihkan perhatiannya, memandangi laki-laki itu saat dia masuk ke dalam mobilnya, dan tergelak ketika mendapati ada seorang wanita muda yang duduk di kursi penumpang. Tepat berada di sebelahnya.
__ADS_1
"Mungkin saja dia artis," balas Rosaline tak mengetahui kalau sosok itu terus menghantui pikirannya.