Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 58


__ADS_3

...CHAPTER 58...


...JULIAN ...


"Rosaline Mary Vreaa dan Reagan Julius Vreaa, atau haruskah ku panggil kalian berdua Rosie dan Reggie juga? Sama seperti yang dilakukan Thomas saat dia masih hidup?"


Mata kedua bocah kembar itu perlahan melebar saat laki-laki misterius di depan mereka mengucapkan nama sang ayah. Keduanya saling bertukar pandang terkejut, seolah mengirim sinyal telepati yang bertanya-tanya identitas pria misterius itu di pikiran mereka.


"Siapa kau?" Tanya Reagan.


Ia menarik tubuh mungil Rosaline ke belakangnya, melindunginya dengan merentangkan tangannya lebar-lebar seolah bersiap melawan kalau pria itu mencoba menyakiti mereka.


Laki-laki misterius itu menghempaskan tubuhnya ke sofa seiring matanya memandang sekitar rumah yang didominasi oleh warna hijau, sebelum memusatkan perhatiannya kembali ke dua bocah kembar di depannya yang gemetar ketakutan.


"Aku? Aku Julian Nolan Torres," Ucapnya santai sambil mengangkat kakinya ke meja lalu menyeringai saat melihat perubahan ekspresi tak suka di wajah dua bocah kembar itu.


"Siapa Julian Nolan Torres?" Si kecil Rosaline bertanya dari balik tubuh sang kakak yang hanya berselang lima menit darinya. Dia menyembulkan kepalanya sedikit untuk mengintip, melihat ke arah laki-laki misterius itu.


"Aku? Mantan napi."


Mendengar kata napi, Reagan semakin waspada. Matanya menembakkan tatapan tajam sambil mengambil ancang-ancang untuk kabur bersama Rosaline dan berteriak minta tolong, sebelum laki-laki bernama Julian itu memotongnya dengan berkata.


"Aku teman satu sel Thomas sewaktu dipenjara di Inggris."


Dua bocah itu terdiam. Mereka mengerutkan keningnya dan melemparkan tatapan bingung ke arah laki-laki yang sekarang tengah tertawa lepas. Apa katanya barusan? Teman satu sel? Apa maksudnya dipenjara? Jadi ayah mereka juga seorang mantan napi?


"Lalu kenapa kau kesini?" Tanya Reagan gugup. Dia masih mencerna maksud perkataan laki-laki di depan mereka, "apa kau akan menjual kami ke pasar gelap?" Reagan mengklaim membuat laki-laki itu terkejut.


Bagaimana bisa anak berumur tujuh tahun sepertinya tahu soal pasar gelap.


Keterkejutan di matanya langsung ia singkirkan dengan membuat seringaian tipis di sudut bibirnya, "aku tidak yakin ada orang yang mau membeli kalian berdua dengan harga murah," candanya, membuat dua bocah kembar di depannya merengut.

__ADS_1


Puas menggoda mereka, laki-laki itu mengubah seringaian liciknya menjadi senyuman lebar nan lembut. Matanya yang beriris kecoklatan menatap mereka berdua dalam lalu berkata.


"Mulai hari ini aku akan menjadi wali kalian. Terserah, suka atau tidak, aku tidak peduli karena ini adalah permintaan seseorang."


Waktu itu, baik Rosaline dan Reagan sama-sama terkejut melihat sosok laki-laki yang menerobos masuk ke dalam rumah mereka secara tiba-tiba. Semua itu terjadi setelah dua minggu insiden yang merenggut nyawa kedua orang tua mereka terjadi.


Laki-laki itu datang di awal sebagai sosok yang sangat misterius namun pada akhirnya menjadi penyelemat sekaligus keluarga. Dialah Julian Nolan Torres.


Rosaline langsung melompat ke pelukannya saat laki-laki bersurai hitam gelap itu muncul melewati pintu bandara. Koper yang laki-laki itu bawa, dibiarkan tergeletak di lantai begitu saja untuk menangkap anak perempuan yang sudah dia asuh lebih dari satu decade ini.


"Julian!" Seru Rosaline semangat. Ia melompat kepelukan pemuda itu seiring membenamkan seluruh wajahnya di ceruk leher Julian yang beraroma khas seperti lemon dan mint. Aroma yang sudah hampir setahun tak pernah tercium lagi olehnya.


"Kau sangat merindukan ku, ya, Rosie?" Dia terkekeh sembari menyisir lembut rambut brunette gadis di pelukannya.


Julian hampir tidak bisa bernapas saat Reagan bergabung dengan pelukan mereka, tetapi pria itu tidak bisa menahan senyum. Dia tahu bahwa dia sangat dramatis dalam hal ini, tetapi keduanya adalah anak yang pernah dia asuh selama satu dekade.


Dan sudah beberapa bulan sejak mereka meninggalkannya dan pergi ke Eropa. Terutama Inggris, meninggalkannya dengan begitu banyak perasaan cemas di hari-harinya setelah itu.


Jadi Julian menoleh ke teman lamanya, Daniel, yang berdiri tidak jauh dari mereka. Dia memberinya tatapan memohon, tetapi bukannya membantunya, Daniel hanya terkikik. Membiarkan ketiganya saling berpelukan seperti tidak ada hari esok.


Akhirnya, Rosaline dan Reagan mengendurkan pelukannya meski tak ingin melakukannya.


Sejujurnya, mereka masih ingin berada di pelukan itu sedikit lebih lama. Mereka ingin merasakan kehangatan yang biasa mereka rasakan saat masih kecil. Agak merindukannya bahkan terkadang Julian begitu menyebalkan.


Kali ini Julian menoleh ke Daniel hanya untuk memeluk pria itu sebentar sementara Daniel menerimanya dengan tangan terbuka.


"Sudah dua belas tahun sejak kau meninggalkan Inggris, Julian," Daniel menepuk punggungnya, "selamat datang kembali, sobat."


"Oh, Daniel. Aku harap aku tidak pernah kembali ke sini."


Dua pria dewasa itu tertawa geli tatkala mengingat masa-masa kelam mereka selama di Inggris. Well, dengan keadaan di mana Julian memilih pergi sementara Daniel memutuskan untuk tetap menetap. Lucu memang kalau diingat-ingat.

__ADS_1


"Aku tidak sabar ingin melihat rumah mu. Apa masih seperti biasanya? Putih dan hitam?" tanya Julian. Dia mendengus pelan saat Reagan mengambil alih koper yang ia pegang dan menariknya.


"Kau harus melihatnya sendiri, Julian," Celetuk Rosaline. Gadis itu menggandeng lembut lengan Julian. "Aku butuh waktu beberapa bulan untuk terbiasa dengan rumahnya."


"Why? Apa lebih buruk dari yang dulu?" Seringainya.


"Shut it, Julian. Kau sudah numpang tinggal banyak banget komentar!"


...•—— ⁠✿ ——•...


"Jadi, Rosie masih berteman dengan Jenkins itu?"


Daniel berbalik hanya untuk melihat Julian dengan piyamanya muncul dari pintu. Pria itu cemberut saat dia berjalan mendekati Daniel. Hanya untuk mengganggu Daniel yang sedang membuat roti.


"Tidak. Mereka sudah tidak berteman lagi, tapi..." dia melihat sekeliling, memastikan tidak ada seorang pun atau Rosaline atau Reagan yang menguping mereka. "Dia secara tidak sengaja menjalin hubungan dengan Adler."


Julian tersedak kaget. "What the hell?! Jangan berani-beraninya kau berbohong pada ku, Daniel!"


Daniel memberinya putaran mata yang dramatis.


"Aku tidak berbohong pada mu, Julian! Ini fakta!"


"Kenapa dia bisa punya hubungan dengan keluarga itu?"


"Ada proyek yang diadakan di Westminster. Khusus untuk mahasiswa jurusan arsitektur dan bisnis. Mereka berpasang-pasangan. Reggie bersama Kaylie dan Rosie bersama pewaris Adler itu."


Julian menarik sebelah alisnya. "Siapa Kaylie?"


"Rosaline's friend."


Julian mendudukkan dirinya di meja sebelah Daniel. Dengan dengusan lelah nan juga kasar, laki-laki itu memijat keningnya, pusing. Padahal baru beberapa bulan Rosaline dan Reagan di Inggris dan salah satu dari mereka sudah terlibat dengan the golden money.

__ADS_1


"Ya tuhan. Apa saja yang ku lewatkan beberapa bulan ini? Kenapa Rosie malah terlibat dengan musuh kita? Apa dia tahu kalau the golden money itu seperti lingkaran setan? Sekali kau masuk, kau tidak akan pernah bisa keluar."


__ADS_2