
...CHAPTER 43...
...FAMILY SITUATION...
"Bagaimana rasanya punya saudara? Maksud ku saudara kembar?"
Rosaline yang sedang berbaring di sofa sambil bermain dengan ponselnya, menoleh sedikit hanya untuk melihat James yang sedang mengeringkan rambutnya. Pria pirang itu duduk di pinggir tempat tidur, menunggu Rosaline untuk menjawabnya.
"Maksud mu saudara kembar ku? Reggie? Hahaha jangan terlalu berharap. Dia saudara kembar terburuk yang pernah ada di dalam hidup ku."
"Kau punya saudara kembar yang lain? Kalian kembar tiga?" James shock.
Rosaline menggeleng lalu mengubah posisi terlentangnya menjadi menghadap mengarah James. Ia terkekeh geli melihat ekspresi terkejut pria pirang itu yang menurutnya sangat lah fantastik.
"Tidak. Terburuk yang ku maksud itu adalah kelakuannya Reggie. Dia selalu mengolok-olok ku. Mengejek ku setiap kali ada kesempatan dan juga dia selalu mengganggu ku setiap saat. Dia itu sangat menyebalkan."
"Tapi selain itu, apa dia saudara kembar yang baik?"
Sebenarnya Rosaline tidak bisa memungkiri bahwa Reagan adalah saudara kembar yang baik untuknya. Meskipun Reagan selalu bertingkah seolah dia tidak peduli padanya, tapi Rosaline tahu. Di lubuk hati Reagan yang paling dalam, laki-laki itu sebenarnya peduli padanya.
"Ya, dia adalah saudara kembar yang baik untuk ku. Meskipun terkadang aku sangat ingin memukul atau menendangnya, dia tetap saudara kembar ku. Keluarga ku."
"Ku rasa aku bisa membayangkan betapa frustrasinya orang tua mu jika anak kembar mereka bertengkar."
Senyum di wajah Rosaline langsung memudar. Tiba-tiba dia ingat tentang orang tuanya. Ibu, ayah, dan kejadian itu yang membuat orang tuanya meninggal. Rosaline menggelengkan kepalanya, tidak ingin menunjukkan wajah sedih di depan pria itu.
"Ya, aku ingat bagaimana orang tua ku selalu menggelengkan kepala mereka pasrah setiap kali aku dan Reggie bertengkar. Mereka hanya bisa mengawasi kami dari jauh, memastikan aku dan Reggie agar tidak saling membunuh."
Rosaline tersenyum, mengingat beberapa hari terakhir saat kedua orang tuanya masih hidup. Masih hidup di dunia yang sama dengan dia dan Reagan.
Gadis itu mendongakkan kepalanya saat suara derit ranjang terdengar. Ia memperhatikan James yang kini sedang berbaring di tempat tidur, menyandarkan kepalanya di atas kedua tangannya sebagai bantal.
"Keluarga mu terlihat menyenangkan. Tidak seperti keluarga ku."
"Memangnya keluarga mu seperti apa?" Rosaline bimbang, takut laki-laki itu akan marah padanya karena dia tiba-tiba bertanya tentang keluarganya. Hal yang selalu dihindari James.
__ADS_1
Ketimbang marah, James malah terkekeh miris.
"Membosankan. Mereka terlalu ketat. Apalagi pada ku. Sebagai satu-satunya pewaris keluarga Adler, mereka sangat menginginkan pewaris yang sempurna," ujarnya.
"Yah, setidaknya kau punya orang tua."
James mengintip Rosaline melalui tangannya, sedikit mengangkat kepalanya. "Kau tidak punya?" James bertanya, agak sedikit terkejut.
Rosaline mengangkat bahu. "Nope. Already died."
"Jadi pria di kedai kopi itu?"
"Tidak ada hubungan darah."
"Kau tinggal dengan orang asing?"
"Bukan orang asing, tapi seseorang yang dulu dikenal ayah ku."
"Ngomong-ngomong, kau bukan dari Inggris, kan? Tapi, nama keluarga Smith? Bukankah itu nama keluarga yang umum di Inggris? Apa ayah mu orang Inggris?"
Meskipun dia sendiri tidak suka menyebut dirinya sebagai Smith, dia harus tetap melakukannya. Seperti yang diperintahkan oleh Julian. Jangan menyebut Vreaa atau Torres dan gunakan Smith.
Tapi tidak ada salahnya bukan untuk jujur sedikit saja tentang orang tuanya? Walaupun dia tidak akan terang-terangan menyebutkan nama keluarganya pada James? Mungkin seharusnya baik-baik saja. Toh James tidak mengenal orang tuanya.
"Ayah ku orang Inggris, tapi ibuku tidak."
"Apa ayah mu pindah dari Inggris? Di mana tempat tinggal mu?"
"Di sebuah negara di Benua Asia."
"Lalu apa yang kau lakukan di sini? Di Benua Eropa?"
Hampir. Hampir saja Rosaline membeberkan tujuannya ke Inggris pada pria itu. Well, kalau bukan karena wajah Reagan yang marah dan memanggilnya bodoh tiba-tiba saja muncul di benaknya, mungkin dia sudah mengatakannya.
"Belajar."
__ADS_1
"What a classic reason."
Rosaline cemberut sebelum membuka mulutnya untuk memprotes, namun diinterupsi oleh teleponnya yang tiba-tiba berdering. Gadis itu melompat dari sofa, meraih telepon yang sudah dia taruh di atas meja tadi dan melihat ke layar, membaca nomor Daniel di atasnya.
"Laki-laki di kedai kopi?" Daniel menebak dan
Rosaline mengangguk. "Go on then, angkat teleponnya. Dia benar-benar mengkhawatirkan mu."
Dengan itu Rosaline berjalan ke pintu, menariknya dan keluar, meninggalkan James sendirian berbaring di tempat tidur. "Daniel," kata Rosaline, suaranya menyapanya dengan gembira.
"[Apa kau baik-baik saja? Badainya benar-benar gila. Karena itu aku dan Reggie harus menutup kafe lebih awal.]"
"Ya. Aku tahu. Maaf aku harus tinggal di Edinburgh lebih lama, you know right? Badainya sangat gila," Rosaline terkekeh, meskipun dia tidak tahu seberapa buruk badai di luar sana karena dia berada di gedung dengan ruangan kedap suara. Dia benar-benar tidak bisa mendengar apapun dari sana.
"[Kau masih bersamanya? Apa dia melakukan sesuatu yang buruk pada mu?]"
"Tidak. Jangan khawatir, dia sekarang hanya berbari—" Rosaline terhenti, tiba-tiba tidak bisa membayangkan betapa marahnya Daniel jika dia tahu bahwa dia dan James berada di ruangan yang sama.
"Dia ada di samping kamar ku. Jadi dia tidak akan mengganggu ku."
"[Bagus, pastikan untuk mengunci pintu mu. Jika terjadi sesuatu, segera beri tahu aku atau telepon resepsionis, oke?]"
"Tentu saja. Terima kasih, Daniel, aku akan kembali besok pagi, semoga saja badai sudah berakhir besok. Tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"[Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkan mu, Rosie. Kalau terjadi sesuatu pada mu, Julian akan membunuh ku.]"
Rosaline terkekeh seiring suara tawa juga terdengar dari ujung telepon. Tentu. Sudah lama Rosaline tak menghubungi pria itu. Apa kabarnya? Julian. Apa yang sedang laki-laki itu lakukan sekarang? Terakhir dia mendengar suaranya adalah saat natal dan tahun baru. Sudah dua bulan berlalu.
"[Tidur nyenyak, Rosie. Selamat malam.]"
Panggilan berakhir dan Rosaline kembali ke kamar. Ia hanya bisa menghela nafas melihat James yang sudah tertidur dengan rambut basahnya dan tidak menggunakan selimut apapun, padahal laki-laki itu tahu ia sedang berbaring tepat di bawah AC.
Karena Rosaline masih memiliki hati yang baik dan tidak sombong. Dia meraih selimut yang sejak tadi tergeletak di samping tubuh lelaki itu dan menyelimutinya. Rosaline tanpa sadar memperhatikan wajah James saat pria itu tidur.
Entah kenapa terlihat begitu damai. Tapi saat dia terbangun, laki-laki itu langsung berubah menyebalkan lagi. Sangat cocok dijadikan sasaran empuk sansak bagi Rosaline untuk memukulnya.
__ADS_1
"I wondered, situasi keluarga apa yang kau miliki di rumah megah mu. Aku tidak tahu mengapa, cara mu menggambarkan mereka meskipun tidak terlalu jelas, aku bisa membayangkan mereka adalah keluarga yang tidak terlalu peduli dengan kebahagiaan mu. Kasihan sekali kamu, James".