Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 47


__ADS_3

...CHAPTER 47...


...ADLER'S FAMILY...


"Dari mana saja kamu, James? Ayah mu sudah menunggu mu."


Langkah James terhenti begitu ia sampai di tangga menuju lantai dua. Dia berbalik hanya untuk menemukan sosok ibunya sedang menatapnya dengan ekspresi khawatir. Minerva, namanya. Perempuan berumur empat puluhan itu berjalan mendekati putranya dan menariknya ke pelukan hangat.


Bohong jika James tidak pernah mengalami yang namanya cinta dalam keluarganya. Meskipun hanya ibunya yang selalu bersikap seperti itu, menyayanginya dengan penuh cinta, dan siap mati demi melindunginya dari sang ayah.


Sedangkan di sisi lain, ayahnya tidak pernah melakukan itu. Tidak pernah menunjukkan emosi apapun terhadap putra satu-satunya selain dingin dan datar.


Entah kenapa, dia selalu cemburu pada Rosaline, bahkan membencinya. Selalu dikelilingi oleh teman-teman dan keluarga pilihan yang memahaminya dan memiliki pola pikir yang sama. Tapi selama dia punya ibunya, tidak apa-apa. Really, it's fine.


"Come on, mother? It's not like, aku akan mati hari ini. Ayah tidak akan membunuh ku, bu. Ingat, aku satu-satunya pewaris keluarga Adler yang dia miliki. Seberapa marahnya dia pada ku, dia tidak akan pernah membunuh ku. Setidaknya dia masih punya kepintaran untuk hal itu."


Minerva hanya mengangguk, tapi masih membenamkan wajahnya ke tengkuk putranya. Sesekali tangannya yang sudah perlahan menua membelai lembut helaian rambut pirang sang anak yang diwariskan dari sang suami.


"Tentu saja dia tidak akan melakukan itu, Nak dan ingat ibu mu juga tidak akan membiarkannya. Kamu adalah bayi laki-laki ku yang berharga."


James hanya bisa terkekeh. Walaupun dia sudah berumur hampir dua puluh tahunan lebih, sang ibu masih memanggilnya 'bayi laki-laki ku yang berharga'.


"Hentikan, Bu. Aku bukan anak kecil lagi," protesnya, tapi melingkarkan tangannya di tubuh sang ibu dan balas mendekapnya.


Minerva tersenyum. "Tapi bagi ku, kamu masih kecil. Seorang anak yang harus aku lindungi. Remember that. You're my precious baby boy."


Ketika pintu yang menghubungkan ruang keluarga terbuka dan menampilkan seorang pria berambut pirang yang mirip dengan James. Tak lama kemudian pelukan dari ibunya langsung dilepaskan.

__ADS_1


James mendengus kecil saat ibunya berjalan pergi, mendekati ayahnya. Ayahnya, mendongak hanya untuk melihat putra satu-satunya sedang mengawasinya dengan intens sebelum memiringkan kepalanya ke arah ruang keluarga. Seolah menyuruh anaknya untuk mengikuti.


James bisa melihat raut khawatir di wajah ibunya saat dia melewatinya dan berjalan ke ruang keluarga. Yah, hanya senyuman kecil yang bisa ia berikan pada ibunya untuk memudarkan perasaan khawatir dari wanita itu. Meskipun hanya sedikit.


Di ruang keluarga, rasanya seperti di pengadilan. James duduk sendirian sementara ayahnya ditemani ibunya di sampingnya. Suasana di sana begitu mencekam dan entah bagaimana itu mengganggu James.


Dia benar-benar ingin melemparkan tubuhnya ke tempat tidur sekarang dan tidur, melupakan semua masalah ini.


"Mind to explain about this? Ayah menunggu sekitar satu bulan, memberi mu kesempatan untuk menjelaskan ini." Dia melemparkan beberapa polaroid tepat ke wajah James. Memerintahkan anak laki-lakinya itu untuk melihatnya sendiri.


Tubuh James seketika menegang begitu dia memandang polaroid itu. Semua otot di wajahnya mengeras, sekuat mungkin agar tidak memaparkan emosi apapun. Persis seperti yang ayahnya katakan. Adler tidak menunjukkan emosi apapun.


Ragu-ragu, James mengangkat pandangannya hanya untuk menghadapi kembali sang ayah yang tengah menatapnya tajam sekarang sementara sang ibu hanya tersenyum pasrah.


"Minerva. Suruh putra mu bicara. Dia punya mulut, kan? Aku seratus persen yakin dia bisa


Entah itu lelucon atau bukan, tapi tidak ada yang tertawa. Bahkan James dan Minerva.


Mungkin, terkadang dalam pikiran Minerva dia bertanya-tanya bagaimana suami dan putranya berinteraksi satu sama lain. Setiap kali mereka bertengkar, Minerva akan menjelma menjadi penerjemah untuk mereka berdua.


"Nak," helanya, "come on, honey. Beri tahu ayah mu apa yang kau lakukan di Edinburgh dan siapa gadis yang bersama mu itu? Bukankah kau sudah memiliki Clark? Dengar, tidak ada Adler yang selingkuh, oke?"


James memutar matanya dengan malas sebelum mengembalikan perhatiannya ke polaroid yang menunjukkan wajah Rosaline. Entah bagaimana dia lega karena paparazzi yang mengikutinya hari itu tidak mengambil fotonya saat mereka di penginapan atau saat dia tertidur di bahu Rosaline.


"Dia bukan siapa-siapa. Aku mendapat proyek dari kampus ku dan dia, gadis ini adalah Rosaline. Dia adalah partner ku untuk proyek ini. Kami pergi ke Edinburgh untuk memeriksa konstruksi yang kami jalankan di sana."


"Kenapa bukan Clark? Kau tahu kami bisa membayar profesor untuk memasangkan kalian berdua?"

__ADS_1


James menggelengkan kepalanya untuk menyangkal. "Tidak, Clark mendapatkan detensi tepat sebelum proyek dimulai dan detensinya mengharuskan dia untuk tidak berpasangan dengan siapa pun bahkan dengan ku."


"Kenapa dia mendapat detensi? Dan dari siapa?" tanya Minerva.


"Aku pikir itu dari profesor Watson yang mengajar di kelasnya dan kenapa dia mendapat detensi itu karena dia menindas seseorang di kampusnya. Jadi, dia mendapat detensi."


"Watson," gumam sang ayah, "jadi benar putri Jenkins seorang pengganggu?" Dia mengangkat alisnya, menatap lurus ke arah putranya.


"Ya, masih. Sikap itu belum berubah dari kita kecil," bantah James dan menerima tatapan tajam dari ayahnya.


"Diam, James. Kamu seharusnya belajar sikap itu dari keluarga Jenkins. Orang rendahan tidak boleh mengendalikan hidup kita, kita yang mengendalikan mereka. Kita adalah the golden money dan mereka adalah orang rendahan. Ingat itu!"


"Tapi ayah tahu betapa aku membenci hal itu. Aku tidak mau melakukannya! Aku tidak peduli dengan kasta mana pun di dunia ini!"


"Kita adalah the golden money, James! Terutama the golden three! Kita bis mengontrol apapun dengan kekuatan kita. Uang, kekuasaan, dan bahkan kementerian!"


Minerva yang duduk di samping suaminya hanya bisa menghela nafas. Ia meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat-erat. "Floyd," panggilnya, "tidak ada gunanya memaksa putra kita untuk itu."


Floyd, lelaki tua berambut pirang itu menjentikkan kepalanya ke arah istrinya. Wajah cantiknya melembut, melakukan kontak mata dengan mata abu-abu yang mirip dengan putra mereka. Sungguh Floyd adalah versi James yang lebih tua.


"Minerva, anak mu bukan anak kecil lagi. Dia harus tahu tentang kasta di dunia ini. Dengan begitu aku baru bisa mempercayakannya warisan keluarga Adler di masa depan nanti."


Entah kenapa James sangat ingin berdebat dan memberitahu ayahnya bahwa dia tidak menginginkan warisan apapun dari keluarga Adler. Namun, sebelum itu dimulai, niat itu tiba-tiba terhenti ketika dia melihat sekilas wajah ibunya yang mengatakan 'Tutup mulutmu, James. Ini bukan waktunya untuk berdebat!'


James memutar bola matanya dengan malas, bersandar di sofa dan menggunakan lengannya sebagai bantal. Sambil mendengarkan ocehan sang ayah, Floyd, mata abu-abu James yang ia warisi dari Floyd berkeliaran, sebelum akhirnya berhenti tepat ke polaroid yang masih tergeletak di lantai.


Dia memperhatikan wajah Rosaline di dalamnya. Tersenyum dan juga begitu murni, seakan-akan tidak ada hal buruk di dunia ini yang pernah terjadi dalam hidupnya. Kalau Rosaline tahu betapa irinya James pada kehidupannya, apa yang akan dia katakan?

__ADS_1


__ADS_2