
...CHAPTER 63...
...THE DAUGHTER OF VREAA FAMILY...
Tidak ada yang tertidur malam itu. Baik Rosaline, Reagan, Daniel, ataupun Julian, keempatnya berkumpul di ruang tengah.
"Mereka melakukannya," Ucap Julian pasrah. Matanya memandang nanar layar televisi yang tak henti-hentinya menayangkan berita tentang konspirasi kematian keluarga Vreaa sepuluh tahun yang lalu.
"Tapi bukankah ini aneh? Mereka tiba-tiba membahas tentang keluarga Vreaa lagi. Ku kira mereka sudah melupakannya," celetuk Daniel, melontarkan isi pikiran yang sedari tadi mengganggunya.
"Ku rasa tidak akan. Aku yakin masyarakat Inggris pasti akan terus mengingat kasus ini. Kau tahu, kan, kematian Thomas dan Elijah itu sangat mencurigakan. Mereka meninggal tujuh tahun setelah Thomas keluar dari penjara. Dan jangan lupakan bagaimana Thomas mendatangi ku setahun sebelum dia meninggal."
"Jika sesuatu terjadi pada ku, ambil amplop ini di kementerian negara yang ku tinggali sekarang. Tolong jaga anak-anak ku."
Semua atensi lantas tertuju kepada Rosaline yang tengah bersandar di dada sang kembaran.
"Perkataan ayah saat dia menemui mu di penjara waktu itu seperti sebuah peringatan. Aku yakin ayah tahu apa yang akan terjadi padanya di masa depan nanti. Karena itu dia langsung menitipkan kami pada mu, Julian."
Reagan mengangkat sebelah alisnya. "Amplop coklat itu... Apa ada sesuatu yang lain di dalamnya selain surat pemindahan hak asuh?"
Julian menggeleng. "Tidak ada."
Dari awal semua ini memang sudah terlihat mencurigakan. Bahkan Rosaline dan Reagan yang tidak mengetahui apa yang terjadi dua puluh lima tahun lalu dapat menduga ada sesuatu yang janggal dari itu.
Dimulai dari ayah mereka dipenjara dan dibebaskan lima tahun setelah dinyatakan kurangnya bukti. Lalu secara mendadak terjadi insiden pembunuhan di mana merenggut nyawa kedua orang tua Rosaline dan Reagan. Sehingga membuat mereka berdua menjadi sebatang kara.
"Aku penasaran siapa yang tiba-tiba membuat kasus ini kembali naik ke media. Tidak ada api yang memancar keluar sebelum pemantiknya dihidupkan. Pasti ada seseorang yang memulai semua ini duluan."
Perkataan Daniel barusan membuat semua orang merenung. Betul juga kalau dipikir-pikir. Siapa yang membuat kasus ini kembali naik ke media dan menjadi topik pembicaraan lagi. Pasti. Pasti ada seseorang yang melakukannya hanya untuk membuat huru-hara tak penting di Inggris.
"Aku tidak yakin kalau itu dia, tapi kalau dia... Sial pasti wanita iblis itu!"
Rosaline berdiri dari posisi duduknya yang nyaman dan berlari menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih memadai.
Di luar sana memang tak lagi bersalju, namun angin kencang terus berhembus dari semalam. Cukup kencang untuk memporak-porandakan Inggris dan seisinya.
"Kau mau kemana?! Sebentar lagi akan hujan, Rosie!" Teriak Julian saat Rosaline melesat melewati ketiga pria itu dengan cepat.
__ADS_1
"Sebentar saja! Aku akan pulang sebelum malam!"
Klap!
Meski semua orang tidak mengetahui identitas aslinya sebagai anak kandung dari keluarga Vreaa, Rosaline tetap merasa takut dengan pandangan masyarakat semenjak berita kasus pembunuhan keluarganya kembali disiarkan.
Lihat saja contohnya sekarang, begitu dia melangkah keluar dengan terengah-engah, mata semua orang langsung tertuju padanya. Menatap tajam seperti kamera. Entah bagaimana itu membuatnya deja vu. Rasanya sudah teramat lama dia tidak pernah merasakan pengalaman seperti itu lagi.
"No! Focus, Rosaline! You have to be focus! Kau harus bertemu dengan Clark sekarang! Aku yakin seratus persen kalau dia lah orang yang membuat berita keluarga mu dipublish ke media lagi."
...•—— ✿ ——•...
"CLARK SADIE JENKINS!! KELUAR KAU!"
Meskipun dihalau oleh sebuah gerbang besar di
depannya, suara Rosaline terus berkumandang. Menggelegar seperti petir di tengah-tengah badai menyuruh pewaris keluarga Jenkins itu untuk keluar dari rumahnya.
Para satpam atau bodyguard khusus yang sedari tadi berjaga di depan gerbang itu menatapnya tajam, memberinya pelototan seolah menyuruh gadis itu untuk segera pergi dari rumah majikannya.
Namun, seolah urat takutnya sudah putus, Rosaline masih berdiri mantap di depan gerbang tersebut. Dia bahkan berani mengguncang-guncang gerbang yang terbuat dari besi itu, berharap kalau benda itu akan jatuh dan membukakannya jalan untuk masuk.
"Selagi saya masih sopan, tolong pergi lah nona! Apa kau tahu, perbuatan kekanakan mu ini bisa membuat kami dipecat!" Damprat bodyguard itu keras. Tak mau kalah dengan suara cempreng Rosaline yang sedari tadi terus menusuk telinganya.
"Sialan, aku tidak peduli! Biarkan aku masuk!"
Rosaline masih berteriak. Gadis itu terus meronta-ronta dari cengkraman laki-laki besar di hadapannya, bahkan sesekali melayangkan tendangan bebas ke arahnya. Sampai akhirnya, suara Rosalina mulai serak. Dia ingin berhenti namun tiba-tiba sebuah suara terdengar dari speaker di gerbang.
"[Suara apa itu?]"
Suaranya berat, sepertinya seorang lelaki. Menyadari ada kesempatan untuk melepaskan diri mengingat laki-laki besar itu perlahan melonggarkan sedikit cengkeramannya, Rosaline menginjak kakinya sekuat tenaga dan berlari secepat mungkin ke speaker tersebut.
"Biarkan aku bertemu dengan Clark!" Teriaknya.
Tak ada jawaban dari speaker itu. Yang ada hanya suara kresek yang amat bising. Cukup bising sampai-sampai berhasil membuat Rosaline menutup telinganya, mencoba menghalau getaran dengung yang menyakitkan itu.
"[Bawa dia masuk. Nona Clark ingin bertemu dengannya!]"
__ADS_1
Rosaline melempar senyum miring ke arah pria yang baru saja bersikeras menyingkirkan dirinya dari sana. Dengan tatapan kalah pria itu lantas membuka pintu gerbang sambil mendengus. Matanya masih mengerling tajam pada Rosaline namun dia melangkah ke samping, memberi jalan bagi gadis itu untuk berjalan melewati gerbang.
"Jangan katakan apa pun yang bisa membuat Nona Jenkins marah kalau kamu masih ingin hidup!" Bisik pria itu, melotot.
Rosaline menatapnya heran tapi tak menjawab apapun. Dia terus melangkah masuk mengabaikan semua tatapan sinis ke arahnya. Dia tahu kalau setiap bodyguard yang menjaga rumah megah itu sekarang memberikannya tatapan sinis nan intens.
Memang kedatangannya tak diundang dan tak diinginkan. Tapi terserah lah, persetan dengan semua itu. Rosaline tidak peduli lagi dengan orang lain sekarang. Dari awal, Clark lah yang mencoba bermain api dengannya. Kalau dia menantang, maka akan Rosaline ladeni.
"Hello my old friend. Long time no see. Silahkan duduk. Teh atau kopi?"
Basa-basinya membuat Rosaline ingin muntah. Lihat saja wajahnya yang sengaja di cantik-cantik-kan, seolah tengah bermain mata dengan Rosaline.
"Aku tidak butuh basa-basi," Balas Rosaline tegas.
Clark menoleh ke arahnya dengan cemberut. "Lalu apa yang kau lakukan di sini kalau bukan ingin bertamu ke rumah ku. Ah... Tapi tidak ada orang yang bertamu sambil membuat kekacauan di luar sana."
Rosaline tahu itu adalah kalimat sarkas, tapi Rosaline hanya tertawa kecil menanggapi. Persetan dengan apa yang dia pikirkan. Tujuannya lebih penting sekarang.
"Berita itu. Kau yang membuat kasus itu naik ke media lagi, kan?" Selidiknya.
Clark menyeringai. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."
Rosaline mendengus, memutar bola matanya dengan dramatis. "Tidak perlu berbohong. Aku tahu kalau itu kau."
Bukannya menjawab tuduhan Rosaline, Clark malah menghampirinya dan membungkuk untuk mengambil remote tv di dekat Rosaline. Dia mengarahkan remote itu dan sekejap, televisi hitam yang tertempel di dinding itu menyala.
"You mean this? Apa peduli mu memangnya?"
Rosaline mengerutkan keningnya dengan kesal. Rasanya dia ingin sekali melempar wajah Clark dengan kursi. Jujur beberapa orang butuh tamparan keras yang menyakitkan dan salah satu orang itu adalah Clark.
"Kau putri Keluarga Vreaa, kan?" Dia bertanya dengan seringai.
"Ya dan aku minta kau untuk menghapus berita itu sekarang!"
"Dan siapa kau yang berani memerintah ku? Kau hanyalah seorang rendahan dan lagi, anak dari seorang pembunuh!"
"Ayah ku bukan pembunuh!"
__ADS_1
"Oh no darling, dia adalah seorang pembunuh. Semua orang mengenalnya sebagai pembunuh. Kau tidak bisa lari dari gelar 'anak pembunuh' Rosaline."