
...CHAPTER 20...
...FOSTER BOOKS ...
Daniel membuka pintu kamarnya saat telinganya sayup-sayup mendengar suara bising dari luar. Dengan rasa kantuk yang masih merajalela matanya, samar-samar ia mendapati sosok Rosaline tengah duduk di sofa sambil memeluk lutut.
Gadis berambut brunette itu terlihat sedang melamun, sama sekali tak menaruh perhatian ke arah televisi di depannya yang menyala. Bahkan ketika Daniel mendekatinya dengan langkah yang berat, gadis itu sama sekali tak menoleh ke arahnya.
Daniel mengucek matanya yang masih mengantuk, melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh. Dia menoleh ke arah kamar Reagan yang tertutup rapat, yang artinya laki-laki itu sudah pergi kuliah.
Lalu kenapa Rosaline masih ada di sini?
Saat Daniel berhenti tepat di sebelah Rosaline, ia baru sadar kalau ternyata gadis itu masih mengenakan baju tidurnya semalam. Dia memperhatikan rambut Rosaline yang mencuat ke atas dan lingkaran hitam yang muncul di sekitar matanya.
Sepertinya gadis itu tak tidur semalaman.
"Kau tidak pergi kuliah, Rosie?"
Dirasa suaranya kurang menarik perhatian Rosaline, Daniel menepuk pundak gadis itu dan sedikit mengguncangnya, membuat Rosaline akhirnya menoleh. Dia melempar senyum lesu seakan menyapa Daniel di depannya.
"Kau tidak pergi kuliah?" Tanya Daniel mengulangi pertanyaannya yang belum dia jawab.
"Nah, aku sedang tidak mood untuk kuliah, mungkin sesekali bolos tidak apa?" Lontarnya sembari terkekeh.
Daniel mengerutkan keningnya heran. Dia bisa mendengar keraguan dalam kata-kata gadis itu seiring iris emerald-nya yang mencoba menghindari matanya. Dia tahu, Rosaline sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kau tidak tidur ya semalam?" Daniel bertanya.
Dia mengambil sedikit kenyamanan saat dia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dan merenggangkan tiap otot tubuhnya yang kaku setelah bangun tidur.
Rosaline hanya terkekeh kecil. Dia mengikuti Daniel yang menyandarkan punggungnya, menyilangkan tangannya ke depan dada dan matanya memandang lurus televisi, akhirnya memperhatikan kotak hitam tersebut.
"Ya. I got a nightmare. Setiap kali aku memejamkan mata, selalu ada bayangan mengerikan yang muncul di kepala ku. Karena itu aku terjaga sampai sekarang."
Pembicaraan mereka berhenti. Rasanya Daniel ingin bertanya lebih lanjut tentang mimpi buruk apa yang Rosaline lihat semalam. Tapi sepertinya sekarang bukanlah saat yang tepat untuk menanyakan itu.
Gadis itu masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Seberapa keras Daniel mengajaknya bicara atau mencoba mengalihkan perhatiannya, Rosaline pasti akan tetap terjebak di dalam sana.
__ADS_1
Jadi dia berdiri. Cara terbaik untuk mengalihkan perasaan buruk gadis itu hanya satu. Yaitu buku.
"Aku mau ke Foster books. Kau mau ikut?"
Daniel menyeringai saat dia mendapati lonjakan kecil di tubuh Rosaline seiring gadis itu menolehkan kepalanya perlahan dengan mata yang melebar dan dipenuhi oleh binar semangat. Rosaline tersenyum, langsung mengangguk mantap saat dia mendengar kata 'books' dari mulut Daniel.
"Kalau begitu bersiaplah. Kita pergi dalam satu jam."
Setelah menitipkan kafe dengan dua pegawainya yang lain, keduanya langsung pergi menuju Foster books. Rosaline mendudukkan dirinya di kursi penumpang, tepat di sebelah Daniel, menikmati jalanan melalui jendela mobil.
Daniel sesekali mencuri pandang, memperhatikan Rosaline yang lagi-lagi tenggelam dalam pikirannya sendiri, meskipun dia masih menemukan binar antusias di iris emerald gadis itu.
"You all right?" Daniel bertanya.
"I'm fine. Aku hanya sedang memikirkan buku apa yang akan ku beli nanti," Jawabnya.
Daniel tersenyum. "Kau bisa beli buku apapun di sana, Rosie. For your information, Foster books kebanyakan menjual buku cerita klasik, langka, dan mungkin buku yang sudah tidak dicetak lagi."
"Like Shakespeare?"
Daniel mengangguk. "Yeah. Like Shakespeare."
Daniel tersenyum saat melihat aura kegembiraan kembali memancar dari gadis itu. Ia bersenandung dan mengembalikan posisi kepalanya lurus menghadap jalanan dan menekan pedal gas untuk mempercepat laju kendaraan.
Dalam beberapa menit mobil yang mereka naiki berhenti tepat di depan sebuah bangunan ber-ekterior hijau ala abad ke-18. Rosaline, memperhatikan bangunan itu dengan seksama. Dia berdiri di depan pintu toko tersebut menunggu Daniel memarkirkan mobilnya.
Saat Daniel berlari menghampirinya, Rosaline meraih kenop pintu dan mendorongnya, menginjakkan kakinya dan masuk diikuti oleh Daniel dari belakang. Seketika bau buku-buku lama menyeruak masuk ke dalam hidung, seakan menyambut kedatangan kedua pelanggan itu.
Rosaline mengedarkan pandangannya, mengamati tiap rak di mana buku-buku lama tersusun rapi di sana. Ia perlahan melangkahkan kakinya seiring tangannya mengusap tiap sampul depan buku tersebut dengan lembut.
Rosaline menoleh ketika Daniel memanggilnya.
Pria itu menunjukkan buku novel Shakespeare berjudul Hamlet. Lantas Rosaline pun berlari kecil mengarah pria itu dan mengambil buku tersebut dari tangannya dan kemudian membacanya.
Tanpa sadar Daniel mengembangkan senyuman kecil yang tulus. Rasanya dia ingin mengelus kepala gadis itu seperti seorang ayah yang senang melihat putri kecilnya bahagia. Sekarang, dia bertanya-tanya dalam hati.
Apa ini yang selalu Julian rasakan setiap kali dia merawat kedua bocah kembar itu? Nah. Daniel tidak ingin mengakuinya secara terang-terangan, tapi dia iri. Iri dari Julian yang mendapatkan kesempatan untuk merawat mereka berdua seperti anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
Setelah menyarankan Rosaline untuk mengambil semua buku yang dia inginkan, Daniel menyadari seseorang sedang mengawasi mereka dari kejauhan. Dia melihat sekeliling dan menemukan seorang lelaki tua berdiri jauh dari mereka.
"Ada banyak koleksi Shakespeare di bagian belakang. If you don't mind, aku bisa menunjukkannya pada kalian."
Rosaline menoleh ke Daniel, meminta izin, sebelum ia mengangguk dan mengizinkannya mengikuti pria tua itu. Dari belakang, keduanya berjalan, memandang sekitaran dengan tatapan penasaran, sementara pria tua itu memimpin jalan.
Mereka berhenti di depan rak yang bertuliskan Shakespeare di atasnya. Rosaline, segera berlari menuju rak tersebut dan menarik beberapa buku novel dari sana. Ia menatap Daniel sejenak sebelum melihat sekeliling dan menemukan sekilas seorang gadis yang berdiri membelakangi mereka.
Rosaline. Seketika merasa familiar dengan rambut hitam bergelombang itu. Dia perlahan melangkahkan kakinya menuju perempuan itu, membuat Daniel dan pria tua di dekatnya mengerut heran.
Dia menganga lebar saat melihat wajah perempuan itu dari samping. Sontak buku-buku yang sedang dia pegang berjatuhan ke bawah, menciptakan suara keras, membuat seisi toko terkejut dan menoleh ke arah mereka.
"Kaylie!" Seru Rosaline.
"Oh, lama tak jumpa," balasnya santai.
Helaan napas lega seketika keluar dari mulut
Rosaline. Daniel, dia memandang Rosaline lalu melihat ke arah perempuan berambut hitam itu dengan seksama. Dia mengenalnya. Daniel mengenalnya meskipun perempuan itu tidak mengenalnya.
"Kau ada di mana selama ini?" Tanya Rosaline khawatir. Dia mencengkram bahu Kaylie dengan penuh kebahagiaan sementara perempuan itu hanya memandangnya bingung.
"Skorsing."
Rosaline merasa kakinya lemas. Jadi selama ini Kaylie hanya diskorsing? Rosaline mengangkat pandangannya hanya untuk menemukan ekspresi Kaylie yang heran saat mendapati Rosaline melotot lebar ke arahnya.
"Apa-apaan ekspresi mu itu?"
Rosaline menggeleng cepat. "Tidak. Aku hanya senang. Ya senang kalau kau tidak di dikeluarkan dari kampus. Aku pikir karena kau bertengkar dengan Clark dan dia seorang the golden money kau langsung dikeluarkan."
Kaylie berdecak. "Nah, I have friend. Dia membantu ku menyelesaikan masalah ini. Padahal aku berharap aku dikeluarkan dari Westminster, dengan begitu aku tidak akan kuliah di sana lagi, apalagi satu fakultas dengan the golden money sombong itu. Tapi teman ku itu malah menolong ku dan here I am, menjalani hukuman skorsing menyebalkan ini."
Kaylie mengedikkan bahunya acuh tanpa menyadari kalau Rosaline sedang dipenuhi awan kelegaan dalam hatinya. Kaylie tidak akan pernah tahu betapa khawatirnya Rosaline karena memikirkan keberadaannya selama ini. Entah semalam atau berminggu-minggu.
Tapi sekarang, ia bisa tertidur nyenyak tanpa ada lagi mimpi buruk dan bayangan mengerikan yang mendatanginya setiap kali matanya terpejam.
Setidaknya dia bisa bernapas lega sekarang.
__ADS_1
Ya. Setidaknya.