Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 56


__ADS_3

...CHAPTER 56...


...MEETING WITH CLARK AGAIN...


"Kau mau kemana, Rosie?"


Rosaline yang berdiri di depan cermin terkesiap saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan menampakkan sosok sang kembaran, Reagan, dengan baju tidur berwarna biru laut kesayangannya berdiri di ambang pintu.


Dari tatapannya yang menyebalkan, Rosaline bisa tahu kalau pria itu tengah menilai dress yang ia kenakan. Lihat saja pergerakan matanya yang terus beralih dari bawah hingga ke atas. Mengamatinya dengan sorot mata menyelidik.


"Kau mau kemana, Rosie?"


Kali ini suaranya terdengar tenang namun mengintimidasi. Tatapannya yang menyelidik menjadi tajam. Cukup tajam untuk melucuti Rosaline dari dinding kebohongan yang coba ia buat.


Oh tuhan. Dia tidak ingin memberitahu siapapun tentang jamuan makan malam di rumah keluarga Adler. Terutama Reagan dan Daniel. Akan menjadi masalah besar jika mereka tahu tentang itu.


"Ada yang harus aku lakukan," jawabnya, berusaha keras untuk tidak menunjukkan ekspresi apa pun di depan saudara kembarnya.


"Dengan siapa?" Dia bertanya.


"Oliver."


"Kemana?"


Hanya dengan melihat ekspresinya yang cemas, Reagan mau tak mau merasa curiga. Sejak tadi gadis itu terus menerus menyelipkan rambutnya ke telinga, bahkan setiap kali berbicara dia tidak berani menatap balik Reagan.


"Kamu bohong, kan? Telinga mu selalu merah setiap kali kamu berbohong."


Reagan menyeringai saat melihat tubuh sang kembaran menegang ketika kalimat terakhirnya tercetus keluar. Sebenarnya dia hanya bercanda. Telinga Rosaline tidak pernah memerah setiap kali dia berbohong. Namun bahasa tubuhnya yang menunjukkan.


Rosaline gelagapan. Dia dengan cemas menutup kedua telinganya dan berteriak, "tidak! Aku tidak berbohong!" Serunya gelisah. Matanya bergerak nanar tak karuan, mengabaikan tatapan intens sang kembaran sebisa mungkin.


Rosaline bisa merasakan tatapan tajam Reagan masih tertuju padanya saat dia perlahan menoleh hanya untuk melihat Reagan tetap diam di tempatnya berdiri. Lelaki itu mengernyit, mungkin masih mencari-cari kebohongan di wajah Rosaline.

__ADS_1


Yah, tentu saja Rosaline tidak akan pernah bisa membohonginya, tapi untuk ini dia harus berbohong. Seharusnya tidak ada yang tahu kemana dia pergi. Tidak ada yang boleh tahu.


"Maaf Reggie, aku harus pergi. Oliver akan marah pada ku jika aku terlambat. Katakan pada Daniel untuk tidak mengkhawatirkan ku, mungkin aku akan pulang sedikit larut."


Dengan terburu-buru Rosaline berlari keluar dari kamar tidurnya, meninggalkan Reagan yang masih berdiri di depan pintu kamar. Pria itu memperhatikan punggung Rosaline yang perlahan menghilang dari pandangannya saat dia menuruni anak tangga dengan cepat.


"Apa yang terjadi dengannya?"


Dia mengangkat alis. Pada saat Reagan ingin menutup pintu kamar tidur Rosaline. Sesuatu menangkap telinganya. Dia memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencari sesuatu yang berdering di sana.


"Oh sial," umpatnya, "dia lupa ponselnya."


...•—— ⁠✿ ——•...


Begitu sebuah rumah seperti kastil muncul di pandangan Rosaline, gadis itu langsung merasa cemas. Karena rumah itu adalah tanda kalau dia sudah sampai di rumah James.


Perlahan Rosaline keluar dari taksi yang membawanya ke sana setelah menyerahkan sejumlah uang kepada sopir. Dia mendongak, mengamati rumah itu dengan perasaan cemas.


"Ya, ini hanya balas budi. Anggap saja begitu!" Ucapnya pada diri sendiri.


Dengan langkah ragu Rosaline melangkahkan kakinya menuju rumah itu. Tangannya menekan bel yang berada di luar gerbang dan seketika sebuah kamera muncul. Seperti yang dilakukan oleh Oliver waktu mereka kesini, Rosaline hanya menyebutkan namanya dan gerbang rumah langsung terbuka.


Tapi kali ini berbeda. Ada seorang laki-laki berjas hitam muncul di depannya.


"This way, miss," Ucapnya dan menyuruh


Rosaline masuk ke dalam mobil.


Well, Rosaline tidak bisa menyangkal seberapa jauhnya rumah James dari gerbang depan. Akan sangat melelahkan baginya kalau berjalan kaki.


Mobil yang dia tumpangi bersama laki-laki berjas hitam itu sampai di depan pintu rumah. Kali ini perasaan cemas Rosaline langsung bertambah tatkala melihat banyaknya mobil terparkir dan lagi, dia seratus persen yakin ada mobil Clark yang ikut terparkir di sana.


"This is going to be a nightmare!"

__ADS_1


Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan lagi-lagi menampakkan laki-laki berjas hitam. Oh tuhan, ini hanya jamuan makan malam, kan? Dia tidak akan dibunuh atau dijadikan tumbal proyek, kan? Tak berani melakukan instingnya untuk lari dari sana, Rosaline pasrah menggerakkan kakinya masuk.


Para laki-laki berjas hitam di sana dengan cepat mengerubungi Rosaline dan mengarahkannya ke sebuah ruangan berpintu warna emas. Di pintunya banyak ornamen indah yang Rosaline yakini sangatlah mahal.


"Silakan masuk, nona."


Rasanya Rosaline ingin berteriak menghentikan mereka agar tak meninggalkannya sendirian di sana. Namun apa boleh buat. Kalau dia tidak masuk bisa-bisa tanah yang dilepaskan oleh Floyd Adler kembali diperebutkan. Tapi kalau dia masuk? Oh tuhan!


"Wish me luck!"


Dalam satu tarikan napas, perlahan Rosaline mendorong pintu dengan mata terpejam. Gadis itu tidak berani melihat sekeliling dan menemukan tatapan keluarga Adler atau apapun yang menunggunya di ruangan itu. Tolong, dia hanya ingin pulang dan berbaring dengan nyaman di tempat tidurnya.


"Oh akhirnya. Ini adalah gadis yang kubicarakan hari itu!"


Rosaline menelan ludah begitu mendengar suara parau dari Floyd Adler menyambut kedatangannya. Entah bagaimana rasanya sangat sulit untuk membuka matanya, seolah-olah sudah direkatkan dengan sesuatu yang sangat lengket.


"Maaf aku terlamba—"


Rosaline tercekat. Matanya yang perlahan mulai terbuka kini melebar karena terkejut. Di sana. Di ruangan itu. Semua orang yang duduk di meja makan panjang menatap intens padanya. Wajah dan ekspresi mereka masam, seolah tak menyambut kedatangannya.


Rosaline tidak menyangka tamu di ruangan itu benar-benar ramai. Meski begitu dia tahu, di kerumunan itu ada Clark yang mengawasinya dalam kebingungan, nah, atau juga kebencian karena tiba-tiba muncul di jamuan makan malam keluarga Adler.


"Rosaline!" Seseorang berteriak dan Rosaline menghela napas lega begitu dia tahu siapa itu.


Minerva Adler. Wanita yang lebih tua melambaikan tangannya dengan lembut ke arah


Rosaline, memberitahu gadis itu bahwa ada tempat kosong di sebelahnya. Rosaline sebenarnya ingin menolak, namun sayangnya hanya tempat di sebelah wanita itu lah yang tersisa.


Mencoba sekeras mungkin untuk mengabaikan tatapan intens semua orang yang seolah tengah melucutinya, Rosaline mendudukkan dirinya di sebelah Minerva dengan cemas. Dia tahu kalau di depannya saat ini adalah Clark yang duduk berdampingan dengan James.


Oh tuhan mungkin hari ini adalah hari sialnya.


Lihat saja Clark yang mendengus benci padanya begitu Rosaline duduk di sebelah calon mertuanya. Dia pasti akan membunuhnya setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2