
...CHAPTER 8...
...THE BLOND COSTUMER...
"Kau sepertinya sudah terbiasa ya dengan perhatian semua orang."
Rosaline memusatkan perhatiannya melihat ke arah Clark yang tengah sibuk menebar pesona wajahnya dengan senyuman selebar mungkin, setiap kali mahasiswa laki-laki melintas di sekitar mereka.
"Aku anak anggota the golden money. Sudah seharusnya aku mendapatkan perhatian semua orang," Jawabnya sombong membuat Rosaline mengernyit tak suka.
Gadis itu pun mengerlingkan matanya malas, mengalihkan perhatiannya dari Clark dan tergelak saat matanya tak sengaja bertemu pandang dengan tiga wanita yang pernah memperingatkannya waktu itu.
Ketiganya menatap Rosaline lama sebelum membuang pandangan mereka usai melempar tatapan sinis.
"Apa-apaan itu?" Gumamnya, memperhatikan punggung ketiga wanita itu yang perlahan menjauhi mereka.
Rosaline berdecak. Baru beberapa Minggu ia berteman dengan Clark dan dia sudah menjadi pusat perhatian. Rosaline selalu menemukan mata semua orang tertuju padanya. Tak peduli ke mana pun ia pergi, tatapan semua orang selalu mengikutinya seperti kamera.
Clark berbalik hanya untuk melihat apa yang Rosaline lihat lalu disusul kekehan kecil setelahnya. "Let them be. Mereka hanya iri pada mu, Rosaline," celetuknya dan mengeluarkan beberapa buah make-up dari dalam tasnya.
Rosaline mendengus. Ini sudah lebih dari tiga Minggu semenjak mereka berdua berteman dan Rosaline masih belum terbiasa. Dia selalu menemukan dirinya mengernyitkan dahi setiap kali Clark menyebutkan namanya.
Tak tahu kenapa ada rasa tak suka di dalam hatinya ketika mendengar namanya disebut oleh wanita itu.
"Apa menurut mu... mereka iri pada ku karena aku berteman dengan mu?" Rosaline bertanya tiba-tiba.
Entah kenapa hanya pertanyaan itulah yang terlintas di kepalanya sekarang, usai mendengar Clark berkomentar kalau sikap orang-orang padanya akhir-akhir ini adalah karena perasaan iri.
"Ya. Karena hanya segelintir orang saja yang bisa dekat dengan anggota the golden money seperti ku. Apalagi para the big three."
Rosaline mengangkat sebelah alisnya heran, bertanya-tanya apa pula the big three itu.
Mengabaikan rasa penasarannya, Rosaline buru-buru menutup buku di tangannya yang sejak tadi tak ia baca ketika Clark tiba-tiba berdiri. Ia menoleh, hanya untuk melihat apa yang wanita itu lihat sampai-sampai membuat wanita itu berteriak histeris.
__ADS_1
"James!"
Dia berteriak lalu berlari secepat mungkin, meninggalkan Rosaline sendirian di tempat mereka duduk. Rosaline memandangi interaksi Clark dengan seorang laki-laki berkulit pucat, bersurai pirang, dengan wajah aristokrat yang dingin.
Tunggu?! Bersurai pirang? Wajah aristokrat yang dingin?
Rosaline membelalakkan matanya terkejut dan langsung berdiri, tak peduli buku yang ada di pangkuannya jatuh ke tanah. Di sana. Laki-laki pirang yang ia temui di little latte espresso waktu itu sedang membalas pelukan manja Clark di tubuhnya.
Dari kejauhan dengan rahang yang masih menganga. Rosaline menyadari kalau mata pria itu mengarah padanya melalui celah pelukan Clark. Tak ada senyuman yang terukir atau sekedar senyum sapa untuknya. Yang ada hanya tatapan tajam di mata pria itu.
Rosaline tanpa sadar menelan ludahnya gugup saat Clark melepaskan pelukannya di tubuh sang pemuda, dan menarik pemuda itu berjalan mengarahnya.
Oh tuhan. Kenapa dia jadi gugup seperti ini?
Rosaline merasa tubuhnya membeku seiring Clark dan pemuda itu berdiri di depannya. Ia melirik ke arah tangan Clark yang bergelayut manja bertepatan senyum lebar yang terukir di wajah Clark, sementara sang pemuda hanya berwajah datar.
"Kekasih mu?" Tebak Rosaline diakhiri kekehan awkward-nya yang khas. Ia curi-curi pandang ke arah pria itu lagi sebelum kembali memusatkan perhatiannya kepada Clark.
Rosaline mendelik lebar yang melingkarkan tangannya posesif di lengan pria bernama James Orion Adler itu. Iris emerald-nya bahkan tak punya niatan sama sekali untuk menyembunyikan keterkejutannya seiring ia memandang mereka berdua secara bergantian.
Rasanya tak sopan jika hanya dia yang mengetahui nama laki-laki itu sedangkan dia tidak mengetahui namanya. Lantas Rosaline mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pria pirang itu, lalu berkata, "ah— aku Rosaline Mary Smith. Salam kenal."
Namun, bukannya menerima uluran tangan gadis di depannya, laki-laki itu malah menatapnya dengan alis terangkat. Seakan mempertanyakan
maksud dari uluran tangannya tersebut.
"Dia tidak suka orang lain menyentuhnya, Rosaline. Tentu saja kecuali aku," lirih Clark dengan suaranya yang manja.
Dengan senyuman campah Rosaline menarik tangannya kembali dan mengangguk. Jadi benar, ada dua anggota the golden money di kampus ini? Batin Rosaline.
Sekelebat kepalanya langsung mengulas balik perkataan Reagan tentang anggota the golden money yang ada di fakultasnya. Sepertinya laki-laki pirang di depan Rosaline ini lah yang dibicarakan sang kembaran waktu itu.
Karena tak mau mengganggu dua pasangan itu, Rosaline lantas mendudukkan dirinya agak sedikit menjauh dari mereka berdua. Dia mengabaikan Clark, yang sekarang bersandar di bahu pria itu dan tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sedang mengawasinya.
__ADS_1
...•—— ✿ ——•...
"Kau berteman dengan miss Jenkins, miss Smith?"
Beberapa menit yang lalu, Rosaline terjebak dalam suasana canggung yang tercipta dari kedua pasangan di dekatnya itu. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan dengan dalih mencari buku baru untuk dibaca.
Meskipun alasan sebenarnya adalah dia hanya ingin kabur dari sana. Lari dari kedua pasangan itu karena muak. Terutama melihat sikap Clark yang terbilang sangat manja. Terlalu berlebihan jika ingin Rosaline menggambarkan sikapnya saat itu.
Terus terang saja, menyaksikan wanita itu bersikap manja dengan pemuda bernama James tersebut, entah kenapa langsung membuat perut Rosaline mual. Gejolak ingin muntah bergemuruh di perutnya.
Jadi, di sinilah gadis itu sekarang. Di perjalanannya menuju perpustakaan Rosaline tak sengaja bertemu dengan sang profesor yang kewalahan membawa buku-buku di tangannya. Inisiatif, Rosaline pun menawarkan bantuan.
"Ya, profesor Watson. Aku berteman dengan Clark," Jawab Rosaline mengangguk. Dia tahu siapa Jenkins yang profesornya maksud.
Tentu saja Clark. Clark Sadie Jenkins. Si anak anggota the golden money.
Pria yang dipanggil oleh Rosaline profesor Watson itu hanya menatapnya lama lalu membuang pandangannya dan berjalan cepat ke depan, membuat Rosaline tergopoh-gopoh mengikutinya dari belakang.
"Letakkan saja buku-buku itu di meja ku, Miss Smith," Perintahnya ketika mereka sampai di ruangan pribadi sang profesor.
Iris emerald Rosaline terperangah melihat ke arah yang ditunjuk olehnya, sebelum mengangguk dan melakukan perintah sang profesor.
Pandangannya memandang sekeliling dengan hati-hati sembari meletakkan buku-buku yang dibawanya ke meja profesor. Gadis itu berhenti memperhatikan sekitar tepat ketika atensinya jatuh ke sebuah foto keluarga yang tergantung tak jauh darinya berdiri.
"Apa itu keluarga mu, profesor?" Rosaline bertanya. Sama sekali tak berbalik
untuk menatap sang profesor.
"Ya. Mereka istri dan anak ku," Jawabnya, melihat ke arah yang sama, "mereka sudah meninggal," tambahnya.
"I'm sorry to hear that," Balas Rosaline tak enak hati. Ia berbalik hanya untuk mendapati sang profesor tengah menatapnya dengan intens.
Kerutan di dahi pria itu terlihat jelas, rahangnya mengeras, dan kemudian ia berkata, "menjauhlah dari para the golden money, miss Smith. Sekali kau terikat kau tidak bisa keluar. Terutama keluarga Jenkins dan Adler. Orang-orang mungkin menyukai mereka, tapi orang-orang tidak tahu siapa mereka yang sebenarnya."
__ADS_1