
...CHAPTER 16...
...KAYLIE...
Rosaline menundukkan kepalanya, melihat nanar buku tebal yang tergelatak di dekat kaki Clark, lalu dia tersentak. Baru sadar kalau dirinya sudah berada dekat dengan Clark dan perempuan yang baru saja melemparnya dengan buku itu.
Dia berbalik, mengerut heran ketika mendapati James yang tadinya bersama dengannya kini menghilang. Dia mengedarkan pandangannya, mencari sosok laki-laki pirang itu di antara kerumunan di koridor di dekatnya. Namun nihil dia tidak menemukan laki-laki pirang itu.
Rosaline menghela napas panjang setelah puas mencari keberadaannya. Seberapa lebar dia mengedarkan pandangannya hanya untuk mencari laki-laki itu. James Orion Adler sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya di mana pun.
Dia menoleh ke arah Asher yang kini sudah berdiri. Gadis berkacama itu menghimpitkan tubuhnya agar menempel dengan dinding koridor di belakangnya sambil sesekali menyeka air mata yang masih mengalir dari matanya.
Rosaline lagi-lagi menghela napas. Entah sudah berapa kali dia menghela napas hari ini. Yang jelas, matahari belum naik ke atas dengan sempurna sudah banyak kejadian yang terjadi.
Nah sekarang. Bagaimana dia mengatasi ini?
Dia memusatkan perhatiannya ke arah Clark dan perempuan yang entah siapa namanya itu saling bertatapan. Saling melempar tatapan mengancam dan membunuh, sehingga membuat siapapun yang ada di sana tak berani menginterupsi mereka.
"Siapa kau, brengsek?" Clark berkata. Dia mengerutkan hidungnya tak suka, mengangkat jari telunjuknya dan menekan dada perempuan itu agar menjauh darinya.
Perempuan itu terkekeh. Dia mengibas-ngibas bahan pakaiannya yang baru saja disentuh oleh Clark dan memasang ekspresi jijik, membuat Clark mau tak mau mengeram kesal dengan kelakuannya.
"Kau tanya siapa aku? Kenalkan, aku calon perdana menteri Inggris," jawabnya santai.
Perempuan itu mengulurkan tangannya menawarkan jabat tangan sambil menyeringai licik.
Bahkan hampir membuat Rosaline percaya kalau perempuan itu sebenarnya adalah kloning-nya Clark atau mungkin Darah segar langsung mengalir dari hidungnya kembarnya. Melihat bentuk seringaian licik yang perempuan itu gambarkan di wajahnya sangat mirip dengan Clark.
Clark mendengus. Suara decakan lidahnya terdengar seiring ia menghempaskan tangan perempuan itu dari hadapannya.
"Aku tidak tahu kalau kau sebenarnya bodoh dan tuli? Saat ku tanya kau siapa, aku bertanya nama mu!" Seru Clark, sedikit melangkahkan kakinya mendekat ke arah perempuan itu.
"Kaylie. Orang tua ku memanggil ku Kaylie!" Jawabnya.
Dia menyelipkan beberapa helai rambut hitam panjangnya ke telinga dan membuat Rosaline sadar, perempuan itu adalah orang yang memberikannya tempat duduk di bis dan perpustakaan waktu itu.
Perempuan itu. Kaylie.
__ADS_1
"Kaylie? Aku tidak pernah mendengar nama mu."
"Well aku tahu penyebabnya kenapa kau tidak pernah mendengar nama ku, karena aku sama seperti orang-orang rendahan yang kau sebutkan itu, wahai yang mulia the golden money."
Rosaline tahu. Dari kalimatnya barusan, perempuan bernama Kaylie itu bukan memujanya melainkan tengah mengejek Clark terang-terangan. Lihat saja ekspresi tak suka yang Clark pasang di wajahnya setelah Kaylie mengatakan hal itu.
Jelas dia merasa terhina.
"Kalau kau tahu siapa aku dan gelar ku, kenapa kau melempar ku dengan buku ini?" Clark menendang buku yang beberapa menit lalu mendarat di kepalanya, membuat buku itu terpental hingga beberapa meter.
"Bukan aku yang melempar mu, tapi tangan ku," jawabnya polos.
"Dan otak bodoh mu yang mengirim sinyal ke saraf motorik agar kau melakukannya. Dan voila, kau melempar ku dengan buku sialan ini."
"Nah, tangan ku pegal karena sejak tadi membawanya."
"Hanya karena tangan mu pegal bukan berarti kau bisa melempar ku sembarangan dengan buku ini, you little piece of— ugh!"
Kaylie terkekeh kecil dan mengangkat bahunya acuh. Seringaian di wajahnya perlahan menghilang dan tergantikan oleh senyuman miris seiring kepalanya bergerak kesana kemari.
Dia berjalan mendekati Clark, membuat semua orang di sana bertanya-tanya apa yang akan perempuan itu lakukan selanjutnya.
Clark, semua orang di sana bisa menyembunyikan keterkejutan di wajah mereka. Bahkan Clark yang mengalainya sendiri tak bisa berekspresi biasa selain terkejut.
"Dan itu berlaku untuk mu juga, sialan! Hanya karena derajat mu lebih tinggi dari siapapun di sini, bukan berarti kau bisa sembarangan meremehkan orang lain dan menyebut mereka semua orang rendahan."
"Kau hidup mewah seperti ini karena harta orang tua mu, jadi jangan terlalu sombong. Just wait for the karma to take down your life and you're gonna crying like a coward."
DUAK!
Satu pukulan meluncur di wajah Kaylie.
"Jaga cara bicara mu, sial."
Clark. Dengan wajah datar dan tangan mengepal memukulnya tepat di wajah. Dia menembakkan tatapan tajam mengarah Kaylie yang sedang menyentuh sudut bibirnya di mana terdapat darah segar mengalir keluar dari sana.
Tidak ada suara rintihan dan ringisan kesakitan yang keluar dari mulut perempuan itu. Dia sama sekali tidak merasa kesakitan seperti orang-orang pada umumnya, seakan-akan pukulan Clark barusan hanya angin lewat baginya.
__ADS_1
Kaylie. Dia menyeringai. Dia tertawa lepas layaknya orang jahat seiring matanya tertutupi oleh tangannya. Dia melihat ke arah Clark melalui celah kecil yang ia buat di antara jari tangannya.
Dan secepat kilat. Bahkan Rosaline sendiri tak bisa menyadarinya kalau tangan Kaylie sudah membalas pukulan itu dan membuat Clark terjungkal ke belakang.
"Baji—"
DUAK!
Belum sempat umpatan Clark selesai, Kaylie, perempuan itu sudah melancarkan tendangan bebas ke wajahnya membuat darah segar langsung mengalir dari hidung Clark.
"What? You wanna fight, huh? Go on, then. Akan ku buat wajah kebanggaan mu itu babak belur agar semua orang tahu, seberapa jeleknya wajah seorang anak dari anggota the golden money."
...•—— ✿ ——•...
Pertengkaran mereka amat sengit, bahkan kerumunan yang mendominasi koridor di sana sama sekali tak berani melerai mereka. Mereka terlalu tercengang untuk menginterupsi.
Akhirnya, pertengkaran konyol itu berhenti saat
Rosaline dan Asher melerai. Asher menarik Kaylie pergi dari sana dan Rosaline membawa Clark ke ruang kesehatan.
"Lepaskan aku Rosaline! Aku belum puas menghajar perempuan itu!" Serunya. Dia meronta-ronta di pegangan Rosaline, membuat gadis itu kelimpungan menariknya.
"Hentikan, Clark. Kau lihat kondisi mu sekarang. Darah mimisan keluar dari hidung, bibir mu robek, dan ujung mata mu biru. Suka atau tidak kita ke ruang kesehatan sekarang, Mrs. Harris akan mengobati luka mu!"
Di ruang kesehatan, Rosaline berdiri di sebelah Clark yang meringis kesakitan saat obat merah menyentuh permukaan bibirnya yang robek. Dia sesekali menggerutu, mengumpat perempuan bernama Kaylie itu di sela-sela pengobatannya.
Rosaline melirik ke arah pintu masuk ruang kesehatan ketika pintu itu terbuka dan menciptakan suara bising. Di sana. James berdiri dan berjalan menuju mereka.
"James," Manja Clark. Dia bergelayutan kembali di tangan James, memeluk laki-laki pirang itu dengan erat. Mulutnya terus berkoar menceritakan tentang kejadian yang menimpanya di koridor tadi.
"Kita the golden money. Balas saja dia dengan cara yang biasa kita lakukan."
"Ya. Tentu saja. Akan ku pastikan dia menderita," Balas Clark.
Rosaline. Yang sejak tadi ada di sekitar mereka berdua berusaha sekeras mungkin untuk menjaga ekspresinya agar tetap datar, walaupun jantungnya berdebar khawatir sekarang.
Kalang kabut kepalanya berpikir akan nasib yang akan menimpa perempuan bernama Kaylie itu di masa depan nanti.
__ADS_1
Dia takut. Takut terjadi sesuatu pada perempuan itu yang mungkin saja akan membuat dirinya menyesal di kemudian hari jika dia tak memperingatkannya.
Sepertinya Rosaline harus memberitahu perempuan itu untuk hati-hati mulai sekarang.