
...CHAPTER 28...
...LEICESTER SQUARE...
Ketika mereka sampai di pusat kota London, Rosaline dan Kaylie bergegas menuju kerumunan yang sedang menikmati pesta Natal sementara Reagan dengan tenang mengikuti mereka dari belakang.
"Lihat, Rosaline," teriak Kaylie sambil menunjuk lampu di atas mereka, "tahun lalu mereka tidak membuat bentuk lampunya seperti ini. Aku lebih suka yang ini ketimbang yang kemarin. Ini versi yang lebih baik daripada tahun lalu."
Rosaline cemberut. "Yah, kalau kau berbaik hati memberi tahu ku seperti apa bentuknya tahun lalu, mungkin aku bisa membayangkannya di kepala ku dan baru membandingkannya dengan yang ini."
"Oh iya, aku lupa kalau kau bukan warga London. Jadi, berarti tahun ini adalah Natal pertama mu di London?" Dia bertanya, mengangkat sebelah alisnya.
Rosaline mengangguk. "Yep, first time."
Reagan, dari belakang memperhatikan. Menatap kedua gadis itu yang sepertinya sama sekali tidak menganggap kehadirannya. Jadi, karena tidak ingin mengganggu, dia memutuskan untuk pergi, meninggalkan mereka berdua sendirian.
Dia berjalan menuju kursi kosong di dekat telepon kotak merah yang ada di setiap jalan di London dan duduk di sana. Matanya masih terpaku pada sosok kembarannya, Rosaline dan temannya, masih tak melepaskan pandangannya dari mereka.
Reagan menarik ponselnya dari kantong jaket ketika Rosaline dan temannya perlahan menghilang di tengah kerumunan. Dalam hati, ia berharap. Semoga mereka berdua tidak terpisah dan dia tidak perlu mencari mereka seperti anak hilang.
Reagan menghela napas. Melihat layarnya yang menampilkan wallpaper dirinya bersama Rosaline dan juga Julian. Setiap kali dia melihat wallpapernya itu, hanya satu yang langsung memenuhi pikirannya, yakni tujuan utamanya datang ke London.
Mencari tahu apa yang Julian sembunyikan itu sangat penting dan Reagan tidak tahu apakah Rosaline mengingat tujuan mereka atau tidak.
Karena apa, gadis itu sepertinya sudah mulai teralihkan oleh peristiwa eksternal yang terjadi di sekitar mereka. Dan Reagan takut, dia melupakannya.
"Oh god why this is so frustrating?!" Dia mengerang, mengacak-acak rambutnya.
Reagan menatap langit bersalju di atasnya di mana salju turun dan menciptakan rasa dingin di sekitar sebelum akhirnya ia memalingkan muka ke arah yang berbeda tepat setelah ia menangkap sekilas sosok yang familiar di matanya.
"Ugh, that the golden money," cibir Reagan mengangkat sudut bibirnya pertanda jijik,
__ADS_1
"semoga saja mereka tidak bertemu. Kalau mereka bertemu, tak tahu lagi apa yang akan terjadi di sana."
Sementara Reagan merasa frustasi sendirian, di sisi lain Rosaline dan Kaylie yang sedang menikmati perjalanan mereka di pesta itu, bahkan tidak menyadari bahwa Reagan sama sekali tidak mengikuti mereka lagi.
Kedua gadis itu sibuk berjalan terus, hingga mereka memasuki pasar Leicester square di mana banyak stand toko berjualan makanan dan minuman. Kaylie merengek kepada Rosaline untuk berhenti di sebuah stand fountain coklat lalu memesan beberapa makanan dari sana.
"Kaylie," panggil Rosaline.
Dengan senandung Kaylie menjawab, "ya? Ada apa?" katanya, sama sekali tidak menoleh ke arah Rosaline. Dia hanya terpaku memperhatikan fountain coklat yang mengalir.
"Aku akan membeli kue atau roti dari stand itu, keberatan jika kamu menunggu di sini sebentar? Kue dari stand itu benar-benar menarik perhatianku."
"Ya, pergi saja ke sana, aku akan menunggu di sini," jawabnya.
"Mungkin kamu mau sesuatu? Roti atau kue?"
Kali ini Kaylie berbalik, melihat stand yang ditunjuk Rosaline. "Yang strawberry kelihatannya enak. Aku mau yang itu," kata Kaylie.
"Nice," kata Rosaline lalu langsung menuju stand tersebut.
Cuaca saat itu memang sangat dingin. Bahkan setelah memakai sweater tebal dan dilapisi lagi oleh jaket yang tak kalah tebal, Rosaline masih bisa merasakan angin dingin menerpa dan menembus ke dalamnya. Tak heran kalau dia terkadang menggigil kedinginan.
Rosaline tersenyum lebar saat gilirannya tiba. Matanya tertuju pada kue yang menarik perhatiannya tadi dan kemudian dia memesan, mengambil kue stroberi yang diinginkan Kaylie dan kemudian untuk dirinya sendiri.
Di tengah kesenangannya itu, ia mengernyit, tiba-tiba teringat akan saudara kembarnya. Oh benar, Reagan. Dimana dia? Pikir Rosaline. Dia sadar ketika pria itu menghilang dari belakang mereka tadi. Jadi kemana dia? Walaupun Rosaline tahu kalau kembarannya itu tidak akan tersesat, tetap saja dia khawatir.
"Mungkin aku bisa meneleponnya untuk memastikan dia baik-baik saja," kata Rosaline dengan nada gusar.
Ketika sang penjual memanggilnya dan memberikannya pesanannya, Rosaline tidak bisa menyembunyikan senyum manis yang semakin melebar di wajah. Dia bersenandung, berjalan lurus ke arah Kaylie yang masih fokus dengan fountain coklat sebelum Rosaline terhenti.
Tubuhnya langsung tersentak tegang tepat setelah menangkap dua sosok yang sangat-sangat familiar di matanya. Di sana, Clark Sadie Jenkins dan pacarnya James Orion Adler, berdiri tidak jauh darinya.
__ADS_1
Tapi tunggu. Rosaline langsung mengernyit ketika mengenali sosok wanita yang mengekor di belakang mereka dengan wajah merengut. Bukankah itu wanita yang bersama James di Westgate saat itu? Dan wanita yang duduk di sebelahnya di mobil waktu ia datang ke little latte espresso?
Rosaline tersentak saat mata zamrudnya tak sengaja bertemu pandang dengan sepasang mata abu-abu itu. Tentu saja mata James. Pria pirang itu tengah melihat ke arahnya. Rosaline cepat-cepat memalingkan muka, berharap dalam hati kalau pria itu tidak akan mengenali dirinya.
"Tuhan apa yang terjadi dengan keberuntungan ku hari ini?" dia berbisik.
Rosaline langsung bergegas menuju Kaylie, untuk menarik gadis itu menjauh dari sana. Saat ini, Rosaline tidak mau berurusan dengan para the golden money itu.
Tidak hari ini, tentu saja. Ini adalah Natal pertamanya di London, dia tidak akan membiarkan siapa pun merusaknya. Terutama mereka. Para the golden money yang amat ia benci.
"Kau sudah mendapatkan kue mu?" Kaylie bertanya ketika Rosaline berdiri di sampingnya dengan napas terengah-engah.
"Ya dan kau?" jawab Rosaline.
"Yep, done."
"Bagus kalau begitu, sekarang ayo, kita harus mencari tempat agar kita bisa menikmati makanan kita."
"Kenapa buru-buru?" Tanya Kaylie bingung, "Aku mau beli sosis dulu mungkin burger juga."
Rosaline mengerang. "Baiklah kalau begitu," dia mendengus, "di mana standnya?"
"Entahlah, masih ku cari," Kaylie mengangkat bahu, "oh di sana. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya sebelumnya," teriak Kaylie dan menunjuk.
Rosaline menoleh untuk melihat apa yang ditunjuk Kaylie. Seketika matanya melebar. Bagaimana tidak, stand makanan itu berada persis dekat dengan dua the golden money itu. Rosaline ketakutan ketika Kaylie tiba-tiba berlari menuju stand makanan itu.
"Kaylie!" Panggilnya tapi Kaylie tak berhenti.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Rosaline berhasil membuat Kaylie tak bertemu dengan Clark. Namun sayang, takdir berkata lain. Tepat setelah Kaylie mendapatkan sosis dan burgernya, sebuah tangan menjambak rambutnya.
"Ow," Rintihnya.
__ADS_1
"Oh, dua orang rendahan ada di sini."
Dengan sapaan yang tak mengenakkan hati, Rosaline langsung tersenyum pasrah. Oh tuhan, batin Rosaline. Hancur sudah natal pertamanya di London.