Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 29


__ADS_3

...CHAPTER 29...


...CHAINED...


Rosaline tahu ini akan menjadi bencana. Jadi, dia hanya berdiri di belakang seperti patung, diam berpura-pura tidak hidup, saat dia memperhatikan Kaylie dan Clark yang saling mendengus.


Pandangan dan suasana di antara keduanya seperti awan hitam di mana guntur menyambar, di tambah dinginnya udara malam ini yang mana membuat suhu disekitar mereka perlahan menurun. Sangat mencekam kalau ingin


Rosaline menggambarkan situasinya sekarang.


Dia mencuri pandang ke arah James dan juga gadis berambut coklat di sampingnya. Siapa dia? Batin Rosaline. Dia sudah melihatnya tiga kali. Pertama, di little latte espresso, kedua di Westgate, dan sekarang di sini.


Bagaimana bisa James membawa selingkuhannya ke depan Clark. Apa dia tidak takut kalau Clark akan marah padanya? Dengan satu kali sentakan realita, Rosaline langsung menggelengkan kepalanya. Kenapa pula dia memikirkannya? Itu bukan urusannya!


"Apa-apaan ini? Kenapa kalian berdua ada di sini?" Kata Kaylie, jengkel.


Clark mendengus. "Ini hari Natal, bodoh. Dan siapa kau? Berani mengatur keberadaanku, huh? What a peasant!"


Rosaline sekali lagi melirik ke arah James dan gadis berambut coklat itu. Mereka hanya diam, berdiri seperti patung persis yang dilakukan oleh Rosaline beberapa menit lalu.


Mereka terlihat tidak terlalu terganggu dengan pertengkaran Clark dan Kaylie di tengah-tengah keramaian, tapi tidak dengan Rosaline. Sepertinya, hanya dia lah satu-satunya orang yang peduli dengan pertengkaran itu. Dia tidak mau menjadi sasaran perhatian semua orang di sana.


Rosaline menepuk pundak Kaylie. "Ayo, Kaylie. Kita datang ke sini untuk merayakan Natal, bukan bertengkar dengannya," bisik Rosaline.


Kaylie hanya mengangguk, tapi dia tidak memberikan respon apapun setelah itu. Dia tidak menggerakkan kakinya untuk pergi, tidak mengalihkan pandangannya, melainkan dia melemparkan tatapan sinis ke arah Clark yang tengah melontarkan kata-kata kasar padanya.


"Kaylie," Panggil Rosaline, lagi.


Kaylie hanya mengerutkan keningnya sebelum dia mengerang dan membuat Rosaline menghela nafas lega. Akhirnya, Kaylie berbalik dan bersiap untuk pergi dari sana. Tapi, demi tuhan, Clark dengan kesombongannya itu kembali berbicara.


"Oh, aku tidak menyadari ini. Dua orang rendahan menjadi teman. Sangat pantas."


Dia bertepuk tangan, tapi Rosaline hanya memutar matanya malas, tidak ingin peduli tentang itu. Tapi, sayangnya, Kaylie sekali lagi melontarkan tatapan sinis dan berkata,


"Persetan, menjauhlah dari sini. Kau membuat ku muak!"

__ADS_1


Clark menyeringai. "Jika aku tidak mau?"


Kaylie memutar matanya. "Kau ingin ku lempar dengan buku lagi, huh? Tapi kali ini aku tidak punya buku, tapi sepertinya saos sambal ini cocok untuk membuat rambut merah mu itu bertambah menjadi lebih merah."


Ya, Kaylie hanya bercanda tapi rosaline bisa mendengar nada sarkasme dalam suaranya, dan tampaknya ditanggapi serius oleh Clark. Lihat betapa merah wajahnya sekarang. Tidak yakin apakah itu karena cuaca dingin sekitar atau panas amarahnya.


Nah, terserahlah, jangan terlalu memperhatikan itu. Perhatikan saja gadis berambut coklat di samping James yang hanya menyeringai saat Kaylie melontarkan sarkasme ke arah Clark. Seolah dalam diam ia mendukung aksi Kaylie.


"Beraninya kau berbicara seperti itu padaku? Kau tahu siapa aku, tunjukkan rasa hormat padaku, brengsek!" Clark berteriak dan Kaylie hanya memutar matanya.


"Diam, semua orang tahu siapa kau. Tidak perlu memberitahu ku tentang itu lagi dan lagi, karena aku muak mendengarnya. Jika kau ingin aku menghormati mu, kamu harus mendapatkan rasa hormat itu sendiri. Beritahu pada ku bahwa kau layak untuk mendapatkan rasa hormat ku."


Clark menyilangkan tangannya. "Hell no. Aku tidak memohon untuk itu, tapi kamu."


"Untuk apa? Rasa hormat mu? Heh, aku tidak membutuhkannya. Persetan dengan diri mu sendiri, sialan."


Mata Clark langsung dipenuhi amarah dan Rosaline tahu dia siap meledak. Tapi sebelum itu, Rosaline tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika gadis berambut coklat itu berjalan maju dan berdiri di tengah-tengah mereka lalu berkata.


"Stop right there, dear. Aku tahu kau ingin sekali memukul gadis ini, tapi tidak di sini. Di sini terlalu ramai, mungkin di tempat yang sepi lebih aman, karena tidak akan ada yang memperhatikan kalian."


Untuk pertama kalinya Rosaline mendengar James membentak. Pria pirang itu menatap tajam perempuan yang ia panggil Oliver barusan, seakan-akan dengan tatapan matanya yang tajam itu bisa membunuh Oliver di tempat.


"Shut up, James. Kalian berdua sama saja. Aku muak lama-lama bersama mu."


Oh apa ini? Batin Rosaline. Pertengkaran di depan pacar James yang asli? Menarik!


"Jangan ikut campur dengan masalah ini, Oliver! Kau hanya pengganggu! Lagi pula kenapa kau ikut bersama kami ke pesta natal ini, huh? Apa kau tahu kalau kau itu mengganggu sekali. Sial, menyebalkan!"


Perempuan bernama Oliver itu mendengus. "Oh, kau yang diam Clark. Jangan merusak malam natal dengan tingkah kekanakan mu yang manja itu."


Rosaline merasa seseorang menepuk pundaknya saat dia menonton pertengkaran antara Oliver dan Clark. Ketika dia berbalik, dia menemukan Kaylie memberinya isyarat untuk pergi dari sana sekarang selagi atensi ketiga itu teralihkan.


Dengan anggukan sebagai respon, Rosaline setuju. Dalam sekejap mereka berlari masuk ke dalam keramaian, sosok Clark maupun Oliver dan James seketika menghilang dari pandangan. Mereka bertiga sudah tidak terlihat lagi. What a relief.


"Ugh— lain kali kalau aku bertemu dengannya lagi, aku akan memukul kepalanya dengan buku."

__ADS_1


Rosaline hanya terkekeh. Dia menyerahkan kue stroberi yang Kaylie pesan sebelumnya dan gadis itu memakannya sambil mengerang. Memaki-maki kejadian menyebalkan barusan.


"Padahal ini malam natal, ku pikir aku bisa melepas stress ku sebentar. Tapi, ugh— kenapa kita malah bertemu dengannya? Mood ku jadi hancur!" Omel Kaylie, sambil sesekali menggigit kue stroberinya.


"Mungkin kita sedang sial," Timpal Rosaline dan Kaylie hanya mendengus.


Saat itu, Rosaline merasakan ponselnya bergetar di dalam saku. Lantas dia mengeluarkan ponselnya dari sana dan melihatnya, menatap lurus ke arah nomor Reagan yang muncul di layarnya sekarang.


"[Kau dimana?]" Ucapnya to the point.


Rosaline melihat sekeliling, menyapu pandang sebelum menjawab, "kami ada di dalam pasar


Leicester square. Ngomong-ngomong, kau ada di mana, Reggie?"


"[Beritahu aku detailnya di mana kalian berdua sekarang]"


"Kami di bawah pohon."


"[Jangan berkeliaran tetap di sana, aku akan menyusul]"


Setelah itu, panggilan berakhir dan dalam lima menit Reagan sudah menemukan mereka. Kedua gadis itu berdiri di bawah pohon sambil menikmati makanan. Dengan tergesa-gesa, dia berlari ke arah mereka, bergabung kembali.


"Dari mana kau? Jangan tiba-tiba menghilang seperti itu," Omel Rosaline.


"Kau dari mana? Jangan tiba-tiba menghilang seperti itu, ku kira kau tersesat."


Reagan mengangkat sebelah alisnya. "Sepertinya kau butuh cermin, bocah. Kau lah yang selalu tersesat, dasar anak hilang," cibir Reagan.


Rosaline mengerutkan bibirnya sambil menyerahkan paperbag ke saudara kembarnya. Pria itu memandangnya terlebih dahulu lalu kemudian mengangguk, mengucapkan terima kasih dalam diam saat dia melihat dua muffin cokelat berada di dalam paperbag tersebut.


"Ada apa dengannya?" Reagan berbisik, melirik ke arah Kaylie yang tengah memakan makanannya sambil sesekali menggerutu.


"As always, the golden money," Jawab Rosaline menghela napas.


Reagan membuat huruf o dengan mulutnya lalu berkata, "sepertinya hidup kalian berdua tidak akan pernah luput dari mereka. Seakan ada rantai yang menghubungkan. Entah itu belenggu atau memang takdir yang mengikat."

__ADS_1


__ADS_2