
...CHAPTER 42 ...
...A ROOM TOGETHER...
Seperti yang diramalkan, badai salju muncul dalam satu jam kedepan. Membuat Rosaline dan Reagan mau tak mau terjebak di dalam bangunan penginapan yang disarankan oleh Mr. Allen untuk mereka tempati sampai badai salju berakhir.
Sekarang, pria pirang yang datang bersamanya ke Edinburgh itu tengah mondar-mandir di lobby, terlihat sangat putus asa seiring suara gerutuan halus keluar dari mulut kecilnya. Rosaline hanya bisa duduk tenang di sofa, memperhatikan pria itu yang berjalan kesana-kemari.
"Aku akan mengingat ini sepanjang hidup ku. Sialan orang tua itu. Aku tahu dia pasti sengaja melakukan ini."
Kalau bukan karen Mr. Allen yang ingin mengatakan sesuatu pada merek saat itu, mereka berdua tidak akan terjebak di Edinburgh, apalagi di tengah-tengah badai salju seperti ini.
Rosaline menghela napas sedih, melemparkan tatapan matanya keluar jendela di mana salju-salju putih turun dengan deras. Sebelum berdiri dan menghentakkan kakinya keluar gedung. Meninggalkan James sendirian di dalam sana.
Rosaline berhenti di depan pintu masuk penginapan, memasukkan tangannya ke dalam saku mantelnya dan melihat sekeliling. Mata emerald-nya yang hijau memperhatikan tiap salju yang turun dengan deras, menumpuki seluruh jalanan.
"Aku harus memberitahu Reagan atau Daniel jika aku masih ada di Edinburgh. Aku tidak ingin mereka mengkhawatirkan ku."
Tangan mungilnya merogoh isi kantongnya, mencari-cari benda pipih yang disebut semua orang sebagai ponsel. Gadis itu mengetik nama sang kembaran, lalu menekan ikon telpon, dan seketika nomor telepon Reagan muncul di layar ponselnya.
"[Apa? Di mana kau, bocah sialan? Kau hampir membuat Daniel gila di sini!]"
Rosaline tersenyum pasrah. "Kau tahu kan, kalau sekarang ini sedang badai? Aku terjebak di sini karena badai sialan ini!"
Rosaline menyisir rambutnya dengan jemarinya, memijat dahinya dengan lembut saat perasaan pusing melanda. Meskipun dia tidak menghadapi sang kembaran, Rosaline bisa merasakan Reagan tengah memutar matanya hanya untuk mengejeknya.
"[Dengan siapa? Si pirang itu? Pftt— malang sekali nasib mu.]"
Rosaline mendengus. "Shut up, Reggie."
Rosaline cemberut saat mendengar tawa dari seberang telepon. Tentu saja Reggie, pikirnya, siapa lagi kalau bukan laki-laki itu yang akan menertawakannya di saat seperti ini.
"Come on Reggie, anggap ini serius. Aku mencoba memberi tahu kamu dan Daniel bahwa aku masih di Edinburgh. Jadi, beri tahu Daniel bahwa aku baik-baik saja di sini, masih hidup di dunia yang sama dengan kalian berdua, jadi tidak perlu khawatir."
"[Jadi the golden money itu belum membunuh mu juga? Ku pikir dia sudah membunuh mu saat dia tahu betapa menyebalkannnya kau, bocah.]"
Lagi-lagi Rosaline cemberut. Dia menghirup napas panjang lalu menghembuskannya kasar.
"Shut up oh my god. Dia tidak akan membunuh ku. Sialan kau, Reggie, jangan menakuti ku!" Serunya tak terima.
__ADS_1
Reagan terkekeh. "[Jika sesuatu yang buruk terjadi pada mu segera beri tahu aku dan beri tahu aku jika pria itu mencoba menyakitimu. Aku akan membunuhnya sendiri ketika kalian berdua kembali ke sini. Mengerti?]"
Rosaline sebagai reflek langsung mengangguk , meskipun dia tahu Reagan tidak bisa melihatnya.
"Ya ya. Aku mengerti. Tolong beritahu Daniel untuk tidak mengkhawatirkan ku, aku baik-baik saja di sini. Saat badai usai, aku akan segera kembali."
Setelah itu, Rosaline bisa mendengar suara 'tut tut tut' saat panggilan berakhir. Dia memasukkan telepon kembali ke sakunya dan berbalik, bersiap untuk kembali dan bertemu dengan James yang mungkin masih berkeliaran seperti orang gila di lobi.
"Apa yang kau lakukan di luar sini?"
Rosaline tersentak tegang saat dia melihat sekilas bayangan seseorang dalam kegelapan.
Dia menggigit bibirnya bawahnya, menelan ludahnya sendiri seiring rasa takut menjalar di sekujur tubuh.
"Apa? Kenapa kau melihat ku seperti itu? Aku bukan hantu, bodoh!"
Dari mendengar suaranya, Rosaline bisa menyimpulkan kalau orang di kegelapan itu adalah laki-laki. Ia berjalan mendekat, perlahan, mendekati pria itu.
Ketika dia berhenti di depannya, Rosaline bisa melihat rambut pirang platinumnya, mata abu-abunya yang bersinar dalam kegelapan seperti kucing, dan ekspresi wajahnya. Datar seperti papan.
"Oh, itu hanya kau. Sialan, kau mengagetkan ku, Adler!" Seru Rosaline, cemberut.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Dia bertanya.
"Menelepon kembaran ku dan memberitahunya kalau aku masih di Edinburgh, terjebak di tengah badai. Ngomong-ngomong, kau tidak ingin memberi tahu keluarga mu? Aku yakin mereka mengkhawatirkan mu."
"They won't and I can't. Keluarga ku tidak terlalu peduli pada ku. Jadi, tidak ada gunanya memberitahu mereka. Toh mereka tidak akan mencari ku."
Rosaline mengerutkan kening. "Setidaknya beri tahu mereka. Mereka pasti kha—."
James tertawa. "They won't. Trust me."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi. Pembicaraan selesai! Ayo masuk."
Dan kemudian, James dengan cepat berbalik, masuk ke gedung lagi dan Rosaline mengikuti di belakang.
"Ada kabar buruk dan kabar baik. Mana yang ingin kau dengar lebih dulu?"
__ADS_1
"Kabar baik!" Rosaline langsung menjawab.
James mendengus. "Kabar baiknya kita dapat kamar di sini," jelas James, mengangkat dan mengayunkan tangannya, menunjukkan kunci penginapan yang dia pegang.
"Dan kabar buruknya?" tanya Rosaline, tiba-tiba merasa gelisah ketika melihat satu kunci di tangan James. Dia mengintip ke wajah James yang mengeluarkan emosi yang tidak bisa ditebak olehnnya. Mungkin raut wajah ragu?
"We only get one room, damn it!"
Langkah Rosaline berhenti, matanya menyipit saat dia melihat James berjalan lurus ke tangga. Dia merasakan jantungnya berdetak sangat cepat, rahangnya jatuh dan tangan menutupi mulut.
"APA?!" Teriak Rosaline seketika menarik perhatian semua orang ke arahnya. "JAMES ORION ADLER! JELASKAN INI SEKARANG JUGA!"
"Sial, jangan meneriakkan nama lengkap ku, bodoh!"
Rosaline terdiam. "Tapi—"
"Cepatlah! Ada banyak orang disini. Akan ku jelaskan di kamar nanti!"
Rosaline dengan wajah ketakutan berjalan langsung ke James, mengabaikan semua orang yang berbisik ke arahnya dan James saat mereka berjalan menuju kamar penginapan.
Klap!!
Pintu tertutup, tubuh Rosaline bersandar ke dinding sementara James duduk di pinggiran tempat tidur dengan jarinya mengusap rambutnya dengan frustrasi. Rosaline memandangnya gelisah, menggeser berat badan dari satu kaki ke kaki lainnya.
"Uhm— care to explain?" Tanya Rosaline ragu.
"Mereka bilang kamarnya penuh. Ini satu-satunya yang mereka punya dan masalahnya adalah tempat tidurnya. Ku kira mereka punya twin bed tapi ternyata malah single bed.
"Aku sudah meminta mereka menghubungi penginapan lain dan hasilnya sama. Semua penginapan juga penuh. Kalau ingin pindah ke hotel bagaimana caranya? Kita tidak punya kendaran dan juga karena badai sialan ini. Jadi dengan berat hati aku menerima kamar ini."
Tiba-tiba kepala Rosaline langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika Clark atau keluarganya mengetahui hal ini? Mereka akan langsung membunuhnya dengan senapan di tempat dan membuang tubuhnya ke laut, memberikan tubuhnya kepada ikan sebagai makanannya.
"I'll take the bed. Kau bisa ambil sofanya."
"Apa? Bagaimana kau bisa memutuskannya seperti itu? Kita main gunting, batu, dan kertas sekarang. Siapa yang menang, dia bisa tidur di kasur!"
James memutar matanya. "For your information, biaya tiket kereta api dan juga penginapan ini menggunakan uang ku. Jadi layak bagi ku untuk mendapatkan tempat tidur. Ending the discussion, bye Smith!"
Rosaline membuka mulutnya untuk memprotes, tapi terpotong oleh suara keras dari pintu kamar mandi saat James menutupnya. Mata Rosaline berkedut, tangannya mengepal kuat seakan ingin meninju siapa saja yang menyenggolnya.
__ADS_1
"Dasar orang kaya gila!"