Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 59


__ADS_3

...CHAPTER 59...


...CLARK'S ANGER...


"What on earth is happening to you, James?"


Hanya dengan melihat ekspresi wajahnya, Rosaline bisa menduga kalau pria pirang itu tengah marah. Walau tak menunjukkan secara aksi, wajahnya sudah cukup menjadi bukti untuk memancarkan aura gelap di sekitarnya.


Seolah-olah dari air wajah dan sorot matanya menyuruh semua orang untuk menjauh atau tidak menaruh atensi apapun padanya.


James yang tengah mengotak-atik laptopnya mendongak saat Rosaline mengajaknya bicara. Dia memiringkan kepalanya ke sisi lain hanya untuk melemparkan gadis berambut brunnete itu tatapan bingung.


"Apa?" Tanyanya.


Bahu Rosaline yang tadinya menegang perlahan relaks seiring helaan napas lelah keluar dari bibir kecilnya. Gadis itu mendudukkan dirinya di sebelah James, masih belum melepas pandangannya dari pria pirang itu yang tengah memperhatikannya dengan sejuta pertanyaan.


"Apa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran mu sekarang? You know, kau harus melihat wajahnya mu sendiri di cermin. Kerutan di sana membuat mu terlihat seperti kakek ku yang sudah meninggal."


James mendengus. Dia mendorong pergi Rosaline yang mengejeknya dengan meniru kerutan di wajahnya dengan cekikikan ringan.


Nah, Rosaline tahu ada sesuatu yang mengganggu pria itu. James agak mirip dengan saudara kembarnya, Reagan. Jika ada sesuatu yang mengganggunya, kerutan di wajahnya mengatakan segalanya.


"Aku tidak memikirkan apa-apa, Rosie. Hanya—oh **** terserah lah, I can't hold it any longer. Aku putus dengannya."


Rosaline tidak bisa menahan diri untuk tetap tenang, malah rahangnya menganga. Matanya membelalak kaget saat ia menatap ke arah pria itu, mencari lelucon atau kebohongan di sana.


Tapi, James hanya tersenyum dan mengangkat bahu. Seakan memberi tahu gadis itu bahwa itu bukan lah suatu kebohongan.


"Kau... Putus dengan Clark?" tanya Rosaline. Suaranya gagap.


James mengangguk. "Ya. Hari itu. The golden money gathering."


Tiba-tiba Rosaline teringat kilas balik tentang pertemuan tak terduganya dengan Clark saat makan malam dengan uang emas. Topik yang mereka bicarakan dan juga pertengkaran kecil di aula rumah James, masih membekas dalam ingatannya.

__ADS_1


"Bagaimana reaksi ayah mu? Seingat ku hubungan mu dengannya diatur oleh ayah mu. Jadi— ah... aku tidak tahu harus berkata apa lagi."


Wajahnya perlahan melembut seperti mentega ketika mereka bertukar pandang. James hanya membiarkan mata abu-abunya menatapnya intens sedangkan Rosaline sebaliknya. Dia khawatir. Tentu saja. Khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya atau James sendiri setelah dua the golden money itu putus.


"Ayah ku masih belum mendengar apapun tentang putusnya hubungan kami, jadi kurasa untuk saat ini aku aman. Hanya ibu ku yang mengetahuinya."


Entah bagaimana Rosaline benar-benar ingin meremas tangan James dan merentangkan tangannya hanya untuk menarik pria itu ke dalam pelukan peringatan. Tapi, hubungan mereka hanyalah teman, tidak ada lagi yang bisa membuatnya melakukan itu dan menghiburnya.


Rosaline menoleh ke sisi lain hanya untuk mengejar waktu. Ini sudah tengah hari, saatnya makan siang. Mungkin makanan bisa membuat James merasa sedikit lebih baik.


"Ayo pergi ke kafetaria," saran Rosaline dan berdiri dari kursinya.


Hanya dua langkah dari kursinya, Rosaline merasakan sebuah tangan melingkari pergelangan tangannya. Dia menutup matanya, sebelum perlahan membukanya lagi saat dia berbalik hanya untuk menemukan tangan James berada di sana. Menggenggamnya begitu erat.


Rosaline menggigit bibir bawahnya, tidak yakin apa yang harus dilakukan atau dikatakannya sekarang. Dia hanya mengangkat mata zamrudnya menatap si pirang dengan tatapan kasihan.


Sungguh, jika Rosaline menatap ke dalamnya, mata abu-abu pria pirang itu sungguh indah. Warna biru tua di sekelilingnya dan kilau di atasnya, Rosaline bisa melihat dirinya di sana. Menggambarkan dirinya seperti sedang berdiri di sekitar sesuatu yang berwarna abu-abu dan biru.


"Jangan pergi dari sini, Rosie. Tinggallah di sini sedikit lebih lama. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak ingin sendirian sekarang. Aku butuh seseorang."


Oh, benar.


Bagaimana dia bisa melupakannya. Ini adalah kesalahannya sejak awal. Jika dia mendengarkan ketiga gadis itu dan tidak pernah mendekati kerumunan hari itu di mana Clark berjalan di koridor. Sesuatu seperti ini tidak akan terjadi. Dia tidak akan berteman dengan Clark, tidak akan mengenal James, dan juga tidak akan bersama dalam proyek ini.


"Aku hanya ingin membeli makanan untuk kita, James," seru Rosaline.


Semakin Rosaline berusaha keras menarik tangan pria itu dari pergelangan tangannya, James semakin mempererat cengkeramannya. Pria itu tidak membiarkannya pergi. Dia mengunci pandangannya di antara mata zamrud gadis itu seolah menyuruhnya untuk kembali ke tempat duduknya.


Rosaline yang merasa sangat kalah dengan


tatapan itu langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat duduknya lagi. Kali ini, James perlahan mengendurkan cengkeramannya, namun tetap tidak mau melepaskannya.


"Setelah ini kita bisa makan. Kau bisa memesan apapun yang kau suka di kafetaria, tapi kau harus mendengarkan cerita ku dulu."

__ADS_1


Rosaline memutar matanya dengan malas dan mengangguk. "Fine. Traktir aku setelah kau selesai menceritakan kisah mu. Siap-siap saja dompet mu kosong melompong setelah ini."


James mengangkat bahunya. "Well aku masih punya banyak uang di ATM ku. Mentraktir mu tidak akan bisa menghabiskan kekayaan ku."


...•—— ⁠✿ ——•...


"ROSALINE!!"


Semua orang yang ada di luar kamarnya menegang karena takut saat suara barang-barang pecah terdengar dari balik pintu. Mereka tahu siapa dan dari mana suara itu berasal. Tentu saja. Clark Sadie Jenkins. Majikan mereka yang sangat pemarah dan manja.


Para pekerja di rumah itu saling melirik, seolah memberi sinyal satu sama lain untuk masuk ke dalam kamar sang nona muda dan membereskan segala kekacauan yang dia buat.


Namun, pengalaman bertahun-tahun lamanya bekerja dengan keluarga Jenkins membuat mereka sadar untuk tidak masuk ke dalam ruangan itu saat sang majikan tengah


mengamuk.


"Kita harus memberitahu tuan besar!" Salah satu mereka berbisik.


"Ya. Hanya tuan besar yang bisa menghentikan nona muda menghancurkan segala isi kamarnya. Aku tidak mau membereskan pecahan beling di kamar itu!"


Sementara para pekerja di luar sana kelimpungan menghadapi kekacauan yang dia perbuat, Clark terus berteriak marah sambil sesekali menyematkan nama Rosaline dengan makian. Dia melempar segala yang berbahan beling ke lantai, membiarkan pecahan beling itu berserakan.


"Sialan kau Rosaline! Kau sudah mengkhianati ku sialan! Dan sekarang kau mencoba merebut James dari ku?! Sialan! Mati saja kau!"


Amarahnya semakin menggebu tatkala mengingat kembali bagaimana James mengatakan kalau dia menyukai Rosaline malam itu dan bagaimana mereka berdua saling berpegangan di Matilda's. Tuhan, dia benci padanya.


"Sialan kau hanya orang rendahan tidak berguna Rosaline! Kau tidak sepadan dengan the golden money seperti kami!"


Clark menghentakkan kakinya menuju meja di mana ponselnya terbaring kaku dan menekan tiap nomor di layarnya.


"Rosaline Mary Smith. Cari siapa gadis itu


sebenarnya dan latar keluarganya. Jangan biarkan dia hidup tenang setelah ini!"

__ADS_1


"[Baik nona muda!]"


__ADS_2