Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 35


__ADS_3

...CHAPTER 35...


...HIS JACKET...


Tangan Rosaline melayang dari bawah bantalnya saat suara keras membangunkannya. Dengan mata yang masih terpejam, tangannya menekan-nekan jam secara acak di atas kabinet, mencoba untuk mematikan alarm.


Dia menggerutu pelan, berguling telentang di tempatnya tidur sambil sesekali mengedipkan mata sebelum membukanya sempurna. Menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk melewati jendela kamarnya yang tidak ia tutupi dengan gorden dari semalam.


Gadis itu segera duduk di pinggir tempat tidur. Pandangannya melayang ke sekitaran kamar, memperhatikan tiap perabotan yang sudah terkena sinar matahari.


Dia mengucek matanya lalu berdiri, meregangkan punggungnya dan melihat ke seberang kabinet saat mendengar nada dering ponselnya yang bising. Seketika, adrenalin mengalir deras di tubuhnya.


Kesadaran yang tadinya belum terkumpul sepenuhnya langsung terkumpul sempurna begitu dia melihat ke layar ponselnya di mana nomor telepon James terpampang jelas.


Oh tuhan. Dia lupa. Hari ini dia dan James akan menemui klien mereka, mengingat pria pirang itu sudah selesai dengan proposalnya.


Ini akan jadi bencana, pikir Rosaline. Dia semakin cemas tatkala mengetahui sudah berapa kali pria pirang itu menelponnya sejak pagi tadi. Dengan tergesa-gesa, Rosaline berlari ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya.


Tanpa waktu untuk sarapan atau sekedar menyapa Reagan dan Daniel di meja makan, gadis itu melompat keluar dari rumah dan mencari-cari bis yang menuju perusahaan Matilda's.


Dia bernapas lega ketika bis merah yang dia cari akhirnya muncul. Dengan terburu-buru, Rosaline berlari menuju bis itu dan menerobos masuk. Dia mendengus kesal mendapati seluruh kursi di bis itu sudah diduduki, yang artinya tidak ada kursi kosong untuknya duduk dan dia terpaksa berdiri.


Rosaline sekarang sangat gugup, terus-menerus menyisir rambut cokelatnya dengan wajah semakin pucat seiring waktu berjalan. Yang tadinya pukul 9 pagi tepat lalu berganti menjadi pukul 9:15 saat ia memeriksa layar ponselnya untuk keseratus kalinya pagi itu.


"Dia pasti akan membunuh ku," rengek Rosaline.


Sementara itu, di sisi lain James terus-menerus menghela napas. Jemarinya mencubit pangkal hidungnya frustasi menunggu gadis itu untuk datang tepat waktu.


Tapi, bukannya datang tepat waktu seperti yang dia inginkan, gadis itu malah terlambat dan ini sudah satu jam terlewat dari waktu janjian mereka. Demi Tuhan! Dia benar-benar ingin membalikkan meja untuk melampiaskan amarahnya.


Dia menutup buku yang dia baca dan duduk tegak sebelum berdiri dan mengerang. Bergumam pada dirinya sendiri tentang Rosaline yang terlambat dan bersumpah untuk memberi gadis itu pelajaran setelah dia tiba.

__ADS_1


James mendengus pasrah, meletakkan tangannya ke jendela yang dingin. Di luar sana dunia tampak terbungkus lembut dalam selimut lembut berwarna putih. Salju turun tanpa henti, melapisi semuanya dengan lapisan salju yang baru.


Itu berlangsung bermil-mil. Pemandangan putih cerah tak berujung dan tidak banyak lagi. Dia tahu dia dramatis, tetapi dia yakin. Dia tidak akan bisa ke luar tanpa mengenakan setidaknya lima lapis pakaian agar tetap hangat. Mengingat bulan ini adalah puncak dari musim dingin di Inggris.


Menekan frustasinya lewat kaca di jendela. Dia menggerutu, memelototi salju dengan panas yang cukup untuk mencairkannya saat dia melihat Rosaline keluar dari bis dan berlari tertatih-tatih masuk ke dalam bangunan.


"Gadis itu," gerutunya, menggertakkan giginya sambil mengerutkan kening.


Pintu berdebam keras seiring gadis yang ditunggunya menerobos masuk dengan nafas terengah-engah.


"Kau terlambat," ucapnya dingin, menyilangkan tangan dan mengetuk kakinya di lantai.


"Maafkan aku," Rosaline berkata dengan gusar saat dia muncul. Dia membungkuk ke depan, tangan di atas lutut, dan menarik napas.


James memutar matanya dengan pelan, tidak ingin berurusan dengannya meskipun dia sangat ingin menghukum gadis itu karena membuat mereka terlambat.


"Terserah," kesalnya. Dia berjalan mendekati mejanya hanya untuk menarik setumpuk dokumen dari laci dan menyerahkannya pada Rosaline, menyuruh gadis itu untuk membawanya.


"Sekarang gerakkan kaki kecil mu itu, kita harus pergi ke perusahaan klien untuk menyerahkan proposal. Ya tuhan, karena mu kita terlambat satu jam lebih!"


"Gwah!" teriak Rosaline sambil memeluk dirinya sendiri ketika tiba-tiba hawa dingin menerpa dirinya begitu mereka keluar dari gedung.


"Kenapa kau hanya memakai sweater tanpa jaket di tengah-tengah hari bersalju ini?!" Dia mengomel, menatap Rosaline yang memegang erat dokumen itu di dadanya, menggunakannya sebagai pelindung dari hawa dingin.


Rosaline hanya diam, memelototinya sejenak sebelum mengalihkan pandangannya. Dia terlalu fokus membuat dirinya berhenti gemetar tak terkendali karena kedinginan. Bibirnya bergetar seiring giginya gemeletuk.


"Ayo cepat," Ucapnya, "hentikan bisnya. Mereka tidak akan tahu kalau kita ingin naik jika kita tidak menghentikan mereka."


James mendengus. "Well, kita tidak akan pergi naik bis, bodoh."


Roseline mengangkat sebelah alisnya. "And then?"

__ADS_1


"My car."


Setelah itu, mereka pergi ke halaman parkir. Rosaline tidak percaya dengan apa yang dia lihat begitu mereka tiba dan berhenti di depan sebuah mobil Bugatti berwarna hitam. Rahangnya jatuh, mulut terbuka lebar bersamaan dengan matanya yang membelalak keluar.


"Apa? Belum pernah melihat mobil mahal sebelumnya, Smith?" Dia mengejek, menyeringai ke arah Rosaline yang sekarang mengubah ekspresinya dari kaget menjadi kesal.


Rosaline meludah. "Sombong sekali."


James hanya memutar bola mata abu-abunya, lagi dan lagi. Entah sudah keberapa kalinya dia melakukan itu, semenjak proyek yang mengikatnya dengan gadis berambut brunette itu. Seminggu bersamanya, terkadang membuat James merasa aneh.


"Masuk," perintahnya sambil membuka pintu mobil dan masuk.


"Di kursi depan?" Tanya Rosaline.


James mengangguk. "Tentu saja di kursi depan. Aku bukan sopir pribadi mu."


Awalnya, Rosaline ragu-ragu, merasa cemas sekaligus gelisah. Tentu saja. Dia tidak pernah melupakan satu fakta kalau James adalah pacar Clark dan rasanya tidak tepat baginya untuk duduk di samping pria itu.


Tapi mereka sudah terlambat satu jam karena dia. Jika dia menolak untuk duduk di sampingnya dan masih keras kepala untuk memilih bus, pria itu pasti akan membunuhnya. Jadi, dengan suara ragu-ragu dan berkata 'permisi' Rosaline duduk di samping pria itu.


AC di mobil itu menyentuh kulit Rosaline saat dia menyandarkan punggungnya ke kursi, membuat gadis itu menggigil lagi. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya, mengembuskan napas agar bisa membuatnya tetap hangat meski hanya sedikit.


Bohong jika James tidak menyadari betapa kedinginannya gadis itu. Dia menatapnya lama, dan kemudian berkata, "apakah keluarga mu begitu miskin sampai-sampai mereka tidak mampu membelikan mu jaket yang tebal? Setahuku, aku pernah melihat mu di Anne's Fashion. Asal kau tahu saja, tempat itu adalah butik bergengsi untuk kalangan orang kaya."


Suaranya lebih terdengar mengejek ketimbang peduli dan itu hanya membuat Rosaline menghela nafas kesal. "Yah, aku tidak punya waktu untuk mencari jaket ku di lemari. Jadi di sinilah aku, duduk bersama mu hanya dengan memakai sweater."


"Itu salah mu kau datang terlambat."


Rosaline terkekeh. "Ya, ya, terima kasih sudah mengingatkan saya, Tuan Adler."


James mendengus. Dia membuka pintu mobil disampingnya, membuat Rosaline mengangkat sebelah alisnya saat pria itu pergi ke belakang mobil dan membuka pintu bagasi. James kembali, dan melemparkan jaket puffer ke Rosaline.

__ADS_1


"Gunakan. Aku tidak ingin kau sakit dan meninggalkan ku dengan semua pekerjaan yang seharusnya kau lakukan."


Dengan itu, Rosaline hanya menatap pria itu dengan ngeri. Seolah-olah dia baru saja melihat hantu dengan matanya.


__ADS_2