Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 67


__ADS_3

"Aku senang kau setuju untuk menikah dengannya, James," Floyd menepuk pundak putranya saat dia duduk di sampingnya.


Putranya bertingkah seperti tak suka ketika ayahnya tiba-tiba membicarakan tentang pengumuman pernikahannya dengan Clark. Sejujurnya James tidak ingin menikahi gadis merah marun itu.


Jika bukan karena keselamatan Rosaline yang menjadi jaminan, James tidak akan pernah melakukannya. Tidak pernah dalam hidupnya dia menginginkannya. Dia membenci Clark sekarang dan selalu.


"Hentikan ayah," James menarik tangan ayahnya dari bahunya dan berdiri dari tempatnya duduk.


Namun baru beberapa langkah ia menuju pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang keluarga, Floyd, ayah James kembali berkata.


"Ayah tahu kau mencintai gadis itu. Tapi kau tahu, kan, siapa dia?"


Floyd menatap anak semata wayangnya dengan netra abu-abu yang memancarkan kilatan keseriusan di pupilnya. Dia menyilangkan kakinya sembari menyuruh James untuk kembali duduk dan pemuda itu menurutinya.


Kali ini, laki-laki pirang itu duduk berhadapan dengan sang ayah tidak bersebelahan. Namun baik James dan Floyd, kedua ayah dan anak itu dapat merasakan ketegangan di antara mereka. Seakan-akan ada sebuah tegangan listrik yang memancar dan menunjukkan betapa buruknya hubungan mereka berdua.


"What?" Tanya James sama sekali tidak tertarik untuk mendengar penjelasan sang ayah. Dia menyilangkan tangannya sambil mencari posisi nyaman untuk menyandarkan punggungnya. Selagi sang ayah menatapnya dengan penuh kelelahan.


Pria tua yang juga berambut pirang itu menarik napasnya panjang, sekeras mungkin untuk menahan amarahnya. Dia tahu watak sang anak. Keras kepala, keras, dan juga kasar. Meskipun dalam hati anak itu masih ada kebaikan dan kepedulian di dalamnya.


"Gadis brunnete bermata hijau zamrud yang waktu itu datang ke rumah kita. Kau tahu siapa dia?" Floyd bertanya, masih dengan ekspresi datar seperti papan.


"Kalau yang ayah maksud sebagai keluarga Vreaa, aku tidak tahu," Jawabnya cepat.


Floyd memasukkan tangannya ke dalam saku bajunya dan melihat sekeliling sebelum memusatkan perhatiannya lagi pada putranya. Sekarang, James sepertinya tidak terlalu tertarik ataupun memperhatikannya. Entah pria itu pura-pura membaca majalah atau sesekali menguap.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Floyd menerjang ke sisi putranya di sofa dan merenggut majalah dari tangannya. James mendengus kasar pada serangan itu dan secara naluriah merengut. Dia menggumamkan sesuatu yang tidak masuk akal yang tidak bisa ditangkap Floyd, dan mencakar lengannya.


"Come on, James. Kita sedang mendiskusikan sesuatu yang penting sekarang. Bisakah kau bersikap baik dan memperhatikan ayah mu? Kau bukan anak kecil lagi harus ku ingatkan tata krama," Teriak Floyd dengan marah.


Ketimbang menjawab dan melawan sang ayah seperti biasa, kali ini James memilih untuk diam dan menuruti perkataannya. Dia duduk dengan punggung yang lurus, kedua tangan mengepal di atas pahanya, sementara itu matanya memandang lekat pria tua pirang yang disebut-sebut akan menjadi sosoknya dalam beberapa puluh tahun ke depan nanti.


"Apa yang ingin ayah bahas? Kasus keluarga Vreaa sepuluh tahun lalu atau yang dua puluh lima tahun lalu?" Celetuk James to the point.


Entah bagaimana James bisa menerka apa yang ingin ayahnya diskusikan. Karena bagaimana pun, kasus keluarga Vreaa saat ini sedang marak dan kembali naik daun. Dengan identitas Rosaline dan saudara kembarnya yang terekspos semuanya menjadi kacau balau dan menarik perhatian khalayak.


"Apa yang kau tahu soal dua kasus keluarga Vreaa memangnya, James?" Tanya Floyd dengan nada menantang.


James mengerling malas dan menjawab, "soal ayah yang terlibat dalam dua kasus keluarga Vreaa itu? Aku tahu semuanya."


Belum lagi kasus keluarga Vreaa yang kembali naik ke permukaan setelah diketahuinya identitas kedua anak kembarnya. Padahal di hari insiden pembunuhan itu, Floyd sudah memperingatkan mereka berdua untuk pergi dan tak pernah kembali lagi.


"Kau tahu kan kalau ayah tidak pernah mau melakukan itu?" Floyd berkata, memandang putranya yang juga menatapnya dengan tatapan


datar.


"Kalau ayah tidak mau, lantas kenapa ayah masih melakukannya? Apa gelar the golden money mu lebih penting dari hidup seseorang? Aku yakin ayah tahu kalau kepala keluarga Vreaa itu tidak bersalah."


Floyd menundukkan kepalanya lalu mendongak sambil tersenyum hampa. "Tentu saja. Dari awal Thomas Ben Vreaa tidak pernah melakukan pembunuhan. Seperti kata mu tadi, dia tidak bersalah. He is innocent, James. Tapi dia harus dilenyapkan dari dunia ini."


"Kenapa?" Tanya James, masih dengan ekspresi wajah yang tenang. "Apa karena dia tahu sesuatu tentang the golden money?"

__ADS_1


Floyd melirik ke arah anak semata wayangnya dan kemudian mengangguk. Perkataan James barusan itu benar. Thomas Ben Vreaa mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak dia ketahui.


Awalnya para the golden money sepakat untuk menjebloskan pria itu ke penjara saja dan tidak melenyapkannya. Namun berita pembebasannya hari itu membuat para the golden money pontang-panting ketakutan. Belum lagi jejak pria itu yang tiba-tiba menghilang selama sepuluh


tahun lebih.


Maka dari itu, saat kesempatan datang. Para the golden tak segan-segan lagi dan langsung membunuh Thomas Ben Vreaa di rumah mereka. Tak peduli dengan istri dan anak-anaknya, mereka juga dilenyapkan.


Ya setidaknya itu yang mereka pikirkan. Karena kedua anak kembarnya ternyata masih hidup dan semua itu adalah berkat Floyd yang menyembunyikan mereka di dalam lemari. Menuntun para the golden money agar menjauh dari lemari di mana kedua saudara kembar itu berada.


...•—— ⁠✿ ——•...


Berita itu benar dan Rosaline tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Mulutnya terbuka lebar sementara matanya melotot kaget saat dia tanpa sadar mencengkeram erat tangannya sendiri.


Perlahan, dia menoleh ke Clark yang tersenyum padanya dengan cara arogan. Gadis berambut merah marun itu menyeringai, seolah mengatakan kepada Rosaline bahwa dia menang. Memangnya apa yang sedang mereka kompetisi-kan sekarang?


"Kau sudah melihat beritanya, Rosaline?" kata Clark, memiringkan kepalanya ke sisi lain.


Tangannya menyilang di depan dada saat Rosaline berusaha melepaskan diri dari tali itu namun tidak mudah, karena Clark sudah memastikan tali itu mengikat tangannya begitu erat. Lantas Rosaline menyerah.


Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan dengusan kasar dan juga, samar-samar terdengar umpatan keluar dari mulut gadis itu. Mata zamrud-nya masih mengawasi Clark dengan intens, seolah-olah ingin sekali menggorok leher wanita itu.


"Congratulations then. Semoga kau bahagia," Rosaline berkata lalu meludah ke sembarang arah. "Sekarang lepaskan aku. Aku sudah muak berada di sini."


Clark tertawa. "Oh no Rosaline. Ayah ku tidak akan senang kalau aku melepaskan mu sekarang. Because, since you are a Vreaa, kau pasti tahu sesuatu yang penting dari ayah mu. Dan kami, para the golden money akan membuat mu tutup mulut untuk itu. Tenang saja tidak akan sakit. Kau akan langsung melihat neraka setelahnya."

__ADS_1


__ADS_2