
Itu memang hanya satu kata, tapi kata 'memaafkan' yang diucapkan Rosaline di hari persidangan kala itu merubah segalanya. Floyd Henry Adler dan Riley hanya dijatuhi hukuman selama beberapa tahun.
Sementara itu Jenkins dan para the golden money yang lain harus mendekam di penjara seumur hidup dan membayar atau mengganti rugi milyaran aset yang telah mereka korupsi selama ini.
"Aku minta maaf," Ucap Rosaline, "hanya itu yang bisa ku lakukan untuk membantu ayah mu," Tambahnya.
Asher tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Itu sudah cukup untuk keluarga ku, Rosaline. Terima kasih. Terima kasih banyak, Rosaline," Katanya sembari tersenyum.
Persidangan selesai dan hari-hari Rosaline kembali seperti biasa. Namun ada yang sedikit berbeda. Setiap harinya, cafe Daniel selalu kedatangan karangan bunga atau buket bunga dengan tulisan 'maaf karena tidak mempercayai mu'.
Rosaline menganggap itu sebagai permohonan maaf penduduk Inggris yang tinggal di sekitar mereka setelah menuduh sang ayah sebagai pembunuh selama dua puluh lima tahun ini. Ya sudahlah, pikirnya. Yang penting nama keluarga Vreaa sudah bersih sekarang.
"Kau merindukannya?"
Rosaline menoleh hanya untuk melihat Kaylie memandangnya dengan penuh kesedihan. Gadis itu mendaratkan tangannya di belakang punggung Rosaline, menggosoknya sebelum menarik Rosaline ke dalam pelukan.
"Aku tidak tahu apa yang kau lihat dari anak itu, tapi... Ah sudah lah. Sekeras apapun aku mengatakannya kau pasti tidak akan mendengarkan ku," Jelasnya di telinga Rosaline.
"Memangnya apa yang ingin kau katakan?"
Kaylie tersenyum. "Untuk berhenti mencintainya."
Rosaline mendengus. Dia melepaskan pelukan Kaylie dan menatap wajah gadis itu dengan seksama. Bibirnya perlahan membentuk lekuk senyuman manis, namun siapapun yang melihatnya sekarang, pasti langsung menerka ia sedang bersedih hati.
"Aku tidak mencintainya," Jawab Rosaline.
Kaylie memutar bola matanya malas. "Did you know, secrets are not easily kept hidden from those who cares. Siapapun yang melihat tatapan mu padanya, mereka langsung tahu kalau kau mencintainya. Mungkin mulut bisa berbohong, tapi hati dan mata mu tidak, Rosaline."
Lagi-lagi hanya senyum kecil yang bisa Rosaline pasang. Jujur, perkataan Kaylie barusan berhasil membuat hatinya bersedih. Walau mulut berkata tidak mencintainya, hati berkata lain. Rosaline mencintainya.
__ADS_1
...•—— ✿ ——•...
December 25th.
Christmas day.
Di perjalanan pulang, netra zamrud Rosaline beradu pandang dengan seorang pria bersyal merah di leher tengah berdiri di depan kafe Daniel. Laki-laki itu tersenyum, namun matanya menyiratkan kesedihan.
"Hai," Sapanya.
Rosaline menggigit bibir bawahnya, menundukkan kepalanya, dan menarik rambutnya ke belakang telinga. Gadis itu ingin lewat, tetapi pria itu menghalangi jalannya. Jadi Rosaline berdiri di sana, mengangguk seolah dia membalas sapaannya.
"Lama tidak bertemu," ucapnya.
"Ya. Lama tidak bertemu, James. Sudah lama."
Rosaline tanpa sadar menelan ludahnya sendiri, mencengkeram bajunya erat-erat, lalu
"Tunggu," James memanggil, "Aku ingin mengatakan sesuatu pada mu."
"Kalau begitu katakan. Aku kedinginan di sini."
Mereka terdiam. Alih-alih menatapnya Rosaline memilih menunduk, tidak ingin menatapnya.
"I'm in love with you."
Rosaline tercekat. "A-apa?"
James tersenyum. Ia mencondongkan tubuhnya dan mengalungkan syalnya di leher Rosaline.
__ADS_1
"You may think my feeling is a fraud, but—" dia mengamati wajah Rosaline lalu menangkup kedua pipinya agar iris mata mereka saling bertemu, "—this one is real."
Rosaline terlonjak kaget ketika James tiba-tiba mendaratkan kecupan di keningnya.
"Can you give me a chance to prove it? Sepertinya kau masih tidak percaya dengan apa yang ku katakan," Ucapnya sembari menggenggam tangan Rosaline erat.
"Aku ingin kesempatan," ucapnya lagi, "aku ingin mengulangi semuanya dari awal."
Rosaline tanpa sadar tersenyum simpul. Dia tahu inti dari pembicaraan mereka. Kali ini, dia mengangkat kepalanya dan menatap sepasang kelabu yang selalu membuat hatinya berdebar kencang.
"I'm afraid this is not gonna be easy as you expected."
"Aku tahu, tapi setidaknya kita bisa mencob—"
"Bagaimana?" Potongnya. Oh ****, dia ingin menangis.
"This whole time you've been treating me like crap. Kau bahkan membiarkan mereka menyakiti ku, meskipun kau tahu aku bisa saja mati hari itu. Dan lagi ayahmu. Kalau kau lupa dengan senang hati aku akan mengingatkan. Dia juga punya tanggung jawab di hari ayah dan ibu ku dibunuh."
James terdiam.
"I know it's hard. Selama ini aku selalu membangun tembok kebencian terhadap mu. Aku selalu mengatakan kalau aku membencimu meski aku tahu kenyataannya berbeda. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengatakan perasaan ku tanpa harus menyakiti perasaan orang lain."
Senyuman putus asa di akhir kalimatnya, membuat Rosaline ingin sekali melompat dan memberikannya pelukan hangat. Pelukan terhangat yang mungkin tidak pernah dia rasakan.
"Maaf. aku tidak bi—"
"Please, just one more chance and I'm gonna fix everything." Kepalanya mendarat pasrah di bahu Rosaline, tanpa sadar membiarkan setitik air bening keluar dari matanya. "Aku tidak pernah menyangka kalau kau akan menjadi sepenting ini untuk ku, Rosie."
Dengan itu, Rosaline tak bisa menahan air matanya untuk mengalir. Hatinya terasa dihujani oleh peluru. Sakit dan sangat menyakitkan. Lantas tangannya dengan perlahan melingkar di punggung James dan menariknya ke dalam pelukan.
__ADS_1
"I'm naive. But let's try this."