
...CHAPTER 24...
...PUNISHMENT...
"Dia yang memulai pertengkarannya duluan, profesor," raung Clark, memelototi Rosaline.
Rosaline balas mendesis. Dia mengerang sambil menyilangkan tangannya ke depan dada agak sedikit tersinggung dengan perkataan Clark. "Ya, itu karena dia mengganggu Asher, profesor!" Tambahnya.
Profesor Watson hanya bisa memijat kepalanya pusing. Sejak mereka berdua dibawa ke ruangannya, mereka hanya saling melotot. Keduanya masih terlihat dipenuhi amarah yang meletup-letup seiring beberapa pertanyaan dilontarkan olehnya.
"Miss Riley? Sepertinya bicara dengan kedua orang ini tidak berguna, jadi keberatan menceritakan apa yang terjadi di sana?"
Tidak mendapatkan jawaban dari kedua gadis di depannya, akhirnya profesor Watson beralih ke arah gadis yang gemetar di sampingnya. Ya, gadis itu Asher. Gadis yang memanggilnya saat pertengkaran antara Rosaline dan Clark terjadi di kamar mandi.
Ia tampak ragu untuk menjawab. Dia sesekali mencuri pandang, melirik ke arah Rosaline dan Clark yang tengah memelototinya. Gadis itu tanpa sadar menelan ludahnya sendiri karena gugup.
Karena jujur saja, kejadian di kamar mandi itu terjadi karenanya. Kalau dia tidak ada di sana, tidak! Kalau dari awal dia tidak ada di Westminster, Rosaline dan Kaylie tidak akan terkena masalah.
Kaylie tidak akan diskorsing seperti waktu itu dan Rosaline, entahlah tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
Rosaline menyadari ekspresi khawatir di wajah Asher saat gadis itu sesekali melirik ke arahnya. Dengan senyuman simpul sehangat matahari pagi.
Lewat senyumannya itu Rosaline seolah berkata kalau dia baik-baik saja dan Asher tak perlu mengkhawatirkannya. Jadi lebih baik dia mengatakan yang sebenarnya.
"That's okay," Bisiknya. "I'm fine. Katakan semuanya."
Asher hanya tersenyum tak enak hati membaca gerak mulut Rosaline saat mata mereka berdua bertemu dan menganggukkan kepalanya. Tapi sayangnya perkataan Rosaline barusan sama sekali tak membantu. Sama sekali tak mengurangi perasaan cemas di hatinya.
"Miss Riley? Kau mendengar ku?"
Profesor Watson melambai, dia tahu kalau gadis di sampingnya itu tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Jadi, dengan sisa kesabaran yang masih ia simpan, profesor Watson menyentuh pundak gadis itu dan menarik perhatiannya kembali.
"I-iya profesor," Jawab Asher. Dia memainkan jari-jarinya dan kemudian melanjutkan, "perkataan Rosaline tadi benar, profesor. Dia mengganggu ku."
Tanpa menyebutkan namanya, profesor Watson sudah tahu siapa yang gadis itu maksud. Tentu saja. Clark Sadie Jenkins. Siapa lagi kalau bukan dia.
__ADS_1
Profesor Watson menggeleng pening seiring helaan napas berat keluar darinya. Entah sudah berapa kali dia menghela napas berat seperti itu semenjak Rosaline dan Clark menjadi teman, atau yang lebih tepatnya lagi semenjak si the golden money berada di Westminster.
"Miss Jenkins. Hanya karena kau anak dari seorang anggota the golden money, bukan berarti kau boleh bertindak semena-mena di sini. Aku yakin ayah mu sudah memberi tahu mu soal ini. No more violence in this area, right? Lalu kenapa kau masih melakukannya? Masih berpikir kalau kau orang yang hebat?"
Rosaline bisa mendengar erangan yang datang dari gadis di sampingnya. Dia berbalik hanya untuk melihat Clark memasang ekspresi mengejek ke arah Profesor Watson di saat dia juga memutar bola matanya dengan malas.
Seakan tak peduli dengan perkataan profesor Watson.
"Kau sudah terlibat dalam dua pertengkaran di tahun ini. Mengeluarkan mu bukan keputusan yang tepat. Para dewan kampus pasti akan langsung marah besar, tapi memberikan mu sedikit hukuman sepertinya bukan masalah yang besar.
"Miss Jenkins. Projek besar akan diadakan dalam dua bulan mulai dari sekarang dan di saat projek besar itu berlangsung, kau tidak akan mendapatkan pasangan atau partner untuk membantu mu. Kau akan melakukan semuanya sendiri."
"What the? Profesor! Aku ingin berpasa—"
"Aku tidak peduli. Lagi pula semua orang di sini pasti ingin melihat kemampuan seorang the golden money mengurus sebuah projek. Mereka ingin melihat seberapa sempurnanya the golden money dalam urusan ini."
Rosaline menyeringai, menatap wajah Clark yang terlihat begitu kalah dan malu. Ia hanya mengerang tak suka saat dia berjalan menuju pintu dan pergi ke luar usai membanting pintu dengan keras, meninggalkan Rosaline bersama profesor Watson dan Asher.
"Aku minta maaf karena tidak bisa melakukan apa-apa Miss Riley. Aku tidak punya wewenang untuk itu."
Ya. Siapapun tahu kalau pria itu tak punya wewenang di sana. Bahkan para dewan kampus. Mereka semua berada di bawah pengawasan para the golden money. Semua tindakan dan bahkan keputusan, seakan diputuskan oleh organisasi pemerintahan itu.
"Tidak apa, profesor. Aku baik-baik saja," Ucapnya lembut, "ku mohon, jangan hukum Rosaline. Semua ini terjadi karena ku," tambahnya.
Siapapun yang mendengar suaranya bisa tahu kalau gadis itu frustasi. Tapi sayang, profesor Watson harus menghukum Rosaline, bagaimana pun juga dia yang memulai pertengkaran.
"I'm sorry, miss Riles. Aku harus menghukumnya. Tapi tenang saja, aku akan berusaha agar dia tidak dikeluarkan dari sini. Mungkin skorsing sudah cukup untuk ini."
Klap!
Sesaat pintu ruangan profesor Watson tertutup, Rosaline menghela napas lega.
"Terima kasih, Asher," ucap Rosaline. Senang karena tidak dikeluarkan dari Westminster.
"Sama-sama," jawabnya.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya aku mendengar nama keluarga mu. Apa nama panjang mu kalau aku boleh tahu?"
"Aku Asher August Riley."
...•—— ✿ ——•...
Jadi di sini lah dia sekarang. Berbaring di sofa dan menonton televisi atau mungkin televisi lah yang menontonnya. Karena sejak tadi, ia hanya mengarahkan pandangannya ke sana tanpa memperhatikan. Ia sedang tenggelam di dalam lamunannya.
"Projek apa yang Profesor Watson katakan tadi? Aku tidak pernah mendengarnya."
Rosaline berbalik ketika Daniel melangkah masuk seiring anak tangga berderit. Pria itu terlihat sangat lelah setelah menelepon Julian. Tentu saja, memberi tahunya tentang hukuman yang sedang rosaline jalani.
"Apa yang dia katakan?" Tanya Rosaline penasaran, bertanya-tanya reaksi apa yang dikeluarkan dari Julian setelah tahu apa yang anak asuhnya lakukan.
"Bangga," Jawab Daniel.
Rosaline terkikik geli. Sepintas ia teringat dengan masa-masa sekolahnya dulu. Di mana ia bertengkar dengan teman sekolahnya dan Julian datang dengan tergesa-gesa, memegang pundaknya lalu bertanya, 'siapa yang menang?'
"Well, sounds like him as always."
Daniel tertawa seiring ia mendudukkan diri di samping Rosaline, membawakan gadis itu beberapa makanan ringan dan juga minuman. Ia mengambil remote di meja, mengganti saluran televisi ke saluran lain.
"Kenapa kau memukulnya?" Sambil mengunyah kripik kentang, Daniel bertanya. Sama sekali tak menoleh ke arah Rosaline. "Aku sudah mendengarnya dari Reagan tadi, tapi aku juga ingin mendengar versi mu."
Rosaline cemberut tetapi gadis itu segera menjawab, "Dia mengganggu temanku."
"Bukankah dia temanmu?"
Rosaline diam. "Aku tidak tahu. Aku tidak merasa aku bisa memanggilnya sebagai teman."
"Kenapa?"
"Dia kasar. Sombong. Terlalu bangga pada dirinya sendiri sebagai the golden money, dan aku membencinya. Aku benci dengan kelakuannya."
"Lalu kenapa kau berteman dengannya sejak awal?"
__ADS_1
Kali ini, pertanyaan Daniel hanya dijawab oleh gelengan kepala dari Rosaline. Dia bahkan tidak punya niat menolehkan kepalanya ke arah Daniel hanya untuk melakukan kontak mata saat pria itu melontarkan tatapan bertanya padanya. Karena jujur saja. Sampai sekarang Rosaline tidak tahu kenapa.