
...CHAPTER 44...
...FAMILY IS HOME...
Di pagi hari, mata Rosaline berkedip beberapa kali saat terbuka, menyesuaikan dengan cahaya yang tiba-tiba mengenai matanya. Dia duduk di tempat tidurnya, mengantuk, rambutnya acak-acakan dan bibirnya cemberut saat dia menggosok matanya sebelum terbuka dengan jelas.
"Oh, kau sudah bangun? Selamat pagi, putri tidur," goda James, ketika lelaki itu masuk ke dalam kamar setelah dari kamar mandi, berjalan mengitari meja dan berhenti di depannya.
Rosaline mendongak, alisnya berkerut saat dia melihat tatapan remeh di mata pria itu. "Apa? Apa ada sesuatu di wajah ku? Apa aku ngiler atau aku berbicara ketika aku tidur?" Dia membual, memutar matanya dengan malas saat dia berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi.
"No actually, tapi ada bekas bantal di pipi kiri mu." James menunjuk pipi kirinya sendiri dengan telunjuk, menyeringai senang saat melihat rona merah muda yang tiba-tiba muncul di wajah kecil gadis itu.
"Ngomong-ngomong bagaimana tidur mu semalam, princess? Terlihat sangat nyenyak, bukan? Saking nyenyaknya tidur mu, kau tidak mendengar suara alarm mu sendiri yang besar seperti klakson kapal itu?"
Rona merah muda di wajah Rosaline seketika berubah menjadi merah tua. Rasa panas langsung menyelinap di sekitar pipinya saat gadis itu merasakan rasa malu teramat dalam dari kata-kata pria pirang di depannya.
Ya Tuhan. Inilah alasan mengapa Rosaline selalu meminta Reagan atau Daniel untuk membangunkannya. Karena setiap kali dia menyetel alarm. Alarm selalu berbunyi dan gadis itu selalu tak terbangun.
"Sekarang aku tahu kenapa kau selalu terlambat ke kantor. Kau harus memeriksa telinga mu, aku khawatir ada sesuatu yang salah di dalamnya yang membuat mu tidak bisa mendengar apa-apa saat tidur."
Rosaline tahu kata-katanya barusan bukanlah saran atau pujian, melainkan kata-kata yang mengejek. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya, mengeluarkan tawa malu saat dia menoleh ke arah pria itu hanya untuk menyaksikan seringaiannya.
"Sekarang kau tahu tentang keadaan ku ketika aku tidur, jadi kasihanilah aku. Biarkan aku pergi terlambat ke kantor, jangan marah—"
"Diam. Kau ingin aku mengadukan mu ke profesor mu, ya? Datang tepat waktu ke kantor atau akan ku beri tahu profesor mu tentang hal ini."
Rosaline mengerucutkan bibirnya, memutar matanya saat dia berhenti di pintu kamar mandi depan. "Diam, Adler! I promise I won't late, jadi tutup mulut mu dan jangan katakan apapun pada profesor ku!"
James mengangkat bahu. "It's up to you, Smith. Jika kau terlambat setidaknya 30 menit setelah aku datang, I'll tell your professor about this. Akan ku beri tahu dia kalau kau tidak serius dengan proyek ini."
__ADS_1
"30? Yang benar saja?!" Rosaline shock.
"Ada masalah dengan itu?" James mengangkat sebelah alisnya.
"Tentu saja! Bagaimana mungkin aku harus datang 30 menit sebelum kau datang, huh? Kau pikir lalu lintas tidak macet, huh? Dan lagi aku naik bus, aku harus mengejarnya dulu!"
"Kalau begitu bangunlah lebih awal dari biasanya, bodoh. Dengan itu kau tidak akan terlambat."
Rosaline mengerang kesal. Ia menghentakkan kakinya menuju kamar mandi, meninggalkan pria itu sendirian di kamar dan membanting pintu.
"Kalau kau sudah selesai dengan aktivitas mu di dalam sana, keluarlah dan temui aku di ruang makan. Kita akan sarapan!"
Laki-laki itu berteriak, membuat Rosaline mau tak mau memutar bola mata emerald-nya lalu berteriak 'ya' sebagai jawaban.
Setelah sepuluh menit berlalu, Rosaline keluar dari kamar mandi. Dia melihat sekeliling, mencari sosok James sebelum mengingat kata-katanya untuk bertemu dengannya di ruang makan setelah dia selesai mandi.
Dengan tergesa-gesa tidak ingin membuat pria itu menunggunya lebih lama lagi, Rosaline bergegas ke ruang makan yang terletak di lantai satu, bertemu dengan James yang sudah duduk tenang di mejanya.
Rosaline mengangguk. Butuh waktu yang agak lama bagi gadis itu untuk memutuskan apa yang ingin dia makan untuk sarapan, sebelum akhirnya dia menyimpulkan untuk memesan susu cokelat panas dan juga roti panggang.
"Setelah ini kita kembali, aku tidak peduli apa sebenarnya yang ingin dikatakan orang tua itu kemarin."
"Tidak, kita harus memberitahunya dulu. Bersikaplah sopan, Adler. Apa keluarga mu tidak pernah mengajari mu tentang sopan santun?"
James tertawa. "Sikap? Jangan bicara tentang sopan santun dengan ku, Smith. Aku yakin keluarga ku seratus persen lebih ketat tentang sopan santun daripada keluarga mu. Jadi tutup mulut mu. Jangan bandingkan aku dengan mu."
"Ya, aku seorang rendahan dan kau adalah the golden money. Kita dipisahkan oleh kas—"
"Persetan dengan kasta di dunia ini, sialan. Aku tidak peduli."
__ADS_1
Rosaline menatap wajah pria itu, melihat ekspresi wajahnya ketika dia berbicara tentang keluarganya. Sebenarnya situasi keluarga seperti apa yang laki-laki pirang itu rasakan?
Rosaline sangat ingin bertanya tentang keluarganya, tapi dia tidak tahu betapa rumitnya manusia. James mudah marah setiap kali mereka membahas tentang keluarganya, tapi— well terserahlah. Ini bukan urusan Rosaline.
Setelah sarapan, seperti kata Rosaline, mereka pergi ke Mr. Allen dulu, memberitahunya bahwa mereka akan kembali ke London.
"Terima kasih atas solusinya kemarin, Mr. Adler dan Ms. Rosaline. Saya harap penundaan proyek disetujui oleh Ms. Oliver dan para penanggung jawab proyek di kampus kalian. Have a nice day."
Dengan kereta api, mereka kembali. Rosaline melemparkan pandangannya ke jendela, melihat pemandangan di luar. Dia bersandar di bingkai jendela, sesekali mencuri pandang ke arah James yang kini memejamkan mata dengan tangan bersilang di depan dadanya.
Pria itu tertidur dan Rosaline mau tak mau terpukau dengan lekuk runcing di wajahnya. Bulu matanya yang panjang nan juga lentik, belum lagi hidung mancungnya yang khas orang Eropa. Rasanya, semua yang tercipta untuk pria itu adalah definisi dari kata sempurna.
Rosaline kembali mengalihkan pandangannya dirasa dirinya terlalu lama memperhatikan pria itu. Dia meletakkan telapak tangannya di bawah dagu, sebagai sandaran. Helaan napas lelah mencelos keluar dari mulut kecilnya.
"Family. A home where you can decide who you want to be."
Kedua orang tuanya meninggal dalam insiden itu. Dan pada saat itu terjadi, hanya Reagan lah yang Rosaline miliki setelah mereka meninggal.
Lalu Julian masuk ke dalam kehidupan mereka.
Awalnya, dia adalah orang asing bagi Rosaline dan Reagan. Tapi Julian menjadi lebih dari orang asing seiring waktu berlalu. Dia menjadi keluarga. Sebagai sosok ayah yang harusnya mereka dapatkan selama hidup mereka. Tapi insiden itu merenggut semuanya.
"Aku harus bertanya pada Reggie tentang tujuan kita ke London. Aku penasaran, apa dia masih mengingatnya? Aku ingin tahu apa yang Julian sembunyikan tentang negara ini, terutama tentang orang tuaku. Aku merasa dia menyembunyikan sesuatu. Dan aku ingin untuk menemukan kebenaran—"
Rosaline membeku. Tiba-tiba matanya dipenuhi teror, seolah-olah dia baru saja menyaksikan pembunuhan berantai. Perlahan, dia memutar kepalanya, menghadap bahunya di mana kepala berbaring dengan damai di sana.
Beberapa helai rambut pirang dari kepala itu menyentuh hidungnya, mengusapnya lembut dan memberikan sensasi geli di hidungnya.
"Ad—adler?" Lirihnya namun pria pirang itu tidak terbangun.
__ADS_1
Sama sekali tidak ada tanda-tanda darinya untuk bangun dari tidurnya yang tenang walau Rosaline sudah mengguncang bahunya. Berat tubuh laki-laki itu seketika bersandar di tubuh mungil Rosaline, mau tak mau menghimpit Rosaline ke dinding kereta.
Dengan perasaan canggung sekaligus takut dan debaran kencang nan cepat di dadanya, Rosaline membiarkan laki-laki itu bersandar di bahunya. Biarlah, pikirnya. Apa yang akan terjadi setelah dia terbangun biarlah terjadi.