
...CHAPTER 61...
...PAST (1)...
Kakinya gemetar seolah sudah tak kuat lagi bertahan. Semua sendi dan ototnya pun mendukung, berteriak kelelahan menyuruhnya untuk berhenti. Namun sayang, gadis berambut brunette itu bersikeras untuk terus berlari. Tetap memaksakan diri walau kadar oksigen di paru-paru mulai perlahan menipis.
"Aku benci berlari!" kata Rosaline dengan gusar saat dia berhenti.
Tubuhnya membungkuk ke depan dengan tangan di atas lutut dan sesekali menarik napas.
Akhirnya, setelah melintasi jalanan panjang atau berkilo-kilo meter, Rosaline akhirnya berhenti. Kepalanya mendongak memperhatikan palang nama rumah Smith sementara tangannya dengan gemetar meraih kenop pintu.
Pada saat dia masuk, Rosaline tidak menemukan siapa pun di sana. Tidak ada tanda-tanda kehadiran dari Julian, Reagan, ataupun Daniel, melainkan hanya ada suara barang pecah yang
tiba-tiba terdengar dari lantai atas.
"Suara apa itu?" Lirihnya.
Rosaline tanpa sadar meneguk ludahnya sendiri. Tangannya mengepal kuat, tapi tak sekuat di toko kopi tadi. Perlahan, Rosaline memaksakan kakinya yang masih kelelahan setelah habis berlari berjalan menyusuri anak tangga dan pergi ke lantai dua.
Entah kenapa mendengar sesuatu yang pecah bukanlah pertanda yang baik. Selalu mengingatkannya dengan kejadian buruk.
Rosaline menyembulkan kepalanya dari balik pintu, mengintip ruangan di mana suara barang pecah tadi berasal. Seketika, pada saat dia melihat ke dalam ruangan itu, Rosalina tak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya.
Di sana. Julian dengan tangan bercucuran darah berdiri di antara pecahan beling vas bunga kesayangan Daniel. Reagan berdiri tak jauh dari mereka berdua, terlihat shock, sementara Daniel tengah memegangi Julian yang mengamuk seperti banteng.
"Hentikan Julian!" Teriak Daniel.
Tangannya yang memeluk tubuh Julian semakin mengencang, mencoba menghentikan pria itu untuk menghancurkan barang-barang di sekitar mereka.
"Lepaskan aku Daniel! Akan ku bakar hidup-hidup para the golden money itu!"
Meski sudah sepenuh tenaga menghentikannya, Daniel masih kalah saing dengan perbedaan tubuh Julian yang dominannya memang lebih besar darinya. Sehingga membuat pria itu bisa dengan mudahnya melepaskan diri dari kungkungan Daniel.
"Come on, Julian! Pull yourself together!" Teriaknya, tepat di telinga Julian.
Alih-alih berhenti, Julian malah semakin bringas. Bahkan dari kejauhan lima meter Rosaline bisa melihat percikan kebencian yang muncul di mata laki-laki itu. Memandang ke segala arah seolah siap untuk membakar hidup-hidup orang yang dia benci.
Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Rosaline melangkah mendekati ketiga pria itu. Tangannya yang gemetar ia bawa mendekat ke mulut, membuatnya seperti berbentuk corong dan kemudian berteriak, "STOP IT!"
Semua atensi di ruangan itu lantas tertuju padanya begitu suara cempreng miliknya terdengar dan sekejap memenuhi ruangan.
Ketiganya langsung diam. Sudah tak ada lagi umpatan-umpatan yang keluar dari mulut Julian saat dia sadar dengan kehadiran Rosaline di dekatnya.
__ADS_1
"Rosie?" Lirihnya.
"Apa yang kau lakukan Julian! Kau menghancurkan vas bunga kesayangan Daniel!" Marahnya.
"Ti—tidak apa, Rosie. Toh itu hanya vas bu—"
"Apa kau marah karena berita itu? Apa berita itu membuat mu marah, Julian?"
Rosaline bisa melihat ketika Daniel perlahan melonggarkan pelukannya serasa Julian kembali tenang. Pria itu berdiri tepat di belakang Julian. Sama seperti Reagan dan Rosaline, Daniel juga menunggunya menjawab.
"Berita apa yang kau maksud, Rosie?" Celetuk Reagan.
Tanpa basa-basi atau menjawab pertanyaan sang kembaran, Rosaline langsung merampas remote tv yang ada di atas meja dan langsung menyalakan televisi. Seketika berita tentang pembunuhan keluarga Vreaa memenuhi ruangan itu kembali.
"Kasus pembunuhan dua puluh lima tahun lalu yang melibatkan keluarga Vreaa? Apa maksudnya ini, Julian?"
"Itu kasus pembunuhan yang membuat ayah kalian dipenjara. Aku sudah pernah bilang kan kalau aku dulu adalah teman satu sel ayah kalian?"
"Ya. Tapi kau tidak pernah memberi tahu kami kebenarannya."
Julian mengerut. "Thomas ingin aku menyembunyikannya."
Atmosfer di sekitar mereka seketika mencekam. Baik Rosaline maupun Reagan dan Daniel bisa merasakan aura gelap yang muncul dari tubuh Julian.
"Elijah dan juga Daniel."
"Jadi ibu kami dan kau tahu soal itu, Daniel?"
Daniel mengangguk pasrah.
"Kenapa tidak ada yang memberitahu kami soal ini?"
Rosaline dengan cepat menggenggam tangan Reagan saat pria itu berjalan mendekat ke arah Daniel dan Julian. Mata mereka saling terpaku. Lengket seolah diberi lem.
"Seperti yang ku katakan barusan, Thomas ingin aku menyembunyikannya dari kalian berdua. Cukup kami, orang-orang the golden money itu, dan ibu mu yang mengetahuinya."
"Apa kejadian sepuluh tahun lalu juga terjadi karena hal ini? Keluarga korban tak terima karena ayah dibebaskan dan mereka membantai keluarga kami?"
Julian menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Dari awal tidak ada keluarga korban, Reggie. Thomas dijebak oleh the golden money sialan itu!"
"Dijebak? Memangnya ada hubungan apa ayah dan the golden money?"
Julian melirik ke arah Daniel. "Should I?"
__ADS_1
"Up to you. Kalau memang sudah waktunya, beritahu lah mereka Julian."
...•—— ✿ ——•...
25 tahun yang lalu.
"Lepaskan!"
Julian yang saat itu tengah terlelap, terbangun
kejut tatkala suara pintu sel terbuka kasar dan laki-laki berkepala brunnete dimasukkan secara paksa ke dalam. Dia memperhatikan laki-laki itu dan dua penjaga penjara yang saling beradu mulut.
Berbagai kata-kata umpatan keluar dari mulut masing-masing. Dan terlihat tidak ada tanda-tanda dari mereka bertiga untuk mengalah dan berhenti. Lantas, Julian menganggap itu sebagai tontonan menarik.
Dia memperbaiki posisi duduknya dan bersandar di dinding belakang, menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan nyaman untuk kepalanya bersandar. Matanya terus memperhatikan ketiga orang itu sampai akhirnya salah satu dari penjaga penjara meludah dan pria brunnete itu terdiam.
"Diam! Kau akan mendekam di penjara ini selamanya sialan!"
Malam itu, Julian sama sekali tak bisa tidur. Raungan pria brunnete malang itu terus terdengar di telinganya. Dia terus berteriak, memanggil-manggil para penjaga untuk membukakannya pintu sel dan melepaskannya.
Kasihan kalau ingin Julian menggambarkan kondisinya malam itu. Karena seberapa keras pria itu berteriak —bahkan hingga suaranya menghilang— takdir tak pernah berpihak padanya. Telinga para penjaga seakan tersumpal kapas yang amat tebal, yang artinya tidak ada satupun dari mereka yang menggubrisnya.
"Hentikan!" Seru Julian, berharap agar pria itu berhenti meraung-raung.
Mata mereka tiba-tiba terpaku satu sama lain. Saat itu, Julian sangat ingin tertawa ketika melihat wajah pria brunnete di hadapannya terlihat sangat menyedihkan. Air matanya terus berlinang, deras seakan sudah tak ada lagi penahan di sana.
"Kenapa?"
"Mereka tidak akan pernah mendengarkan mu. Jadi diamlah! Aku mau tidur!"
"Tidur saja kalau begitu!" Ketusnya.
Julian merasa matanya berkedut karena kesal. Ini pertama kalinya ada seseorang yang berani menjawabnya dan juga, ini pertama kalinya dia ingin sekali memukul kepala pria itu alih-alih membunuhnya.
"Aku tidak bisa tidur karena suara raungan mu yang seperti perempuan itu!" Balas Julian, emosi.
Pria brunnete itu diam. Isakan tangisnya yang
tadinya terdengar menyebalkan perlahan menghilang. "Maaf," Celetuknya dan duduk membelakangi Julian.
Entah bagaimana dan kenapa, hati Julian seakan diperas bagai kain jemuran. Ada sesuatu di dalam hatinya yang marah karena membuat pria itu berhenti menangis. Ya mungkin saja dia adalah korban sepertinya. Anggap saja sebagai tumbal.
"Aku Julian Nolan Torres. Kau siapa?"
__ADS_1
Laki-laki itu perlahan mengarahkan kepalanya ke arah Julian, namun tak sepenuhnya berbalik. "Aku Thomas Ben Vreaa."