
...CHAPTER 13...
...THE THREAT...
"Kau menghindari ku?"
Rosaline berbalik melihat ke arah Clark yang duduk di sebelahnya. Ia menggelengkan kepalanya cepat dan berkata, "what a foolish question, Clark. Aku sama sekali tak menghindari mu."
Clark memicingkan matanya menatap sinis ke arah Rosaline. "Benarkah? Well aku sadar kalau kau tidak pernah memperhatikan ku akhir-akhir ini."
Rosaline menghela napas panjang. Ia menyodorkan buku yang sejak tadi ia baca kepada Clark lalu menyuruh gadis itu untuk membacanya.
"Kau tahu sendiri profesor Watson seperti apa. Tugas darinya itu tidak ada yang mudah. Kau tahu sendiri, kan betapa sulitnya membuat animasi visual? Otak ku ingin meledak rasanya," Eluh Rosaline.
"Jadi kau menghindari ku selama dua Minggu lebih ini karena tugas darinya?" Selidiknya.
"Oh my god, mau sampai kapan aku mengatakan ini pada mu. Listen, Clark, aku sama sekali tidak menghindari mu. Itu hanya perasaan negatif mu saja."
Dia memijat kepalanya agar terlihat pusing meskipun dalam hatinya ia bernapas lega. Senang kalau Clark akhirnya percaya dengan perkataannya barusan.
Well. Sejak kejadian di mana Clark mengancamnya Rosaline tak bisa berbohong pada dirinya sendiri kalau dia memang sedang menghindari Clark. Walaupun begitu dia tidak bisa menunjukkannya secara terang-terangan.
Rosaline meraih buku yang ada di tangan Clark lalu membacanya lagi, mengabaikan sosok Clark yang sedang memainkan rambut ikalnya dengan bersenandung.
"You know? Aku bisa menyuruh ayah ku untuk melaporkannya ke dewan pendidikan agar izin mengajarnya dicabut. Dengan begitu kita tidak akan mendapat tugas apa pun darinya lagi."
Rosaline menatapnya horror, giginya menekan kuat hingga membuat garis rahangnya mengeras.
"Don't. Even. Think. About. It. Clark. Walaupun profesor Watson sering memberi banyak tugas dan detensi, aku masih ingin lulus dari Westminster dengan nilai terbaik di mata kuliahnya," oceh Rosaline menekan tiap katanya di awal.
Clark mendengus, matanya mengerling malas ke atas. "I can buy it. Nilai seperti ini mudah dipermainkan."
__ADS_1
"Untuk orang seperti mu, tentu saja, tapi tidak dengan kami. Setelah lulus dari sini, kau pasti akan melanjutkan bisnis keluarga mu. Sementara kami harus berjuang keras untuk melanjutkan hidup."
"Kau bisa bekerja menjadi asisten pribadi ku," tawar Clark dan Rosaline segera membuat tanda silang dengan tangannya di depan dada.
Gadis itu menggeleng cepat. Saking cepatnya Rosaline bersumpah dia bisa mendengar suara gertakan tulang di lehernya. "Aku mau jadi arsitek ternama, bukan asisten pribadi," Balasnya sambil tertawa canggung.
Dia tanpa sadar menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal, perlahan menggerakkan matanya ke arah lain hanya untuk menghindari tatapan menyelidik Clark yang menuntut.
"Well kalau begitu kau bisa jadi arsitek pribadi perusahaan keluarga ku. Soal bayaran jangan khawatir, kami akan membayar mu sepuluh kali lipat dari pekerjaan arsitek biasa."
Rosaline langsung memasang senyum hambar. Dalam hati dia menjerit. Rasanya ingin sekali dia melakban mulut Clark yang membicarakan tentang kekayaan keluarganya. Nah bukan iri yang dia rasakan, melainkan kemalasan yang sudah membabi buta di dalam hatinya.
"Ya, ya, let's the fate take control of it," balas Rosaline dia membalik halaman baru dibukunya dan membacanya.
"Aku tidak suka cara orang-orang rendahan itu melihat ku."
"Apa?" Rosaline bertanya.
Clark menunjuk ke arah mahasiswa laki-laki yang berdiri jauh dari mereka. Tatapannya sedikit sinis, kerutan di dahinya jelas terlihat, dan bibirnya mengerucut.
Rosaline memutar bola matanya malas lalu kembali fokus dengan buku bacaan di tangannya, mencoba mengabaikan eksistensi Clark sejenak. Namun, baru beberapa menit terlewati, fokusnya kembali terpecah dan gadis di sebelahnya kembali berbicara.
"Apa mereka lupa, huh, siapa aku? Aku ini anak anggota the golden money. Derajat ku lebih tinggi dari mereka semua. Dasar orang rendahan."
Kali ini Rosaline menaruh perhatian kepada Clark. Sudut bibir gadis itu terangkat, menunjukkan ekspresi ketidaksukaan. "Kau harus berhenti memanggil mereka dengan sebutan itu."
"Why? They worth it."
"No! Sudah kubilang kan tidak ada yang pantas dipanggil seperti itu? Bahkan kalau orang itu lebih rendah dari mu sekalipun."
Clark mendesis. Rosaline kembali terkesiap melihat mata Clark yang tiba-tiba menggelap.
__ADS_1
"Dan sudah ku bilang, kan, aku paling tidak suka jika ada orang yang memerintah atau melawan ku?" Dia menatapnya sinis, "tak peduli siapapun mereka. Entah itu teman atau keluarga ku sendiri, aku tidak peduli. Aku tidak akan segan membuat mereka membayar karena sudah melawan ku."
Rosaline tersenyum hambar. Dia mengingat perkataan Clark waktu itu. Rasanya deja-vu.
Tepat sebelum Rosaline membalas perkataan Clark. Keduanya sontak menaruh perhatian mereka ke arah koridor saat suara teriakan histeris nan melengking menyeruak masuk ke dalam telinga mereka bersamaan.
Kedua perempuan itu saling berpandangan sejenak sebelum Clark memasang ekspresi marah nan tak suka, sementara Rosaline hanya bisa tersenyum miris.
Di sana. James Orion Adler berdiri dan dikelilingi oleh kerumunan wanita di dekatnya. Wajah laki-laki itu datar namun matanya memandang kerumunan di dekatnya dengan sinis, dingin seperti es.
Rosaline memandang Clark seiring gadis itu berdiri dan berjalan mengarah James. Dia lebih memilih untuk duduk diam di tempat ketimbang mengikuti Clark. Nah dia tidak mau terlibat dengan pertengkaran yang akan Clark ciptakan di sana.
"Minggir!" Clark berseru. Suaranya menggema, bahkan Rosaline yang berada jauh dari mereka bisa mendengarnya.
Clark melambaikan tangannya membuat gestur mengusir. Sontak para wanita yang mengelilingi James langsung menyingkir.
"Ada urusan apa kalian dengan kekasih ku?"
Para wanita itu serentak mengerutkan dahinya masing-masing dan berdecak tak suka, tepat setelah Clark dengan mesranya melingkarkan tangannya di lengan James dan bergelayut manja di sana.
Rosaline. Yang memandang mereka dari kejauhan hanya bisa menghela napas. Jujur saja, hubungan romantis yang terjalin di antara Clark dan James sudah bukan rahasia lagi, melainkan sudah menjadi konsumsi khalayak umum.
Entah itu di Westminster atau bahkan di seluruh penjuru Inggris dan dunia.
"Ya. Tentu saja. The golden money. Bagaimana bisa aku lupa tentangnya dan berpikir hanya Clark lah yang terkenal di sini," Rosaline terkekeh. Dia menutup buku yang ia baca dan meletakkan buku itu di samping tubuhnya.
Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi menatap lurus ke arah Clark yang sekarang tengah berkoar-koar seperti burung. Seketika kepalanya langsung teringat tentang James. Tentang pria itu yang bersama dengan wanita lain di Westgate.
Rosaline ragu. Haruskah dia memberi tahu Clark kalau dia melihat James bersama wanita lain waktu itu? Dia seratus persen yakin kalau wanita itu bukanlah Clark. Mengingat rambut wanita itu yang berwarna coklat terang sementara Clark berwarna merah maroon.
"Haruskah?" Dia bertanya pada dirinya sendiri sebelum tertawa miris dan mengayunkan tangannya ke udara, "tidak, tidak. Jangan sekarang. Aku sedang tidak ingin terlibat drama percintaan mereka."
__ADS_1
Rosaline menghela napas pasrah. Dia tahu. Seberapa keras dia mencoba, besar kemungkinan baginya terhindar dari masalah yang mungkin akan dia temui di masa depan karena kedua pasangan itu.
Tapi setidaknya bukan hari ini. Dia belum siap menghadapinya.