
...CHAPTER 12...
...ASHER...
"Minggir, nerd!"
Rosaline terbelalak. Dia terdiam menyaksikan Clark dengan sengaja menyenggol bahu seorang perempuan yang berdiri menghalangi jalan mereka, membuat buku-buku yang ada di pelukan perempuan itu berjatuhan ke lantai.
"Kau?!" Seru Clark.
Rosaline mengerut heran melihat reaksi Clark yang melototkan matanya lebar begitu dia melihat wajah perempuan itu.
Penasaran. Rosaline pun bergerak maju beberapa langkah hanya untuk melihat wajah perempuan itu. Dia langsung menghela napas pasrah dan tersenyum hambar saat mendapati siapa perempuan di hadapannya ini.
Perempuan itu. Perempuan berkaca mata yang waktu itu Rosaline temui di ujung koridor.
Dia memijat keningnya pelan bertepatan dengan rasa pusing yang langsung melanda kepalanya. Padahal baru beberapa hari perempuan itu bertemu dengan Clark dan berurusan dengannya.
Dan sekarang dia malah berurusan dengan Clark kembali. Oh tuhan. Betapa malangnya nasib perempuan itu sampai-sampai harus berurusan dengan Clark berulang kali.
Rosaline melirik ke arah Clark yang sekarang memancarkan kilatan amarah mendalam dari matanya. Rasanya dia bisa membayangkan sebuah tanduk muncul di atas kepala Clark seiring asap putih keluar dari hidungnya.
Persis seperti seekor banteng, pikirnya.
"Siapa dia Clark?" Rosaline bertanya. Dia mengedipkan matanya sebelah ke perempuan berkacamata itu, menyuruhnya untuk berpura-pura untuk tidak saling mengenal.
"A peasant who's gonna ruined my day," cibirnya, memutar bola matanya malas.
Rosaline mengalihkan perhatiannya ke arah kaca mata perempuan itu yang dilapisi oleh lakban putih, seiring perempuan itu berjongkok untuk mengumpulkan buku-bukunya kembali.
Dengan rasa kemanusiaan yang bergejolak di dalam hatinya, Rosaline berinisiatif untuk membantu perempuan itu.
Baru beberapa inci dia membungkukkan tubuhnya, niat baiknya seketika terhenti bertepatan dengan tangan Clark yang tiba-tiba menahannya dan melayangkan tatapan menusuk ke arahnya.
__ADS_1
"Don't you dare help that peasant, Rosaline!" Ketusnya.
Rosaline mengerutkan keningnya heran, menatap Clark dengan tatapan bingung. "Kenapa?" Tanyanya polos.
Dia menatap lama ke arah Clark yang masih memelototinya sebelum mengalihkan perhatiannya ke gadis berkacamata di dekatnya, yang kini tengah sibuk merapikan bukunya. Lalu kembali menatap Clark lagi.
"Karena orang rendahan sepertinya tidak pantas mendapatkan pertolongan," jawab Clark dingin. Dia mengalihkan perhatiannya ke arah perempuan berkacamata itu, menatapnya rendah persis seperti seorang raja yang buta karena kekuasaan.
Rosaline. Kerutan di dahi gadis itu semakin terlihat jelas. "Apa maksud mu tidak pantas? Dan kenapa kau memanggilnya 'orang rendahan'? Did you know how rude that word is?"
Iris emerald-nya melembut, menatap Clark dan perempuan berkacamata itu bergantian. Rosaline terkesiap saat Clark tiba-tiba menghempaskan tangannya dan tersenyum licik ke arahnya.
"Rude?" Clark tertawa. Dia menyilangkan tangannya ke depan dadanya, sama sekali tak repot-repot menjawab pertanyaan rosaline, "of course not. Dia pantas ku sebut begitu," sindirnya, lalu kembali tertawa.
"Pantas? Tidak ada yang pantas dipanggil seperti itu Clark."
Rosaline mengangkat pandangannya hanya untuk mendapati Clark menatapnya rendah.
"Kalau kau lupa aku adalah seorang the golden money, Rosaline, dan rakyat jelata yang menerima beasiswa sepertinya bukan apa-apa di hadapan ku."
"Walaupun kau adalah anak dari anggota the golden money. Bukan berarti kau boleh menyebut mereka sebagai rakyat jelata atau orang rendahan. Kita semua sama, Clark," balas Rosaline.
Dia menyadari tatapan sinis yang Clark berikan seiring dirinya membantu perempuan di dekatnya mengumpulkan buku-bukunya di lantai, namun Rosaline mengabaikannya.
"Kau harus minta maaf padanya, Clark," Perintah Rosaline.
Tepat sesaat Rosaline ingin melanjutkan perkataannya setelah dirasa tak ada respon apapun dari Clark. Ia merasakan tarikan lembut di ujung celananya. Lantas Rosaline menundukkan kepalanya, melihat perempuan itu yang menggelengkan kepalanya.
Seakan menyuruhnya untuk berhenti bicara.
"Maafkan aku," perempuan itu berkata dan membuat Rosaline mengerut heran.
Seharusnya Clark lah yang meminta maaf, bukan dia. Clark lah yang mendorong bahunya duluan membuat semua bukunya jatuh dan bahkan lebih buruknya lagi Clark menyebutnya orang rendahan. Perkataan kasar yang seharusnya tidak dia ucapkan.
__ADS_1
"Aku minta maaf karena menghalangi jalan mu," Ucapnya lagi. Dia membungkukkan tubuhnya meminta maaf sebelum berlari menyisakan mereka berdua sendirian di koridor.
Rosaline berbalik ke arah Clark. "Seharusnya kau minta maaf padany—"
"I don't like you attitude, Rosaline," potong Clark, "Aku paling tidak suka jika ada orang yang memerintah atau melawan ku. Tak peduli siapapun mereka. Mau dia teman atau keluarga ku sendiri, aku tidak peduli. Aku tidak akan segan membuat mereka membayar karena sudah melawan ku."
"Tapi kali ini, kau ku maafkan."
Dia menghentakkan kakinya menjauh meninggalkan Rosaline yang masih membeku di tempatnya berdiri. Ia melirik ke arah sebuah kartu identitas mahasiswa yang tergeletak tak jauh darinya dan kemudian mengambilnya.
"Jadi namanya Asher? Well akan ku kembalikan saat bertemu dengannya lagi," gumamnya membaca kartu identitas yang ternyata milik perempuan berkacamata itu.
...•—— ✿ ——•...
Di hari yang sama, setelah Rosaline memutuskan untuk menghindar dari Clark sementara, ia berjalan masuk ke dalam perpustakaan. Gadis itu menarik sebuah buku bersampul keras usai menatap rak buku tersebut untuk waktu yang lama, lalu mendudukkan dirinya ke tempat duduk perpustakaan.
Dia membalik tiap halaman buku itu dan membacanya dengan seksama. Sejak tadi Rosaline terus mencari keberadaan Asher. Namun sayang, perempuan berkacamata itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Bahkan setelah Rosaline repot-repot menunggunya di depan kelasnya hanya untuk memberikan kartui identitas miliknya.
Rosaline mengalihkan perhatiannya dari buku yang ia baca saat seorang wanita tiba-tiba duduk di hadapannya. Dia memperhatikan wanita itu yang menggunakan headphone. Rambut hitam panjangnya jatuh dan hampir menutupi seluruh wajahnya.
Ketika wanita itu menyelipkan beberapa helai rambutnya ke telinga, Rosaline merasa deja-vu. Entah kenapa Rosaline merasa ia pernah melihatnya, tapi tak tahu di mana.
Rosaline menatap ke arah buku yang wanita itu baca dan seketika ia terbelalak. Matanya langsung melotot lebar dengan pupil mata yang bergerak gelisah dan ekspresi wajah horror.
Di sana. Tertulis 'How to deal with a bully' di depan halaman sampul bukunya. Rosaline tercengang. Benaknya bertanya-tanya apa wanita itu juga dibully sama seperti Asher.
Rosaline kembali mengerutkan keningnya. Dia ingin mengajak wanita di depannya itu berbicara, sekedar bertanya siapa yang telah membully-nya. Namun niatnya terhenti tepat saat dia sadar kalau dia tidak akan bisa melakukan apa-apa.
Dia tidak akan bisa membantunya.
Bagaimana kalau wanita itu berada di fakultas yang berbeda dengannya? Bagaimana pula kalau ternyata wanita itu adalah murid beasiswa? Clark pasti akan menertawakannya atau bahkan yang lebih buruknya lagi merundung wanita itu.
__ADS_1
Dia pasti akan melakukan hal yang sama padanya, persis seperti yang ia lakukan kepada Asher. Dan Rosaline tidak mau hal itu terjadi.