Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 50


__ADS_3

...CHAPTER 50...


...I WANNA BE YOUR FRIEND...


Pada saat Rosaline dan Jordan akhirnya mengambil vodka dari James. Pria pirang itu hanya bisa merosot ke meja. Mulutnya mengerucut, cemberut, saat Rosaline menyuruhnya untuk berhenti minum.


"Jangan menatap ku seperti itu, Adler. Your puppy eyes tidak akan mempengaruhi ku sama sekali," sindir Rosaline. Tangannya menyilang di depan dada saat suara erangan kesal keluar dari mulut laki-laki pirang di depannya itu.


Sungguh. Sungguh aneh melihatnya cemberut seperti anak kecil. Sangat tidak cocok untuk wajah aristokrat-nya yang selalu mengeras dalam ekspresi kesombongan yang setiap kali dia pasang saat berjalan atau berpapasan dengan orang banyak.


"James. Jangan Adler!" Celetuknya, "Kau bukan ayah ku yang selalu bisa mengatur ku kapan pun kau mau. Beri aku vodka sialan itu sekarang dan kita selesai. Aku tidak akan marah pada mu."


Seakan tak mendengar ocehan pria pirang itu, Rosaline kembali menyesap mocktail-nya dengan tenang.


"Abaikan dia, Jordan. Jangan beri dia minuman apapun lagi selain air putih. Dia mabuk," tukas Rosaline sedikit tegas. Sehingga membuat Jordan mau tak mau akhirnya mengangguk dan menurut.


Mereka berdua melanjutkan perbincangan mereka yang belum selesai. Mengabaikan eksistensi pemuda pirang itu yang sekarang tengah menghentak-hentakkan meja seperti anak kecil sambil berteriak kepada Jordan untuk membawakannya satu botol Vodka lagi.


"Apa dia sering seperti ini?" Rosaline bertanya sambil memperhatikan Jordan yang sedang menghitung sesuatu.


Seolah tahu maksud dari perkataan Rosaline, bartender tampan itu mengangguk. Bibirnya membuat lekukan senyum tak nyaman sembari matanya menatap sekeliling. Seolah-olah memastikan tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. Beruntung musik di bar belum kunjung berhenti.


"Seperti yang ku katakan tadi, dia sering ke sini bersama perempuan bernama Oliver itu. Biasanya mereka ke sini saat ada masalah saja."


"Dan mabuk sampai seperti ini?" Mata emerald-nya melirik ke arah James, memastikan kalau pria itu baik-baik saja dan masih duduk tenang di sana.


Jordan kembali mengangguk. "Temani saja. Sebentar lagi dia pasti akan bercerita. Sebagai bertender di bar ini aku sudah sering mendengar keluh kesah mereka berdua."

__ADS_1


Mengangkat sebelah alisnya, Rosaline bertanya-tanya apa maksudnya perkataan Jordan barusan. Ia membuka mulutnya untuk bertanya namun sayang. Tanpa ia sadari, Jordan sudah berjalan menjauh dari mereka berdua dengan senyuman penuh arti. Senyuman yang seolah berkata 'you've got this.'


Dia menatap lama ke arah bartender, bertanya-tanya apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia berbalik hanya untuk melihat James menatapnya dengan mata yang dalam. Seolah-olah dia adalah sesuatu yang diinginkan pria itu.


Tersentak dari lamunannya, Rosaline berniat untuk ke kamar mandi. Mencoba menjernihkan pikirannya terlebih dahulu sebelum menghadapi James lagi. Tapi, baru beberapa langkah Rosaline merasakan sesuatu yang hangat di tangannya.


Perlahan, gadis itu mengarahkan matanya untuk mengamati kehangatan yang tiba-tiba ada di sekitar tangannya. Matanya menyempit. Begitu dia mendapati sebuah tangan kekar tengah mencengkramnya dengan posesif.


Well, Rosaline bahkan tidak perlu repot-repot lagi mendongak hanya untuk memastikan tangan siapa itu. Karena dia tahu siapa pelakunya.


"Stay."


Suaranya parau, seolah-olah pria itu siap untuk menangis.


Rosaline menegang di sana sebelum mengangguk dan berjalan ke kursinya kembali. Dengan tangan kekar yang masih di lengannya, Rosaline berusaha membuka mulutnya. Ingin berbicara, tapi tidak ada kata yang keluar. Dia terlalu tertegun untuk berbicara.


Rosaline tidak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa. Membiarkan sosok pria pirang di depannya meremas tangannya dengan lembut.


Mata mereka terpaku satu sama lain seperti lem. Abu-abu bertemu dengan zamrud. Dengan jarak sedekat itu, Rosaline bisa melihat warna biru yang melingkari mata abu-abu pria itu. Cantik, pikirnya. Bersinar di bawah naungan cahaya yang terang.


"Kamu mabuk, Adl— maksud ku James," dia cepat-cepat mengganti panggilannya saat James melemparkan tatapan membunuh ke arahnya. "Lebih baik kau pakai taksi untuk pulang. Tenang saja aku akan menyuruh Oliver untuk mengambil mobil mu di sini."


James menggelengkan kepalanya. "Aku belum mau pulang. Tolong, bisakah kita tetap di sini sedikit lebih lama? Aku butuh kedamaian."


Rosaline memutar matanya dengan malas. Mengejek. Bagaimana mungkin James bisa menyebut tempat ini sebagai kedamaian sementara musik di bar sekarang sangat lah keras. Saking kerasnya membuat jantung berdebar tak nyaman.


"Aku selalu datang ke sini setiap kali aku bertengkar dengan ayah ku atau clark. Mereka berdua benar-benar menyusahkan. Selalu menyudutkan ku dengan pendapat mereka yang tidak berguna."

__ADS_1


"Pendapat tentang apa?"


"Kasta," katanya, "tentang kasta di dunia sialan ini. Mereka selalu menyuruh ku untuk bersikap kejam kepada orang lain yang kastanya lebih rendah dari ku. Meskipun mereka tahu aku tidak mau melakukannya, tapi tetap saja. Mereka selalu memaksa ku melakukan itu dan aku membencinya, Rosaline. Aku tidak mau melakukannya.


“Terkadang, aku sangat ingin melawan aturan keluarga ku dan menjadi remaja biasa seperti mu. Tapi aku tidak bisa. Aku terjebak dalam gelar the golden money ini yang selalu memaksa ku untuk menjadi orang yang sempurna. Aku selalu diikuti oleh media tidak pernah meninggalkan aku sendirian.


"Apa kau tahu rasanya sulit untuk hidup di dunia ini. Di mana semua orang begitu cepat menilai seseorang hanya dengan melalui jendela media yang mereka lihat. Apa kau pernah melihat berita tentang the golden money atau tentang keluarga ku? Mereka menggambarkannya dengan sangat baik.


"The golden money mendonasikan uang untuk panti asuhan atau keluarga Adler yang selalu menjadi penggalang dana untuk anak-anak kurang mampu. Pfft— bullshit. Semua itu hanyalah citra. Citra yang kami bangun untuk menutupi rahasia gelap yang kami sembunyikan."


Entah kenapa, Rosaline ingin sekali menutup mulut pria itu. Rasanya tidak benar untuk mendengar semua perkataan yang keluar dari mulutnya saat dia sedang mabuk.


Apa yang akan dia rasakan saat dia sadar nanti? Apa dia akan mengutuk Rosaline atau merasa depresi? Entahlah. Rosaline harus menghentikannya sekarang.


"James— hentikan kau mabu—"


"Aku iri pada mu."


Rosaline tertegun. Mata melebar karena ketidak percayaan.


"Aku selalu cemburu pada mu, bahkan membenci mu. Kau punya keluarga yang mencintai mu. Meskipun aku sendiri punya ibu yang sayang pada ku, tapi tetap saja. Rasanya tidak cukup. Kau punya keluarga yang pengertian, walau selalu bertengkar tapi itulah yang membuat keluarga mu harmonis.


"Aku sangat iri pada mu Rosaline. Kau dikelilingi oleh teman-teman dan keluarga yang memahami mu. Memiliki pola pikir yang sama dan selalu mendukung mu. Bahkan mereka siap mati untuk melindungi mu. Seperti Kaylie atau Reagan.


"Dan bagi ku melihat semua hal yang ku inginkan ada pada mu sangat menyebalkan. Aku juga ingin punya seseorang yang bersedia melakukan itu untuk ku. Seorang teman yang nyata. Tanpa memandang status dan kekayaan yang ku miliki."


Rosaline tersentak begitu dia melihat sekilas air mata di sudut mata James. Ya Tuhan, pria ini menangis! pikir Rosaline. Dia bisa mendengar isakan pelan ketika James membenamkan wajahnya ke dalam pelukannya. Sedikit melirik Rosaline dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku ingin menjadi teman mu, Rosaline."


__ADS_2