
...CHAPTER 64...
...KAYLIE'S BAD FEELING...
Malam sudah mendominasi dan Rosaline juga belum pulang ke rumah. Julian sedari tadi mondar-mandir di ruang tamu sementara Daniel menarik ponselnya dan mencari-cari nomor telepon Rosaline. Siap untuk menelpon gadis itu lagi apabila lima menit kemudian terlewat dan Rosaline juga tak kunjung kembali.
"Do you have any idea l where she could be?" tanya Julian, dengan putus asa mendekatkan kakinya ke Daniel.
Pria itu menggelengkan kepalanya sebagai tanda dia tidak tahu di mana Rosaline berada. Kedua pria dewasa itu menghela napas frustasi, khawatir dengan keberadaan gadis itu yang tiba-tiba tak ada kabar darinya.
Sementara itu, di luar ruang tamu, Reagan berdiri di pinggir pagar pembatas balkon sembari mencondongkan kepalanya ke bawah. Ia meletakkan tangannya di pagar pembatas, mencengkeramnya erat hingga kukunya menggores permukaan besi itu.
Matanya terus bergerak ke kanan dan ke kiri, mengamati setiap jalanan kota jikalau Rosaline tengah duduk berdiam diri di sana.
Sekarang, seakan mendukung kekhawatirannya, hujan turun amat deras. Sekejap mengungkung kota London dengan airnya. Seluruh jalanan, pepohonan, rumah, dan bahkan bangunan. Semuanya tercium bau basa yang amat familiar di hidung Reagan.
Dia melirik ke arah arloji yang sejak tadi ia kenakan, mengintip pukul berapa sekarang. Ya, ini memang bukan pertama kalinya sang kembaran pulang larut malam. Namun, arloji yang dia kenakan bahkan belum menunjukkan pukul dua belas, dan rasa takut sudah menyergap hatinya.
Di mana Rosaline? Pikirannya terus mengulangi kalimat itu.
Reagan mendengus frustasi sambil memijat kepalanya yang pusing. Dia membiarkan tubuhnya merosot, duduk bersila di atas lantai balkon dengan mata yang masih setia melihat ke jalanan.
"Di mana anak itu?" Frustasinya.
Mata Reagan berbinar saat dia melihat seorang gadis dengan postur tubuh yang sama seperti
Rosaline berlarian di tengah hujan. Reagan segera berdiri, hampir berteriak pada gadis itu sebelum dia menyadari bahwa dia bukanlah Rosaline. Mata mereka bertemu, terpaku satu sama lain, seiring Reagan sadar bahwa itu adalah Kaylie.
"Kaylie?" Lirihnya. Dia memperhatikan tubuh Kaylie yang basah kuyup. Dari atas rambutnya, hingga ke bawah kakinya, lalu kembali berteriak.
"Apa yang kau lakukan di tengah hujan deras seperti ini?!"
Kaylie yang masih kehabisan napas setelah berlari lantas melayangkan tangannya ke udara, sebagai tanda menyuruh laki-laki itu agar memberinya waktu sebentar sebelum menjawab. Demi tuhan dia kehabisan napas!
__ADS_1
"Rosaline..." Gagapnya, sambil sesekali menarik napas. "Di mana dia?!" Serunya berteriak.
Reagan mengerutkan keningnya. Jujur dia tak terlalu mendengar perkataan Kaylie meskipun gadis itu sudah berteriak. Ternyata, suara hujan lebih mendominasi. Bahkan meredam suara yang keluar darinya juga.
Tanpa pikir panjang dan berkata apa-apa lagi, Reagan langsung berlari ke luar rumah setelah meraih payung dan membawanya keluar bersamanya. Dia bahkan mengabaikan teriakan Julian dan Daniel yang bertanya mau kemana dia.
"The hell are you doing, dumbass! Masuk! Di sini hujan! Kau ingin sakit?!"
Reagan berteriak begitu dia mendapati gadis itu, Kaylie, masih tak bergeming berdiri di naungan hujan lebat di atas mereka. Padahal gadis itu sudah menggigil kedinginan, lihat saja bagaimana caranya dia memeluk dirinya sendiri untuk mencari kehangatan.
"Ayo masuk," Serunya dan menyodorkan payung yang ia pakai ke Kaylie. Melindungi gadis itu agar tak terus terguyur hujan.
"Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan," Ucapnya, menggigil kedinginan.
"I'm all ears, okay? Tapi kita masuk dulu. Hujan semakin deras, kita akan demam kalau terus di sini."
Reagan menuntun gadis itu untuk masuk ke dalam rumahnya lagi. Di dalam sana, mereka berdua disambut oleh Julian dan Daniel yang masih memasang tampang wajah cemas. Kedua pria dewasa itu lantas menyodorkan handuk bersih agar Kaylie dapat mengeringkan tubuhnya.
"Rosaline...," Cakapnya terpotong, "di mana dia?"
"Di mana, Rosaline?" Tanya Kaylie sekali lagi.
Kali ini suaranya terdengar gemetar. Entah karena perasaan dingin yang masih menempel di tubuhnya atau apa, yang jelas mata Kaylie berair. Ia memandang ke arah Julian yang notabenenya baru saja ia temui, lalu ke Daniel, dan sepenuhnya ke Reagan.
"Rosie...," Dia memalingkan wajahnya, "dia belum pulang."
"Kemana dia?"
Ketiga pria itu saling berpandangan.
"Beberapa jam lalu dia pergi ke luar setelah melihat berita— ah maksud ku... Itu... Ah sialan aku tidak bisa mengatakannya!" Kesal Reagan frustasi. Rambutnya yang lebih gelap ia gusrak, mengacaknya hingga tak tertata rapi lagi.
"Aku tahu."
__ADS_1
"Apa maksud mu kau tahu?" Selidik Julian waspada.
Alis ketiga pria itu melengkung pada saat yang bersamaan ketika Kaylie berdiri dari kursinya dan berjalan mengarah benda kotak tipis berwarna hitam yang sejak tadi menyala dan menayangkan film kartun anak-anak.
"Kaylie?" Panggil Daniel bingung.
Kaylie tak menggubrisnya. Ia terus berjalan hingga meraih remote televisi. "Kalian semua harus melihat ini." Matanya memandang ketiga pria itu dengan tajam, penuh dengan sirat keseriusan.
Kaylie mengganti channel TV ke berita. Selanjutnya yang bisa dia dengar selepas itu selain suara presenter di TV adalah suara tercekat. Dia melirik ke arah mereka bertiga yang memasang wajah shock. Bahkan tak ada niatan untuk menyembunyikannya lagi.
"Apa-apaan ini sialan!" Julian berteriak.
"Apa berita ini benar? Rosaline dan Reagan adalah anak kembar dari keluarga Vreaa? Keluarga yang ditemukan tewas di rumah mereka sepuluh tahun lalu itu?"
Kaylie menghujani Reagan dengan banyak pertanyaan saat pria itu kembali memusatkan perhatiannya padanya. Mereka berdua saling berpandangan, sebelum Reagan lah yang memutuskannya duluan.
Dia memalingkan muka, tak berani memandang Kaylie.
"Kenapa kalian berdua menyembunyikannya?" Kaylie bertanya.
"Itu bukan urusan mu, Kaylie," Sergap Reagan.
Ya kaylie tahu itu. Dia tahu kalau setiap pertanyaan yang ia lontarkan keluar dari mulutnya itu tidak akan dijawab oleh ketiga pria di hadapannya. Tapi itu tidak penting. Keadaan dan keberadaan Rosaline lah yang lebih penting sekarang!
"Di mana Rosaline?" Dia mengulang pertanyaan lagi.
"Kami tidak tahu," sekarang ini Julian lah yang menjawab.
"Kalau begitu kita harus mencarinya!"
Ketiga pria itu melotot lebar ketika Kaylie berteriak, sontak membuat seisi rumah menjadi hening. Hanya terdengar suara helaan napas gadis itu yang terengah-engah.
"Kita harus mencarinya! I have a bad feeling with this. Entah kenapa aku bisa menebak siapa dalang dari semua ini."
__ADS_1
"Siapa?"
"Clark," Tegas Kaylie. "Clark Sadie Jenkins. Aku yakin ini pasti ulah wanita ular itu."