
...CHAPTER 45...
...FOUND OUT ...
Waktu berlalu dengan cepat. Tidak terasa detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan jam menjadi hari. Jika terus dihitung, sudah sebulan sejak proyek tertunda dan musim dingin berakhir.
Hari ini, dipertengahan bulan Maret —lebih tepatnya sudah dua Minggu berlalu— proyek sudah dimulai. Setiap area yang menjadi tempat kontruksi sudah memberikan pesan kepada Rosaline dan James bahwa mereka sudah mencapai ke pembuatan kerangka bangunan.
Mungkin dalam beberapa Minggu kedepan, kerangka tersebut sudah menjadi bangunan sempurna.
Rosaline menguap, meregangkan tubuhnya saat dia bersandar di kursi kantor. Dia melihat sekeliling, melihat pria pirang itu —yang menjadi partner-nya selama sisa hari sampai proyek selesai— tengah tertidur di sofa.
Sama seperti hari di Edinburgh, entah bagaimana Rosaline menganggap pria itu menarik hanya dengan melihat dia tidur. Dengan dengkuran halus yang keluar dari bibirnya, wajahnya melunak. Rambut pirang platinumnya jatuh, hampir menutupi setengah mata dan keningnya.
Mungkin itulah alasan Rosaline menganggapnya menarik. Karena James Orion Adler itu —walaupun Rosaline ingin sekali menyangkalnya— mau tidak mau dia itu tampan. Layaknya seorang pangeran menawan di dalam negeri dongeng.
Tok... Tok... Tok...
Rosaline menoleh ke arah pintu saat suara ketukan terdengar. Di sana ia mendapati sosok Oliver tengah tersenyum ke arahnya, melambaikan tangannya ke udara sebelum mendorong pintu tersebut dan berjalan masuk ke dalam.
Begitu dia masuk, atensinya langsung tertuju ke arah James yang sedang terlelap di atas sofa. Dia mendengus, berkacak pinggang seiring memindahkan berat badannya dari satu kaki ke kaki yang lainnya.
"Kau harus membangunkannya, Rosie. Tidak baik membiarkan laki-laki ini tidur di sini sementara kau terjebak dengan tumpukan dokumen itu."
Rosaline tersenyum lembut. Walau dia sangat ingin membangunkan pria itu, Rosaline tahu betapa kerasnya James dalam dua minggu terakhir ini, bekerja dengan klien dan berdebat dengan mereka.
"Tidak apa. Dia sudah bekerja keras selama dua Minggu ini, berikan dia kesempatan untuk tidur sebentar. Setidaknya sampai jam satu siang nanti," terangnya sambil melihat ke layar ponselnya yang menunjukkan pukul dua belas siang.
Rosaline mengangkat sebelah alisnya, memperhatikan Oliver berjalan mendekati sofa di mana James terlelap. Seketika, ekspresi horor di wajah Rosaline muncul tepat setelah dia melihat seringai licik Oliver.
"No! Oliver! Janga—"
Bamff!!
Rosaline menutup matanya ketika dia tahu apa yang akan terjadi. Dia mengintip, membuka matanya sedikit ketika telinganya menangkap suara tawa yang keras.
__ADS_1
Di sana. James mengerang memegangi kepalanya, bangun dari tidur siangnya sementara Oliver tertawa, memegangi perutnya yang mulai sakit karena tertawa terlalu keras.
"Apa-apaan, Oliver!" Dia menggeram, melompat dari sofa dan terhuyung-huyung mengitari meja untuk menjaga keseimbangannya.
Ia berhenti tepat di samping Rosaline yang masih tertegun setelah menyaksikan apa yang barusan terjadi. Kepalanya tersentak antara James dan Oliver yang masih tertawa, menonton mereka seperti pertandingan olahraga.
"Jangan bangunkan aku seperti itu, brengsek!" James mendesis, membanting tangannya ke atas meja untuk membuat Oliver diam. Alih-alih menghentikan tawanya, Oliver malah semakin tertawa. Lebih keras dari sebelumnya.
"Ahh sialan kepala ku jadi pusing karena mu!" Omelnya.
Rosaline dengan tatapan cemas menyeret kursinya, menyerahkannya kepada James agar lelaki itu bisa duduk di sana. Dia tahu perasaan itu. Terbangun secara terkejut bisa membuat kepala pusing dan Rosaline tidak suka dampak itu.
"Kau baik-baik saja?" Rosaline merintih, khawatir.
James hanya mengangguk tapi masih memijat dahinya lembut. "Ya, hanya sedikit pusing," klaimnya.
James melotot ke arah Oliver yang MASIH tertawa dan berkata, "Come on, Oliver. Jangan kekanak-kanakan!" Marah James, melemparkan pena padanya.
"Salah mu sendiri, James. Meski kita saling kenal, bukan berarti kau bisa tidur di perusahaan ku dengan bebas. Kau harus bekerja keras di sini! Lihat lah Rosaline. Dia sangat rajin, tidak seperti mu, bocah pemalas!"
Oliver terkekeh. Dia menyilangkan lengannya sebelum menatap Rosaline. "Aku di sini untuk menanyakan sesuatu kepada James. Apa kau keberatan jika kau keluar sebentar, Rosie? Ini sedikit privasi," dia mengedipkan mata, membuat
Rosaline mengernyit geli dan bergegas keluar pintu.
Klap!
"Jadi, kau memanggilnya dengan nama masa kecilnya?"
Oliver berbalik. "Bagaimana bisa kau tahu itu
adalah nama masa kecilnya?"
James mencibir. "Dia memberitahu ku soal itu ketika kami berada di Edinburgh."
Bibir Oliver berkedut, membuat seringain yang lebar. "Bagaimana? Perjalanan kalian ke Edinburgh?"
__ADS_1
James mendengus saat melihat seringaian licik dan sorot mata Oliver yang menggodanya sekarang. Dia tahu maksud sorot mata itu. "Diam lah. Aku tahu itu pasti rencana mu, kan? Membuat kami terjebak di tengah-tengah badai? Kau tahu, gara-gara kau kami harus tidur di kamar penginapan yang sam—"
"Oh, apa kalian berdua tidur bersama?"
James melotot, terbatuk-batuk ketika dia tidak sengaja tersedak air liurnya sendiri. Tanpa peringatan lagi, wajahnya dengan cepat berubah menjadi malu. Warna merah gelap menjadi penuh di pipinya saat James membuka mulutnya untuk memprotes.
"Not in that way, you little sh— maksud ku itu, ya aku dan dia berada di kamar bersama tapi tidak tidur di ranjang yang sama. Catat di otak kecil nan bodoh mu itu!" James berteriak, berusaha menghilangkan semburat merah gelap dari wajahnya ketika dia menoleh ke arah lain. Menghadap pintu.
Sekarang, terima kasih kepada Oliver. Pikiran pria berambut pirang itu menuai banyak sekali pikiran negatif yang membuat rona merah di pipinya semakin merona. Sialan, kau Oliver, batinnya.
"Kau tidak perlu marah pada ku seperti itu, James. Seharusnya kau mengucapkan terima kasih pada ku. Karena aku hubungan mu dengannya tidak lagi canggung. Kalian berdua terlihat lebih nyaman."
James memutar matanya dengan malas, mencubit pangkal hidungnya sambil melihat ke pintu. Bertanya-tanya kapan Rosaline akan kembali. "Dasar bodoh. Saat kami di kereta, aku tidak sengaja— oh sial."
James menutup mulutnya ketika dia menyadari kalimat apa yang akan keluar dari mulutnya. Dia membenamkan wajahnya ke lengannya, menyembunyikan rasa malunya dari Oliver yang menatapnya tajam.
Tidak, ya Tuhan. Hampir saja. Hampir saja James memberi tahu Oliver bagaimana dia tidur di kereta dan terbangun di bahu Rosaline. Itu akan memalukan dan Oliver di depannya akan mengejeknya untuk itu selama sisa hidupnya.
"Apa?" Oliver bertanya, mengangkat alis.
"Tidak. Itu hanya sesuatu yang seharusnya tidak kau ketahui."
Oliver membuka mulutnya untuk memprotes tetapi dipotong oleh kata-kata James setelah itu.
"Kalau kau datang ke sini hanya untuk mengganggu ku dan Rosaline, tolong pergi. Kepala ku pusing karena ka—"
"Tidak. Aku ke sini untuk masalah serius, James.
Can you listen to me this time? Ini penting."
James mengangkat bahu, memperhatikan ekspresi serius dalam dirinya. "Yah, kaulah yang datang ke sini dengan sikap seperti itu. Bagaimana aku bisa menebak mu datang kemari dengan sesuatu yang serius."
Oliver mengernyit. Dia menyilangkan kakinya dan bersandar di sofa lalu berkata, "Ayah mu dan dia tahu tentang kerja sama mu dengan Rosaline dalam proyek ini." Dia berhenti hanya untuk melihat tatapan ngeri di mata James.
"Kemarin mereka datang kepada ku. Marah dan membentak ku, tapi kau tidak perlu khawatir. Aku sudah mengurus semuanya. Kau hanya perlu berurusan dengan pacar mu yang bodoh itu. Semangat James. Kalau kau putus dengannya, ayo kita ke club.
__ADS_1
"Aku dengan senang hati menjadi bagian untuk merayakannya."