Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 55


__ADS_3

...CHAPTER 55...


...DINNER ...


"Oh come on, Mr. Floyd. Tanah itu sudah ku beli."


Begitu dia, James, dan Minerva masuk ke dalam ruang tamu. Suara Oliver sudah menggelegar keras sebagai sambutan hangat untuk ketiganya. Di dalam sana, Oliver melempar sebuah amplop coklat ke atas meja.


"Ini adalah surat tanahnya."


Rosaline masih berdiri di belakang James, memperhatikan Oliver berseteru dengan laki-laki yang lebih tua. Menariknya, laki-laki itu terlihat mirip dengan James. Hampir saja Rosaline berteriak dan menunjuk ke arah laki-laki itu. Sambil lantang menduganya sebagai penjelajah waktu.


Bagaimana tidak. Wajah aristokrat, rambut pirang, dan entah bagaimana ekspresinya yang mengejek sangatlah mirip dengan James. Seakan-akan dia adalah James versi beberapa puluh tahun ke depan.


Laki-laki yang dipanggil Oliver sebagai Floyd berdecak, namun dengan sopan meraih amplop coklat di atas meja ruang tamunya itu dan membukanya. Matanya bergerak membaca seluruh isi kertas sebelum akhirnya meletakkan kertas itu kembali ke atas meja.


"Dan lagi, tanah itu sedang ada pembangunan demi projek kuliah putra kesayangan mu itu. Karena itu Mr. Floyd, cabut permintaan mu untuk membeli tanah itu!"


Dengan satu kali tunjukan dari dagu Oliver, laki-laki tua itu atau Floyd menoleh ke arah di mana Rosaline dan James masih berdiri seperti patung. Keduanya masih bersama Minerva yang juga berdiri di antara mereka.


"Oh, kau gadis yang di kereta itu," celetuknya saat mata Floyd akhirnya bertukar pandang dengan gadis berambut brunnete bermata hijau emerald di sebelah putranya.


Dengan bungkukkan sopan nan canggung dari Rosaline, Floyd berdecak. Menyuruh mereka bertiga untuk segera duduk hanya dengan tangannya melayang di udara. Minerva, dengan cekatan mengantar Rosaline untuk duduk di sebelah Oliver sementara putranya di antara mereka berempat.


"Tapi aku tertarik dengan tanah itu. Penempatan atau letaknya strategis untuk melakukan perdagangan," lanjutnya.


Oliver memanyunkan bibirnya. "Justru itu aku tidak akan melepaskan tanah itu begitu saja. Kalau Mr. Floyd saja bisa tahu betapa menguntungkannnya tanah itu, maka aku tidak akan menyerah mempertahankannya."


Floyd menyeringai. "Tentu saja. Mata ku dalam menilai sesuatu itu tidak pernah salah. Tapi sayangnya aku juga tidak akan menyerahkan tanah itu begitu saja. Perusaan keluarga Adler perlu cabang laim di Edinburgh."

__ADS_1


Rosaline memperhatikan urat-urat halus yang melintas di kening Oliver seakan gadis itu tengah berpikir keras mencari argumen agar pria pirang lain bernama Floyd itu menyerahkan tanah yang sudah dia hak miliki.


"Well secara sah aku adalah pemilik tanah itu," cakapnya, tak mau kalah. "Mr. Floyd tidak bisa mengambilnya begitu saja tanpa persetujuan ku. Bahkan para penjual tanah tidak akan bisa melawan ku."


"Oh Ms. Matilda betapa lucunya kau. Apa kau lupa aku adalah anggota the golde money? Kekayaan yang kau miliki tak sebanding dengan kekayaan ku. Bahkan kalau kau harus bekerja selama ratusan tahun kau tidak akan bisa menyainginya."


Caranya menyebutkan dia adalah anggota the golden money dengan bangga. Seketika mengingatkan Rosaline akan wajah Clark di masa-masa pertemanan bodoh mereka kala itu.


Entah bagaimana, hanya dengan mengingat ekspresi wajahnya berhasil membuat Rosaline naik pitam. Sesuatu langsung mengingatkannya dengan penderitaan Asher.


Rosaline menggerakkan mata emeraldnya hanya untuk melirik apa yang tengah James lakukan. Terkejut bahwa laki-laki itu sudah menatapnya duluan, Rosaline melayangkan senyum kecil yang seolah mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.


Entah apa yang telah ayahnya lakukan pada James yang malang sampai-sampai membuat wajah laki-laki itu pucat pasi. Ya memang kulitnya yang putih sudah pucat, namun itu lebih terlihat normal ketimbang yang sekarang.


Mata Rosaline secara tak sengaja menangkap sosok Minerva, ibu James, yang juga tengah memperhatikannya. Wajah wanita itu begitu lembut saat menatapnya, cukup lembut untuk membuat Rosaline mengingat mendiang ibunya.


"Mr. Floyd. Kalau tanah itu sampai berada di tangan mu artinya pembangunan di sana harus dirobohkan dan kami harus mencari lahan lain untuk itu. Apa anda tahu kalau kuliah putra mu dan rekannya bisa saja terancam karena hal itu?"


Baik Rosaline dan Oliver mereka berdua sama-sama mengerutkan kening mereka secara bersamaan saat kata-kata sombong yang keluar dari mulut pria itu.


"Jika itu James ya dewan akan menolerir. Tapi rekannnya? Dia bukan anak dari seorang anggota the golden money seperti James, dia hanya orang biasa. Ya kan, Rosie? Kau sependapat dengan ku kan?"


Rosaline gelagapan begitu Oliver menoleh ke arahnya dengan penuh semangat. Matanya terus berkedip cepat, tersenyum seolah mengancam Rosaline agar setuju dengan pendapatnya. Ya lagi pula dia setuju. James adalah the golden money dan dia bukan.


"Rosie?" Pria pirang yang lebih tua tiba-tiba berkata dengan kerutan di dahinya. Kepalanya miring seiring matanya mengawasi Rosaline intens.


"A—ah itu...," gagapnya, "perkenalkan nama ku Rosaline Mary Vre— maksud ku Smith! Rosaline Mary Smith!"


Rosaline memucat seketika saat dia sadar kata Vreaa hampir saja keluar dari mulutnya. Dia tersenyum canggung sembari mata emerald-nya terus bergerak tak nyaman. Tanpa sadar, tangannya mencengkram erat tangan Oliver.

__ADS_1


"Apa itu mata asli mu?" Selidik Floyd.


Rosaline menatap ke arah James dan Minerva terlebih dahulu lalu mengangguk. "Aku mendapatkannya dari ibu ku," Ucapnya jujur. Dia menundukkan kepalanya karena takut.


Sesekali dia melirik James yang tengah memasang senyum kecil. Sangat kecil sehingga tidak ada yang akan menyadarinya. Mulut laki-laki itu perlahan bergerak dan Rosaline tahu


artinya.


That's okay. Itu katanya.


"Anak itu juga bermata hijau. Kebetulan yang sangat aneh."


"Pardon?" Rosaline mengkerut, menoleh ke arah Floyd.


Namun pria pirang yang lebih tua itu tidak menggubris Rosaline lagi setelahnya, melainkan memusatkan perhatiannya pada Oliver untuk kembali ke diskusi mereka soal tanah. Dia pasti tahu kalau Rosaline memandangnya dengan tatapan penuh pertanyaan. Tapi dia mengacuhkannya.


Tak tahu bagaimana cara Oliver membujuk ayah James agar mencabut permintaannya atas tanah yang mereka miliki. Pria pirang itu akhirnya setuju dan menyerahkan tanah itu kembali.


Dengan syarat Rosaline harus datang ke jamuan makan malam keluarga Adler yang akan diadakan dalam satu Minggu ke depan.


"I'll kill you, Oliver," damprat Rosaline tak terima.


"Apa yang harus aku lakukan setelah ini?!" Serunya. Dia mencengkram bahu Oliver dan mengguncang tubuhnya kasar. Membuat perempuan itu mengerang kesal.


"Datang saja ke jamuan makan malam mereka, Rosie."


"Kau gila? Bagaimana kalau makanan ku diracuni? Kau lupa kalau aku ini perempuan di kereta sebulan yang lalu?"


"Oh Rosaline. Kau terlalu paranoid. Mereka tidak akan menyakiti mu, lagi pula di sana ada James. Dia tidak akan membiarkan mu terluka."

__ADS_1


Cengkraman di bahu Oliver perlahan melonggarkan seiring Rosaline menyadarkan tubuhnya ke kursi mobil. Dia memegangi kepalanya yang berdenyut pusing. Entah sudah berapa kali dia memijatnya, rasa pusing yang dia rasakan tak kunjung menghilang.


Oh tuhan bagaimana nasibnya Minggu depan nanti?


__ADS_2