Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 25


__ADS_3

...CHAPTER 25...


...SHE'S GONE...


Rosaline melirik ke arah buku yang beberapa Minggu lalu Kaylie berikan padanya. Ia membuka buku itu, langsung melompat ke bagian belakang buku di mana cerita itu berakhir dengan kematian sang tokoh utama pria.


Buku yang berat kalau Rosaline menggambarkannya. Penuh dengan balas dendam dan kematian mengenaskan tiap tokohnya. Namun jujur, ia menyukainya. Buku klasik Inggris yang sama seperti Shakespeare.


Sekarang. Gadis itu tengah meringkuk di antara tumpukan buku novel di tempat tidurnya. Sudah satu minggu lebih semenjak kejadian di kamar mandi waktu itu. Dia menampar Clark, si anak anggota the golden money dan bertengkar hebat dengannya setelahnya.


Sepertinya, setelah masa skorsing habis Rosaline akan berhadapan dengan gosip tentangnya yang menyebar di kampus atau bahkan tatapan sinis semua laki-laki yang memuja kecantikan wanita itu.


Rosaline menghela napas berat. Matanya memandang ke arah luar melalui jendela. Entah kenapa lucu baginya setiap kali mengingat wajah Clark yang merah karena tamparannya. Oh jangan lupakan bibirnya yang robek untuk kedua kalinya setelah menerima pukulan darinya.


Rosaline terkekeh. Jujur saja. Ada perasaan lega dalam hatinya setelah ia melakukan hal itu, namun ada satu sisi di hatinya yang kini terasa janggal. Rasa cemas dan ketakutan bercampur menjadi satu diselingi dengan kelegaan yang luar biasa.


Mungkin setelah ini, dia bisa benar-benar terbebas dari jeratan the golden money itu. Ya. Mungkin!


Rosaline bangkit dari posisi tidurnya. Ia memandang sekitar kamarnya yang tenang. Ia bingung. Selain membaca buku apalagi yang bisa ia lakukan selama masa skorsingnya berjalan.


Mengganggu Reagan sudah sering ia lakukan, namun sekarang laki-laki itu tidak berada di rumah. Lantas Rosaline memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya menuju kafe di sebelah rumah, di mana Daniel dan kedua pegawainya yang lain sedang bekerja.


"Welcome to the little latte espresso."


Rosaline mendengar Reina berseru.


Ia memandangi keadaan kafe yang sekarang sangat ramai. Tentu saja. Jam makan siang pikirnya. Rosaline meraih celemek bersih yang tergantung di belakang pintu dan memakainya, sebelum berjalan mendekati mereka bertiga untuk membantu.


Daniel agaknya sedikit terkejut dengan kedatangan gadis itu yang tiba-tiba, lihat saja lonjakan kecil di tubuhnya saat Rosaline menyentuh pundaknya. Namun pria itu segera mengangguk dan membiarkan Rosaline membantu.


"Meja 4 red Velvet dan frappuccino coklat!"


Butuh tiga puluh menit lebih untuk membuat kafe kembali tenang dan perlahan-lahan para costumer yang singgah kembali ke aktivitas mereka masing-masing, meninggalkan beberapa beberapa pelanggan saja di dalamnya.

__ADS_1


Rosaline membersihkan meja-meja sedangkan Reina membawa piring dan cangkir kotor ke belakang untuk dicuci. Rosaline menyemprotkan cairan pembersih meja dan mengelapnya.


Ia mendongakkan kepalanya saat bayangan hitam menghalangi sinar matahari masuk ke dalam. Di sana. Matanya menangkap sosok Kaylie dan Asher berdiri dibalik kaca yang memisahkan mereka sekarang.


Dari gerakan mulut Kaylie, Rosaline bisa tahu kalau gadis itu tengah menyapanya sekarang. Lantas dengan kepala yang ia miringkan, ia menyuruh kedua gadis itu untuk masuk ke dalam kafe.


"Something to eat?"


Rosaline mengklik pulpennya untuk mencatat sementara tangan yang lain menyerahkan buku menu kepada Asher dan Kaylie. Kaylie mengambil buku yang diberikan oleh Rosaline dan membacanya bersama Asher.


Butuh beberapa saat bagi mereka berdua untuk memutuskan apa yang ingin mereka pesan sebelum akhirnya mereka memutuskan memesan dua Cortado, satu pai apel, dan kue keju.


"Sepertinya kafe ini akan menjadi langganan ku."


Rosaline menyeringai, "stop it, Kaylie. Aku tahu niat mu itu. Kau pasti ingin melihat paman ku terus, kan?"


Clark tertawa. "Jangan buka kartu as ku, Rosaline!" Balasnya.


"Kau tahu, kau tambah terkenal di seluruh Westminster," celetuk Kaylie dan Asher mengangguk.


Rosaline hanya mengedikkan bahunya acuh. Toh dia sudah menduga hal itu akan terjadi. "Aku sudah terkenal di seluruh Westminster bahkan jauh sebelum aku melakukan itu."


"Aku terkejut saat kau melakukannya, Rosaline. Jujur saja, aku panik saat itu. Kalau aku adalah kau mungkin aku akan lari duluan," balas Asher.


"Kau pecundang, Asher," Celetuk Kaylie.


"Memangnya kau ingin ku tinggalkan sendirian di sana, huh? Kalau kau dibunuh oleh bagaimana? Bisa-bisa aku menjadi saksi utamanya nanti," Jawab Rosaline.


Asher tertawa. "Tentu saja aku tidak mau, tapi terima kasih. Setelah Kaylie, kau juga membantu ku," matanya melembut menatap Rosaline dan Kaylie bergantian seiring kedua gadis itu melemparkannya senyuman bangga.


"Tapi mulai sekarang kalian tidak perlu lagi membantu ku."


Senyuman di wajah Rosaline dan Kaylie memudar, keduanya langsung mengerut heran.

__ADS_1


"Apa maksud mu?" Tanya Rosaline.


"Kau mau ke mana memangnya?" tambah Kaylie.


Asher tersenyum lesu, kepalanya menggeleng pelan. "Aku dikeluarkan dari Westminster. Beasiswa ku dicabut. Mungkin setelah ini aku akan pindah bersama orang tua ku ke negara lain."


Dengan begitu, Rosaline dan Kaylie terdiam dan mereka tahu siapa pelakunya.


...•—— ⁠✿ ——•...


Setelah kepergian Asher dari Westminster menjadi kekesalan tersendiri bagi mereka berdua. Terutama Kaylie. Rosaline tahu kalau gadis itu sekarang sedang dalam perjalanan untuk menghajar Clark di manapun si the golden money itu berada.


Rosaline berdiri di depan papan pengumuman di mana ada kertas yang tertempel di sana. Isinya tak mengenakan. Kepergian Asher dijadikan bahan lelucon oleh mereka semua, bahkan nama Rosaline dicantumkan di sana.


Ya sudahlah, pikirnya. Dia sudah pasrah sekarang. Biarkan saja namanya menjadi buruk sekarang. Seiring waktu pasti akan membaik.


Rosaline pergi menuju taman di mana ia sering menghabiskan waktunya setelah melepaskan kertas-kertas di papan pengumuman itu. Tapi, alangkah terkejutnya ia saat melihat James juga ada di sana. Pria pirang itu tengah membaca buku. Duduk dengan tenang di bawah naungan pohon rindang di mana Rosaline selalu singgahi.


"Kau sudah kembali, Smith?" James bertanya saat dia merasakan keberadaan seseorang selain dirinya.


Rosaline mengernyit. Bagaimana bisa pria pirang itu tahu kalau orang di dekatnya itu adalah dia. "Apa yang kau lakukan di sini? Di mana pacar mu itu?"


Ketimbang menjawab pertanyaan James, Rosaline lebih memilih membalasnya dengan ketus. Jujur, dia sedang tidak punya mood untuk menghadapi segala sesuatu yang berurusan dengan Clark, terutama pria pirang di depannya ini. James Orion Adler.


"Entahlah mungkin membuat keributan lagi dengan gadis yang waktu itu melemparnya dengan buku?" Ia mengedikkan bahunya tak peduli.


Jujur saja, Rosaline menyadari ini sejak awal. Bahkan di hari pertama ia bertemu dengan James waktu itu. Dia sadar kalau James sama sekali tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kalau dia peduli dengan Clark. Dia hanya muncul seadanya.


Bahkan saat kejadian koridor terjadi, di mana Kaylie melempar Clark dengan buku dan menyebabkan pertengkaran di sana, James lebih memilih diam dan memperhatikan mereka dari kejauhan ketimbang menghentikan mereka berdua.


Belum lagi kejadian kedua di kamar mandi, yang mana Rosaline menampar Clark dan bahkan juga memukulnya. Adakah tindakan James yang setidaknya sedikit saja marah pada Rosaline yang notabene-nya menyakiti kekasihnya? Bahkan saat Rosaline berdiri di depannya sekarang?


Jawabannya tidak ada. Pria pirang itu malah mengabaikannya. Seakan-akan tidak tertarik dengan masalah yang ada di sekitarnya, meskipun hal itu menyangkut harga diri kekasihnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2